📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
L
Lisna Nurul Hikmah

📍 Kabupaten Banyumas

Bab 9

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan Taubat yang semurni-murninya mudah-mudahan Robb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata Ya Robb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh,engkau mahakuasa atas segala sesuatu.Q.s at tahrim: 8

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Duduk diamlah

Duduk diamlah Sumber : Don't sweat the small stuff with your family Pernahkah anda menghabiskan waktu beberapa menit cuma sampai-sampai dan tidak melakukan apapun kecuali hanya duduk diam? Jika tidak ada kehilangan salah satu metode paling sederhana melakukan relaksasi dan cara luar biasa untuk mencegah menumpuknya hal-hal kecil yang dapat membuat Anda terganggu. Sering kita begitu sibuknya dan terpanjang pada kesibukan hidup sehingga melupakan betapa nyamannya cuma duduk diam.Bila anda pernah bertanya pada diri sendiri apa yang menimbulkan kesenangan kecil ,inilah jawabannya!!Terlepas dari sesibuk apapun hidup Anda atau seberapa banyak tanggung jawab yang anda pikul Anda pasti memiliki beberapa menit setiap hari untuk tidak melakukan apa-apa dan duduk diam. Jika menemukan hal ini anda akan merasakan manfaat secara langsung dan dapat menghindari dunia yang berbeda dalam kualitas pengalaman anda. Duduk diem akan memberi kesempatan beristirahat dari jadwal yang sangat padat suatu peluang untuk bersantai dan mengisi baterai pikiran dan tubuh. Duduk dia berarti Anda dapat menyempatkan diri membersihkan pikiran dan merenung sehingga memungkinkan munculnya inspirasi. Sering salah satu akibat terlalu sibuk kesana kesenian adalah semakin terpuruknya kebiasaan reaktif kita sehingga semakin mudah kita terganggu oleh berbagai hal. Apa yang diberikan dengan kegiatan duduk diam bagi kita adalah peluang untuk memutus momentum negatif yang telah menumpuk sepanjang hari sehingga membuka peluang untuk menata ulang dan memulai dari awal. Pada saat duduk diam dan pikiran beristirahat kerap kali jawaban masalah anda muncul di kepala, seakan-akan melompat begitu saja. Untuk alasan-alasan tertentu duduk diam dan tidak melakukan apa-apa memiliki efek menenangkan pada sistem saraf sehingga ada kecenderungan bangkitnya kebijaksanaan dan wawasan yang lebih dalam. Sangatlah mudah mengesampingkan saran ini karena saran ini terasa kelewat sangat sederhana. Namun sebenarnya tidak demikian sesungguhnya banyak dari strategi-strategi terbaik untuk meningkatkan mutu hidup kita sebenarnya sangat sederhana. Masalahnya adalah kita tidak berusaha mencoba cara ini dengan sungguh-sungguh. Cara-cara lain yang "kelewat disederhanakan" adalah berolahraga dan tidur cukup , makan sedikit dan pola yang sehat, berpikir positif, menghindari obat-obatan dan alkohol dan sebagainya. Meskipun cara yang banyak diketahui sederhana dan sangat bermanfaat hanya sedikit orang yang mau mengambil manfaatnya. Duduk diam termasuk dalam kategori ini bermanfaat dan sederhana namun memiliki nilai yang potensial. Duduk diam meskipun cuma sebentar mungkin punya manfaat lumayan baik kesehatan. Sebagai contoh ketika duduk diam dan benar-benar tidak mengerjakan apa-apa baik tubuh maupun pikiran rasa lebih tenang dan lebih santai nafas jadi lebih lambat dan lebih dalam leher pundak jadi agak santai sering dalam satu atau dua menit saja merasa segar kembali dan damai. Bila merasa tegang dan bila sedang sangat sibuk Anda cenderung mempermasalahkan hal-hal sepele dan mudah terganggu ketimbang bila anda tetap tenang. Duduk dia memang bukan bila ajaib namun tetap melupakan resep yang masuk akal. Rasanya ketegangan langsung menguap begitu meluangkan waktu untuk duduk dan. Tak perlu diragukan lagi ini adalah salah satu saran sederhana yang dapat kita lakukan karena membutuhkan waktu hanya beberapa menit juga tidak memerlukan biaya dan dapat dilakukan di mana saja. Yang harus kita lakukan hanyalah duduk dan bersantai yakin bahwa jika anda melakukan strategi ini beberapa kali dalam sehari anda akan mendapatkan kejutan menyenangkan setelah mengetahui Petapa lebih mudahnya menjalani hidup ini dan mengalir bersamanya. Apa yang biasanya dianggap masalah besar tidaklah selalu seserius yang disangka.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثمَّ لَـمَّا صارَ عَلى أَكْثَرِ الأُمَّةِ مَا صارَ؛ أَظْهَرَ لَـهُمُ الشَّيْطانُ الإخْلاصَ في صُورَةِ تَنَقُّصِ الصَّالِحينَ وَالتَّقْصيرِ في حُقوقِهِمْ، وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ في صُورَةِ مَحبَّةِ الصَّالِحينَ وَاتِّباعِهِمْKemudian ketika menimpa umat ini apa yang menimpanya berupa kejahilan dan lain-lain, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya keikhlasan dan tauhid ini adalah sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap orang-orang yang shalih.Ketika menimpa umat ini kebodohan, danmereka jauh dari ilmu agama, jauh dari bimbingan para ulama, jauh dari petunjuk Al Qur’an dan juga hadits, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya tauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) itu artinya adalah meremehkan orang-orang yang shalih dan meremehkan hak-hak meraka. Dan ini adalah salah satu bentuk talbis dari syaithan dalam usaha menyesatkan manusia.Syaithan menampakkan di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia adalah orang yang tidak menghormati orang yang shalih, tidak menghormati Nabi, tidak menghormati wali.Dan untuk memperjelas perkara ini kita terangkan kembali bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam bersama kaumnya dan bagaimana awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi ini.Di zaman nabi Nuh alayhissallam, ada lima orang yang shalih yang dikenal oleh kaumnya dengan ibadahnya, dengan amalannya, dengan keshalihannya.Ketika mereka berlima ini meninggal dunia, datanglah syaithan dan mewahyukan kepada mereka (kaum nabi Nuh) supaya mereka membuat patung-patung, kemudian dinamakan dengan nama orang-orang yang shalih tersebut.Tujuannya adalah supaya ketika mereka merasa malas di dalam beribadah, ketika mereka melihat orang-orang shalih tersebut berada di hadapan mereka di majelis mereka, meskipun sebagai patung, diharapkan mereka bisa bersemangat kembali, mengingat tentang keshalihan mereka dan semangat di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ketika generasi ini meninggal dunia, datang kembali syaithan dan mengatakan kepada orang-orang tersebut, bahwasanya bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini, tujuannya adalah untuk diibadahi, disembah.Dan telah dilupakan ilmu, maka akhirnya mereka menyembah orang-orang shalih tersebut yang dibuat simbolnya berupa patung. Ini adalah awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭاDan mereka berkata, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Waddan, Suwa’an, Yaghuts dan Ya’uq dan juga Nasr.”(QS. Nuh: 23)Mereka ini adalah lima nama orang yang shalih. Ini adalah nama orang-orang shalih yang meninggal yang kemudian disembah oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam.Ketika terjadi kesyirikan pertama kali di permukaan bumi yang dilakukan oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam, akhirnya Allah Subhānahu wa Ta’āla mengutus nabi Nuh yang merupakan rasul yang pertama.Allah mengutus nabi Nuh alayhissallam kepada mereka untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan ini.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُDan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka beliau berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian selain Dia.”(QS. Al Mu’minun: 23)Beliau mengingatkan umatnya siang dan malam dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan selama 950 tahun, mengajak mereka untuk kembali kepada Allah. Mengingatkan mereka bahwasanya ini adalah termasuk perbuatan syirik yang tidak diridhai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla. Meskipun yang disembah adalah orang-orang shalih. Mengajak mereka untuk bertauhid dan meng-Esa-kan ibadah ini hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.Namun ternyata yang mengikuti dakwah beliau dan ajakan beliau adalah orang yang sangat sedikit dan menganggap bahwasanya apabila kita hanya menyembah Allah Subhānahu wa Ta’āla, seakan-akan kita ini telah meremehkan orang-orang yang shalih. Ini adalah termasuk talbis dari iblis laknatullah).Menganggap (menunjukkan) di mata manusia bahwasanya ikhlas kepada Allah berarti kita harus meremehkan dan merendahkan kedudukan orang-orang yang shalih.Oleh karena itu banyak diantara mereka yang menolak dakwahnya nabi Nuh alayhissallam.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ……..(QS. Nuh: 23)Mereka saling berwasiat diantara mereka, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian.”√ Kita harus menghormati orang yang shalih√ Kita harus menjunjung tinggi kedudukan merekaApabila diminta dan diseru hanya menyembah kepada Allah, hati mereka resah, hati mereka gelisah.وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ(QS. Az-Zumar: 45)Apabila hanya disebutkan Allah saja, ketika diminta hanya bertauhid kepada Allah, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi resah, gelisah, tidak tenang hatinya ketika disebutkan hanya Allah Subhānahu wa Ta’āla saja.Tapi ketika disebutkan bersama Allah yang lain, maka tiba-tiba hati mereka menjadi sangat gembira, bahagia.Oleh karena itu di sini beliau mengatakan,“Syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya ikhlas dan tauhid berarti kita harus meremehkan orang-orang yang shalih.”Dan ini sekali lagi adalah termasuk talbis syaithan yang sudah berjanji dari awal di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk menyesatkan manusia dan menghias-hiasi diantara mereka yang bathil menjadi benar, yang benar menjadi bathil dengan berbagai cara. Bagaimana supaya mereka menyimpang dari shirathal mustaqim, dari jalan yang lurus. Entah menyimpangnya ke kanan, atau ke kiri, atau ke atas, atau ke bawah, yang jelas mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Dari mana bisa digoda, maka mereka akan menggodanya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۞ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ۞(QS. Al A’raf: 16-17)(Iblis) berjanji untuk menyesatkan mereka dari shirathal mustaqim, dan akan didatangi baik dari kanannya, dari kirinya, dari atasnya, dari bawahnya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Diantaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Syaikh di sini, menghias-hiasi di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia meremehkan orang-orang yang shalih.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
T

Titi Dwi Rabbani

📍 Kota Tangerang Selatan

Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺKedua: Nabi Ibrahim juga Bapaknya Orang Yahudi dan Nasrani Nabi Ibrahim memiliki dua orang anak, yaitu Ismail dan Ishaq. Tidak seorang pun dari keturunan Ismail yang menjadi nabi, selain Nabi Muhamma. Sedangkan dari Ishaq, lahirlah Ya'qub, yang kemudian memiliki 12 putra. Kedua belas putra Nabi Ya’qub inilah yang disebut Bani Israil, yang kemudian menjadi bangsa yang sangat besar dan tersebar. Jadi, seluruh Bani Israil, termasuk seluruh nabi dari mereka, adalah keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.Allah berfirman,“Dan mereka berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah: ‘Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 135)Allah جل جلاله memerintahkan Nabi Muhammad untuk membantah mereka dengan sesuatu yang mereka akui, yaitu kebenaran dan kemurnian agama Ibrahim.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 9

Tafsir QS. Baqarah Ayat 9يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَArtinya:“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.”Mereka menipu Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Allah mengetahui semuanya. Dan ini adalah sesuatu yang percuma. Mereka juga menipu orang-orang beriman dengan menampakkan keislaman mereka atau berpura-pura sebagai orang Islam.Namun Allah mengatakan:وَمَا يَخْدَعُونَ — sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri.Kenapa bisa demikian?Di sini ada beberapa sisi yang menjelaskan bagaimana mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri dalam keadaan tidak sadar.1. Kaum mukminin tidak tertipuDi antara buktinya, kaum mukminin tidak tertipu karena Allah telah menjelaskan sifat-sifat orang munafik. Bahkan Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang menjelaskan sifat-sifat mereka.Bagaimanapun mereka pandai menyembunyikan kemunafikan, akan tetapi terkadang kemunafikan itu terlepas melalui kata-kata mereka, celetukan-celetukan mereka, maupun sifat-sifat yang mereka tampakkan.Sebenarnya kaum mukminin tidak tertipu. Justru mereka menipu diri mereka sendiri.2. Mereka selalu takut ketahuanAllah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah, yang maknanya bahwa orang-orang munafik selalu khawatir jika sampai turun kepada mereka ayat-ayat yang menjelaskan tentang kemunafikan mereka.Mereka selalu merasa was-was dan ketakutan. Mereka berusaha bersikap munafik supaya merasa aman. Ternyata kenyataannya, mereka hanya menipu diri sendiri.Allah juga berfirman tentang orang-orang munafik yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:“Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.”Kenapa orang-orang munafik datang kepada Nabi ﷺ dan mengatakan hal tersebut? Karena mereka merasa seakan-akan dicurigai.Sampai ada istilah dalam pepatah Arab yang mengatakan, “Hampir-hampir seorang pencuri mengatakan, ‘Tangkap aku!’”Maksudnya, seseorang berusaha menyembunyikan kesalahannya, tetapi perilakunya justru menunjukkan seakan-akan dirinya tertuduh. Akhirnya ia merasa perlu mengatakan, “Saya tidak mencuri.”3. Mereka sedih melihat kebaikan yang dialami kaum musliminMereka selalu merasa sedih dengan kebaikan-kebaikan yang dialami kaum muslimin.Pada zaman Nabi ﷺ, kaum munafik merasa sedih melihat kejayaan Islam. Ketika Rasulullah ﷺ memenangkan peperangan, mengalahkan kaum musyrikin, dan dakwah semakin tersebar, mereka semakin menderita.Mereka semakin hasad dan semakin dongkol melihat bagaimana Islam mengalami kejayaan.Itulah di antara bentuk bagaimana mereka menipu diri mereka sendiri ketika di dunia.Adapun di akhirat, keadaannya lebih parah lagiHal ini akan dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an.Dalam salah satu ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang munafik berusaha menipu Allah, tetapi justru Allah membalas tipu daya mereka.Hal ini terjadi, di antaranya, sebelum melewati shirath.Ketika berada dalam kondisi kegelapan sebelum melewati shirath, Allah memberikan cahaya kepada orang-orang beriman. Pada saat itu, orang-orang non-Muslim telah masuk ke dalam neraka Jahannam. Yang tersisa adalah orang-orang Islam: orang-orang beriman dan orang-orang munafik.Kemudian Allah memberikan cahaya kepada mereka untuk melewati jembatan shirath.Ketika orang-orang munafik merasa gembira karena mendapatkan cahaya untuk melewati shirath, tiba-tiba Allah mematikan cahaya mereka.Sementara itu, cahaya orang-orang beriman semakin bertambah. Mereka kemudian berdoa kepada Allah setelah melihat cahaya orang-orang munafik tersebut mati.Itulah salah satu bentuk Allah membalas tipu daya mereka di akhirat, karena dahulu di dunia mereka mempermainkan ayat-ayat Allah.Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di, ini merupakan perkara yang sangat menegaskan betapa mengenaskannya keadaan mereka.Namanya orang menipu, hanya ada dua kemungkinan:Ia menipu orang lain dan berhasil.Ia menipu orang lain tetapi tidak berhasil.Namun masalah orang-orang munafik lebih parah. Mereka berusaha menipu, tetapi tipu daya mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri.Inilah di antara sifat-sifat orang munafik yang Allah jelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 9.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Kahfi ayat 5

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Kahfi ayat 5 Orang-orang yang menebar fitnah itu sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan bukti atas klaim mereka bahwa Allah memiliki anak, begitu pula nenek moyang yang mereka ikuti tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Sungguh betapa besar kejelekan kata-kata yang terlontar tanpa ilmu dari mulut mereka mereka tidaklah menyatakannya kecuali sebagai kedustaan yang tidak berdasar dan tidak boleh memiliki bukti.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
R
Ressy Sri Agesty

📍 Kabupaten Bandung

Rumah Tangga Surga -1

Pernikahan bukanlah kisah Cinderella yang berakhir dengan happily ever after. Setelah hari bahagia, perjalanan justru berlanjut dengan berbagai tantangan: menghadapi perbedaan, konflik, kejenuhan rutinitas, hingga belajar membangun rumah tangga dan membesarkan anak.Pernikahan juga membawa tanggung jawab untuk menjaga aib pasangan dan memahami bahwa tidak semua hal dalam rumah tangga perlu diketahui orang lain. Sayangnya, kita lebih sering dipersiapkan untuk mengejar keberhasilan materi daripada dibekali ilmu tentang bagaimana menjalani pernikahan.Karena itu, pernikahan bukan sekadar tentang menemukan pasangan, tetapi tentang belajar mempertahankan dan menjalaninya dengan ilmu, kesadaran, dan kesiapan menghadapi berbagai persoalan.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan bab apa itu kematian

Allah menyebut kematian dengan musibah katena kematian musibah yang paling besar dan paling dahsyat.Sebagian ulama menegaskan bahwa kematian itu makhluk dan sesuatu yang bersifat ada (wujud).Para ahli menjelaskan dua kematian: kematian pertama: ketika mereka belum diciptakan, masih salam keadaan tiada. Kematian kedua: ketika mereka meninggal di dunia.Para ulama menjelaskan macam-macam kematian: kematian sesaat, itulah kematian yang terjadi saat manusia tidur dan disebut juga al-Wafar as-Shughra (wafat kecil). Kematian terakhir, itulah kematian ketika seseorang meninggalkan dunia untuk selamanya dan disebut juga al-Wafat al-Kubro (wafat besar).Sebatas yakin akan mati belum bisa disebut beriman kepada hari akhir sampai dia meyakini adanya kehidupan dan aneka rangkaian kejadian pasca-kematian.Rasulullah menggabungkan dua larangan, antara berangan-angan mati dan larangan berdoa memohon kematian.Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Sedekahkan 1 dapatkan 700 kali lipat

bukan hanya orang kaya yang wajib sedekah, yang merasa miskin pun harus bersedekah. yang mau sembuh dari penyakit, melunasi hutang, mendapatkan solusi dari masalah, bersedekahlah! Namun, kita harus melakukannya dengan setulus hati, dan tanpa pamrih. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 264 yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya! Janganlah kalian merusak pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebut kebaikannya di depan penerima sedekah dan menyakiti hatinya. Karena perumpamaan bagi orang yang melakukan hal itu ialah seperti orang yang menggunakan hartanya supaya dilihat oleh manusia dan mendapat pujian dari mereka, sedangkan ia ingkar, tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat berikut pahala dan hukuman yang ada di dalamnya, perumpamaannya ialah seperti batu licin yang di atasnya terdapat debu, lalu batu tersebut terkena air hujan yang sangat deras, sehingga debu yang ada di atas batu itu hilang dan batu itu terlihat bersih dan licin, tidak ada sesuatupun di atasnya. Begitulah nasib orang-orang yang ria (pamer). Pahala amal perbuatan dan infak mereka hilang tak tersisa di sisi Allah. Dan Allah -Ta'ālā- tidak akan menunjukkan orang-orang kafir kepada sesuatu yang diridai-Nya dan bermanfaat bagi mereka di dalam amal perbuatan dan infak mereka."

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 54-55

Orang-orang kafir dari Bani Israil membuat tipu daya, yaitu mereka berusaha membunuh Isa -'alaihissalām-. Tetapi Allah membalas tipu daya mereka itu dengan membiarkan mereka di dalam kesesatan, serta merubah rupa laki-laki lain agar mirip dengan Isa -'alaihissalām-. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya karena tidak ada tipu daya yang lebih hebat dari tipu daya Allah terhadap musuh-musuh-Nya.Allah juga membalas tipu daya mereka ketika Dia berfirman kepada Isa -'alaihissalām-, “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku menggenggam nyawamu tanpa kematian, mengangkat tubuh dan ruhmu kepada-Ku, menyucikanmu dari kekejian orang-orang yang kafir kepadamu dan menjauhkanmu dari mereka, serta menjadikan orang-orang yang mengikutimu berada dalam agama yang benar -salah satunya ialah beriman kepada Muhammad -ṣallāhu 'alaihi wa sallam-, mengungguli orang-orang yang kafir kepadamu dengan bukti kebenaran dan kemuliaan sampai hari Kiamat. Hanya kepada-Ku kalian akan kembali di hari Kiamat, kemudian Aku berikan keputusan kepada kalian atas perselisihan yang terjadi di antara kalian.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Roots and Wings 1 - Raksha Bharadia

Sebagai orangtua yang sepenuhnya sadar, saya harus terus-menerus berusaha memahami dengan sangat baik cara menarik garis pembatas antara:Kebebasan dan bimbinganDisiplin dan pembiaranRuang dan kontrol•Waktu yang teratur dan tidak teraturKemandirian dan pengawasan•Menjadi pembimbing dan menjadi temanMenantang dan mendukung

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al Baqarah : 30

Allah -Subhänahu wa Ta'ală- memberitahukanbahwa Dia telah berfirman kepada para malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah melestarikan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para malaikat bertanya kepada Tuhan mereka -dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan- tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam -'alaihissalam- sebagai khalifah di muka bumi, sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan,"Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidakpernah letih dalam melakukan hal itu." Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya,"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi."

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman 2 Dahsyatnya Bahaya Lisan Wanita

Alangkah Bahayanya LisanManusia ditelungkupkan wajah-wajah mereka di neraka akibat ucapan-ucapan mereka.Ucapan yang kadang terlihat sepele atau biasa, seiring berjalannya waktu tanpa kita sadari bisa berbuah manis atau pahit di akhirat kelak.Jika kita ingin bertutur kata, maka selayaknya kita merenung terlebih dahulu. Bila ada kebaikannya, silakan diucapkan. Bila tidak, maka harus menahan diri. Keselamatan itu tidak ada yang menandinginya.Muslim sejati adalah muslim yang hanya menuturkan kebaikan, dan inilah tanda-tanda kebenaran iman seorang hamba. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.Hasan Al-Basri rahimahullah bertutur:“Silakan berbuat sesukamu, sedikit atau banyak, hingga ketika kamu telah meninggal, lembaran catatan itu ditutup dan diikatkan di lehermu, di antara kubur sampai kamu dibangkitkan pada hari kiamat.”Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 14:“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu.”Setelah itu Al-Hasan berkata:“Demi Allah, Zat yang menjadikanmu sebagai penghisab dirimu sendiri telah berlaku adil padamu.”

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 79 | Asal Takdir Ialah Rahasia Allāh ﷻ Bagi Hamba-Hamba-Nya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah @komunitas.beekind #jejakilmuHSI السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ“Asal dari takdir, hakikat dari takdir itu adalah rahasia Allāh yang ada pada makhluk-Nya.Qadar, takdir, ini adalah rahasia Allāh, tidak diketahui oleh seorang Nabi seperti Nabi Muḥammad ﷺ atau Malaikat Jibrīl sekalipun. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Qadar, takdir ini adalah سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ ini adalah rahasia Allāh di dalam makhluk-makhluk-Nya. Nabi ﷺ tidak diberitahu apa yang akan terjadi, ini adalah termasuk ilmu ghaib yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allāh.” (QS. An-Naml: 65)Hanya Allāh yang mengetahui ilmu ghaib. Ini adalah rahasia Allāh.عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍDialah Allāh ﷻ yang mengetahui yang ghaib, maka Allāh ﷻ tidak memperlihatkan ilmu ghaib itu kepada seorang pun kecuali kepada orang yang Dia ridhai dari kalangan para Rasul …” (QS. Al-Jinn: 26-27).Sebagian Allāh ﷻ kabarkan kepada mereka apa yang terjadi dimasa yang akan datang, sebagian dikabarkan kepada Nabi ﷺ bahwasanya Abu Bakar di dalam Surga, ‘Umar di dalam Surga, ‘Utṡmān di dalam Surga, ‘Alī di dalam Surga, Abu Lahab di Neraka, Fir’aun di Neraka.Dari mana kita mengetahui ini? Allāh ﷻ yang mengabarkan sebagian rahasia tersebut sehingga kita mengetahui, namun asalnya itu adalah rahasia Allāh ﷻ dalam makhluk-Nya.وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ، لَمْ يَطَّلِعْ عَلَىٰ ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌTidak mengetahuiyang demikian, sampai seorang malaikat yang didekatkan kepada Allāh ﷻ atau seorang nabi yang diutus, tidak ada yang mengetahui rahasia tersebut, kecuali yang dikecualikan. Ada beberapa perkara yang memang Allāh ﷻ beritahukan, kejadian-kejadian yang akan terjadi dimasa yang akan datang, seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat dan apa yang terjadi di akhirat kelak, maka sebagian itu dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada utusan-Nya, kepada malaikat atau kepada seorang rasul yang diutus.Sehingga kalau seorang nabi yang diutus saja dan malaikat yang didekatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala mereka tidak mengetahui lalu bagaimana dengan kita yang tentunya derajatnya di bawah mereka. Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan dalam Al-Qur’an atau yang diajarkan oleh Nabi Shallallāhu ʿalaihi wa sallam dalam sunnah mengenai masalah takdir.Kita ikuti rambu-rambu yang Allāh ﷻ berikan dalam masalah takdir. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ telah memberikan kita petunjuk bagaimana cara kita mengarungi kehidupan ini bagaimana cara kita menghadapi dan cara kita untuk beriman dengan takdir Allah maka kita ikuti rambu-rambunya jangan kita keluar dari apa yang sudah Allah tunjukkan.Kemudian beliau mengingatkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِkalau itu adalah rahasia Allah maka orang yang berusaha menyingkap rahasia Allah bagaimana keadaannya? Ini yang disampaikan pada paragraf selanjutnya ada di antara sebagian orang dia terlalu berlebihan dalam memikirkan takdir, berlebihan di dalam memikirkan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah, tentang takdir Allahوَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَdan dia berlebihan di dalam memikirkannya, misalnya kalau ini sudah ditakdirkan oleh Allah berarti ini Allah berbuat dzalim, kenapa Allah mentakdirkan seseorang yang melakukan amal maksiat atau masuk ke dalam kekufuran kemudian Allah mengadzab dia di dalam neraka dan seterusnya. Dia pikirkan dan dia pikirkan sampai sebagian orang tidak mau beramal shalih, sebagian orang menuduh Allah dengan tuduhan-tuduhan yang keji maka inilah yang dikhawatirkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِIni adalah menjadi sebab seseorang mendapatkan khidzlan yaitu ditinggalkan oleh Allah, Allah tidak akan lagi menolongnya, karena dia berusaha untuk menyingkap sesuatu yang dia tidak punya kekuatan disana, ini adalah rahasia Allah dan dia berusaha untuk mengutak-atik mendalami memikirkan sesuatu yang merupakan rahasia Allah, ingin sampai ke sana maka ini justru akan menjadi sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggalkan dia, Allah tidak memberikan hidayah kepada orang tersebut.وسُلَّمُ الحِرْمَانِdan dia adalah menjadi tangga sehingga dia menjadi orang yang mahrum, orang yang diharamkan dari hidayahوَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِDan ini adalah menjadi sebab akhirnya dia menyimpang, akhirnya dia berlebihan. Sebagian orang menyangka bahwasanya dengan dia memikirkan lebih dalam tentang takdir Allah kemudian akhirnya dia membuat permisalan-permisalan, menganggap ini adalah sebuah kebaikan yang akan menjadikan dia semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala tapi justru sebaliknya ini yang menjadikan dia jauh dari hidayah.Dia merasa bahwa dengan memiliki pemikiran-pemikiran tersebut, dia adalah orang yang Masya Allāh semangat dalam menuntut ilmu. Namun, dia berusaha untuk mengutak-atik dan mendalami sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukannya, karena itu sudah melebihi apa yang telah ditentukan oleh Allāh ﷻ. Dia menganggap bahwa semua itu menjadikannya mendapatkan keutamaan, padahal justru itu menjadiذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِitu adalah waswas dari syaithan, jadi hati-hati.Dan sebenarnya mudah dalam memahami takdir Allāh ﷻ. Kita beriman bahwa Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu dan menulis segalanya, semua yang terjadi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan merupakan ciptaan-Nya. Di sisi lain, kita diperintahkan untuk beramal shalih, menjalankan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan hingga kita meninggal dunia. Allāh ﷻ tidak suka dengan kekufuran, tidak menyenangi kebid’ahan, dan membenci kemaksiatan, sehingga kita tinggalkan dan Allah mencintai amal shalih dan juga keimanan.Jika datang waswas dari syaitan bahwa Allāh ﷻ dzhalim , kita katakan:وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ(QS. Fuṣṣilat: 46)Allah tidak melakukan kebaikan sedikitpun, Allah Subhanahu wa ta’ala apa yang dia lakukan mungkin adalah karunia atau mungkin itu adalah sebuah keadilan, tidak ada kedzhaliman, Dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah. Kalau disana ada orang yang disesatkan oleh Allah itu adalah kesalahan orang tersebut dan dia memang orang yang berhak untuk disesatkan oleh Allah dan Allah lebih tahu tentang keadaan dia daripada kita.Demikian yang ada dalam diri seorang muslim sampai dia bertemu dengan Allah, sederhana sebenarnya cuma sebagian orang yang dia menyusahkan dirinya sendiri yang akhirnya bukan kebaikan justru malah kesesatan dan semakin jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →