📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat1 September 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Pencerminan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai nur Ilahi pada langit dan bumi (Ayat 34-35)

Allah taala berfirman:ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٖ فِيهَا مِصۡبَاحٌ ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ لَّا شَرۡقِيَّةٖ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ يَكَادُ زَيۡتُهَا يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖ ۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞAllah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus 1 yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) 2 , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Pencerminan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai nur Ilahi pada langit dan bumi (Ayat 34-35)Catatan kaki:210808. Maksud "lubang yang tidak tembus (misykat)" ialah suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya. Biasanya, digunakan untuk tempat lampu atau barang­barang lain.210809. Maksudnya, pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit dan pohon itu mendapat sinar matahari, baik pada waktu matahari terbit maupun pada waktu matahari akan terbenam sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.QS. An-Nūr: 35Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:35)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Pencerminan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai nur Ilahi pada langit dan bumi (Ayat 34-35)Catatan kaki:210808. Maksud "lubang yang tidak tembus (misykat)" ialah suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya. Biasanya, digunakan untuk tempat lampu atau barang­barang lain.210809. Maksudnya, pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit dan pohon itu mendapat sinar matahari, baik pada waktu matahari terbit maupun pada waktu matahari akan terbenam sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Dia mengatur segala perkara yang ada di dalamnya dan memberi petunjuk kepada penghuninya. Allah adalah cahaya, hijab-Nya adalah cahaya. Dengan cahayanya Dia menerangi langit dan bumi dan aapa yang ada pada keduanya. Kitab dan hidayah-Nya merupakan cahaya Allah. Jika sekiranya tidak karena cahaya Allah, niscaya kegelapan akan menutupi sebagian di atas sebagian yang lain. Perumpamaan cahaya Allah yang memberi petunjuk kepada-Nya, berupa iman dan Al Qur’an dalam hati seorang mukmin adalah seperti misykat yakni suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus yang di dalamnya ada lampu, yang mana lubang itu mengumpulkan cahaya lampu tersebut sehingga cahayanya tidak menyebar. Lampu itu ada di dalam kaca, karena kejernihannya sehingga seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara. Lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh dengan berkah, yakni pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur saja, sehingga tidak terkena cahaya saat sore hari. Dan tidak hanya tumbuh di sebelah barat saja sehingga tidak terkena cahaya matahari saat pagi hari. Ia tumbuh di posisi tengah-tengah, tidak di timur juga tidak di baratnya. Karena kejernihannya hingga hampir saja minyak tersebut menyala dengan sendirinya meskipun belum di sulut dengan api. Dan ketika di sulut dengan api maka ia akan bercahaya dengan sangat terang. Cahaya di atas cahaya. Yakni cahaya minyak berlapis cahaya api. Hal itu seperti hidayah yang menerangi di dalam hati seorang mukmin. Allah memberikan hidayah dan taufik untuk mengikuti Al Qur’an kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka memahami perumpamaan tersebut dan hikmah-hikmahnya. Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comBoleh tolong buatkan poster dengan ornamen tanaman yang simpel, dedaunan & bunga tulip, keseluruhan nuansa nude, cream, soft pink, pastel green

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 82

Selasa, 1 September 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 82Penjelasan Umum dan Pembahasan Dalil Pertama QS. Ali-Imran: 65-67(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPembahasan Bab Utama​بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَاأَهْلَ الكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ﴾ [آل عمران: 65] إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ﴾ [آل عمران: 67]"Bab Firman Allah Ta'ala: 'Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim...' sampai firman-Nya: 'Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.'"Dalil Utama Bab​{يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوۡرَىٰةُ وَٱلۡإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ}(65) Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (66) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (67) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.Dalil Keterkaitan Bid'ah dengan Syirik Tasyri'​أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?"(QS. Asy-Syura: 21)Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriBahaya Tahapan Bid’ah (Dari Bid'ah Menuju Kekufuran)Penyebab Utama: Seseorang yang terpedaya setan dengan menganggap bid'ah sebagai kebaikan lama-kelamaan merasa tidak memerlukan Islam/Sunnah yang dibawa Nabi ﷺ karena merasa hidupnya tetap tenteram dan mendapat faedah walau mengamalkan bidah.​Dampak Akhir: Muncul rasa benci terhadap Islam atau merasa tidak butuh Islam, yang pada akhirnya dapat membatalkan keislaman seseorang (mengeluarkan seseorang dari agama Islam).​Korelasi Kejadian Pada Kaum Nabi Nuh 'Alaihissalam:​Awal: Melakukan bid'ah berupa membuat patung orang saleh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr) untuk mengingat keshalehan mereka dan mendekatkan diri kepada Allah.​Akhir: Generasi berikutnya yang tidak menuntut ilmu disesatkan setan bahwa patung-patung tersebut dibuat untuk dicari syafaatnya, sehingga terjadilah kesyirikan.​Kesimpulan Hukum: Bid'ah adalah barīdu asy-syirk (perantara/pengantar menuju kesyirikan dan kekufuran).Bid'ah sebagai Bentuk Syirik Tasyri'Seseorang yang membuat amalan bid'ah seakan-akan merasa berhak membuat syariat agama. Padahal, hak menetapkan syariat (tasyri') hanya milik Allah ﷻ semata (sebagaimana QS. Asy-Syura: 21).Penjelasan Bantahan Ayat (QS. Ali 'Imran: 65–67) terhadap Ahli KitabBantahan Logika/Akal (Ayat 65):​Orang Yahudi mengklaim Nabi Ibrahim berada di atas agama Yahudi, sedangkan orang Nasrani mengklaim Nabi Ibrahim di atas agama Nasrani.​Allah membantah: Taurat (dasar Yahudi) dan Injil (dasar Nasrani) diturunkan jauh setelah masa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.​Secara akal, tidak mungkin Nabi Ibrahim mengikuti kitab/agama yang baru ada setelah beliau wafat. Maka Allah berfirman: أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ("Apakah kamu tidak berpikir?").​Bantahan Kebatilan Pengakuan Ahlul Ahwa (Ayat 66–67):​Ahli Kitab berbantah-bantahan tanpa dasar ilmu (hawa nafsu) dan sekadar pengakuan (da'awa) kosong.​Allah menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah orang Yahudi dan bukan Nasrani, melainkan seorang yang hanīfan musliman (lurus lagi berserah diri) dan bukan termasuk orang musyrik.Kesimpulan Halaqah 82 menjelaskan bahaya bid'ah yang merupakan pintu gerbang (barīdu asy-syirk) menuju kekufuran dan kesyirikan—sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh 'alaihissalam—serta bentuk perampasan hak Allah dalam hal tasyri'. Melalui QS. Ali 'Imran: 65–67, Allah mematahkan klaim tanpa ilmu dari Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Hal ini memberikan kaidah bagi kaum muslimin agar tidak minder menghadapi syubhat ahlul bid'ah/ahlul ahwa, sebab klaim mereka jika diteliti secara ilmiah dan akal sehat pasti terbukti batil dan hanya berdasarkan hawa nafsu semata.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 1 September

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Isra’: 80​​ ​ وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِي مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَأَخۡرِجۡنِي مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَٱجۡعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلۡطَٰنًا نَّصِيرًا​"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.'"​Penafsiran "Masuk" dan "Keluar" yang Benar​Pendapat Terkenal & Paling Sahih (Pilihan Ibnu Jarir):​Sebab Turunnya Ayat (Riwayat Ibnu Abbas r.a. / H.R. Ahmad & At-Tirmidzi): Ayat ini diturunkan saat Nabi ﷺ di Mekah dan diperintahkan untuk berhijrah.​Al-Hasan Al-Basri: Ketika kaum kafir Mekah sepakat untuk membunuh, mengusir, atau mengikat Nabi ﷺ, Allah memerintahkan beliau berhijrah ke Madinah.​Qatadah & Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam:​"Masukkanlah aku secara masuk yang benar" = Kota Madinah.​"Keluarkanlah aku secara keluar yang benar" = Kota Mekah.​Pendapat Lain (Riwayat Al-Aufi dari Ibnu Abbas):​"Masukkanlah..." = Kematian.​"Keluarkanlah..." = Kehidupan sesudah mati.Penafsiran "Kekuasaan yang Menolong" (Sulthanan Nashira)​Al-Hasan Al-Basri: Janji Allah kepada Nabi ﷺ bahwa Dia akan mencabut Kerajaan Persia dan Romawi beserta kejayaannya, lalu memberikannya kepada beliau.​Qatadah (Pendapat Terkuat / Pilihan Ibnu Jarir): Nabi ﷺ menyadari tugas dakwah membutuhkan kekuatan/kekuasaan. Beliau memohon kekuasaan untuk membela Kitabullah, batasan-batasan-Nya, kewajiban-Nya, dan menegakkan agama-Nya. Kekuasaan adalah rahmat Allah agar yang kuat tidak memangsa yang lemah.​Mujahid: Maknanya adalah bukti yang jelas (hujjah).Urgensi Kekuasaan dalam Menegakkan Kebenaran​Kebenaran harus mengalahkan pihak penentang. Semakna dengan firman Allah dalam QS. Al-Hadid: 25 ("Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti... Dan Kami ciptakan besi...").​Hal ini sejalan pula dengan hadits:​"Sesungguhnya Allah benar-benar mencegah (perbuatan dosa) melalui kekuasaan hal-hal yang tidak dapat dicegah melalui Al-Qur'an."​Makna Hadits: Banyak perbuatan keji dan dosa di masyarakat dapat dicegah oleh kekuasaan (pemerintahan/sanksi hukum) yang tidak mempan hanya dengan peringatan Al-Qur'an.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Pustaka 1 September

Potongan Bait:"..dia juga wanita yang senantiasa menjaga pendengarannya dari musim, sebab musik itu akan menjerumuskan kepada keburukan.."Nasihat ini adalah untukmu sebelum untukmu 🪻Orang yang terbiasa dengan musik, sejatinya sedang memanjakan nafsunya. Bahwasanya para Ulama berkata bahwa musik menumbuhkan kemunafikan.Tabiat nafsu yang tak dijaga: suatu kesenangan membuka kesenangan yang lain. Seperti halnya, melakukan satu kemasiatan akan mengundang kemaksiatan yang lainnya juga. Semuanya merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 September 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir suratan nahl

Allah تعالی berfirman dalam rangka mendekatkan (waktu) kedatangan ketetapanNya yang telah Dia janjikan dan memastikan kejadiannya ) أتى أمر الله فلا تشتفجوة( "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya," sesungguhnya ia akan tiba. Dan setiap sesuatu yang pasti datang, berarti dekat ) شيخنة، وتغلى عما يشركون( "Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan," yang berbentuk penisbatan sekutu, anak, istri, padanan, dan lain sebagainya, yang dilekatkan oleh kaum musyrikin kepada Allah, yang tidak. pantas dengan keagungan Allah dan menafikan kesempurnaanNya.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 32: Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian 2

Halaqah 32 : Al Hasyr Bagian 2Halaqah yang ke-32 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian yang ke 2”Di padang Mahsyar akan didekatkan Matahari sejarak satu mil, sehingga manusia mendapatkan kesusahan yang sangat. Mereka berkeringat sesuai dengan kadar amalannya, yaitu kadar dosanya. Ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, dan ada sampai ke dua lututnya, pinggangnya. Bahkan ada yang sampai mulutnya (Hadits Shahih Riwayat Muslim).Salah seorang rawi Sulaim Ibnu ‘Amir mengatakan,Demi Allah saya tidak tahu apa yang Beliau ﷺ maksud dengan satu mil di sini. Apakah jarak atau mil yang berarti alat pencelak mata. Dan Allah ‘Azza Wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.Di dalam waktu yang sangat lama, di Padang Mahsyar mereka menunggu hari keputusan. Satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia. Namun Allah ‘Azza Wa Jalla akan meringankan hari tersebut bagi orang-orang yang beriman. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanتَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ۬ كَانَ مِقۡدَارُهُ ۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٍ۬Para Malaikat dan Jibril akan naik kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada waktu di mana satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia.” (Al-Ma’arij : 4)Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan bahwasanya orang yang tidak membayar zakat hartanya, dia akan tersiksa dengan hartanya tersebut sampai hari keputusan. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwasanya satu hari di situ seperti 50.000 tahun di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَManusia akan berdiri untuk Allah Rabbul ‘Alamin pada saat itu selama setengah hari dari 50.000 tahun di dunia. Dan akan diringankan bagi orang yang beriman. setengah hari tersebut seperti waktu antara menjelang tenggelamnya matahari sampai tenggelamnya matahari (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Hibban).Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakan,يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبرانيAllah akan mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan yang akhir pada waktu yang diketahui. dalam keadaan berdiri selama 40 tahun, dalam keadaan tajam pandangan mereka memandang ke langit menunggu waktu keputusan dari Allah ‘Azza Wa Jalla (Hadits Shahih Riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir).Ada yang mengatakan bahwa perbedaan waktu tersebut, tergantung amalan seseorang di dunia. Wallahu A’lamu Bisshawwab dan saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sesaat saja. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً۬ مِّنَ ٱلنَّہَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيۡنَہُمۡ‌ۚ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ“Dan pada hari di mana Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengumpulkan mereka. Mereka merasa seakan-akan mereka tidak tinggal di dunia kecuali sekejap saja di siang hari dan pada saat itu mereka saling mengenal di antara mereka.” (Yunus : 45)

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir As-Sa'di Ar-Rūm (30:17)

(17-18) Ini adalah informasi tentang kesucian Allah dari keburukan dan kekurangan, kesucianNya dari keserupaan sese-orang dari makhluk denganNya; dan suatu perintah kepada hamba-hambaNya agar bertasbih (menyucikanNya) di saat mereka berada di waktu petang dan di saat mereka berada di waktu Shubuh, waktu senja dan waktu siang hari. Inilah lima waktu yang merupakan waktu-waktu shalat lima waktu. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertasbih dan memujiNya pada waktu-waktu tersebut, dan termasuk dalam hal ini adalah yang wajib darinya, seperti yang tercakup dalam shalat lima waktu, dan yang disunnahkan seperti dzikir pagi dan sore hari, dzikir seusai shalat wajib dan shalat-shalat sunnah yang menyertainya. Karena sesungguhnya waktu-waktu tersebut adalah yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk waktu-waktu (shalat) wajib, ia merupakan waktu yang paling utama. Maka bertasbih dan bertahmid dalam waktu itu serta beribadah padanya lebih utama daripada pada waktu-waktu yang lain. Bahkan ibadah, sekalipun tidak mencakup bacaan "Subhanallah," maka sesungguhnya keikhlasan di dalam ibadah tersebut merupakan penyucian Allah dengan perbuatan (dari) keberadaanNya mempunyai sekutu dalam ibadah, atau (dari) keberhakan seorang di antara makhluk untuk mendapatkan apa yang berhak untukNya, seperti ikhlas dan inabah.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 7: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4

Halaqah 7:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke-3 yaitu:3. Masyiiatullah atau Kehendak Allah.Dan yang dimaksud adalah beriman bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan terjadi. Dan apa yang ada di langit dan di bumi berupa bergeraknya sesuatu atau diamnya sesuatu maka dengan kehendak Allah dan tidak mungkin terjadi di kerajaan Allah Subhānahu wa Ta’āla apa yang tidak dikehendaki-Nya.Diantara dalilnya dari Al Qur’an adalah firman Allah:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah.’, maka jadilah dia.”(QS. Ya-Sin: 82)Dan Allah berfirman:وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…“Dan seandainya Rabb-mu menghendaki niscaya akan beriman seluruh yang ada di bumi.”(QS. Yunus: 99)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ…“Katakanlah, ‘Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.”(QS. Ali ‘Imran: 26)Dan Allah berfirman:وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Dan tidaklah kalian menginginkan kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”(QS. At-Takwir: 29)Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah ﷺ bersabda: لا يقل أحدُكم : اللهمَّ اغفر لي إن شئتَ ، ارحمني إن شئتَ ، ارزقني إن شئتَ ، وليَعزِمْ مسألتَه ، إنَّهُ يفعلُ ما يشاءُ ، لا مُكْرِهَ لهُ“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, sayangilah aku jika engkau menghendaki, berilah aku rezeki apabila engkau menghendaki.’ Maka hendaklah dia menguatkan permintaannya karena Allah melakukan apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang memaksanya”. (HR. Bukhori)Berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah:مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ“Apa yang Engkau kehendaki ya Allah, terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya dan apa yang aku kehendaki kalau Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Al Lalika-i di dalam kitab beliau Syarhu Ushuli Itiqadi Ahli Sunnati wal Jamaah Minal Kitabi wa Sunnah Wa Ijmai Shahabah Jilid IV halaman 702)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 September 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 6 tafsir tauhid dan syahadat Laa Ilaaha Illallah

Bab 6: Tafsir Tauhid dan Syahadat Lā Ilāha Illallāh1️⃣ Makna ibadah kepada AllahOrang-orang yang diseru selain Allah sebenarnya mereka sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.📌 Poin penting:➡️ Makhluk yang beribadah kepada Allah tidak pantas dijadikan sesembahan.2️⃣ Seorang hamba harus berharap dan takut kepada AllahMereka yang dekat kepada Allah:Mengharap rahmat AllahTakut terhadap azab Allah📌 Poin penting:➡️ Ibadah harus dibangun atas rasa cinta, harap, dan takut kepada Allah.3️⃣ Berlepas diri dari kesyirikanNabi Ibrahim ‘alaihissalām berkata kepada kaumnya bahwa beliau berlepas diri dari apa yang mereka sembah.📌 Poin penting:➡️ Tauhid mengharuskan kita menolak dan meninggalkan segala bentuk peribadahan kepada selain Allah.4️⃣ Menetapkan ibadah hanya kepada AllahNabi Ibrahim menyatakan bahwa beliau hanya menyembah Allah yang menciptakannya.📌 Poin penting:➡️ Setelah menolak sesembahan selain Allah, wajib menetapkan ibadah hanya untuk Allah.5️⃣ Makna Lā Ilāha IllallāhSyahadat ini mengandung dua unsur:❌ Lā ilāha → Menolak semua sesembahan selain Allah.✅ Illallāh → Menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.📌 INTI UTAMA:🌸 Tauhid tidak cukup hanya meyakini Allah sebagai Tuhan, tetapi juga harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah.6️⃣ Bahaya menjadikan manusia sebagai sesembahanPada ayat berikutnya disebutkan tentang orang-orang yang menjadikan alim ulama dan rahib sebagai tuhan selain Allah.📌 Poin penting:➡️ Tidak boleh menaati manusia dalam perkara yang bertentangan dengan perintah Allah.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Tafsir Ibnu Katsir Ar-Ra`d (13:24) Tema: MANUSIA MEMPEROLEH BALASAN AMAL PERBUATANNYA (Ayat 18-29)

Subtema: Beberapa sifat dan perbuatan yang mulia dalam Islam (Ayat 18-24)Catatan kaki:210541. Artinya, keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.Firman Allah subhanahu wata'āla:...sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), "Salamun 'Alaikum Bima Sabartum.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.Yakni para malaikat masuk ke tempat mereka dari setiap pintu untuk mengucapkan, "Selamat masuk surga," kepada mereka. Dengan kata lain, apabila mereka masuk ke dalam surga, maka para malaikat datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas apa yang telah mereka peroleh dari Allah, yaitu kedudukan yang dekat dengan-Nya, limpahan nikmat dari-Nya, dan masuk ke dalam Darussalam di dekat para siddiqin, para nabi, dan para rasul yang mulia.Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ma'ruf ibnu Suwaid Al-Harrani, dari Abu Usyanah Al-Mu'afiri, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As-r.a., dari Rasulullah ﷺ. Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda: Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang mula-mula masuk surga dari kalangan makhluk Allah? Mereka (para sahabat) menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Maka Rasulullah ﷺ. bersabda: Orang yang mula-mula masuk surga dari kalangan makhluk Allah ialah kaum fakir miskin Muhajirin, mereka adalah orang-orang yang bertugas membentengi daerah-daerah perbatasan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Seseorang dari mereka mati, sedangkan keperluannya masih tersimpan di dalam dadanya tanpa mempunyai kemampuan untuk melunasinya. Maka Allah berfirman kepada para malaikat yang dikehendaki-Nya, "Datangilah mereka oleh kalian dan ucapkanlah selamat kepada mereka!" Maka para malaikat bertanya, "Kami adalah penduduk langit-Mu dan makhluk-Mu yang terpilih, apakah Engkau perintahkan kami untuk datang kepada mereka untuk mengucapkan selamat kepada mereka?”Allah berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-(Ku) yang menyembah-Ku tanpa mempersekutukan diri-Ku dengan sesuatu pun. Merekalah yang membentengi daerah-daerah perbatasan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seseorang dari mereka mati, sedangkan keperluan (kebutuhan)nya masih tersimpan di dalam dadanya tanpa dapat melunasinya (menunaikannya)." Rasulullah ﷺ. melanjutkan sabdanya, bahwa saat itu juga para malaikat mendatangi mereka dan masuk ke tempat mereka dari semua pintunya seraya mengucapkan:Keselamatan terlimpahkan kepada kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.Abul Qasim At-Tabrani meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Rasyidin, dari Ahmad ibnu Saleh, dari Abdullah ibnu Wahb, dari Umar ibnul Haris, dari Abu Usyanah yang telah mendengar dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Golongan yang mula-mula masuk surga adalah kaum fakir miskin Muhajirin yang dengan keberadaan mereka semua hal yang tidak diinginkan terhindarkan, dan apabila mereka diperintahkan, maka mereka tunduk patuh mengerjakannya. Dan sesungguhnya seseorang dari mereka benar-benar mempunyai keperluan kepada sultan yang belum terpenuhi hingga ia mati, sedangkan keperluannya itu masih tersimpan di dalam dadanya. Dan sesungguhnya Allah menyeru surga pada hari kiamat, maka surga datang dengan segala keindahan dan perhiasannya. Lalu Allah berfirman, "Di manakah hamba-hamba-Ku yang telah berperang di jalan Allah, disakiti dalam membela jalan-Ku, dan berjihad di jalan-Ku? Masuklah kalian ke dalam surga tanpa azab dan tanpa hisab.” Maka berdatanganlah para malaikat yang langsung bersujud (kepada-Nya) dan berkata, "Wahai Tuhan kami, kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu sepanjang malam dan siang hari, dan kami selalu menyucikan Engkau, siapakah mereka yang lebih Engkau prioritaskan di atas kami?” Allah subhanahu wata'āla berfirman, "Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang berjihad di jalan-Ku dan disakiti karena membelajalan-Ku.” Maka para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu seraya mengucapkan, "Keselamatan terlimpahkan kepada kalian berkat kesabaran kalian.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Artah ibnul Munzir, bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki dari kalangan sesepuh yang ada dalam pasukan (kaum muslim) yang dikenal dengan nama Abul Hajjaj. Dia mengatakan bahwa ia duduk di majelis Abu Umamah, dan Abu Umamah mengatakan, "Sesungguhnya orang mukmin itu apabila masuk surga, duduk menyandar di atas dipan-dipannya, sedangkan di hadapannya terdapat dua jajar barisan para pelayan, dan di ujung barisan pelayan terdapat pintu yang dijaga. Kemudian malaikat datang dan meminta izin untuk masuk, maka penjaga pintu berkata kepada pelayan yang ada di dekatnya, 'Ada malaikat datang meminta masuk.' Pelayan itu lalu memberitahukan kepada pelayan lain yang ada di sisinya, bahwa ada malaikat meminta izin untuk masuk, hingga sampailah kepada orang mukmin itu. Maka si orang mukmin berkata, 'Izinkanlah dia masuk.' Lalu pelayan yang ada di dekat orang mukmin itu menyampaikan pesan itu kepada pelayan lain yang ada di dekatnya, hingga sampailah kepada pelayan yang berada di pintu masuk. Maka pelayan yang menjaga pintu membukakan pintunya untuk malaikat itu. Malaikat itu masuk dan mengucapkan selamat, lalu pergi." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Ismail ibnu Ayyasy, dari Artah ibnul Munzir, dari Abul Hajjaj Yusuf Al-Ilhani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah menceritakan hadis ini. Lalu disebutkan hingga akhir hadis.Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ. menziarahi kuburan para syuhada setiap awal tahunnya dan mengucapkan ayat berikut kepada mereka:Keselamatan terlimpahkan kepada kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya kesudahan itu.Hal yang sama dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar, dan Usman.Tafsir Ibnu KatsirAr-Ra`d (13:25)Tema: MANUSIA MEMPEROLEH BALASAN AMAL PERBUATANNYA (Ayat 18-29)Subtema: Di antara sifat dan perbuatan orang yang ingkar kepada Allah (Ayat 25-27)Demikianlah keadaan orang-orang yang celaka dan sifat-sifat mereka. Disebutkan pula apa yang mereka peroleh di hari akhirat dan tempat kembali mereka yang membeda dengan apa yang dialami oleh orang-orang mukmin. Sebagaimana mereka pun memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan orang-orang mukmin ketika di dunianya. Orang-orang mukmin mempunyai ciri khas selalu menunaikanjanji Allah dan menghubungkan apa yang diperintahkan oleh Allah agar "mereka menghubungkannya, sedangkan orang-orang celaka adalah:Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi.Di dalam sebuah hadis disebutkan:Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila bicara, berdusta, apabila berjanji, ingkar: dan apabila dipercaya, khianat.Menurut riwayat lainnya:Dan apabila berjanji, melanggarnya, dan apabila bersengketa, curang.Karena itulah dalam ayat ini disebutkan:...orang-orang itulah yang memperoleh kutukan.Yang dimaksud dengan kutukan atau laknat ialah dijauhkan dari rahmat Allah. ....dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).Yakni akibat dan tempat kembali yang sangat buruk, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (Ar Ra'du:18)Abul Aliyah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Orang-orangyang merusak janji Allah., hingga akhir ayat.Bahwa ada enam macam pertanda yang ada dalam diri orang-orang munafik. Apabila mereka mendapat angin di kalangan masyarakat, maka mereka menampakkan ciri-ciri khas ini, yaitu: Apabila berbicara, dusta, apabila berjanji, ingkar, apabila dipercaya, khianat, mereka merusak janji Allah sesudah diikrarkan dengan teguh, memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan gemar menimbulkan kerusakan di bumi. Apabila mereka dikalahkan, maka yang tampak dari mereka adalah tiga ciri khas, yaitu: Apabila berkata, dusta, apabila berjanji, ingkar, dan apabila dipercaya, khianat.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 82

Halaqah 82 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-82 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِ، وَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَ،  فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌ، لِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍ؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِDan kami, yaitu Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan Al-Lawḥ dan Al-Qalam. Kami, Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan lawḥ, yaitu Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ ۝ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ(QS: Al-Burūj (85:21-22))Bahkan itu adalah Al-Qur’ān Al-Majīd, Qur’ān yang agung di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Lawḥul Maḥfūẓ di sini, kalau diterjemahkan dalam bahasa kita, adalah lembaran yang terjaga. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Tidak mengetahui tentang isinya kecuali Allāh ﷻ, kecuali perkara yang memang sudah dikabarkan oleh Allāh ﷻ kepada sebagian rasul-Nya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاKitab yang dikatakan oleh Allāh ﷻ, “Lā yamassuhu illal-muṭahharūn” (yang tidak menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang disucikan).Yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ(Tidaklah menimpa sebuah musibah yang terjadi di permukaan bumi atau menimpa diri kalian, kecuali dalam sebuah kitab sebelum Kami menciptakan musibah).Apa yang dimaksud dengan kitab di sini adalah Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allāh telah menulis takdir para makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi”Kematian, rezeki, amalan, Surga, dan Neraka sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Sehingga Ahlusunnah wal-Jamā’ah beriman dengan Lawḥul Maḥfūẓ, yang ditulis di dalamnya segala sesuatu, dan hal ini harus kita imani. Hal ini sangat mudah bagi Allāh ﷻ, menjadikan di sana kitab, menjadikan di sana lembaran-lembaran yang ditulis segala sesuatu di dalamnya:إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌYang demikian itu sangat mudah bagi Allāh ﷻ.Lawḥul Maḥfūẓ adalah makhluk, ditulis di dalamnya segala sesuatu, ini harus kita imani.Kemudian yang kedua adalah Al-Qalam. Kita beriman dengan Al-Qalam, yaitu pena yang digunakan untuk menulis takdir. Jadi, ada kitab yang berisi tentang takdir, dan di sana ada pena yang digunakan untuk menulis takdir. Keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ, dan keduanya harus kita imani.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 07 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 07)

بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan:ولم يتركنا هملاً، بل أرسل إلينا رسولاً، فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.Dan Allāh tidak meninggalkan kita hidup didunia ini dengan sia-sia, akan tetapi Allāh mengutus kepada kita seorang rasūl.⇒ Kita diciptakan di dunia ini dan diberikan rejeki dan tidak dibiarkan oleh Allāh dalam keadaan sia-sia.Artinya sia-sia tidak diperintah, tidak dilarang, tidak dihisab tidak dikembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Allāh telah menciptakan kita dan memberikan rejeki kepada kita ada hikmahnya (ada tujuannya) diketahui oleh orang yang mengetahui dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahui.Allāh menciptakan kita untuk beribadah kepadanya, dan tidaklah Allāh memberikan rejeki kepada kita dengan berbagai jenisnya kecuali supaya kita jadikan rejeki tersebut sebagai wasīlah kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Diberikan kita nafas, diberikan kita makanan, diberikan kita minuman, tujuannya agar digunakan untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bukan digunakan untuk berbuat maksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.ولم يتركنا هملاً بل أرسل إلينا رسولاًAllāh tidak membiarkan kita hidup didunia tanpa tujuan, tanpa diperintah, tanpa dilarang tanpa dihisab dihari kiamat tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus kepada kita seorang rasūl (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang datang utusan tersebut dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan membawa perintah Allāh supaya kita menjalankan perintah Allāh tersebut sesuai dengan kemampuan kita.Disana ada perintah untuk melakukan shalāt lima waktu, perintah untuk melakukan puasa Ramadhān, melakukan haji bila terpenuhi syarat wajibnya, disana ada perintah untuk membayar zakāt, itu semua pada hakikatnya adalah perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang dibawa oleh rasūl Nya, nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sebagai seorang rasūl diutus kepada kita dengan membawa larangan-larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang kita diperintahkan untuk menjauhi dan meninggalkan larangan tersebut tanpa terkecuali yang kecil maupun yang besar.Dan diantara larangan-larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah larangan untuk berbuat syirik, larangan untuk berbuat bid’ah didalam agama, larangan untuk berbuat maksiat dengan berbagai jenisnya, ini semua pada hakikatnya adalah larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.بل أرسل إلينا رسولاً فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus kepada kita seorang rasūl (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam)Dan barangsiapa yang mentaati beliau maka dia akan masuk kedalam Surga dan barangsiapa berbuat maksiat kepada beliau maka dia akan masuk kedalam neraka.Barangsiapa yang mentaati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mentaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, membenarkan kabar yang datang dari beliau dan beribadah sesuai dengan cara yang beliau ajarkan maka orang yang demikian akan masuk kedalam Surga.Tetapi barangsiapa yang berbuat maksiat kepada beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika beliau memerintahkan tidak dikerjakan perintahnya, ketika beliau melarang di langgar larangannya, ketika beliau mengabarkan sesuatu didustakan kabarnya, atau seseorang beribadah tidak sesuai dengan apa yang beliau ajarkan (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Maka akibatnya ancamannya adalah masuk kedalam neraka dan ini sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ“Barangsiapa menaati Rasūl (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allāh.”(QS. An Nissā’: 80)Barangkali taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka pada hakikatnya dia telah taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) adalah seorang utusan, tugas beliau adalah hanya membawa dan menyampaikan apa yang datang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Perintah beliau tidak lain adalah perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, disampaikan oleh beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) larangan beliau pada hakikatnya adalah larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Disampaikan oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada umatnya.Didalam sebuah hadīts beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan:كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى“Setiap umatku akan masuk kedalam surga kecuali orang yang enggan.Para shahābat bertanya,”Siapa yang enggan masuk kedalam surga wahai Rasūlullāh?”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia masuk kedalam surga, dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku (berbuat. maksiat kepadaku) maka dialah orang yang enggan masuk kedalam surga”Ini menunjukkan untuk masuk kedalam surga seseorang diharuskan seseorang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian beliau mengatakan:والدّليل قول تعالى: إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا۞ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗاDan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا۞ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasūl (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasūl kepada Fir‘aun. Namun Fir‘aun mendurhakai Rasūl itu, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”(QS. Al Muzzammil: 15-16)Allāh telah mengutus nabi Mūsā alayhissallām kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun berbuat maksiat kepada nabi Mūsā alayhissallām dan mendustakan beliau.Maka akibatnya Allāh menyiksa Fir’aun dengan siksaan yang sangat pedih, ditenggelamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dialam kubur dia disiksa oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, siksaan di akhirat lebih dahsyat dari itu semua.Akibat dari apa?Akibat dari memaksiati utusan seorang rasūl yang telah diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan ini adalah peringatan bagi kaum muslimin jangan sampai menimpa mereka apa yang telah menimpa Fir’aun dan bala tentaranya.Diutus kepada mereka seorang rasūl (Mūsā alayhissallām) kemudian mereka memaksiati (mendustakan) dan tidak mengikuti beliau sehingga mendapatkan adzab yang pedih.Ini menunjukkan tentang wajibnya mentaati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ini adalah perkara pertama yang ingin beliau sampaikan.Perlu kita ketahui dan kita amalkan bahwasanya Allāh menciptakan kita, memberikan rejeki kepada kita dan tidak meninggalkan kita dalam keadaan sia-sia, tidak diperintahkan tidak dilarang dan tidak dikembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Itulah yang bisa kita sampaikan.وبالله التوفيق و الهدايةوالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

STRATEGI MENGHADAPI MASALAH “AIR MATA”

1. Bicaralah tentang Air MataBicarakan tentang menangis dengan anak saat dia tidak sedang menangis.Misalnya saat membaca buku:> “Dia terlihat sedih. Ayah ingin tahu apakah dia akan menangis. Kadang-kadang Ayah menangis ketika sedih. Kadang-kadang tidak. Yang mana pun tidak apa-apa.”Atau ceritakan pengalaman Anda:> “Ayah masih ingat ketika seusiamu, Ayah ingin membeli es krim, tapi es krim sandwich-nya kehabisan. OH, TIDAK! Ayah menangis. Ayah sangat kecewa.”Menangis bukan sesuatu yang memalukan. Ketika kita bercerita bahwa kita juga pernah menangis, bahkan karena hal yang tampak sepele, anak tidak akan merasa sendirian dengan air matanya.---2. Hubungkan Air Mata dengan Arti PentingSampaikan kepada anak:> “Air mata memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang penting yang terjadi di dalam tubuh kita.”Terkadang tubuh mengetahui sesuatu sebelum pikiran memahaminya. Kita mungkin menangis tanpa tahu alasannya, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa kita baik-baik saja.Pesan penting untuk anak: Bersabarlah dalam memahami air mata dan pesan dari tubuh. Jangan menyalahkan diri sendiri karena menangis.---3. Pertanyaan SokratesAjak anak berpikir mendalam dan mempertanyakan anggapan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.Beberapa pertanyaan:Menurut kamu, apa yang dikatakan air mata kepada kita?Apakah air mata itu baik, buruk, atau bukan keduanya?Tahukah kamu bahwa air mata dapat melepaskan stres dari tubuh? Bukankah itu menarik?Mengapa ada orang yang tidak suka menangis?Bisakah anak laki-laki dan perempuan menangis?Bisakah orang dewasa dan anak-anak menangis?Apakah pria dan wanita boleh menangis?Apakah lebih baik anak perempuan atau anak laki-laki yang menangis, atau boleh keduanya? Mengapa?Bagaimana kamu mengetahui hal itu?Tujuannya bukan mencari jawaban yang benar, tetapi mendorong anak untuk berpikir dan memahami air matanya.GOOD INSIDEMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kenn edy)

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 September 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Mendidik Anak Diawali Dari Mendidik Diri - Ust Abu Salma Muhammad

Teladan yang baik lebih didahulukan daripada nasihat yang baik.Memberikan contoh yang baik sering kali lebih efektif daripada memberikan nasihat.Kita harus menjadi orang yang memahami tauhid sekaligus menerapkan tauhid.Sebab siapa guru pertama bagi anak? Orang tuanya.Mereka melihat kita. Dan apa yang mereka lihat seringkali jauh lebih kuat pengaruhnya daripada apa yang mereka dengarkan.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →