Talbis Iblis #3 - Talbis Iblis Terhadap Para Filsuf Yunani Dan Penyembah Berhala
1. Talbis Iblis Terhadap Kaum Falasifah (Filsuf Yunani) & PengikutnyaLatar Belakang: Tokoh-tokoh filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan Plotinus adalah orang-orang yang sangat cerdas. Mereka menulis banyak hal mendetail tentang perkara duniawi yang sifatnya nampak (hissiyah) seperti biologi, kimia, dan fisika.Awal Mula Penyimpangan: Pada zaman Khalifah Al-Ma'mun, buku-buku filsafat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kaum muslimin saat itu terpesona karena hal-hal mendetail tersebut belum pernah dibahas secara ilmiah di kalangan mereka.Kesalahan Fatal: Masalah besar muncul ketika para filsuf ini mulai berbicara tentang Teologi (Ketuhanan). Mereka hanya bersandar pada kecerdasan otak tanpa mau menerima tuntunan wahyu atau sinar kenabian (Nurun Nubuwwah). Akal manusia memiliki keterbatasan; akal hanya bisa mengetahui keberadaan Tuhan secara global, tetapi tidak akan mampu menebak rincian zat atau cara kerja Tuhan tanpa wahyu. Ketika memaksakan diri, mereka akhirnya hanya berbicara berdasarkan persangkaan (zhunnuun).Analogi dan Keterbatasan Akal Manusia dalam Hal GhaibKetiadaan Landasan Analogi: Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa ketika kaum falasifah (filsuf) berbicara tentang perkara hissiyah (hal yang nampak/inderawi) seperti biologi, kimia, fisika, atau medis, mereka bisa sepakat karena memiliki landasan objek yang jelas untuk dianalogikan dan diteliti. Namun, ketika mereka mulai berbicara tentang perkara ghaib (Ketuhanan), mereka tidak memiliki landasan empiris sama sekali. Akhirnya, mereka hanya bersandar pada konsekuensi persangkaan semata (zhunnuun) tanpa mau menengok ajaran para nabi, sehingga menimbulkan perselisihan pendapat yang sangat banyak di antara mereka.Tiga Contoh Keterbatasan Akal ManusiaUntuk membuktikan bahwa akal manusia tidak akan mampu mengulik zat Pencipta secara mandiri, terdapat tiga analogi batasan ilmu makhluk:1. Hakikat Ruh ManusiaRuh adalah sesuatu yang selalu ada dan hadir di dalam jasad kita sendiri, namun tidak ada satu pun manusia yang bisa menerangkan unsur pembentuknya, bentuk fisiknya (apakah gemuk/kurus, panjang/pendek), maupun bagaimana cara ia bersemayam di dalam jasad.Jika ada 1.000 pakar biologi, fisika, atau kimia berkumpul untuk memperdebatkan hakikat ruh tanpa dalil, maka akan muncul 1.000 atau bahkan 1.001 pendapat yang berbeda karena tidak adanya landasan ilmiah.Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'." (QS. Al-Isra: 85).2. Hakikat Alam JinJin adalah makhluk ghaib yang tingkatannya masih di bawah Khaliq (pencipta), namun akal manusia tetap tidak mampu menjelaskan eksistensinya secara ilmiah.Manusia tidak bisa menjelaskan secara ilmiah bagaimana jin bisa menjelma/mengubah wujud (tasyakkur) menjadi hewan atau wanita cantik, bagaimana jin masuk ke tubuh manusia, menguasai otaknya, hingga berbicara menggunakan pita suara manusia dengan bahasa atau keahlian yang sebelumnya tidak dikuasai oleh orang yang kesurupan tersebut.3. Hakikat Allah Sang KhaliqJika terhadap makhluk yang dekat dengan manusia saja (seperti ruh dan jin) akal sudah angkat tangan dan buntu, maka terlebih lagi ketika akal tersebut dipaksa memikirkan hakikat zat Allah Sang Pencipta (Al-Khaliq).Karena kaum falasifah memaksakan logika mereka tanpa petunjuk wahyu, ucapan mereka menjadi ngawur, menebak-nebak, dan terpecah ke dalam mazhab-mazhab teologi yang saling berselisih.(Catatan pada menit 07:36 selanjutnya berpindah pada papan tulis untuk merinci bagan 3 Mazhab besar Falasifah).A. Aqidah Falasifah tentang “Pencipta”Tiga klasifikasi besar pandangan teologi kaum falasifah:Golongan Dahriyah: Kelompok yang meyakini bahwa Tuhan/Pencipta itu sama sekali tidak ada, dan alam semesta terjadi begitu saja secara alami tanpa ada pencipta.Golongan Teori Causa Prima: Kelompok yang meyakini bahwa alam tercipta dari sebab pertama/al-’illah), diadopsi oleh Socrates, Plato, dan Aristoteles.Definisi Kausa Prima yang Statis: Dalam buku-buku mereka, para filsuf menetapkan adanya satu Sebab Pertama (Causa Prima) yang mereka sebut seakan-akan berfungsi sebagai Tuhan. Mereka mendeskripsikannya sebagai sesuatu yang sangat simpel, statis, dan tidak berubah.Kesalahan Fatal (Bukan sebagai Pencipta/Khaliq): Letak kekeliruan terbesar para filsuf adalah mereka tidak menempatkan Causa Prima ini sebagai Shani' (Dzat Maha Pencipta yang memiliki kehendak/pilihan untuk menciptakan sesuatu). Akhirnya, pandangan kelompok ini sebenarnya mirip dengan golongan Dahriyah (atheis) yang menganggap Tuhan itu tidak ada.Teori Keberadaan yang Berbarengan (Azali): Para filsuf berpendapat bahwa Causa Prima ini ada bersamaan dengan alam semesta. Artinya, Causa Prima tidak ada lebih dulu baru kemudian menciptakan alam belakangan, melainkan keduanya ada sejak Azali (sejak dahulu kala tanpa awal mula). Hubungan keduanya murni hubungan sebab-akibat yang melekat secara instan.Syubhat Kesempurnaan: Di sinilah iblis masuk ke dalam pemikiran mereka. Iblis membisikkan logika: "Karena Kausa Prima adalah suatu sebab yang sangat sempurna, maka akibat yang muncul dari dirinya tidak boleh terlambat (tidak boleh ada jeda waktu). Akibatnya harus muncul bersamaan dengan sang sebab."Mereka juga menolak bahwa Tuhan menciptakan alam karena kehendak atau keinginan Kausa Prima, melainkan menganggap alam tercipta murni sebagai konsekuensi otomatis dari kesempurnaan Kausa Prima.Maka konsekuensinya yaitu alam semesta ini bersifat Azali (Qadim/sudah ada sejak dulu bersama Tuhan) dan juga abadi.Golongan yang Mengakui Pencipta tapi Bingung: Mereka mengakui adanya pencipta karena melihat alam ini mengalami perubahan (muhdats) dari tiada menjadi ada. Namun, mereka bingung ketika melihat kenyataan ada orang berdoa meminta tolong saat kesusahan (seperti tenggelam) tetapi tidak langsung dibantu, sehingga mereka menyimpulkan logika yang aneh:Pendapat pertama: Tuhan bunuh diri setelah menciptakan alam karena menganggap ciptaan-Nya sudah sangat sempurna dan tidak perlu diubah lagi.Pendapat kedua: Tuhan itu lemah dan sekarang tugas-Nya hanya menonton saja karena alam sudah berjalan otomatis dengan hukum alam (sunnatullah).Pendapat ketiga: Tuhan menyatukan atau menyebarkan diri-Nya ke seluruh alam semesta.B. Pandangan tentang Ilmu PenciptaFalasifah Yunani: Mengatakan bahwa Pencipta tidak berilmu kecuali hanya diri-Nya. Syubhatnya: Karena Tuhan Maha Sempurna, tidak pantas bagi-Nya memikirkan makhluk yang penuh dengan kekurangan. Jika pemikiran ini (Tuhan hanya memikirkan diri-Nya sendiri) diikuti, maka hal tersebut justru merupakan sebuah kekurangan yang nyata bagi Tuhan. Konsekuensi dari pemikiran mereka adalah Tuhan menjadi tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di alam semesta, tidak tahu apa yang terjadi pada hewan, maupun pada makhluk ciptaan-Nya, karena fokus-Nya terkunci hanya pada diri-Nya sendiri.Pertentangan dengan Aqidah Islam. Pandangan filsuf tersebut dibenturkan dengan aqidah Islam yang menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Mengurus, dan meliputi segala sesuatu:QS. Al-An'am: 59 – Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya.QS. Hud: 6 – Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya dan Allah tahu tempat kediamannya.QS. Ghafir: 19 – Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.Kekonyolan Logika Filsuf: Jika Tuhan hanya tahu tentang diri-Nya sendiri, maka makhluk justru menjadi lebih sempurna daripada Tuhan. Perbandingan: Hewan saja tahu tentang Tuhannya, manusia tahu tentang Penciptanya. Kita bisa memikirkan diri kita sendiri, memikirkan anak-pasangan, sekaligus memikirkan Allah dan alam semesta. Sementara menurut para filsuf, daya pikir Tuhan sangat terbatas karena hanya bisa memikirkan diri-Nya saja.Pengaruh terhadap Ibnu Sina: Logika ini mempengaruhi tokoh filsuf muslim Ibnu Sina. Namun, Ibnu Sina memodifikasinya sedikit dengan mengatakan bahwa Allah mengetahui makhluk-makhluk-Nya secara global (kulli), tetapi tidak mengetahui hal-hal yang terperinci (juz'i). Syubhatnya: Makhluk itu berubah-ubah dan ada yang buruk, maka tidak pantas Allah memikirkan semuanya. Pengaruh terhadap Mu'tazilah: Mereka menolak sifat-sifat Allah yang terpisah dari Zat-Nya dan mengatakan bahwa ilmu Allah serta kekuasaan (qudroh) Allah adalah Zat-Nya itu sendiri, demi menjaga konsep keesaan Tuhan menurut logika filsafat mereka.C. Aqidah Falasifah tentang Hari KebangkitanKaum falasifah Yunani mengingkari adanya kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikan kembali ruh ke jasad; mereka meyakini surga dan neraka itu tidak ada. Ibnu Sina terpengaruh: Menurutnya tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya kebangkitan ruh saja. Gara-gara keyakinan ini, Ibnu Sina sampai dikafirkan oleh Al-Ghazali dan ulama lainnya karena bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur'an. Pemikiran ini murni bersandar pada logika yang menganggap mustahil jasad manusia yang sudah hancur, membusuk, menjadi tanah, atau bahkan dimakan hewan laut bisa disatukan kembali secara utuh. Pandangan ini sama persis dengan kekufuran kaum musyrikin Arab jahiliyah yang ditolak di dalam Al-Qur'an (seperti dalam Surat Yasin).2. Talbis Iblis Terhadap Orang-Orang yang Menyembah Haikal-Haikal (Benda Langit)Ibnul Jauzi menyebutkan adanya sekelompok manusia yang meyakini bahwa planet-planet dan benda-benda langit (seperti matahari, bulan, Mars, Merkurius, dll.) memiliki ruh seperti layaknya jasad manusia.Mereka memiliki pengagungan terhadap benda-benda langit tersebut dan meyakini bahwa pergerakan planet-planet tersebut mengontrol dan mempengaruhi nasib serta peristiwa yang terjadi di bumi.Iblis membisikkan mereka untuk membuat proyeksi atau replika bentuk (Haikal) dari rupa planet-planet tersebut di bumi (misalnya patung yang menyerupai simbol planet tertentu). Replika atau patung di bumi inilah yang akhirnya mereka sembah dan beri sesajen/kurban demi mendapatkan keselamatan atau menghindari kesengsaraan. Bahkan, ada yang tega mengorbankan anak kecil yang suci tanpa dosa demi memuja matahari.3. Talbis Iblis Terhadap Para Penyembah Berhala (‘Abadatil Ashnam)Cara Iblis Merusak Akal: Iblis memanfaatkan kecenderungan dasar manusia yang menyukai visual atau bentuk-bentuk fisik yang indah. Ketika akal manusia mulai mempertanyakan mengapa mereka menyembah patung yang mati, Iblis memasukkan syubhat: "Kalian tidak menyembah patung ini secara langsung, melainkan patung ini adalah sarana/perantara untuk mendekatkan diri kalian kepada Allah". Hal ini terekam dalam Al-Qur'an surah Az-Zumar ayat 3.Asal Muasal Penyembahan Berhala:Zaman Nabi Nuh AS: Bermula dari wafatnya 5 orang saleh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Masyarakat yang kehilangan mereka membuat patung-patung mereka di tempat ibadah murni hanya untuk mengenang kesalehan mereka dan memotivasi diri agar rajin beribadah. Ketika generasi pertama wafat dan ilmu tauhid mulai dilupakan, Iblis datang menghasut generasi berikutnya bahwa patung-patung orang saleh tersebut dulunya disembah dan dimintai syafaat, sehingga akhirnya patung-patung itu pun mulai disembah.Masuknya Berhala ke Jazirah Arab: Dibawa oleh seorang pemimpin ditaati dari Bani Khuza'ah bernama Amr bin Luhay al-Khuza'ji. Saat berkunjung ke negeri Syam, ia melihat penduduk di sana menyembah berhala dan menganggapnya membawa manfaat. Ia kemudian mengimpor berhala tersebut ke Mekah dan memerintahkan orang-orang untuk menyembahnya, hingga akhirnya setiap kabilah memiliki berhala masing-masing (seperti Lata di Thaif, Uzza di Nakhlah, Manat, Hubal di Ka'bah).Kisah berhala Isaf dan Naila: Awalnya mereka adalah sepasang kekasih dari Yaman yang berzina di dalam Ka'bah saat berhaji. Allah kemudian mengutuk mereka seketika menjadi patung. Awalnya patung mereka dikeluarkan dari Ka'bah untuk dijadikan pelajaran/efek jera bagi orang lain. Namun seiring waktu, iblis memutarbalikkan fakta hingga akhirnya kedua patung penzina ini malah disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.Kekonyolan Penyembahan Berhala: Orang jahiliyah sangat candu menyembah patung, sampai-sampai jika mereka bepergian dan lupa membawa berhalanya, mereka akan mencari batu di jalanan. Jika menemukan 4 batu, 1 batu yang paling bagus dijadikan tuhan untuk disembah, sedangkan 3 lainnya dijadikan tungku batu untuk memasak. Jika tidak menemukan batu, mereka akan mengumpulkan gundukan pasir, menyiramnya dengan semacam susu, lalu melakukan tawaf di sekelilingnya sebagai bentuk penyembahan.Firman Allah dalam Quran Surah Al-A'raf: 195, ‘menyindir’ para penyembah berhala; apakah patung-patung tersebut memiliki kaki untuk berjalan? Punya mata untuk melihat? Punya tangan untuk memukul/memegang? Atau punya telinga untuk mendengar? Kenyataannya, berhala-berhala itu tidak punya semua itu, sedangkan manusia yang menyembahnya justru memiliki fisik yang sempurna. Bagaimana mungkin makhluk yang lebih sempurna secara fisik justru menyembah benda mati yang tidak sempurna? Allah juga berfirman dalam Surah As-Saffat: 95, "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat sendiri?" Logika sehat seharusnya menuntut manusia untuk menyembah Dzat yang menciptakan mereka, bukan menyembah benda yang mereka ciptakan sendiri. KesimpulanFenomena ini membuktikan firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 7: "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Banyak manusia (termasuk para filsuf dan orang kafir) yang sangat cerdas secara intelektual, ahli dalam perkara dunia, mampu menciptakan penemuan ilmiah, sains, kapal, hingga teknologi yang canggih. Namun, ketika berbicara tentang akidah dan ketuhanan, otak mereka mendadak tidak jalan. Ada yang menyembah nabi, menyembah berhala, menyembah sapi, atau bahkan menjadi atheis. Keindahan dunia luar biasa mereka kuasai, tetapi mereka lalai dan buta terhadap hakikat akhirat.
















