📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI28 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 80

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 80 | Waspadalah dari Berlebih-lebihan Mendalami Takdir Allāh ﷻHalaqah 80 | Waspadalah dari Berlebih-lebihan Mendalami Takdir Allāh ﷻKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-80 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَالحَذَرَ كُلَّ الحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًMaka hendaklah berhati-hati / waspada sebenar-benarnya dari berlebih-lebihan dalam mendalami takdir, yaitu seseorang memikirkan mendalami, berhati-hati terhadap was-was dari syaithan yang membisikkan siapa yang menciptakan Allāh ﷻ, berarti kalau demikian Allāh ﷻ dzhalim, kalau demikian Allāh ﷻ demikian dan demikian. Hati-hati dengan yang demikian, segera berlindung kepada Allāh ﷻ dari godaan syaithan dan kembali kepada agama Allāh ﷻ, beriman dengan syari’at Allāh ﷻ, beriman dengan seluruh takdir Allāh ﷻفَإِنَّ اللهَ تَعَالَىٰ طَوَى عِلْمَ القَدَرِ عَنْ أَنَامِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَرَامِهِkarena Allāh ﷻ telah melipat ilmu tentang takdir ini dari makhluk-Nya, artinya ini adalah rahasia Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ melarang mereka untuk berusaha membuka rahasia tadi. Allāh ﷻ melarang mereka yang demikian.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh ﷻ{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]Ini larangannya, Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang dia lakukan, Allāh ﷻ menyesatkan, Allāh ﷻ memberikan hidayah, Allāh ﷻ memasukkan ke dalam surga, Allāh ﷻ memasukkan ke dalam neraka, ini semua adalah takdir Allāh ﷻ, Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tapi yakin bahwasanya apa yang Allāh ﷻ kerjakan itu tidak ada kedzhaliman, apa yang Allāh ﷻ kerjakan pasti disana ada hikmah, Allāh ﷻ lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak berhak untuk mendapatkan hidayah.Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang dia kerjakan dan merekalah yang akan ditanya, kita yang akan ditanya tentang apa yang sudah kita lakukan di duniaوَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِينَWa lanas’alan-nallażīna ur’sila ilaihim wa lanas’alan-nal-mursalīn. (QS. Al-A’raf [7]: 6)Maka sungguh Kami akan bertanya kepada mereka (yaitu orang-orang yang telah diutus kepada mereka para Rasul) dan Kami akan bertanya juga kepada orang-orang yang Kami utus (yaitu para Rasul).Kalau demikian maka harusnya kita memikirkan bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan tadi dengan baik, jangan kita mengatakan kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian, itu justru akan memudharati kita. Tidaklah Allāh ﷻ melakukan sesuatu kecuali dengan hikmah, Dia adalah Al-Hakim, kita habiskan waktu mengatakan kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian kemudian kita lupa bahwasanya kita akan ditanya oleh Allāh ﷻ.Kalau kita ditanya oleh Allāh ﷻ dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik, celaka, maka ini yang harus kita pikirkan bukan seseorang justru malah التَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ dalam masalah takdir Allāh ﷻ ini, tidak bisa mengerem justru malah mengikuti was-was tersebutفَمَنْ سَأَلَ: لِمَ فَعَلَ؟ فَقَدْ رَدَّ حُكْمَ الكِتَابِBarangsiapa yang bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian, maka orang yang mengatakan demikian dia sungguh telah menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ mengatakanلَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُTidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, kok dia malah bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan, berarti di sini dia menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’anوَمَنْ رَدَّ حُكْمَ الكِتَابِ؛ كَانَ مِنَ الكَافِرِينَMaka barang siapa yang menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’an sungguh dia termasuk orang yang kufur.Hati-hati dikhawatirkan orang yang justru malah dia berlebihan di dalam memikirkan takdir Allāh ﷻ sampai membawa dia kepada kekufuran, dia terus akan bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah ayat 10

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 10فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَFī qulūbihim maraḍun fazādahumullāhu maraḍā, wa lahum ‘adhābun alīmun bimā kānū yakdhibūn.Artinya:"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."Penyakit hati ada dua.Pertama, syubhat, seperti kekufuran, kemunafikan, keraguan, berburuk sangka kepada Allah, dan lain-lain.Kedua, syahwat, seperti suka dengan maksiat, rindu untuk berzina, dan lain-lain.Ini semua menyerang hati.Orang munafik ini baru muncul di Islam setelah Perang Badar. Jadi, ketika Nabi datang ke kota Madinah, Nabi mendapati tiga komunitas.Komunitas kaum muslimin.Komunitas kaum musyrikin.Komunitas Yahudi.Untuk komunitas kaum Yahudi terdapat Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.Sedangkan komunitas kaum musyrikin terdiri dari penduduk asli kota Madinah, di antaranya suku Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam. Kalau mereka masuk Islam, mereka kemudian disebut sebagai kaum Anshar.Di antara mereka ada yang belum masuk Islam dan dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Nabi terus mendakwahi orang-orang musyrikin, tetapi mereka tidak mau beriman.Kemudian setelah terjadi Perang Badar pada tahun kedua Hijriyah, ternyata orang-orang kafir Quraisy kalah. Akhirnya, orang-orang musyrikin yang ada di kota Madinah merasa takut. Mereka dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Karena ingin menyelamatkan diri, akhirnya mereka masuk Islam, tetapi hati mereka masih munafik dan masih kafir. Sehingga dalam diri mereka terdapat keraguan dan kegelisahan, serta mereka memiliki syahwat dalam dada-dada mereka.فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا"Lalu Allah menambah penyakit hati mereka."Kenapa?Kata para ulama, karena mereka sudah memiliki penyakit sebelumnya. Ini menjadi dalil bahwa jika seseorang sudah memiliki penyakit hati, maka penyakit tersebut bisa bertambah.Orang yang sudah melakukan maksiat bisa bertambah kemaksiatannya.Oleh karenanya disebutkan bahwa sesungguhnya maksiat memanggil temannya. Begitu juga dengan kebaikan yang mendatangkan kebaikan lainnya.Makanya Allah mengatakan bahwa bagi orang yang melakukan kemaksiatan, tatkala mereka menyimpang, Allah semakin menyimpangkan hati mereka.Seperti pada ayat ini:فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka."Jadi, maksiat menyebabkan maksiat selanjutnya. Dan itu sering terjadi. Terus terbawa pada masa berikutnya dan semakin parah tanpa mereka sadari.Seakan-akan sesuatu yang biasa. Padahal kalau mereka langsung melakukan maksiat tingkat atas, mereka tidak berani.Tetapi setan memilih cara sedikit demi sedikit, sampai akhirnya maksiat tersebut menjadi sesuatu yang biasa. Penyakit hati pun semakin bertambah.Allah juga mengatakan:"Kami membalikkan hati mereka, mengendalikan dada mereka dan pandangan mereka menuju keburukan."Kenapa?Karena sebelumnya mereka tidak beriman.Jadi, maksiat menyebabkan musibah berikutnya atau maksiat yang selanjutnya.Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa sesungguhnya orang-orang yang lari dari medan pertempuran, setan telah menggelincirkan mereka akibat dosa-dosa mereka sebelumnya.Oleh karenanya, hati-hati kalau seseorang melakukan dosa. Segera beristighfar.Kalau dia tidak beristighfar, dosa tersebut dapat mengantarkan atau menggiring dia menuju dosa-dosa berikutnya, sehingga hatinya semakin berpenyakit.وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ"Dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."Alīm berarti pedih, menyakitkan, dan menyiksa akibat kedustaan mereka.Azab yang pedih maksudnya apa?Azab orang munafik lebih parah daripada azab orang kafir.Kenapa bisa?Karena orang kafir asli tidak berbohong. Mereka mengakui bahwa mereka adalah orang kafir.Sedangkan orang-orang munafik menggabungkan dua penyakit, yakni nifaq i‘tiqadi.Sehingga Allah berfirman:"Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkatan paling dasar di neraka Jahannam."Kenapa?Karena mereka kafir plus. Selain kafir, mereka juga berdusta.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tafsir Qs. Al Baqarah 155-157 atas Ujian dan Kesabaran

Pelajaran untuk Kehidupan Kita Saat Ini 1. Jangan kaget ketika diujiUjian adalah bagian dari kehidupan. Ketakutan, kehilangan, masalah rezeki, sakit, maupun kehilangan orang yang dicintai termasuk bentuk ujian yang disebutkan dalam ayat. 2. Sabar bukan berarti tidak merasa sedihSabar adalah tetap menjaga sikap dan ketaatan kepada Allah ketika menghadapi musibah. Kita boleh merasa sedih, tetapi tidak menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berputus asa dari Allah. 3. Biasakan istirja’ ketika mendapat musibah“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” bukan sekadar ucapan ketika ada kematian. Maknanya mengingatkan kita bahwa kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. 4. Musibah dapat mengembalikan hati kepada AllahKetika sesuatu yang kita miliki hilang, ayat ini mengajarkan kita untuk kembali menyadari bahwa semuanya pada hakikatnya adalah milik Allah. 5. Bersabar bukan berarti tidak mendapatkan apa-apaAllah menjanjikan rahmat, keberkahan, dan petunjuk bagi orang-orang yang sabar.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka28 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

🌿 PERSETUJUAN (BAGIAN 2)

STRATEGI1. “Aku Percaya Kamu”Mempersiapkan persetujuan fisik dimulai dengan membangun kepercayaan diri anak.Jika anak tidak memercayai dirinya sendiri dan perasaannya, ia akan kesulitan memercayai kemampuannya dalam mengambil keputusan pribadi.Percayalah pada apa yang anak rasakan dan sampaikan, meskipun apa yang ia rasakan berbeda dengan yang kita rasakan.Kepercayaan dari orang tua membantu anak membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri.Contoh kata-kata:> “Kamu kedinginan, ya? Ibu percaya kepadamu. Mari kita cari jalan untuk mengatasinya.”> “Ibu mengerti. Digelitiki tidak nyaman bagimu. Ibu percaya kamu. Ibu senang kamu memberi tahu, dan Ibu tidak akan melakukannya lagi.”> “Ini terasa menakutkan bagimu. Ibu percaya kepadamu.”---2. “Ada Sesuatu pada ...”Terkadang kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anak.Anak mungkin terlihat kesal atau tidak bahagia, sementara kita tidak memahami penyebabnya.Dalam situasi seperti ini:Hindari meremehkan atau memprovokasi perasaan anak.Gunakan kalimat “Ada sesuatu pada...” untuk menunjukkan bahwa kita percaya kepada anak.Kalimat ini memvalidasi pengalaman anak meskipun kita sendiri belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.Tidak memahami pengalaman anak bukan berarti pengalaman itu tidak nyata.Kalimat ini membantu menjembatani kesenjangan antara apa yang anak rasakan dan apa yang kita pahami.Contoh kata-kata:> “Ada sesuatu pada baju merah ini yang terasa tidak nyaman bagimu...?”> “Ada sesuatu tentang ucapan pamit Ibu hari ini yang tidak enak untukmu...?”---3. “Kamu adalah Satu-satunya yang Ada di Tubuhmu”Persetujuan pada dasarnya adalah keyakinan bahwa:Hanya diri kita yang tahu apa yang terjadi pada tubuh kita.Hanya diri kita yang tahu apa yang kita inginkan.Hanya diri kita yang tahu apa yang terasa nyaman bagi kita pada saat tertentu.Anak perlu belajar mengenali apa yang ia sukai, tidak sukai, inginkan, dan rasakan nyaman.Bangun kepercayaan diri anak dengan menegaskan bahwa ia berhak mengenal dan menentukan apa yang nyaman bagi dirinya.Contoh kata-kata:> “Kamu adalah satu-satunya yang ada di dalam tubuhmu, jadi hanya kamu yang tahu apa yang kamu sukai.”> “Hanya kamu yang tahu apa yang kamu suka.”> “Keren sekali kamu tahu siapa dirimu dan apa yang membuatmu nyaman.”> “Kamu benar-benar mengenal dirimu sendiri, dan itu mengagumkan.”---4. Pertanyaan SokratesAnak belajar dengan baik ketika mereka didorong untuk berpikir dan mempertimbangkan sesuatu.Pertanyaan tentang persetujuan dapat digunakan untuk membantu anak mengeksplorasi:Pengambilan keputusan.Keinginan dan kebutuhan seseorang.Menegaskan apa yang mereka inginkan.Menoleransi kesusahan atau ketidakbahagiaan orang lain.Gunakan waktu yang tenang dan menyenangkan untuk membicarakan hal-hal tersebut bersama anak.Awali dengan:> “Ooooooh, Ibu punya pertanyaan yang menarik...”Kemudian ajukan pertanyaan seperti:> “Mana yang lebih penting, melakukan sesuatu yang terasa benar atau membuat orang lain bahagia?”> “Bagaimana jika kamu tidak bisa melakukan keduanya?”> “Kapan membuat orang lain bahagia, alih-alih melakukan sesuatu yang terasa benar, terasa baik-baik saja bagimu?”> “Kapan melakukan sesuatu yang terasa benar menjadi sangat penting, bahkan walaupun orang lain sangat tidak senang?”> “Bagaimana jika kamu melakukan sesuatu yang kamu inginkan dan orang lain marah kepadamu?”> “Apakah ini berarti kamu jahat? Mengapa atau mengapa tidak?”Good InsideMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI28 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : Pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 55 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Negeri Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau mengatakanوبلده مكةdan negeri beliau adalah Makkah.Ini tambahan yang lain, makrifah yang lain tentang Nabi ﷺ yang seharusnya memang lumrah kalau ini muncul pada diri orang yang muhibb dan cinta kepada Rosulullah ﷺ, akan bertanya beliau itu sebenarnya dari mana, dimana beliau dilahirkan, maka beliau lahir di kota Makkah di tahun yang dinamakan dengan Al-Fiil.Mereka mengenal tahun tersebut karena terjadi kejadian yang besar, maka orang-orang Arab mereka mengenal Al-Fiil yaitu tahun terjadinya penyerangan yang dilakukan oleh Abrahah membawa seekor gajah yang besar untuk menghancurkan Al Ka’bah karena dia merasa ini adalah saingan dia yang paling berat. Dia membangun tempat ibadah yang lain di Yaman dan menghiasi, memewahkan, membesarkan tempat ibadah tersebut, tapi ternyata orang-orang Musyrikin tidak ada di antara mereka yang mau mendatangi tempat ibadah tersebut.Datanglah dia bersama pasukannya dengan membawa seekor gajah. Adapun yang ada di gambar di buku-buku sekolah banyak gajahnya itu salah, gajahnya hanya seekor. Kemudian Allah ﷻ menghendaki lain dari apa yang diinginkan oleh Abrahah, bahkan dialah dan juga bala tentaranya, merekalah yang hancur dan di tahun itulah dilahirkan Rosulullah ﷺ .Maka berarti Mekkah ini adalah بلد, ini adalah negeri beliau, ini adalah tempat kelahiran beliau ﷺ. Dan beliau hidup dan tumbuh besar, lama di kota Makkah meskipun setelah beliau dilahirkan maka oleh ibunya Aminah, dikirimlah Rosulullah ﷺ ke negeri Thaif, sebuah negeri yang masih dekat dengan Kota Makkah kurang lebih di sebelah timur selatan Kota Makkah, dan letaknya agak di pegunungan dan masih bersih udara di sana.Adapun di kota Makkah ini banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah sehingga udaranya tidak sebersih yang ada di kota Thaif. Dan kebiasaan orang-orang Quraisy dahulu mereka mengirimkan anak-anak kecil mereka, bayi-bayi mereka, pada tahun-tahun yang pertama ke tempat-tempat tersebut. Pertama dari sisi kesehatan kemudian yang kedua untuk mendapatkan kefasihan di dalam bahasa Arab, karena mereka masih bersih dan masih memegang masih kuat bahasa mereka sehingga diharapkan bisa mendapatkan faedah dari sisi tersebut yaitu dari sisi bahasa. Sampai akhirnya dikembalikan kepada ibunya ketika beliau ﷺ berumur 4 tahun. Tapi yang jelas negerinya adalah Makkah karena beliau dilahirkan di kota Makkah dan sebagian besar hidupnya adalah berada di kota Makkah.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

TAFSIR AS-SA’DI Al-Ahzab (33:35)

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KETAATANAllah menjelaskan bahwa ketika hukum yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan sama, maka Allah menyebutkan keduanya secara berdampingan.﴾ إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang Muslim→ Berkaitan dengan pelaksanaan syariat secara lahir.﴾ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang Mukmin→ Berkaitan dengan keyakinan hati dan amal-amal batin.﴾ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang patuh→ Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.﴾ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang jujur→ Jujur dalam perkataan dan perbuatan.﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang sabar→ Sabar menghadapi berbagai kesulitan dan musibah.﴾ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang khusyuk→ Khusyuk dalam seluruh keadaan, terutama dalam ibadah dan shalat.﴾ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang bersedekah→ Bersedekah dengan sedekah yang wajib maupun sunnah.﴾ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang berpuasa→ Mencakup puasa wajib maupun sunnah.﴾ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan→ Menjaga diri dari zina dan segala perkara yang mengantarkan kepadanya.﴾ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah→ Banyak mengingat Allah, terutama dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti dzikir pagi dan petang serta dzikir setelah shalat lima waktu.BALASAN BAGI MEREKAAllah menyediakan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji tersebut:1. Ampunan atas dosa-dosa merekaKarena amal-amal kebajikan dapat menghapus dosa-dosa.2. Pahala yang besarPahala yang tidak mampu diukur nilainya kecuali oleh Allah.Pahala tersebut berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.PESAN TAFSIRSifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini mencakup seluruh ajaran agama:• Keyakinan dan iman dalam hati• Amal-amal hati• Amal anggota badan• Perkataan lisan• Berbuat berbagai kebaikan• Meninggalkan berbagai keburukan• Memberikan manfaat kepada orang lainBarang siapa mampu mengamalkan sifat-sifat tersebut, maka ia telah melaksanakan ajaran agama secara lahir dan batin dengan Islam, Iman, dan Ihsan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka.────────────────────📚 Sumber: Tafsir As-Sa’diDisalin dari Quran Tadabbur — Ustadz Firanda Andirja Hafizhahullah

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka28 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman 3 Dahsyatnya Bahaya Lisan Wanita

Bahaya Lisan Wanita1. Membicarakan Semua yang DidengarWanita sering berbicara. Terkadang karena terlalu bersemangat dan memiliki niat baik untuk menyampaikan sesuatu, namun tanpa mengecek kembali apakah informasi tersebut benar atau salah. Sehingga, hal itu termasuk kesalahan besar dan termasuk perbuatan dusta.Hasan al-Basri rahimahullah ta'ala bertutur:“Membicarakan orang lain ada tiga: menggunjing, berbohong, dan berdusta.”Semua tertera dalam kitab di mana:- Menggunjing atau gibah, yaitu membicarakan kejadian yang ada.- Berbohong, yaitu membicarakan sesuatu yang tidak ada kenyataannya.- Berdusta, yaitu membicarakan berita yang didengar yang tidak diyakini kebenarannya.2. Bicara Tanpa Guna dan BerlebihanWaktu adalah modal yang sangat berharga untuk manusia dan sangat bernilai. Sehingga rugi jika dihabiskan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang sia-sia.Orang yang benar-benar berkonsentrasi pada akhirat akan menghadapkan diri pada hal-hal yang berguna dan meninggalkan hal-hal yang sia-sia.Untuk itu, kiat-kiat kita agar mengatasi komunikasi atau berbicara yang tanpa guna yang harus kita perhatikan adalah bahwa nafas adalah modal.Lisan merupakan jaringan yang bisa menangkap kebaikan dan memberikan timbangan amal. Sedangkan kita menuturkan kalimat yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan kebaikan merupakan kerugian yang nyata.Kemudian, berbicara lebih dari yang diperlukan, yang dikenal dengan istilah fadlul kalam, termasuk kerugian.Hasan al-Basri rahimahullah ta'ala bertutur:“Salah satu tanda Allah Subhanahu wa Ta'ala berpaling dari seorang hamba adalah membuatnya sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna sebagai bentuk pengabaiannya.”3. Berkata KejiSelain itu, bahaya ucapan yang keluar melalui lisan yang ketiga adalah berkata keji.Berkata keji adalah ketika seseorang berkata dengan nilai-nilai buruk serta menggunakan kata-kata yang jelas. Pemicunya ada dua, yaitu:1. Karena dia ingin menyakiti orang lain.2. Karena hal tersebut memang sudah menjadi kebiasaan.Dan ini merupakan perangai yang tercela.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Imam Muslim dan An-Nasa’i meriwayatkan bahwa ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Hindarilah oleh kalian perbuatan keji, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kekejian dan sengaja berbuat keji.”Wanita muslimah yang terbiasa berkata keji dan memiliki lidah yang tajam, niscaya dia akan dijauhi oleh orang-orang akibat gangguan lisannya.Di mana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Kebaikan adalah kebiasaan, sedangkan keburukan adalah permusuhan.” (Hadis riwayat Ibnu Majah).Orang yang sering mengucapkan kata-kata keji, maka kata-kata tersebut akan mudah terucap begitu saja ketika sedang marah ataupun ketika sedang berbicara.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir - Surat Al-Anfal : 32

32. Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih " (Al Anfaal:32)Hal ini menunjukkan kebodohan mereka yang terlalu parah dan kerasnya mereka dalam mendustakan Al-Qur'an, mereka sombong dan ingkar kepada Al-Qur'an. Ungkapan tersebut justru berbalik membuat keaiban bagi diri mereka sendiri. Seharusnya hal yang lebih utama bagi mereka ialah hendaknya mereka mengatakan, "Ya Allah, jika Al-Qur'an ini benar dari sisi Engkau, maka berilah kami petunjuk kepadanya dan berilah kami kekuatan untuk mengikuti ajaran-ajarannya." Akan tetapi, mereka meminta keputusan yang berakibat membinasakan diri mereka sendiri, dan mereka meminta untuk segera diturunkan azab dan siksaan. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (Al 'Ankabut:53)Dan mereka berkata.”Ya Tuhan kami. Cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab." (Shaad:16)Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. (Al Ma'aarij:1-3)Hal yang sama dikatakan pula oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan umat terdahulu, seperti kaum Nabi Syu'aib yang mengatakan kepadanya, disitir oleh firman Allah subhanahu wata'āla:Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (Asy Syu'ara:187)Sedangkan dalam ayat ini disebutkan:Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Al Anfaal:32)Syu'bah telah meriwayatkan dari Abdul Hamid (murid Az-Ziyadi), dari Anas ibnu Malik, bahwa Abu Jahal ibnu Hisyamlah yang mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Al Anfaal:32)Kemudian Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari, dari Ahmad dan Muhammad ibnun Nadr, keduanya dari Ubaid illah ibnu Mu'az, dari ayahnya, dari Syu'bah dengan sanad yang sama. Ahmad yang disebutkan dalam sanad ini adalah Ahmad ibnun Nadr ibnu Abdul Wahhab. Demikianlah menurut Al-Hakim Abu Ahmad dan Al-Hakim Abu Ubaidillah An-Naisaburi.Al-Ahmasy telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."Menurutnya orang yang mengatakan demikian adalah An-Nadr ibnul Haris ibnu Kaidah. Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya: Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya. (Al Ma'aarij:1-2)Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, dan As-Saddi, bahwa sesungguhnya dia adalah An-Nadr ibnul Haris. Menurut riwayat Ata ditambahkan firman Allah subhanahu wata'āla:Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab.”(Shaad:16)Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya (Al An'am:94)Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir. (Al Ma'aarij:1-2)Ata mengatakan, sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla telah menurunkan belasan ayat sehubungan dengan hal ini.Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ahmad ibnul Lais, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengata­kan bahwa dalam Perang Uhud ia melihat Amr ibnul As berdiri di atas kuda kendaraannya seraya berkata, "Ya Allah, jika Al-Qur'an yang dikatakan oleh Muhammad adalah benar, maka benamkanlah diriku dan kudaku ini ke tanah."Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau.”, hingga akhir ayat. Bahwa yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang bodoh dan yang kurang akalnya dari kalangan umat ini.33. Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah Musa ibnu Mas'ud, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Abu Zamil Sammak Al-Hanafi, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik bertawaf di Baitullah seraya mengatakan, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ya, ya." Mereka mengatakan pula, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya, sedangkan dia tidak memiliki." Lalu mengatakan pula, "Ampunan-Mu, ampunan-Mu." Maka Alah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau berada di antara mereka hingga akhir ayat.Ibnu Abbas mengatakan bahwa di kalangan mereka (orang-orang musyrik Mekah) terdapat dua keamanan yang menyelamatkan mereka dari azab Allah, yaitu diri Nabi ﷺ dan permohonan ampun. Setelah Nabi ﷺ tiada, maka yang tertinggal hanyalah permohonan ampun (istigfar).Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar-dari Yazid ibnu Ruman dan Muhammad ibnu Qais, keduanya mengatakan bahwa sebagian orang-orang Quraisy berkata kepada sebagian lainnya, "Muhammad telah dimuliakan oleh Allah di antara kita." "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau .. hingga akhir ayat. Ketika sore hari mereka menyesali apa yang telah mereka katakan seraya mengatakan, "Ampunan-Mu ya Allah." Maka Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya, Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka. sampai dengan firman-Nya: ...tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayat­kan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.Allah tidak akan menurunkan azabnya kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampunMaksudnya, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah termasuk golongan orang-orang yang beriman, lalu mereka meminta ampun. Yang dimaksud dengan istigfar ialah salat, dan yang dimaksudkan dengan mereka adalah penduduk Mekah. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Atiyyah Al-Aufi, Sa'id ibnu Jubair, dan As-Saddi.Ad-Dahhak dan Abu Malik mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun. Yakni kaum mukmin yang masih berada di Mekah.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Gaffar ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Addi, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi umat ini dua keamanan, karenanya mereka terus-menerus dalam keadaan terpelihara dan terlindungi dari azab selagi dua keamanan itu ada di kalangan mereka. Salah satu di antaranya telah dicabut oleh Allah subhanahu wata'āla, sedangkan yang lainnya masih tetap ada di antara mereka." Allah subhanahu wata'āla telah berfirman:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Abu Saleh Abdul Gaffar mengatakan, telah menceritakan kepadaku salah seorang teman kami, bahwa An-Nadr ibnu Addi pernah menceritakan hadis ini kepadanya, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih dan Ibnu Jarir melalui Abu Musa Al-Asy'ari. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan Abul Ala An-Nahwi Al-Muqri.Imam Turmuzi mengatakan:telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, tefah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Ismail ibnu Ibrahim ibnu Muhajir, dari Abbad ibnu Yusuf, dari Abu Burdah ibnu Abu Musa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Allah menurunkan dua keamanan bagi umatku," yaitu disebutkan dalam firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda, "Apabila aku telah tiada, maka aku tinggalkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah) di kalangan mereka sampai hari kiamat."Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Haisam. dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:Sesungguhnya setan berkata, "Demi keagungan-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi roh masih berada di kandung badan mereka.” Maka Tuhan berfirman “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku Aku Senantiasa memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku."Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.Imam Ahmad mengatakan:Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Umar, telah menceritakan pula kepada kami Rasyid (yaitu Ibnu Sa'd), telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah ibnu Sa'd At-Tajibi, dari seseorang yang menceritakannya kepada dia, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Seorang hamba dalam keadaan aman dari azab Allah selagi ia masih memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'āla.​

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka31 Agustus 2026
M

Mega P

📍 -

Nak, maafkan Bapak!

Orang tua dengan pola asuh otoriter cenderung menggunakan pola komunikasi praktis lewat instruksi. Ketika instruksi tidak berhasil, maka mereka akan menaikan ke level intimidasi.Sebagian orang tua memandang ini efektif, karena membuat anak lebih cepat diam.Padahal, Intimidasi akan memberikan efek rasa tidak aman bagi anak. Efek selanjutnya anak bisa saja menjadi tempramen. Sebagian mungkin ada yang menarik diri, ada yang diam dan tampak baik-baik saja bahkan tertib.Namun, ini hanya tampak luarnya saja, padahal di baliknya banyak tersimpan masalah.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat31 Agustus 2026
M

Mega P

📍 -

Tafsir Al-Mu'minun:51

Wahai para Rasul! Makanlah dari rizki yang baik dan halal. Kerjakanlah amalan shalih karena sesungguhnya Aku Maha Mengetahui perbuatan yang kalian kerjakan. Dan tiada sedikitpun amalan kalian yang tersembunyi dari diri-Ku.Ayat ini ditujukan kepada para Rasul dan umatnya secara keseluruhan. Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya memakan makanan yang halal bisa membantunya dalam beramal shalih. Dan sesungguhnya akibat makan makanan yang haram sangat berbahaya di antaranya adalah tertolaknya doa

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-Araf:182

Tafsir Al-MuyassarQS Al-Araf:182Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mengingkarinya, dan tidak mengambil pelajaran darinya, Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu rizki dan sumber-sumber kehidupan di dunia, sebagai cobaan bagi mereka sehingga apabila mereka telah tenggelam (dalam kenikmatan dunia itu) dan mereka yakin bahwa mereka telah mendapat kemuliaan, maka Kami siksa mereka atas kelalaian itu, sedangkan mereka tidak mengetahui. Inilah siksa Allah atas pendustaan mereka terhadap bukti-bukti dan ayat-ayat Allah.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka30 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Kode Etik Pengusaha Muslim - Hasad

Salah satu sumber terbesar kesusahan adalah hasad. Ketika seorang pengusaha terus membandingkan dirinya dengan pengusaha lain, omzetnya, asetnya, tokonya, mobilnya, atau pencapaiannya maka ia bis kehilangan rasa syukur atas rezeki yang sudah Allah berikan. Yang tadinya cukup menjadi terasa kurang, bukan karena hartanya berkurang, tetapi karena matanya terus melihat milik orang lain.Lalu bagaimana agar tidak terjebak hasad? Latih diri untuk melihat rezeki orang lain sebagai karunia Allah, bukan ancaman bagi diri sendiri. Ketika melihat orang lain lebih berhasil, biasakan mendoakan keberkahannya, lalu kembali melihat apa yang sudah Allah titipkan kepada kita. Fokus pada pertumbuhan diri, bukan perlombaan dengan orang lain. Karena rezeki setiap orang sudah diatur dengan ukuran yang berbeda, dan tugas kita bukan memiliki semua yang dimiliki orang lain, tetapi menjaga dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Ibrahim: 7 — Keutamaan Bersyukur

Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Ibrahim ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur, yaitu dengan mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah, menggunakannya sesuai dengan yang Allah ridhai, dan tidak mengingkari atau menyembunyikannya. Sebaliknya, kufur terhadap nikmat dapat menjadi sebab dicabutnya nikmat tersebut dan mendatangkan azab yang pedih. Ibnu Katsir juga membawakan kisah seorang pengemis yang menerima sebiji kurma dari Rasulullah ﷺ dengan penuh penghargaan karena menyadari nilainya, berbeda dengan pengemis lain yang menolaknya; meskipun riwayat ini memiliki pembahasan tentang kualitas salah satu perawinya, kisah tersebut menunjukkan pentingnya menghargai nikmat sekecil apa pun. Maka, tambahan nikmat dari Allah tidak selalu berarti bertambah secara jumlah, tetapi dapat berupa keberkahan, manfaat, kecukupan, kemudahan, atau terjaganya nikmat yang telah diberikan.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka28 Agustus 2026
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 13 - Penutup

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak ada solusi instan untuk membangun kepercayaan diri dan harga diri anak. Proses ini membutuhkan waktu, kedekatan emosional, serta dukungan yang konsisten dari orang-orang terdekatnya.Apa pun usia anak Anda, dua hadiah paling berharga yang dapat Anda berikan adalah cinta tanpa syarat dan dukungan yang tulus. Ketika seorang anak merasa dicintai apa adanya—bukan karena prestasi, perilaku, atau keberhasilannya—ia akan lebih mudah melihat dirinya sebagai pribadi yang berharga.Semakin kuat perasaan diterima, dicintai, dan didukung yang dimiliki seorang anak, semakin besar pula kemungkinannya untuk menunjukkan perilaku yang positif, mampu menghadapi tantangan dengan lebih baik, serta menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Faktor-Faktor Menggapai Husnul Khotimah

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, hadits dari Sufyan , ia berkata, "Aku bertanya, "Wahai bin Abdullah Rasulullah, katakanlah kepadaku sebuah perkataan tentang Islam yang belum pernah kutanyakan kepada seorang selain engkau?" Beliau menjawab, "Katakanlah, "Aku beriman kepada Allah." Kemudian konsistenlah."Al-Istiqamah merupakan sebuah kata yang komplek dan menyeluruh, yang mencukup semua permasalahan agama. Al-Istiqamah atau konsisten adalah berdiri di hadapan Allah dengan sebenarnya dan memenuhi janji.Umat yang paling jujur dan paling istiqamah, Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah ditanya tentang istiqamah. la menjawab, "Janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun." Dalam hal ini, Abu Bakar mendefinisikan istiqamah sebagai ketauhidan murni.Umar bin Al-Khaththab berkata tentang Al-Isti-qamah, "Hendaknya kamu konsisten beramar makruf dan nahi munkar dan tanpa rekayasa layaknya musang."

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →