📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

Surat Ibrahim

Firman Allah subhanahu wata'āla:Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah.Maksudnya, apakah yang mencegah kami untuk bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjuki kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling gamblang....dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami.seperti perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah.Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 27 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Ar-Ra’d: 35​ مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَ ​"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa."​Penjelasan: Yakni gambaran dan ciri khasnya.​ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ​"ialah (seperti taman), yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,"​Penjelasan: Sungai-sungai mengalir di sekitar daerah dan sisi-sisinya menuruti kehendak penduduknya. Sungai tersebut mengalirkan air surgawi yang berlimpah. Semakna dengan firman Allah:​ مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَ فِيهَآ أَنۡهَٰرٌ مِّن مَّآءٍ غَيۡرِ ءَاسِنٍ وَأَنۡهَٰرٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمۡ يَتَغَيَّرۡ طَعۡمُهُۥ وَأَنۡهَٰرٌ مِّنۡ خَمۡرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّٰرِبِينَ وَأَنۡهَٰرٌ مِّنۡ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمۡ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَمَغۡفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمۡ ​"(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka." (QS. Muhammad: 15)​ أُكُلُهَا دَآئِمٌ وَظِلُّهَا ​"buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula)."​Penjelasan: Makanan, minuman, buah-buahan, dan naungannya tiada henti, tidak pernah habis, serta tidak pernah hilang/surut.​Dalil Hadits tentang Keberkahan & Kenikmatan Surga​Niat Memetik Anggur Surga saat Shalat Gerhana​Riwayat Ibnu Abbas r.a. (Sahihain):Rasulullah ﷺ bersabda saat shalat gerhana: ​“Sesungguhnya aku melihat surga —atau aku melihat surga— lalu aku berniat memetik setangkai anggur darinya. Seandainya aku benar-benar memetiknya, niscaya kalian akan makan sebagian darinya selama dunia ini masih ada."​(​Riwayat Jabir r.a. (H.R. Abu Ya'la & Muslim):Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya surga ditampilkan kepadaku dan semua bunga serta pohonnya yang hijau, maka aku bermaksud hendak memetik setangkai buah anggur darinya untuk diberikan kepada kalian... Seandainya aku dapat mendatangkannya buat kalian, tentulah semua makhluk yang ada di antara langit dan bumi dapat memakannya tanpa menguranginya."​Besarnya Tangkai Buah Anggur Surga​Hadis Atabah ibnu Abdus Salma (H.R. Ahmad): Seorang Badui bertanya seberapa besar tangkai anggur surga. Rasulullah ﷺ menjawab:​"Besarnya sama dengan perjalanan satu bulan bagi burung gagak yang hitam legam (bila terbang) tanpa berhenti."​Buah yang Selalu Tumbuh Kembali​Hadits Tsauban r.a. (H.R. Thabrani): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya seseorang apabila memetik sebiji buah dari surga, maka tumbuh lagi buah lain yang menggantikan kedudukannya."Kondisi Fisik & Pencernaan Penduduk Surga​Hadits Jabir ibnu Abdullah r.a. (H.R. Muslim): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Penduduk surga makan dan minum tanpa mengeluarkan ingus, tanpa buang air besar dan tanpa buang air kecil, makanan mereka (dikeluarkan melalui) bersendawa yang baunya wangi seperti minyak kasturi, dan mereka diilhami untuk bertasbih dan bertaqdis (menyucikan Allah) sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas."​Hadits Zaid Ibnu Arqam r.a. (H.R. Ahmad & An-Nasa'i):Menjawab pertanyaan ahli kitab, Nabi ﷺ bersabda bahwa seseorang di surga diberi kekuatan 100 lelaki dalam makan, minum, bersetubuh, dan syahwat. Pembuangan hajatnya berupa keringat berbau wangi minyak kasturi lalu perut mereka mengempis.​Burung Panggang Surga​Hadis Abdullah ibnu Mas'ud r.a. (Riwayat Khalaf ibnu Khalifah):Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya kamu benar-benar memandang seekor burung di surga, maka burung itu jatuh terjungkal di hadapanmu dalam keadaan telah terpanggang (siap untuk dimakan)."​(Disebutkan pula setelah dimakan, burung tersebut kembali berwujud burung dan terbang atas izin Allah).​Ayat & Hadis Penguat Kelimpahan & Naungan Surga​ وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ۝ لَّا مَقۡطُوعَةٍ وَلَا مَمۡنُوعَةٍ  "dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya." (QS. Al-Waqi'ah: 32–33)​ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلًا  "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya." (QS. Al-Insan: 14)​ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلًّا ظَلِيلًا  (QS. An-Nisa: 57)​Hadits Naungan Pohon (Sahihain): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara yang tangguh memacu kuda balapnya dengan cepat di bawah naungannya selama seratus tahun (tanpa berhenti) masih belum melampauinya." Lalu membaca ﴿ وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ ) - (Al-Waqi'ah: 30).​Penutup Ayat & Nasihat Bilal ibnu Sa'd​ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ​"Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka."​Penjelasan: Allah sering menyebutkan surga dan neraka secara beriringan agar surga diingini dan neraka dihindari. Semakna dengan firman-Nya:​ لَا يَسۡتَوِيٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۚ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ​"Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 20)​Khotbah Bilal ibnu Sa'd (Khatib Kota Dimasyq):​"Hai hamba-hamba Allah, bukankah telah datang kepada kalian juru pewarta yang mewartakan kepada kalian bahwa sesuatu dari ibadah kalian diterima dari kalian atau sesuatu dari kesalahan kalian diampuni bagi kalian? Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu'minun: 115). Demi Allah, seandainya disegerakan bagi kalian pahala di dunia, niscaya kalian semua akan malas mengerjakan hal-hal yang difardukan kepada kalian, atau kalian menjadi orang yang cinta taat kepada Allah demi pahala duniawi kalian dan kalian tidak akan bersaing (berlomba) dalam meraih surga. Buahnya tak henti-henti." - (HR. Ibnu Abu Hatim)​ Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Saba 39

Tafsir Al-MuyassarSaba (34:39)Tema: KEINGKARAN ORANG KAFIR DAN KEADAAN MEREKA DI AKHIRAT (Ayat 29-45)Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang yang menyombongkan diri dengan harta dan anak-anak mereka: Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan menyempitkan atas siapa yang Dia kehendaki karena sebuah hikmah yang Dia ketahui. Apa pun yang kalian berikan, bila hal itu diperintahkan Allah, maka Dia akan mengganti kalian dengan gantinya di dunia dan dengan pahala di akhirat. Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki, maka mintalah rizki dari-Nya semata dan berusahalah dengan sebab-sebab yang Dia perintahkan kepada kalian.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami - Dr. Labib Najib Abdullah

Prinsip Syariah dalam Mengelola Pengeluaran Rumah TanggaEkonomi adalah ilmu mengelola harta, mulai dari cara mendapatkannya, membelanjakan, menginvestasikan, hingga mengembangkannya. Dalam Islam, pengelolaan keuangan harus wajar dan seimbang: tidak boros (mubazir) dan tidak pelit (kikir). Allah melarang sikap berlebihan dalam membelanjakan harta maupun menahan harta secara berlebihan (QS. Al-Isra: 29).Orang beriman ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak kikir, tetapi berada di tengah-tengah/moderat (QS. Al-Furqan: 67). Hemat dan terampil mengatur pengeluaran dapat mengurangi expenses, meningkatkan tabungan, serta menjadi salah satu benteng dari kemiskinan.Intinya: Belanja sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, tetapi juga tidak pelit. Sikap moderat adalah prinsip penting dalam keuangan rumah tangga Islami.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Pustaka 27 Agustus

"Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar, maka ia akan dihiasi oleh setan." - HR. At-Tirmidzi, No. 1173Keutamaan wanita dalam penjagaan Allah ﷻ adalah diwajibkannya menggunakan hijab, sebagaimana Allah ﷻ berfirman pada QS. Al-Ahzab:59 (anjuran menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh) dan QS. An-Nur:31 (anjuran pemakaian Khimar hingga menutup dada).Anjuran syari'at ini hukumnya wajib. Bukan pemaksaan melainkan anjuran penjagaan langsung dari Allah ﷻ kepada wanita. Sebagaimana para ulama menyampaikan bahwa lelaki dan wanita memiliki keistimewaannya masing-masing.Bagi seorang perempuan, jika dia keluar rumah dengan memakai hijab sesuai tuntunan syari'at, maka dia akan mendapatkan pahala yang terus mengalir kepadanya. Hal itu dikarenakan saat ia keluar dari rumahnya dengan mengamalkan perintah Allah ﷻ untuk mengenakan hijab. Hingga dirinya mendapatkan pahala yang tidak didapatkan oleh kaum laki-laki.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
A

Ayyunursafitri

📍 Kabupaten Wajo

BAB EMPAT - Dikotomi Kendali

Intisari Bab 4: * Dalam hidup, ada hal-hal yang di bawah kendali kita dan ada yang tidak. Orang yang bijak adalah yang bisa mengenali kedua kategori ini dalam segala hal di dalam hidupnya. * Hal-hal yang tidak di bawah kendali kita: kekayaan, reputasi, kesehatan, dan opini orang lain. Hal-hal yang di bawah kendali kita: pikiran, opini, persepsi, dan tindakan kita sendiri. * Walaupun kekayaan, kesehatan, kecantikan, ketenaran bisa diusahakan, tetapi tidak bisa dijamin tidak bisa diambil dari hidup kita—karenanya mereka termasuk di dalam hal-hal di luar kendali. * Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal di bawah kendali kita. * Mengerti dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada nasib. * Trikotomi kendali dari William Irvine memperkenalkan kategori ketiga “SEBAGIAN di bawah kendali kita”, misalnya studi, karier, dan bisnis. Tugas kita adalah memfokuskan pada internal goal yang masih di bawah kendali kita dan selalu siap menerima hasil/outcome yang di luar kendali kita. * Waspada tirani opini orang lain akan hidup kita. * Segala hal di luar kendali kita adalah indifferent, tidak berpengaruh terhadap baik tidaknya hidup kita. Sebagian dari indifferent ini lebih diinginkan (preferred), sebagian lain tidak diinginkan (unpreferred). * Belajar tidak mengingini hal-hal di luar kendali kita.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 5 dakwah kepada syahadat laa ilaaha illallah bag 2

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Sahl bin Saad bahwa Rasulullah semasa oerang Khaibar bersabda "Sungguh aku akan serahkan bendera (komando perang) itu besok hari kepada orang yg mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya, semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tangannya. Maka semalam suntuk orang-orang pun memperbincangkan Siapakah diantar mereka yg akan diserahi bendera tersebut. Pagi hari, mereka mendatangi Rasulullah masing-masing berharap untuk diserahi bendera tersebut. Lalu, bersabda beliau, dimana Ali bin Abi Thalib? Dijawab, dia sakit kedua belah matanya. Mereka pun mengutus seorang urusan kepadanya dan di datangkanlah dia. Lantas Nabi meludah kepada kedua belah matanya dan berdoa untuknya, seketika itu dia sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu Rasulullah menyerahkan bendera kepadanya dan bersabda, melangkahlah kedepan dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada islam dan sampaikanlah kepada mereka gak Allah dalam islam yang wajib mereka laksanakan. Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui dirimu, (hal itu) benar² lebih baik (berharga) bagimu daripada unta² merah.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Muyassar QS. Al Anbiya : 12

Allah taala berfirman:فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَMaka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya.Tafsir Al-MuyassarAl-Anbiya (21:12)Tema: SIKAP KAUM MUSYRIKIN TERHADAP KERASULAN MUHAMMAD SERTA WAHYU YANG DIBAWANYA DAN PENOLAKAN AL-QUR'AN TERHADAPNYA (Ayat 1-20)Ketika orang-orang yang zalim itu melihat azab Kami yang sangat keras menimpa mereka dan mereka menyaksikan tanda-tandanya, tiba-tiba mereka segeran melarikan diri dari negeri mereka.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:40

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:40)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). (Al Furqaan:40)Yaitu kotanya kaum Nabi Lut kota Sadum yang telah dibinasakan oleh Allah, buminya dibalikkan, lalu dihujani dengan hujan batu dari Sijjil. Seperti yang disebut di dalam firman-Nya:Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang diberi peringatan itu. (Asy Syu'ara:173)Dan sesungguhnya kalian (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kalian tidak memikirkan? (As-Saffat: 137-138)Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). (Al Hijr:76)Dan firman Allah subhanahu wata'āla:Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang. (Al Hijr:79)Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu. (Al Furqaan:40)yang karenanya lalu mereka mengambil pelajaran dari azab dan pem­balasan Allah yang telah menimpa para penduduknya akibat mendustakan rasul-Nya dan menentang perintah-perintah Allah subhanahu wata'ālabahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan. (Al Furqaan:40)Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang kafir yang melalui jalan tersebut tidak mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari berbangkit kelak di hari kiamat.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 12

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:12)Allah ﷻ menceritakan kisah mereka agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi kaum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh karenanya perlu untuk kita tahu tentang bagaimana mereka bisa membangkang, bagaimana mereka bermaksiat, bagaimana Allah ﷻ mengazab mereka, dan tentang bagaimana Allah ﷻ menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dan orang-orang beriman yang bersama mereka. Akan tetapi Allah ﷻ menegaskan bahwa kisah-kisah ini hanya bisa menjadi peringatan bagi orang-orang yang mau mendengar. (29)Pada ayat ini Allah menyindir orang-orang kafir Quraisy (dan selain mereka), sebab mereka mendengar semua kisah ini, akan tetapi kenapa mereka tidak ingin mengambil pelajaran? Dan mereka menjadikan cerita ini hanya sebagai dongeng belaka. Dan lafazh أُذُنٌ وَاعِيَةٌ adalah telinga yang mau mengilmui dan benar-benar mengingat kisah ini, sehingga ia bisa mengambil ibrah dari kisah ini. (30)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Nabi Musa menerima Taurat dan menyampaikannya kepada kaumnya. Beliau juga memerintahkan mereka untuk mengamalkan isi Taurat tersebut. Namun, Bani Israil menawar kepada Nabi Musa, mengatakan bahwa jika peraturan dalam Taurat terasa berat, mereka lebih memilih untuk meninggalkannya. Sebaliknya, jika peraturan tersebut ringan, mereka bersedia untuk mengerjakannya.​Penulis berpendapat bahwa sikap Bani Israil ini mencerminkan perilaku kurang ajar yang luar biasa. Pasalnya, yang dibawa oleh Nabi Musa adalah perintah dari Allah Jalla Jalaluh, namun mereka masih merasa berhak untuk menawar dan protes terhadap perintah tersebut.​Bahkan, orang-orang yang dianggap saleh di antara mereka pun menantang Nabi Musa untuk bisa melihat Allah Jalla Jalaluh. Bagaimana dengan mereka yang tidak lebih saleh? Inilah cerminan perilaku Bani Israil.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman Kepada Takdir Halaqah 4

Halaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1.Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[QS Al-Baqarah 282]“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Dan Allah berfirman,وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ[QS Al-An’am 59]“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).”Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman,… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ[QS Al-An’am 28]“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 79

Kamis, 27 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 79Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'āla​Sabda Rasulullah ﷺ (Lafaz Syahid):​وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."​Dalil Kategori Bid'ah sebagai Kesesatan (Sabda Nabi ﷺ):​وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ"Dan setiap bid'ah adalah sesat."​Ayat Penyerta (Tafsiran QS. Al-Fatihah: 7):​غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ"bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."​Al-Maghdhubi 'alaihim merujuk pada kaum Yahudi (berilmu tapi tidak beramal). Adh-Dhāllīn merujuk pada kaum Nasrani (semangat beramal tanpa dasar ilmu).​Poin-Poin Garis Besar Kandungan Pemikiran & Makna​Korelasi Makna Dhalaalah (Kesesatan) dan Bid'ah:​Nabi ﷺ menyifati bid'ah sebagai dhalaalah (kesesatan) karena pelaku bid'ah beramal tanpa landasan ilmu/dalil.​Karakter pelaku bid'ah serupa dengan kaum Nasrani (adh-dhāllīn): bersemangat tinggi dalam beribadah tetapi tidak didasari ilmu. Contohnya adalah tradisi rahbaniyyah (membujang demi mubalaghah ibadah) dan membangun tempat ibadah di atas kuburan orang saleh.​Bahaya Menyeru kepada Bid’ah:​Seseorang yang mengajak/menyeru kepada kebid’ahan akan menanggung dosa seluruh orang yang mengikutinya, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempraktikkan amalan tersebut.​Semakin banyak pengikut yang terpengaruh, semakin besar kran dosa yang mengalir kepada si penyeru tanpa mengurangi dosa para pengikutnya.​Perbandingan Dosa Bid'ah dengan Dosa Besar (Kabairu Dzunub):​Status Pengakuan: Pelaku maksiat/dosa besar (seperti zina atau riba) tidak meyakini perbuatannya sebagai ibadah. Sebaliknya, pelaku bid'ah menganggap kebidahannya sebagai bentuk ibadah (qurbah) untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bahkan kerap menganggap orang yang tidak beribadah sebagai orang malas/tidak berilmu.​Kadar Bobot Dosa: Walaupun ada dosa besar yang diiklankan secara terbuka (seperti ajaran maksiat, bioskop, zina, atau riba), dosa kebid’ahan dari 1 orang yang terkena dakwah bid'ah tetap jauh lebih besar bobot dosanya dibandingkan dosa maksiat dari 10 orang yang tergoda melakukan zina.​KesimpulanHalaqah 79 menegaskan bahwa kebid’ahan merupakan inti dari dhalaalah (kesesatan) karena berlandaskan semangat ibadah tanpa ilmu—sebagaimana sifat kaum Nasrani (adh-dhāllīn). Penulis kitab menekankan bahwa bid'ah memiliki bahaya dan bobot dosa yang jauh lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar (kabair). Penyeru bid'ah memikul dosa berantai dari seluruh pengikutnya, sebab bid'ah dihiasi sebagai bentuk ketaatan yang mudah diikuti masyarakat, padahal kadar kejelekan satu dosa bid'ah melampaui dosa-dosa kemaksiatan seperti zina dan riba.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka27 Agustus 2026
I

Ida Ummu hafsho

📍 Kota Palu

Lingkungan anak

Perdebatan dalam HubunganPerdebatan merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan, termasuk dalam keluarga. Yang terpenting adalah tetap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan mendengarkan perasaan satu sama lain.Setiap konflik memiliki konteks, perasaan, dan proses penyelesaian yang berbeda. Untuk mengatasi perdebatan, kita perlu memahami dan menyampaikan perasaan sendiri, kemudian mencoba memahami perasaan orang lain.Hindari gaya “fact tennis”, yaitu saling melempar alasan dan fakta untuk membuktikan siapa yang paling benar. Tujuan dari perdebatan seharusnya bukan untuk menang, tetapi untuk memahami perbedaan, berkompromi, dan menemukan solusi yang dapat diterapkan bersama.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI27 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 4: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 1

Halaqah 4:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 1🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىCara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[QS. Al-Baqarah: 282]Dan Allah berfirman:وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).” [QS. Al-An’am: 59]Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman:… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”[QS. Al-An’am: 28]Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Muyassar — Yunus (10):85

Kaum Musa berkata:“Hanya kepada Allah yang tidak memiliki sekutu kami bersandar.”“Hanya kepada-Nya kami menyerahkan seluruh urusan kami.”Mereka memohon agar Allah tidak menjadikan orang-orang kafir mengalahkan mereka, karena kemenangan orang kafir dapat menjadi fitnah bagi mereka dalam agama.Mereka juga khawatir orang-orang kafir akan semakin sombong dan menjadikan kemenangan itu sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Musa dan pengikutnya tidak berada di atas kebenaran.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →