TALBIS IBLIS DAY-3, TALBIS IBLIS TERHADAP FILSUF YUNANI DAN PENYEMBAH BERHALA
Al Imam Ibnu Jauzi menegaskan kembali bagaimana syaithon masuk kedalam pemikiran-pemikiran falasifa yang berbicara tentang teologi/konsep ketuhanan yang menyimpang. Pada dasarnya para filsuf Yunani adalah orang-orang yang cerdas. Mereka bahkan menuliskan pemikiran-pemikiran mereka tentang biologi, kimia, fisika, kedokteran. Dan karya-karya mereka dialihbahasakan kedalam bahasa Arab pada jaman Khalifah Al-Makmun. Sehingga banyak kaum muslimin terpesona dengan karya mereka yang dianggap visioner karena penjelasan pemikiran para falasifa sangat detail. Yang menjadi masalah, ketika para filsuf Yunani berbicara tentang teologi dengan menggunakan kecerdasan mereka yang terbatas. Mereka tidak memiliki landasan yang jelas, karena landasannya berdasarkan persangkaan belaka, seperti makna nubuwah kenabian yang tentunya tidak bisa dinalar akal manusia. Menurut Al Imam Ibnu Jauzi, para falasifa ini berbicara tentang teologi tanpa melihat ajaran para nabi. Sehingga timbul perdebatan diantara mereka. Hal yang sederhana tentang ruh saja, tidak ada manusia yang mengetahui apa saja unsur penyusunnya, bagaimana terbentuknya. Karena berbicara tentang ruh merupakan ranahnya Allah azza wa jala.Aqidah falasifa tentang pencipta, ada beberapa mahdzab, yakni:Dahriyah > pencipta tidak ada.Al'ilata > alam tercipta dari sebab pertama (kausa prima) yang seakan-akan berfungsi sebagai sebab penciptaan. Anggapan para falasifa, kkarena kausa prima tersebut azali bersama alam (misal terjadinya alam semesta, kausa prima ada nersamaan dengan terciptanya alam. Ini disebut juga "qidamul alam". Dan tidak mungkin sebab dan akibat terjadi bersamaan. Syaithon memasuki pemikiran mereka dengan syubhat bahwa sebab (kausa prima) tersebut sempurna sehingga akibatnya (alam) tidak boleh terlambat (harus bersamaan dengan sebab). Anggapan berikutnya, munculnya akibat (alam) dari sebab (kausa prima) adalah konsekuensi dari sebab bukan kehendak kausa prima. Maksudnya, akibat (alam) ini ada bukan karena keinginan dari sebab (kausa prima) melainkan terjadi karena konsekuensi dari sempurnarnanya kausa prima yang mengkonsekuensikan adanya alam.jadi alam adalah sebuah konsekuensi dari adanya sebab yang sangat sempurna. Bedanya dengan kaum muslimin, bahwasanya memang Allah yang menghendaki dan menginginkan menciptakan alam. Konsekuensi dari syubhat ini adalah bahwa alam itu azali, alam itu abadi. Padahal diantara mereka sendiri para kaum filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, Plutonis terjadi perbedaan pemikiran tentang teologi.Pencipta itu ada, tapi tidak ada fungsinya, dalilnya karena kami melihat alam ini "muhdats" (baru, dari yang awalnya tidak ada menjadi ada). Sehingga terjadi khilaf diantara mereka tentang hakikat pencipta. Khilaf pertama, tuhan tersebut melihat ciptaannya sudah sempurna dan takut adanya perubahan, maka Tuhan tersebut bunuh diri. Karena alam sudah sempurna dan tidak butuh tuhan lagi. Khilaf kedua, tuhan itu lemah, hanya bisa jadi penonton makhluk yang hebat. Buktinya, jika ada makhluk yang minta tolong tuhan hanya diam saja. Tuhan membiarkan kejahatan terjadi, membiarkan bencana alam. Akhirnya menganggap tuhan sudah tidak bisa mengatur lagi (musykilatul tsar) dimana logika mereka mengatakan jika Tuhan itu ada, pastinya tidak akan ada keburukan. Khilaf ketiga, tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam ( tuhan menyatu dengan alam).Al Imam Ibnu Jauzi juga menjelaskan tentang masalah ilmu khaliq (ilmu pencipta) yang dianut oleh falasifa. Ada beberapa pendapat falasifa tentang"ilmu pencipta", antaralain:Pendapat falasifa Yunani: Pencipta tidak berilmu kecuali hanya diriNya. Maksudnya karena tuhan sudah sempurna, maka tuhan tidak boleh memikirkan makhlukNya yang penuh kekurangan. Sehingga hanya boleh memikirkan dirinya tuhan sendiri. Yang terpengaruh oleh syubhat logika ini antara lain adalah pemikiran Ibnu Sina, yang mengatakan bahwa Allah mengetahui semua makhlukNya secara "kulli" (global) bukan terperinci. Syubhat logika Ibnu Sina adalah makhluk itu berubah-ubah, ada yang buruk, sehingga Allah tidak pantas memikirkan makhlukNya. Karena syubhat inilah, Ibnu Sina dikafirkan oleh Al Ghozali. Syubhat logika ini juga mempengaruhi pemikiran mu'tazilah, yakni ilmu Allah dan qudrah Allah adalah dzatNya sendiri.Aqidah falasifa tentang hari kebangkitan:Mengingkari kebangkitan jasad dan mengingkari dikembalikannya ruh ke jasad sehingga mengingkari bahwa surga dan neraka tidak ada. Syubhat logika ini mempengaruhi pemikiran Ibnu Sina, yakni tidak ada kebangkitan jasad dan ang ada kebangkitan ruh. Karena pemikiran inilah Ibnu Sina dikafirkan. Bantahan syubhat ini: bahwasanya sangat mudah bagi Allah untuk mengumpulkan kembali jasad yang telah hancur berkeping-keping sebagaimana mudahan Allah menciptakan makhluknya.Al Imam Jauzi juga membahas talbis Iblis Ashabul Hayakil (penyembah haikal-haikal/bentuk-bentuk), maksudnya bahwa planet memiliki ruh, benda-benda langit ada ruhnya, bentuk bintang-bintang yang diproyeksikan seperti bentuk tertentu (rasi bintang).Al Imam Ibnu Jauzi juga membahas talbis Iblis tentang penyembahan terhadap berhala. Asal muasal penyembahan berhala adalah pada masa nabi Nuh. Berhala-berhala tersebut diberi nama sesuai dengan nama orang shaloh. Yang diyakini jika disembah akan mendapatkan berkah. Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote


















