📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 16 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Enam Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Dalil bahwasanya orang yang mengejek agama Allah dan apa yang berkaitan dengannya menjadi kafir adalah firman Allah,قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah wahai Muhammad, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kalian mengejek-ejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” [At Taubah 65-66]Pada tahun ke-9 ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam perjalanan dalam rangka perang Tabuk, ada seseorang berkata di dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh yang lain,مَا رَأَيْتُ مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاءِ لا أَرْغَبَ بُطُونًا ، وَلا أَكْذَبَ أَلْسِنَةً ، وَلا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ“Aku tidak melihat orang-orang yang lebih besar perutnya (lebih banyak makannya), lebih dusta ucapannya, dan lebih pengecut ketika berperang, daripada mereka.”Dan dia memaksudkan mengejek Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya.Auf bin Malik radhiyallāhu ‘anhu salah seorang sahabat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar ucapan ini, beliau mengingkari, seraya berkata,كَذَبتَ، وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ لَأُخبِرَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم“Engkau telah berdusta. Akan tetapi engkau adalah seorang munafik, sungguh aku akan mengabarkan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau segera pergi menuju kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ternyata wahyu telah mendahului.Allah telah mengabarkan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan laki-laki tersebut.Maka orang munafik tadi datang dan meminta maaf, meminta udzur kepada Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah berkata,وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُمۡ لَیَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ[Surat At-Tawbah 65]“Dan kalau engkau bertanya kepada mereka, mereka berkata, sesungguhnya kami hanya berbincang dan bermain-main saja.”Maka Allah menyuruh Nabi-Nya untuk menjawab,قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan juga Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang ucapan tersebut dan tidak menambahnya.“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah kalian minta udzur. Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Ini menunjukkan kepada kita tentang bahayanya mengejek-ejek segala sesuatu yang berkaitan dengan agama Allah.Firman Allah, قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” menunjukkan bahwa mengejek Allah, ayat-ayat-Nya, serta Rasul-Nya, adalah kekufuran.Allah mengatakan, كَفَرْتُم (kalian telah kufur).Padahal saat itu yang mengucapkan ucapan ejekan hanyalah satu orang. Yang demikian karena orang-orang yang mendengar saat itu ridho terhadap ejekan tersebut, meskipun mereka tidak mengucapkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَیۡكُمۡ فِی ٱلۡكِتَـٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَایَـٰتِ ٱللَّهِ یُكۡفَرُ بِهَا وَیُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُوا۟ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ یَخُوضُوا۟ فِی حَدِیثٍ غَیۡرِهِۦۤ إِنَّكُمۡ إِذࣰا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ وَٱلۡكَـٰفِرِینَ فِی جَهَنَّمَ جَمِیعًا)[Surat An-Nisa’ 140]“Dan sungguh telah Allah turunkan kepada kalian di dalam Al Qur’an, apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah dikufuri dan diejek, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka berbicara tentang pembicaraan lain. Sesungguhnya kalau kalian demikian, maka kalian semisal dengan mereka. Sesungguhnya Allah mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, semuanya.”Apabila mendengar di sana ada ayat Allah dihina atau Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dihina, atau para sahabat dihina, maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sampai mereka merubah tema pembicaraan mereka.Apabila kalian duduk bersama mereka, santai bersama mereka, tidak tergerak hati kalian ketika mendengar Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya dihina, niscaya kalian semisal dengan mereka.Dan perlu diketahui bahwa mengejek terkadang dengan lisan, terkadang dengan tulisan, bahkan bisa dengan isyarat, seperti isyarat mata atau tangan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HALAQAH 66

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 66Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kedua QS. Al-An’am 144(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Dalil Al-Qur'an yang Dibahas​Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla:​فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا لِّیُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَیۡرِ عِلۡمٍۚArtinya:​“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh, untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu” (QS. Al-An’ām: 144)Korelasi Perbuatan Bid’ah dengan Berdusta Atas Nama Allāh​Definisi Masuknya Bid'ah dalam Ayat:Orang yang melakukan perbuatan bid’ah masuk ke dalam kategori ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا (berdusta atas nama Allāh).​Alasan Pendustaan:​Orang yang melakukan bid’ah seakan-akan mengatakan bahwa amalan tersebut berasal dari Allāh.Ketika dia mengamalkan dan mendakwahkannya, seakan-akan dia mengatakan, "Ini adalah dari Allāh," padahal sebenarnya bukan dari Allāh. Maka perbuatan ini adalah bentuk berdusta.​Contoh Kasus:Mengatakan sesuatu disyari’atkan padahal tidak disyari’atkan. Contohnya adalah perayaan maulud nabi; perayaan tersebut dianggap disyari’atkan, padahal tidak disyari’atkan. Ketika seseorang mengatakan maulud nabi adalah disyari’atkan, berarti dia berdusta atas nama Allāh karena seakan-akan mengatakan Allāh mensyari’atkannya, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya.Pendalilan Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Kunci Pendalilan: Letak kunci argumennya berada pada kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ ("Siapakah yang lebih zhalim").​Bentuk Kezhaliman: Seseorang tahu mana jalan Allāh yang lurus, kemudian dia berdusta atas nama Allāh dengan mengatakan, "Oh yang benar adalah jalan ke sini mas," dengan tujuan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh tanpa ilmu.​Kesesuaian dengan Judul Bab:Ayat ini menunjukkan bahwasanya apa yang disampaikan oleh muallif (penulis) di dalam judul bab adalah benar adanya, yaitu: Bid’ah itu lebih besar daripada dosa-dosa besar. Hal ini dikarenakan bid'ah termasuk ke dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ (berdusta atas nama Allāh), dan Allāh menegaskan tidak ada yang lebih zhalim daripada orang yang melakukannya.​Kesimpulan​Perbuatan bid’ah termasuk dalam kategori berdusta atas nama Allāh (ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا) karena pelakunya mengklaim suatu amalan atau perayaan (seperti maulud nabi) sebagai bagian dari syariat Allāh, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya. Berdasarkan firman Allāh dalam QS. Al-An’ām ayat 144 melalui kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ ("Siapakah yang lebih zhalim"), perbuatan berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia ini merupakan bentuk kezhaliman yang sangat besar. Hal ini membuktikan kebenaran judul bab yang dibawakan oleh muallif bahwa dosa bid’ah kedudukannya lebih besar daripada dosa-dosa besar lainnya.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 66 | Sesuatu yang Berkaitan Dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yg Paling Dahsyat | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Beliau mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla:فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا لِّیُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَیۡرِ عِلۡمٍۚ“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh, untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu” (QS. Al-An’ām:144)Masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰا adalah orang yang melakukan bid’ah.Kenapa koq bisa dimasukkan orang yang melakukan bid’ah ini dengan berdusta atas nama Allāh? Orang yang melakukan bid’ah, seakan-akan dia mengatakan, ini adalah dari siapa? dari Allāh.Dia melakukan amalan-amalan yang bid’ah tadi, ketika dia mengamalkan dan mendakwahkan apalagi. Seakan-akan dia mengatakan bahwasanya ini adalah dari siapa? Dari Allāh. Padahal bukan dari Allāh.Berarti berdusta bukan itu? Berdusta.Mengatakan ini disyari’atkan padahal itu tidak disyari’atkan, maulud nabi perayaannya di anggap ini adalah disyari’atkan, padahal itu tidak disyari’atkan.Ketika dia mengatakan maulud nabi adalah disyari’atkan, berarti dia berdusta atas nama Allāh. Maka dia masuk di dalam berdusta atas nama Allāh. Karena seakan-akan dia mengatakan Allāh mensyari’atkan hal ini, padahal Allāh tidak pernah mensyari’atkannya.Makanya beliau mendatangkan firman Allāh:فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبࣰاDarimana kita mengetahui dengan ayat ini bahwasanya berdusta atas nama Allāh tadi lebih besar dosanya daripada dosa besar.Bahwasanya ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ini adalah lebih besar daripada dosa besar. Masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ adalah perbuatan bid’ah.Di sini kuncinya adalah pada kalimat فَمَنۡ أَظۡلَمُ (siapakah yang lebih zhalim) daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh.Tahu bahwasanya ini adalah jalan Allāh, jalan yang lurus kemudian dia berdusta atas nama Allāh, “Oh yang benar adalah jalan ke sini mas”. Ingin menyesatkan manusia dari jalan Allāh.Thayyib, maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ dan masuk di dalam ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ adalah bid’ah. Karena dia telah berdusta atas nama Allāh, menunjukkan bahwasanya apa yang disampaikan oleh muallif di dalam judul bab tadi adalah benar adanya, bahwasanya bid’ah itu adalah lebih besar daripada dosa-dosa besar.Karena dia adalah termasuk kezhaliman dia adalah berdusta atas nama Allāh dan Allāh mengatakan فَمَنۡ أَظۡلَمُ (siapa yang lebih zhalim), daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan Tergelincir

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّDan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allāh kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allāh, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allāh atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allāh azza wa jallaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya.Al imam Syafi’i mengatakan,آمَنْتُ باللهِ، وبما جاء عن اللهِ على مُرادِ اللهِ، وآمَنتُ برَسولِ اللهِ وبما جاء عن رَسولِ اللهِ على مُرادِ رَسولِ اللهِDemikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullāh ﷺ dialah yang lebih tahu tentang diri Allāh daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَالتَّشْبِيهَDan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allāh… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖTidak ada yang menyerupakan Allāh sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allāh berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allāh,وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌFirman Allahهَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّافَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَDan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allāh dari seluruh kekurangan dan tasbihyaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk ini adalah mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allāh dengan makhluk berarti kita mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allāh sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allāh tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allāh sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyanنافع تنجه بلا تعطيل و إثبات بلا تشبيهMuatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allāh tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allāh di sini dari seluruh sifat kekurangan Allāh subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allāh tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allāh subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allāh memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihatولم يصب التنزيهDan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allāh bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allāh tetapkan kalau Allāh menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allāh dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allāhلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Tidak ada yang serupa dengan Allāh sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benarفَإِنَّ رَبَّنَا – جَلَّ وَعَلَا – مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِkarena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allāh, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh, Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa denganوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌTidak ada yang serupa dengan Allāh seorangpunلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖمَنْعُوتٌ بِنُعُوتِ الْفَرْدَانِيَّةِ،Allāh subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbihلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِyaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allāhلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِTidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allāh subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 15: Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 13)

Halaqah 15:Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 13)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAyat-ayat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sangat banyak, hal ini menunjukkan keutamaan beliau disisi Allah menunjukkan betapa pentingnya risalah yang beliau bawa, karena risalah beliau adalah risalah yang terakhir dan tidak ada lagi risalah setelah risalah beliau ﷺDan diantara ayat-ayat atau mu'jizat-mu'jizat tersebut1. Al-Isra dan Al-Mi’raj​Al Isra : Dijalankannya Nabi Muhammad ﷺ diwaktu malam dari Al-Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Al-Masjidil Aqsa yang ada di Palestina Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambaNya dimalam hari dari Al-Masjid Haram Ke Al Masjid Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al-Isra : 1)​Al Mi’raj : Diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ kelangit kemudian ke sidratul muntaha. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا"Maka Allah mengangkatku ke langit dunia" (HR. Bukhari dan Muslim)Dua perjalanan yang jauh yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan kekuasaan Allah dan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah Nabi utusan Allah2. Terbelahnya BulanAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُوَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ“Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah dan apabila mereka melihat satu ayat mereka berpaling dan mengatakan ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 1-2)Berkata An-nas bin Malik radhiyallahu ‘anhuأن أهل مكة سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم انير يهم آيَةً فعرهم إنْشَقَّ الْقَمَر"Sesungguhnya penduduk Makkah telah meminta Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan satu tanda kekuasaan, maka beliau ﷺ memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan" (HR. Bukhari dan Muslim)3. Batu yang Mengucapkan Salam Kepada BeliauRasulullah ﷺ bersabda:إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ"Sungguh aku mengetahui sebuah batu di Makkah dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengetahuinya sekarang" (HR Muslim)4. Kabar Beliau Tentang Mati Syahidnya Umar Ibnu khaththab & Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhumaBerkata An-nas bin Malik radhiyallahu ‘anhuصَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ , وَعُمَرُ , وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ , فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ، قَالَ : ” اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ"Nabi ﷺ naik keatas Gunung Uhud dan bersama beliau Abu Bakar, Umar dan Utsman maka bergetarlah gunung Uhud Nabi ﷺ kemudian menendang gunung Uhud dengan kaki beliau seraya berkata tenanglah wahai Uhud tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi, seorang Sidiq dan dua orang syahid" (HR. Al Bukhâri)Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, karena Umar dan Utsman dibunuh dan meninggal dalam keadaan syahid.5. Menangisnya Batang Pohon KurmaBerkata Zabir Ibn Abdillah radhiyallahu ‘anhaالمسجد مسقوفا على جذوع من نخل فكان النبي صلى الله عليه وسلم اذا خطب يقوم الى جذع منها فلما صنع له المنبر وكان عليه فسمعنا لذلك الجذع صوتا كصوت العشار حتى جاء النبى صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليها فسكنت."Dahulu masjid Nabawi bertiangkan batang pohon kurma, maka dahulu Nabi ﷺ apabila khutbah beliau berdiri didekat salah satu batang tersebut ketika dibuatkan mimbar, kemudian beliau berkhutbah diatas nya maka kami mendengar suara batang kurma tersebut seperti suara unta yang sedang hamil sepuluh bulan sampai datang Nabi ﷺ, kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang tersebut maka diamlah batang tersebut" (HR. Bukhari)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 15

Halaqah yang Ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Ketigabelas👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAyat-ayat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sangat banyak, hal ini menunjukkan keutamaan beliau disisi Allah menunjukkan betapa pentingnya risalah yang beliau bawa, karena risalah beliau adalah risalah yang terakhir dan tidak ada lagi risalah setelah risalah beliau ﷺDan diantara ayat-ayat atau mukjizat-mu’jizat tersebut① Al-Isra dan Al-Mi’rajAl Isra : dijalankannya Nabi Muhammad ﷺ diwaktu malam dari Al-Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Masjidil Aqsa yang ada di PalestinaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambaNya dimalam hari dari Al-Masjid Haram Ke Al Masjid Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al-Isra : 1)Adapun Al Mi’raj : diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ kelangit kemudian ke sidratul muntaha. Nabi Muhammad ﷺ bersabdaفَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَاMaka Allah mengangkatku ke langit dunia (HR. Bukhari dan Muslim)Dua perjalanan yang jauh yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan kekuasaan Allah dan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah Nabi utusan Allah② Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُوَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ“Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah dan apabila mereka melihat satu ayat mereka berpaling dan mengatakan ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 1-2)Berkata Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhuأن أهل مكة سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم انير يهم آيَةً فعرهم إنْشَقَّ الْقَمَرSesungguhnya penduduk Makkah telah meminta Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan satu tanda kekuasaan, maka beliau ﷺ memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan (HR Bukhari dan Muslim)③ Batu yang mengucapkan salam kepada beliauRasulullah ﷺ bersabdaإِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَSungguh aku mengetahui sebuah batu di Makkah dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengetahuinya sekarang (HR Muslim)④ kabar beliau tentang mati syahidnya Umar Ibnu khaththab dan Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhumaBerkata Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhuصَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ , وَعُمَرُ , وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ , فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ، قَالَ : ” اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِNabi ﷺ naik keatas Gunung Uhud dan bersama beliau Abu Bakar, Umar dan Utsman maka bergetarlah gunung Uhud Nabi ﷺ kemudian menendang gunung Uhud dengan kaki beliau seraya berkata tenanglah wahai Uhud tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi, seorang Sidiq dan dua orang syahid (HR Al Bukhâri)Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, karena Umar dan Utsman dibunuh dan meninggal dalam keadaan syahid⑤ Menangisnya Batang pohon kurmaBerkata Zabir Ibn Abdillah radhiyallahu ‘anhaالمسجد مسقوفا على جذوع من نخل فكان النبي صلى الله عليه وسلم اذا خطب يقوم الى جذع منها فلما صنع له المنبر وكان عليه فسمعنا لذلك الجذع صوتا كصوت العشار حتى جاء النبى صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليها فسكنت.Dahulu masjid Nabawi bertiangkan batang pohon kurma, maka dahulu Nabi ﷺ apabila khutbah beliau berdiri didekat salah satu batang tersebut ketika dibuatkan mimbar, kemudian beliau berkhutbah diatas nya maka kami mendengar suara batang kurma tersebut seperti suara unta yang sedang hamil sepuluh bulan sampai datang Nabi ﷺ, kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang tersebut maka diamlah batang tersebut (HR. Bukhari)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 65

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan TergelincirHalaqah 65 | Siapa yang Tidak Menghindari Penafian dan Tasybih Maka akan TergelincirKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّDan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari menafikan dan juga menyerupakan maka dia akan tergelincir.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari 2 perkara ini maka dia akan tergelincir apa yang pertama?√ menjaga diri dari menafikan, yaitu menta’til datang dalil yang berisi tentang sifat Allāh kemudian dia mengingkari dan sudah berlalu bahwasanya ta’til disini bisa ta’til kulliun (seluruhnya dia ta’til) baik nama maupun sifat Allāh, atau terkadang namanya ditetapkan tapi dia ingkari sifat Allāh atau terkadang nama dia ditetapkan sebagian sifat dia tetapkan, tapi sebagian sifat yang lain dia ta’til/ingkari, maka ini juga masuk An-Nafia, ada ta’tilunkuliun ada ta’tilunjuziun dan ini semuanya bertentangan dengan Firman Allāh azza wa jallaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya.Al imam Syafi’i mengatakan,آمَنْتُ باللهِ، وبما جاء عن اللهِ على مُرادِ اللهِ، وآمَنتُ برَسولِ اللهِ وبما جاء عن رَسولِ اللهِ على مُرادِ رَسولِ اللهِDemikian seharusnya seorang muslim bukan malah menafi yaitu mengingkari, menta’til.Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya nafia maka dia akan zalla maka dia akan tergelincir masuk kedalam ta’til, masuk golongan muatillah, padahal Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih tahu tentang DiriNya Rasulullāh ﷺ dialah yang lebih tahu tentang diri Allāh daripada kita bagaimana seseorang berani menafikan apa yang ditetapkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَالتَّشْبِيهَDan Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya dari tasbih yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia juga tergelincir, karena ini bertentangan dengan firman Allāh… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖTidak ada yang menyerupakan Allāh sesuatu apapun, kalau dia menyerupakan Allāh berarti dia bertentangan dengan ayat ini dan juga firman Allāh,وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌFirman Allahهَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّافَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَDan ayat² yang lain, ayat² tasbih yang isinya adalah mensucikan Allāh dari seluruh kekurangan dan tasbihyaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk ini adalah mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, karena makhluk tempat kekurangan, kalau kita mensifati atau menyerupakan Allāh dengan makhluk berarti kita mensifati Allāh dengan sifat kekurangan, ini adalah penghinaan terhadap Allāh sehingga beliau mengatakan -زَلَّ- dia akan tergelincir baik yang mengingkari maupun orang yang menyerupakan, baik ta’til maupun tasbih , an-nafii ini keterlaluan karena dia mengingkari, mengingkari dengan maksud untuk menyucikan Allāh tasbih juga keterlaluan karena dia menetapkan, dia menetapkan bagi Allāh sifat tapi kebablasan, keterlaluan karena dia menetapkan dan selanjutnya dia menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk . Ahlussunnah wal jamaah mereka berada diantara keduanyanنافع تنجه بلا تعطيل و إثبات بلا تشبيهMuatillah ingin mentanjih tapi akhirnya dia menta’til musabihat mereka ingin menishbat akhirnya mereka menyerupakan, ini kesesatan dan penyimpangan adapun ahlussunnah wal jamaah maka Alhamdulillah mereka mentanjih / mensucikan Allāh tanpa harus mereka menta’til kita katakan Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sifat kekurangan sedikit dan seluruh sifat Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita adalah sifat kesempurnaan kita menyucikan Allāh di sini dari seluruh sifat kekurangan Allāh subhanahu wa taala memiliki sifat rahmah dan itu adalah Rahmah yang sempurna, Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu dan itu adalah ilmu yang sempurna, Alhamdulillah kita menyucikan Allāh tanpa kita menta’til & kita meng isbat kita menetapkan tanpa kita mentasbih kita tetapkan karena Allāh subhanahu wa taala memiliki pendengaran Allāh memiliki penglihatan dan itu semua tidak serupa dengan penglihatan dan pendengaran makhluk,… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Jadi di sini beliau ingin membantah muatilah dan juga musabihatولم يصب التنزيهDan tidak mungkin dia akan sampai kepada penyucian yang sebenarnya.Mensucikan Allah bukan dengan cara mentaatil seperti yang dilakukan oleh muatillah, mensucikan Allāh bukan dengan cara mentasbih karena orang-orang musabihat di antara alasan mereka loh kita kan harus menetapkan apa yang Allāh tetapkan kalau Allāh menetapkan dia beristiwa ya kita tetapkan istiwa dan yang kita tahu adalah istiwa makhluk berarti istiwa Allah sama dengan istiwa makhluk , ini baik muatillah maupun musabihat mereka tidak sampai kepada Tanzih yaitu mensucikan Allāh dengan sebenar-benar pensucian, cara untuk mentanjih disebutkan dalam firman Allāhلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.Tidak ada yang serupa dengan Allāh sedikitpun dan Dia adalah Dzat yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.Menetapkan tanpa kita menyerupakan, menetapkan sifat dan kita meyakini bahwasanya sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk sedikitpun itu Tanzih yang benarفَإِنَّ رَبَّنَا – جَلَّ وَعَلَا – مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْوَحْدَانِيَّةِkarena sesungguhnya Rabb kita jala wa ala disifati dengan sifat-sifat keEsaan yaitu Maha Esa dalam hal apa Maha Esa dalam rububiyah, Maha Esa dalam nama dan juga sifat Allāh, Maha Esa dalam uluhiyah sebagaimana telah berlalu di awal kita ini, maka Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang Maha Esa disifati dengan sifat-sifat keEsaan termasuk diantaranya adalah di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh, Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Esa di dalam nama dan juga sifatnya tidak ada yang serupa denganوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌTidak ada yang serupa dengan Allāh seorangpunلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖمَنْعُوتٌ بِنُعُوتِ الْفَرْدَانِيَّةِ،Allāh subhanahu wa ta’ala man’ut (maknanya hampir sama dengan mausuf) ada naab ada was , man’utun disifati bil Utin fardaniyah (dengan sifat-sifat fardaniyah) Al fardinayah maknanya hampir sama dengan wahdaniyah disifati dengan sifat² keEsaan ini menguatkan saja apa yang disebutkan sebelum jadi kalau Allah subhanahu wa taala disifati dengan sifat-sifat keEsaan maka tidak boleh menta’til dan juga tidak boleh mentasbihلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِyaitu tidak ada di antara makhlukNya yang bersifat dengan sifat-sifat Allāhلَيْسَ فِي مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَرِيَّةِTidak ada seorang bariyyah pun seorang makhluk yang serupa dengan Allāh subhanahu wa ta’ala ini jadi juga menguatkan pernyataan beliau sebelumnya, intinya di dalam ini dalam paragraf ini ingin menyampaikan kepada kita tentang wahdaniyatullah di dalam masalah namun ada juga sifatnya.Bikinin gambarnya tp ga ada gambar manusia ya banyakin tulisannyan yg jelas

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 15

Halaqah yang ke lima belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثاني عشرSimpul yang ke-12 diantara 20 simpul yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu adalahانتخاب الصحبة الصالحة لهHendaklah kita memilih pertemanan yang baik untuk mendapatkan ilmu tadi.اتِّخاذ الزَّميل ضرورةٌ لازمةٌ في نفوس الخلق،Mengambil seorang teman itu sesuatu yang harus dalam diri-diri manusia. Kita adalah manusia, makhluk sosial, tidak bisa kita hidup sendiri, kita butuh teman.فيحتاج طالب العلم إلى معاشرة غيره من الطُّاَّب؛Maka seorang penuntut ilmu itu sangat membutuhkan orang lain. Dia butuh bersosial dan bermuamalah dengan orang lain, diantara sesama penuntut ilmu.Dia membutuhkan teman dalam menuntut ilmu tersebut karena sebagaimana telah berlalu bahwasanya ilmu ini adalah berat. Dia adalah suatu yang sangat mulia, suatu yang sangat berat, dan kita tahu bahwasanya untuk mencari ilmu ini bukan dengan berleha-leha. Kita harus bersungguh-sungguh. Kalau kita sendiri, maka ini sesuatu yang bisa menyebabkan seseorang mudah futur ketika dia menuntut ilmu dan dia tidak memiliki teman dalam menuntut ilmu.Maka dia membutuhkan teman untuk menuntut ilmu. Teman yang satu visi, satu misi, satu semangat, yang dia juga berkeinginan untuk sampai kepada ilmu tadi sehingga ketika kita dalam keadaan lemah melihat teman tersebut dalam keadaan semangat kita pun ikut bersemangat. Ketika kita dalam keadaan lemah, dia menasehati kita, menggandeng kita, ayo terus kita melangkah supaya kita sampai kepada ilmu tadi. Kita butuh dan memerlukan teman-teman yang seperti itu.Maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu, jangan kita sembarangan dalam mencari teman. Kita harus mencari teman-teman yang memang satu tujuan, satu semangat.لِتُعِينَه هٰذه المعاشرة علىٰ تحصيل العلم والاجتهاد في طلبهSupaya pertemanan ini menolong dia, membantu dia untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.Berarti sebaliknya, kalau kita memilih sembarang teman, kita mendekati teman-teman yang malas misalnya, teman-teman yang tidak punya semangat untuk memahami, tidak punya semangat untuk bertanya, tidak punya semangat untuk menghafal, maka ini berarti kurang pengagungan kita terhadap ilmu. Kalau kita memang benar-benar mengagungkan ilmu, carilah teman-teman yang sama-sama mengagungkan ilmu, sama-sama semangat dalam menuntut ilmu.والزَّمالة في العلم إن سَلِمت من الغوائل نافعةٌ في الوصول إلى المقصودDan pertemanan di dalam ilmu kalau selamat dari perkara-perkara yang merusaknya, maka akan bermanfaat. Jadi kalau kita benar dalam mencari teman bukan hanya sembarangan tapi kita pilih mana teman yang memang semangat dalam menuntut ilmu. Kalau selamat pertemanan tersebut dari kerusakan, itu akan bermanfaat bagi kita dalam menyampaikan kita kepada maksud, yaitu yang akan membantu kita, memudahkan kita untuk sampai kepada ilmu.Berarti sebaliknya, teman yang tidak baik maka ini yang akan menghalangi kita dari ilmu. Ini akan memperlambat kita dari ilmu dan menjadikan kita tidak sampai kepada cita-cita kita untuk menjadi seorang ahlul ‘ilm.ولا يَحسُنُ بقاصد العا إلَّ ٱنتخاب صحبةٍ صالحةٍ تُعينه؛ فإنَّ للخليل في خليله أثرًاMaka tidak sepantasnya bagi orang yang mengejar sesuatu yang tinggi, cita-cita yang mulia, tidak pantas baginya kecuali mencari pertemanan-pertemanan yang shalehah yang akan membantu dia, karena kata beliau, kekasih kepada kekasihnya itu memiliki pengaruh, atau seorang kekasih atau teman dekat, orang yang sangat dia cintai, maka ini memiliki pengaruh terhadap kekasihnya atau orang yang sangat dia cintai.روى أبو داود والتِّرمذيُّ عن أبي هريرة أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: الرَّجل علىٰ دين خليله، فلينظرْ أحدكم من يُخالِلAbu Daud dan juga Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Seseorang itu di atas agama khalilnya. Khalil itu adalah bukan hanya sekedar teman, tapi dia adalah teman yang sangat-sangat dekat, teman yang sangat dia cintai.Maka qaidah (rumusnya) seseorang, agama dia, ketaatan dia, kualitas agama dia, itu sama dengan kualitas agama orang yang sangat dia cintai (khalilnya), karena tidak mungkin dia sangat mencintai orang tersebut kecuali ada memang persamaan yang banyak diantara dua orang tadi. Karena ada persamaan yang banyak diantara dua orang tadi, maka akhirnya dia mencintai dan sangat mencintai sehinggaالرَّجل علىٰ دين خليلهSeseorang itu berada di atas agama khalilnya.فلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.Masing-masing dari kita melihat siapa teman dekat Ana, siapa orang yang paling Ana cintai yang Ana kadang menyampaikan kepadanya sesuatu yang menjadi rahasia Ana, siapa dia itulah Antum. Kalau orang tersebut adalah orang yang shaleh, orang yang semangat, maka itulah Antum. Tapi kalau orang tersebut adalah orang yang jauh dari agama, jauh dari ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka itulah kurang lebih diri kita.فلينظرْ أحدكم من يُخالِلMaka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan khalil.Ini menunjukkan bahwasanya khalil (teman dekat) itu sangat berpengaruh kepada teman dekatnya. Kalau kita memang ingin sampai kepada ilmu, sampai kepada cita-cita kita yang tinggi untuk mendapatkan ilmu, maka hendaklah kita mencari teman-teman yang shaleh.قال الرَّاغب الأصفهانيُّ: ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط، بل بالنَّظر إليهBerkata Ar-Raghib Al-Ashfahaniy, Tidaklah penularan teman duduk kepada teman duduknya hanya dengan ucapan dan perbuatan saja.Seseorang duduk bersama orang lain bisa tertular karena sebab ucapan temannya atau bisa tertular dengan sebab perbuatan temannya.Kata Ar-Raghib bukan hanya ucapan dan juga perbuatan saja,بل بالنَّظر إليهBahkan dengan hanya melihat saja itu bisa menular.Teman duduknya belum berbicara dan belum bergerak, dia hanya melihat tapi dia adalah teman duduk yang baik misalnya, teman duduk yang shaleh dia belum berbicara, belum bergerak apa-apa, hanya sekedar dilihat itu sudah mempengaruhi kita. Ini adalah orang yang shaleh Ana harus demikian dan demikian, sudah mempengaruhi kita padahal kita hanya sekedar melihat dia dan dia belum berbicara belum berbuat.Sebaliknya orang yang rusak dan dia menjadi teman duduk kita, sekedar kita melihat dia juga kita akan bisa terpengaruh dengan orang tersebut padahal dia belum berbicara, padahal dia belum berperilaku, hanya sekedar kita melihat orang yang rusak tadi maka ini bisa mempengaruhi.Kalau memang demikian keadaan teman duduk, teman akrab, maka di sini perlu kita memperhatikan siapa teman akrab kita dalam menuntut ilmu. Ingat sesuatu yang akan kita cari ini adalah suatu yang sangat mulia, benar-benar kita harus menyeleksi siapa teman yang bisa kita jadikan benar-benar seorang sahabat yang bersama-sama berjalan untuk mendapatkan ilmu.وإنَّما يُختار للصُّحبة من يُعاشِر للفضيلة لا للمنفعة ولا للذَّةDan sesungguhnya dipilih untuk menjadi seorang teman, orang yang kita bergaul dengannya karena keutamaannya.Cara mencari teman yang baik adalah kita memilih diantara mereka seorang teman yang kita jadikan teman karena keutamaannya. Misalnya keutamaannya, dia semangat untuk menuntut ilmu, dia memperhatikan ilmunya, dia menghafal, dia beradab, dia terlihat orang yang mengagungkan ilmu, berarti ini kita mengambil dia sebagai seorang teman karena keutamaan dia.لا للمنفعة ولا للذَّةBukan karena manfaat.Mengambil seseorang sebagai teman karena manfaatnya, yaitu karena kita ingin mengambil manfaat dari dia karena dia adalah seorang yang kaya misalnya, akhirnya kita menjadikan dia sebagai teman, ini berarti berteman karena kita ingin mengambil manfaat dari dia, ini jangan sampai demikian.ولا للذَّةDan jangan sampai kita mengambil teman karena kita merasa nikmat ketika dekat dengan orang tersebut.Mungkin orangnya suka guyon misalnya kemudian kita akhirnya menjadikan dia sebagai teman. Seharusnya kita mencari teman karena keutamaan dia, contohnya adalah dia adalah penuntut ilmu yang memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.فإنَّ عقْد المعاشرة يُبرَم علىٰ هٰذه المطالب الثَّلاثة: الفضيلة، والمنفعة، واللَّذَّةKarena pertemanan itu biasanya berdasarkan tiga perkara ini, ada pertemanan karena fadhilah (keutamaan) teman tersebut, ada pertemanan karena manfa’ah yaitu karena teman tersebut kita bisa ambil manfaat dari dia karena dia punya uang misalnya,واللَّذَّةDan seseorang yang kita jadikan teman karena kita merasa nikmat ketika berteman dengan orang tersebut, yaitu karena dia suka menghibur misalnya.Maka yang bermanfaat adalah kalau kita mengambil seseorang menjadi teman karena keutamaan yang dia miliki. Adapun pertemanan yang berdasarkan manfaat dan juga kelezatan atau kenikmatan maka ini terputus dengan sebab berhentinya manfaat yang kita ambil dan dengan sebab kita sudah tidak bisa merasakan kenikmatan bersama dia.Kemudian beliau mengatakan,ذكره شيخ شيوخنا محمدُ الخضرِ بنُ حسينٍ في رسائل الإصلاحDisebutkan oleh guru dari guru-guru kami Muhammad Al-Khadhir Ibn Husein dalam Rasā’il Al-Ishlah, ini maksudnya adalah tentang masalah bahwasanya pertemanan ini terkadang karena keutamaan, terkadang karena manfaat, terkadang karena kenikmatan, ini disebutkan oleh guru dari guru-guru beliauفانتخب صديق الفضيلة زميلً؛ فإنَّك تعْرَفُ بهMaka pilihlah seseorang menjadi teman bagimu karena keutamaan yang dia miliki, maka engkau akan dikenal dengannya.Yaitu ketika kita memilih seorang teman yang mulia, dia memiliki fadhilah, memiliki keutamaan, maka kita ini akan dikenal baik meskipun kita mungkin tidak sebaik orang tersebut tapi karena kita adalah teman orang yang memiliki keutamaan tadi maka kita akan dikenal sebagai orang yang baik, karena ini adalah temannya si fulan dan si fulan adalah seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh, maka kita akan dikenal juga sebagai seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh.و قال ابنُ مانعْ في إرشاد الطلاب – وهو يوصي طالب العلمDan berkata Ibnu Mani’ rahimahullāh di dalam kitab beliau Irsyaduth Thullab dan beliau dalam keadaan memberikan wasiat kepada penuntut ilmu.ويَحْذَر كلَّ الحذر من مخالطة السُّفهاءHendaklah seorang penuntut ilmu waspada dan benar-benar waspada dari berteman dengan para sufaha’ (orang-orang yang yang mereka tidak menjaga dirinya, melakukan kemaksiatan melakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat).وأهلِ المجون والوقاحةDan orang-orang yang rusak.وسيِّئي السُّمعةDan orang-orang yang jelek atau dikenal jelek oleh manusia/masyarakat.والأغبياءDan orang-orang yang ghabi.Kurang lebih maknanya adalah orang-orang yang tolol, tidak bisa menjaga waktunya atau melakukan perkara-perkara yang sangat tidak bermanfaat, melihat sesuatu yang tidak bermanfaat atau melakukan aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak ada manfaatnya.والبلَداءIni hampir sama maknanya dengan al-aghbiya’.فإنَّ مخالطتهم سبَبُ الحرمانِ وشقاوةِ الإنسانKarena bercampur dengan mereka, kita tidak menjaga diri kita sebagai seorang penuntut ilmu, tidak menjaga pergaulan kita, dan kemudian kita menyamakan diri kita dengan mereka, orang-orang yang memang tidak memperhatikan waktunya, tidak memperhatikan kehormatan dirinya, terjerumus dan bergelimang dengan kemaksiatan, dikenal jelek oleh masyarakat, maka bercampur baur dengan mereka ini menjadi sebab kita tidak mendapatkan ilmu, karena kita menghinakan ilmu, dengan kita tidak menjaga pergaulan kita dengan orang lain ini berarti kita menghinakan ilmu yang kita bawa.وشقاوةِ الإنسانDan ini menjadi kebinasaan dan kecelakaan tersendiri bagi seseorang

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 15 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Enam Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,السَّادِسُ: مَنِ اسْتَهْزَأَ بِشَيْءٍ مِنْ دِيْنِ اللهِ، أَوْ ثَوَابِهِ، أَوْ عِقَابِهِ، كَفَرَوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْYang ke enam:“Barangsiapa yang mengejek sesuatu dari agama Allah atau pahala-Nya atau siksaan-Nya, sungguh dia telah kufur.Dalilnya firman Allah yang artinya: Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, kalian mengejek? Janganlah minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.”Beliau mengatakan, مَنِ اسْتَهْزَأَ بِشَيْءٍ مِنْ دِيْنِ اللهِ،Barangsiapa yang mengejek sesuatu yang berkaitan dengan agama Allah, seperti Allah Azza wa Jalla yang mensyari’atkan agama Islam, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang membawa agama Islam, ayat-ayat Allah yang merupakan sumber agama Islam, perintah-perintah dan larangan-larangan, para sahabat yang mereka adalah orang pertama yang menerima agama Islam dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para ulama yang mereka adalah pewaris para Nabi, dll.Beliau berkata setelahnya, أَوْ ثَوَابِهِ، أَوْ عِقَابِهِ atau mengejek pahala Allah atau siksaan-Nya, seperti mengejek surga dan kenikmatan di dalamnya, dan mengolok-olok neraka dan berbagai siksaan di dalamnya.Seorang muslim apabila di dalam hatinya ada keimanan, maka keimanan tersebut akan mendorong dia untuk mengagungkan apa yang berkaitan dengan agamanya. Dia akan mengagungkan Allah, Dzat yang menurunkan agama Islam.Allah berkata,(وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ)[Surat Al-Muddaththir 3]“Dan Rabb-mu hendaklah engkau agungkan.”Dan Allah berfirman,وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِیرَۢا[Surat Al-Isra’ 111]“Dan hendaklah engkau mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan.”Mengagungkan Allah diantaranya dengan hanya menyembah kepada Allah. Dan juga menyifati Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan sesuai dengan keagungan-Nya, dll.Barangsiapa yang menyekutukan Allah, sungguh dia telah merendahkan Allah, karena dia menyamakan makhluk yang lemah dengan Al Khaliq, Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.Barangsiapa yang menyifati Allah dengan kekurangan, sungguh dia telah merendahkan Allah. Seperti orang-orang yang meyakini bahwa Allah memiliki anak. Sebagaimana keyakinan orang-orang musyrikin.Allah berfirman,(وَیَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَـٰتِ سُبۡحَـٰنَهُۥ وَلَهُم مَّا یَشۡتَهُونَ)[Surat An-Nahl 57]“Dan mereka menjadikan bagi Allah, anak-anak wanita. Maha Suci Allah. Dan bagi mereka apa yang mereka senangi (anak laki-laki).”Orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka juga mengatakan bahwasanya Allah memiliki anak.Allah berfirman,وَقَالَتِ ٱلۡیَهُودُ عُزَیۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَى ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ[Surat At-Tawbah 30]“Orang-orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Nasrani mengatakan Isa Al Masih adalah anak Allah.”Diantara contoh merendahkan Allah, apa yang diucapkan orang-orang Yahudi ketika mereka menyifati Allah dengan kefakiran.Allah berfirman,لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ[Surat Ali Imran 181]“Allah telah mendengar ucapan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, sesungguhnya Allah adalah fakir dan kami adalah orang-orang kaya.”Mereka menyifati Allah. Mereka menyifati bahwa tangan Allah terbelenggu.Allah berfirman,وَقَالَتِ ٱلۡیَهُودُ یَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَیۡدِیهِمۡ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟ بَلۡ یَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ یُنفِقُ كَیۡفَ یَشَاۤءُۚ[Surat Al-Ma’idah 64]“Dan berkata orang-orang Yahudi, tangan Allah terbelenggu. Tangan merekalah yang terbelenggu. Dan mereka dilaknat dengan sebab apa yang mereka ucapkan. Bahkan kedua tangan Allah terbentang. Dia berinfak sesuai dengan cara yang dia kehendaki.Seseorang yang di dalam hatinya ada keimanan, dia akan menghormati ayat-ayat Allah.Ayat-ayat Allah ada dua:1. Ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta ini.2. Ayat-ayat sam’iyyah. yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di dalam kitab-Nya, seperti yang ada di dalam Al Qur’an.Kewajiban seorang muslim adalah menghormati ayat-ayat Allah dan tidak menghinakannya.Allah berfirman,وَلَا تَتَّخِذُوۤا۟ ءَایَـٰتِ ٱللَّهِ هُزُوࣰاۚ[Surat Al-Baqarah 231]“Dan janganlah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai senda gurau.”Kewajiban seorang muslim adalah menghormati Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah berfirman,فَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ مَعَهُۥۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ[Surat Al-A’raf 157]“Maka orang-orang yang beriman dengan Beliau dan mereka menghormati Beliau dan menolong Beliau dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersama Beliau, maka merekalah orang-orang yang beruntung.Dan diantara bentuk penghormatan kita kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah menghormati istri-istri Beliau yang mereka merupakan ibu-ibu kita dan menghormati para sahabat Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Beberapa dalīl yang menunjukkan tentang apa yang beliau tetapkan, apa yang beliau simpulkan bahwasanya bid’ah itu lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar.Kalau yang di maksud dengan الكبائر di sini, kira-kira الكبائر dengan makna yang umum atau makna khusus?Kalau di sebutkan bid’ah, بدعة أشد من الكبائر isyarat bahwasanya yang di maksud dengan الكبائر adalah yang berada di bawah bid’ah, yaitu kabāir dengan makna khusus.Mustaqim tidak seandainya kabāir di sini, kita bawa kepada makna yang umum? Laa yastaqim. Bagaimana bid’ah lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar termasuk di antaranya adalah syirik.Laa, dalam hadīts disebutkan bahwasanya syirik adalah:أعظم الذنوب عند الله“Dosa yang paling besar di sisi Allāh adalah kesyirikan”Thayyib, dari sini kita tahu bahwasanya makna kabāir di sini adalah makna yang khusus bukan makna yang umum. Beliau mendatangkan beberapa dalīl dari Al-Qur’ān dan juga beberapa dalīl dari Sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Adapun dalīl dari Al-Qur’ān, maka yang pertama adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:وقال الله تعالى: إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik” (QS. An-Nissā:48)Ayat ini, ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau. Beliau ingin tunjukkan dengan ayat ini bahwasanya bid’ah, itu lebih besar daripada dosa-dosa besar.Ini perlu ta’amul yang demikian, karena ayatnya di sini berbicara tentang syirik, padahal di dalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bid’ah dengan dosa-dosa besar.Di dalam judul bab nya tidak di sebutkan tentang syirik, kalau di sebutkan di dalam bab nya, di sebutkan tentang syirik أن شرك أشد من الكبائر, pas kita mendatangkan firman Allāh إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ, itu kalau bab nya bab باب ماجاء أن أن شرك أشد من الكبائر.Itu kalau kalimatnya adalah الشرك karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik ini adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya.Adapun dosa besar yang lain masih,إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”Yang disebutkan dalam ayat ini yang pertama adalah syirik yang kedua adalah yang ada di bawah syirik (bid’ah dan juga kabāir), itulah yang ada di bawah syirik.Thayyib, berarti yang disebutkan di sini adalah syirik dan apa yang ada di bawah syirik.Lalu kenapa beliau di sini mendatangkan ayat ini padahal di sini perbandingannya adalah antara syirik dengan apa yang ada di bawah syirik. Dan apa yang ada di bawah syirik masuk di dalamnya bid’ah dan juga kabāir.Kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada di bawah syirik, jelas. Tapi di sini beliau mendatangkan ayat ini di dalam bab ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر (bid’ah itu lebih dahsyat daripada dosa besar).Maka sebagian surah menjelaskan bahwasanya bid’ah kalau tadi kita lihat di sini, urutannya syirik, bid’ah dengan kabāir, maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa besar.Dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat dengan syirik daripada kepada dosa-dosa besar.Thayyib, apa di antara persamaannya?Disebutkan bahwasanya di antara persamaannya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah. Orang melakukan sesuatu di depan patung yesus (misalnya) ketika dia melakukan kesyirikan, niatnya adalah ibadah dan makna ini juga ada di dalam bid’ah. Karena orang yang melakukan bid’ah inginnya adalah ingin beribadah.Baik, adapun kabāir, ketika dia melakukan dosa besar tadi, orang yang melakukan kabāir maka niatnya bukan ibadah, dia memahami dan mengetahui bahwasanya itu adalah dosa. Dia melacur, dia minum minuman keras tidak ada niat apa? Ibadah.Dia paham bahwasanya itu adalah dosa, berbeda dengan bid’ah, maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah, dan ini makna juga ada di dalam orang yang melakukan kesyirikan.Sehingga dari sisi ini, bid’ah ini lebih dekat dan memiliki persamaan dengan kesyirikan, dari sisi yang lain orang yang melakukan bid’ah seakan-akan dia telah menjadikan dirinya sebagai musyari’, menjadikan dirinya sebagai yang mensyari’atkan.Dia menentukan ini di sunnahkan, ini di wajibkan, ini di syari’atkan. Itu adalah orang yang mumtadi’ atau orang yang melakukan bid’ah dan orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tauhīd, masuk di dalam tauhīd al-uluhiyyah yaitu meng-Esa-kan Allāh di dalam masalah hukum syar’i.Sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin ketika beliau membantah sebagian jama’ah yang mereka menambah di dalam pembagian tauhīd dengan tauhīd al-hakimiyyah. Beliau mengatakan bahwasanya, tidak perlu menambah dengan tauhīd al-hakimiyyah, karena al-hakimiyyah di sini, (hukum) di sini ada dua.Biasa artinya adalah hukum syar’i atau hukum kauni, kalau dia adalah hukum kauni maka ini masuk di dalam tauhīd rububiyyah. Hukum kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup dan juga meninggal, digerakkannya matahari dan seterusnya, maka ini adalah hukum kauni.Kita Esa-kan Allāh di dalam hukum kauni, berarti ini masuk di dalam apa? Rububiyyah.Tapi kalau yang di maksud adalah hukum yang syar’i maka ini adalah masuk di dalam tauhīd uluhiyah.Baik. Orang yang melakukan bid’ah berarti dia bertentangan dengan tauhīd al-uluhiyyah sehingga dia digabungkan (di samakan) dengan kesyirikan. Lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabāir.Sehingga beliau mendatangkan ayat ini,إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُBid’ah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabāir karena masing-masing dari syirik maupun bid’ah itu maksudnya adalah apa? Adalah ingin taqarrub kepada Allāh, ingin beribadah kepada Allāh.Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya bid’ah lebih أشد daripada kabāir, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa besar yang besar, karena sama-sama pelakunya melakukan bid’ah maupun kesyirikan dan niatnya adalah bertaqarrub kepada Allāh Azza wa Jalla.Itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini, ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya bid’ah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada dosa-dosa besar.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 65: Derajat-Derajat Al-Jannah (Surga)

📖 Ringkasan Halaqah 65: Derajat-Derajat Al-Jannah (Surga)🌿 1. Surga Memiliki Banyak DerajatDerajat penghuni surga berbeda-beda sesuai iman dan ketakwaan mereka.Allah berfirman dalam QS. Thaha: 75 bahwa orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh derajat yang tinggi.⭐ 2. Derajat Tertinggi Milik Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ memiliki kedudukan tertinggi di surga, yaitu Al-Wasilah.Setelah mendengar adzan, kita dianjurkan:Menjawab lafaz adzan.Bershalawat kepada Nabi ﷺ.Memohonkan Al-Wasilah untuk beliau.Orang yang memohonkan Al-Wasilah akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ.✨ 3. Ahlul Ghuraf (Penghuni Kedudukan Tertinggi)Penghuni surga yang derajatnya tinggi akan terlihat seperti bintang di ufuk langit oleh penghuni surga lainnya.Kedudukan ini bukan hanya untuk para nabi, tetapi juga bagi:Orang-orang yang beriman.Orang-orang yang membenarkan para rasul.🌟 4. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhumaAbu Bakar dan Umar termasuk penghuni surga yang memiliki derajat sangat tinggi.Mereka akan memperoleh kedudukan yang tampak tinggi bagi penghuni surga lainnya.⚔️ 5. Mujahidin Fi SabilillahAllah menyediakan 100 derajat surga bagi orang yang berjihad di jalan-Nya.Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi.Surga tertinggi adalah Al-Firdaus:Surga paling utama.Surga paling tinggi.Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman.Dari sana mengalir sungai-sungai surga.💎 6. Amal yang Mengangkat Derajat di Surga❤️ Membantu Janda dan Orang MiskinPahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau berpuasa di siang hari dan shalat malam.Mendidik dan Menafkahi Anak PerempuanOrang yang menanggung kebutuhan dua anak perempuan hingga baligh mendapat kedudukan dekat dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.Menanggung Anak YatimRasulullah ﷺ bersabda:"Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti dua jari ini."Memiliki Akhlak yang BaikOrang yang paling dicintai dan paling dekat majelisnya dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.🤲 Istighfar Anak untuk Orang TuaDerajat orang tua di surga dapat ditinggikan karena istighfar anaknya.Ini menjadi motivasi agar orang tua mendidik anak dengan baik dan saleh.📝 Inti HalaqahSemakin kuat iman, takwa, dan amal saleh seseorang, semakin tinggi derajatnya di surga.Amal-amal yang sangat berpengaruh dalam meninggikan derajat: ✅ Memohon Al-Wasilah untuk Nabi ﷺ✅ Berjihad di jalan Allah✅ Membantu janda dan fakir miskin✅ Menafkahi anak perempuan✅ Menanggung anak yatim✅ Memiliki akhlak mulia✅ Mendidik anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 15 - Silsilah Beriman Pada Hari Akhir | Dajjal Bagian 01 dari 03

•Halaqah 15•[Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir]Dajjal Bagian 01 dari 03Dajjal yang secara bahasa artinya pendusta besar merupakan seorang manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam yang di akhir zaman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menjadikan dia fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Rasulullah ﷺ bersabda :مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالTidak ada fitnah antara penciptaan Adam sampai hari kiamat yang lebih besar dari pada fitnah Dajjal (HR. Muslim).Sebelum keluarnya Dajjal, Bumi dalam keadaan kemarau yang sangat panjang. Manusia sangat membutuhkan air dan juga makanan. Dajjal muncul dan mengaku sebagai tuhan rabbul ‘alamiin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan dia kemampuan untuk bergerak cepat, menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman. Dia membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka, sehingga orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى seperti orang-orang musyrik, kafir dan munafiq, mereka pun mengikuti Dajjal. Di antaranya adalah tujuh puluh ribu orang Yahudi Asbahan (HR. Muslim)Dan Asbahan adalah nama sebuah daerah. Sampai ada seseorang yang awalnya menyangka dirinya beriman setelah melihat perkara yang luar biasa pada diri Dajjal, akhirnya dia mengkuti Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)Setiap Nabi telah mengingatkan umatnya fitnah Dajjal ini. Rasulullah ﷺ bersabda :إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُSesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Dan tidaklah seorang Nabi kecuali dia telah memperingatkan kaumnya, dari Dajjal. Demikian pula Nuh ‘alaihissalam. (HR. Bukhari)Dajjal sekarang ada di sebuah pulau. Thammim Ad-Daari seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam saat masih beragama Nashrani, dia dan beberapa orang temannya pernah terdampar di pulau tersebut, mereka melihat Dajjal dalam keadaan terikat kuat. Bahkan sempat terjadi dialog antara mereka dengan Dajjal. Kemudian Thammim mengabarkan pertemuan dan dialog ini kepada Nabi ﷺ setelah masuk islam dan dibenarkan oleh Nabi ﷺ (Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim)

💬 0 komentar📅 26 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Juni 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 14 - Beriman Kepada Hari Akhir | Tanda-Tanda Dekatnya Hari Kiamat

-Halaqah 14-Tanda-Tanda Dekatnya Hari KiamatTanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah sepuluh tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul sepuluh tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain.Suatu saat Nabi Muhammad ﷺ melihat para sahabat sedang saling berbicara. Maka beliau bertanya :Apa yang sedang kalian bicarakan? Maka mereka menjawab “Kami sedang mengingat hari kiamat.” Kemudian beliau ﷺ berkata :إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍSesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut, sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda-tanda, Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sepuluh tanda tersebut, yaitu:1. Asap2. Dajjal3. Daabbah (seekor hewan melata)4. Terbitnya matahari dari barat5. Turunnya Nabi Isa Ibnu Maryam6. Ya’juj dan Ma’juj7. Khosf di timur (terbenamnya sebagian tanah di timur)8. Khosf di barat9. Khosf di Jazirah Arab10. Api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke padang pengumpulan (HR. Imam Muslim).

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 14

Halaqah yang ke empat belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuk kita pada al-ma’qid yang ke-11, simpul yang ke-11 diantara 20 simpul yang dengannya Insya Allāh kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu. Dan kalau kita sudah mengagungkan ilmu, maka Insya Allāh itu adalah sebab kita mendapatkan ilmu itu sendiri.Beliau mengatakan,المعقد الحادي عشرSimpul yang ke-11 adalahصيانة العلم عما يشين مما يُخالف المروءة ويخرمهاMenjaga ilmu dari perkara-perkara yang menjadikan dia jelek.Termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah kita harus menjaga ilmu, menjaga dia tetap mulia, menjaganya dari seluruh perkara yang menjadikan dia itu jelek, menjadikan dia nampak jelek di hadapan manusia.مما يُخالف المروءة ويخرمهاDari segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah (kehormatan atau kewibawaan) atau memecahkan kewibawaan tersebut.Jadi harusnya ilmu yang kita cari maka hendaklah kita perindah dengan cara kita memperbaiki diri kita, yaitu dengan menjaga muru’ah seseorang. Sebagaimana ilmu itu indah, sebagaimana ilmu itu mulia, maka hendaklah kita sebagai pembawa ilmu tersebut harus menghiasi diri kita ini dengan muru’ah.Segala sesuatu yang menyelisihi muru’ah, menyelisihi kehormatan, menyelisihi kewibawaan, maka jangan kita lakukan, karena itu nanti akan memperjelek ilmu yang kita bawa. Kalau memang kita ingin mengagungkan ilmu, maka hendaklah kita menjaga ilmu dari segala sesuatu yang menjelekkannya.Beliau mengatakan,من لم يَصُنِ العلمَ لم يَصُنْهُ العلمُBarangsiapa yang tidak menjaga ilmu (dari segala sesuatu yang menjelekkannya), maka ilmu tidak akan menjaganya.Kalau kita tidak menjaga dia, menjaga kehormatan dia, menjaga kemuliaan dia dengan cara kita menjaga kemuliaan kita sebagai seorang yang membawa ilmu, maka ilmu tidak akan menjaga kita.كما قال الشَّافعيُّSebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i,ومن أخلَّ بالمروءة بالوقوع فيما يَشين فقد ٱستخفَّ بالعلمBarangsiapa yang merusak muru’ahnya sendiri, merusak kewibawaannya sendiri dengan menjerumuskan dirinya di dalam perkara yang menjadikan dia buruk, menjadikan dia jelek, maka sungguh dia telah menganggap remeh ilmu.Kalau kita bermudah-mudahan sebagai seorang penuntut ilmu kemudian kita menyamakan diri kita dengan orang-orang awam biasa atau orang-orang yang pengangguran atau orang-orang yang mereka memang tidak tahu malu, kita samakan diri kita dengan mereka ini, berarti kita sebenarnya telah meremehkan ilmu kita.Kita tidak menjaga diri kita, tidak menjaga adab, kita tidak menjaga muru’ah kita, berarti kita tidak menghormati ilmu yang kita maka,فلم يُعظِّمْه فوقع في البطَالةMaka berarti dia tidak mengagungkan ilmu dan terjatuhlah dia ke dalam kerusakan.فتُفضي به الحال إلى زوال ٱسم العلم عنهAkhirnya ketika kita tidak peduli dengan kehormatan kita dan muru’ah kita padahal kita orang yang menisbahkan dirinya pada ilmu, kita bangga sebagai seorang penuntut ilmu tapi kita tidak menjaga diri kita, kemudian kita terjerumus ke dalam perkara-perkara yang itu sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh seorang penuntut ilmu karena biasanya yang melakukan adalah seorang yang pengangguran atau seorang preman atau orang yang nakal, akhirnya keadaan yang seperti ini akan menyebabkan hilangnya nama ilmu dari kita.Ketika kita sudah tidak mempedulikan lagi kewibawaan kita, muru’ah kita sebagai seorang penuntut ilmu, mungkin dari sisi pakaian, dari sisi pakaian tidak mencerminkan dia seorang penuntut ilmu, seorang penuntut ilmu maka mereka memiliki pakaian yang menunjukkan bahwasanya dia adalah seorang penuntut ilmu.Adapun memakai pakaian yang tidak mencerminkan dia sebagai seorang penuntut ilmu maka ini bisa menghilangkan nama ilmu darinya, sehingga orang sudah tidak lagi menyebut dia sebagai seorang santri, tidak menyebut dia sebagai seorang penuntut ilmu lagi, karena dilihat dari sisi gerak-geriknya, dari sisi akhlaknya, dari sisi pakaiannya, sama dengan yang lain tidak ada bedanya, ini akibat dari orang yang tidak menjaga ilmu.قال وهب بن منبِّهBerkata Wahab Ibn Munabbih rahimahullah,لا يكون البطَّال من الحكماءOrang yang rusak (yang dia sudah tidak memperhatikan dirinya) maka dia tidak mungkin menjadi seorang yang berilmu (orang yang memiliki hikmah).Kemudian beliau menjelaskan apa yang dimaksud dengan muru’ah.و جِماع المروءة – كما قاله ابن تيميَّة الجدُّ في المحرَّر، وتبعه حفيده في بعض فتاويه -: استعمال ما يُجمِّله ويَزِينه، و تجنُّبُ ما يُدنِّسه ويَشِينهYang dimaksud dengan muru’ah itu terkumpul dalam ucapan ini sebagaimana diucapkan oleh Ibnu Taimiyah kakeknya.Karena di sana ada Ibnu Taimiyah kakek, ada Ibnu Taimiyah cucu. Kalau Ibnu Taimiyah kakek, ini adalah kakeknya Ibnu Taimiyah guru dari Ibnul Qayyim. Kalau Syaikhul Islam gurunya Ibnul Qayyim maka ini adalah cucunya. kakek maupun cucu dikenal dengan Ibnu Taimiyah.Sebagaimana ini diucapkan oleh Ibnu Taimiyah Aljad (kakek) di dalam Kitab beliau Al-Muharrar dan diikuti oleh cucunya di dalam sebagian fatwa beliau, yang dimaksud dengan muru’ah adalah menggunakan apa yang memperindah dan menjadikan dia lebih bagus dan menjauhi apa yang bisa merusaknya dan menjadikan dia lebih jelek.Jadi sebagaimana ilmu itu adalah indah maka kita iringi dengan perbuatan kita yang indah. Perbuatan kita yang menjaga adab, perbuatan kita dan tingkah laku kita dan perilaku kita yang memperindah ilmu tadi, dan kita menjauhi segala hal yang mengotori ilmu tadi dan juga justru memperjelek dan memperburuk ilmu tadi.Ini yang dimaksud dengan al-muru’ah, segala sesuatu yang memperindah ilmu baik berupa pakaian misalnya atau berupa gerak-gerik dan akhlak maka hendaklah kita lakukan, dan segala sesuatu yang memperburuk dan memperjelek ilmu tadi maka hendaklah kita jauhi. Ini semua adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.قيل لأبي محمَّدٍ سفيانَ بن عُيَيْنةَDikatakan kepada Abu Muhammad Sufyan Ibn ‘Uyainah, ditanyakan kepada beliau,قدِ ٱستنبطتَ من القرآن كلَّ شيءٍ، فأين المروءةُ فيه؟Engkau telah beristinbath dari Al-Qur’an segala sesuatu, artinya Sufyan Ibn ‘Uyainah segala sesuatu beliau bisa mendatangkan dalilnya dari Al-Qur’an, akhirnya beliau ditanya,فأين المروءةُ فيه؟Mana dalil yang menunjukkan tentang pentingnya menjaga muru’ah?فقالMaka Sufyan Ibn ‘Uyainah mengatakan,في قوله تعالىٰ: ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ﴾ الأعراف: الآية 199Beliau mengatakan di dalam Firman Allāh ﷻ yang artinya ambillah al-‘afwa (maafkanlah) dan perintahkanlah dengan yang baik dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.Beliau mengatakan,ففيه المروءة، وحسن الأدب، ومكارم الأخاقMaka di dalam ayat ini ada muru’ah.Kita sebagai seorang penuntut ilmu, misalnya terjadi ada orang yang mendzhalimi kita, perindahlah ilmu yang Antum miliki dengan cara kita memaafkan orang tersebut. Ini muru’ah bagi seseorang dan itu memperindah ilmu yang ada pada diri kita ketika Antum memaafkan dia.Tapi coba ketika Antum didzhalimi oleh orang lain kemudian Antum marah-marah dan Antum banting apa yang ada disekitar Antum, tidak memaafkan orang tersebut, bukankah ini memperjelek ilmu yang Antum baw?Kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu, kita agungkan ilmu, kita jaga dia dari perkara-perkara yang memperjeleknya, kita perindah dia dengan gerak-gerik kita yang indah juga, kita maafkan, maka ini termasuk bentuk muru’ah, menjaga kehormatan kita sebagai seorang penuntut ilmu.Demikian pula memerintahkan kepada kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil, ini semua adalah bentuk muru’ah dan ini adalah menunjukkan baiknya adab dan dia termasuk akhlak yang mulia.Ini dalil di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang muru’ah. Memaafkan orang lain, mengajak kepada kebaikan kemudian berpaling dari orang-orang yang jahil.Ketika ada orang yang mencela Antum misal menjelek-jelekkan Antum, maka ingat Antum sedang membawa ilmu maka Antum harus menjaga ilmu tadi supaya jangan sampai diperjelek yaitu dengan cara kita membalas atau dengan cara kita berpaling dari orang-orang yang jahil, kita maafkan, dan kita berpaling dari orang-orang yang jahil.Kemudian beliau mengatakan,ومِن ألْزَمِ أدبِ النَّفس للطَّالب: تحلِّيه بالمروءةDan termasuk diantara adab terhadap diri sendiri yang seharusnya dipegang oleh seorang penuntut ilmu adalah menghiasi dirinya dengan muru’ah.Sebagaimana telah berlalu ada adab terhadap diri sendiri, ada adab terhadap teman, ada adab terhadap guru. Termasuk diantara adab terhadap diri sendiri bagi seorang penuntut ilmu adalah dia menghiasi dirinya dengan muru’ah, jangan dia samakan dia sebagai seorang penuntut ilmu dengan orang lain.وما يحمل عليهاDan apa yang membawa kepada muru’ahوتنكُّبُه خوارمها الَّتي تخلُّ بها؛Demikian pula dia berusaha untuk menjauhi segala hal yang bisa merusak muru’ah dia.Kemudian beliau memberikan contoh, diantara contoh yang bisa merusak kehormatan seorang penuntut ilmuكحلق لحيتهSeperti memotong jenggotnya.Artinya seorang penuntut ilmu adalah orang yang tentunya memiliki ilmu tidak seperti manusia yang lain. Diantara ilmu yang dia dapat adalah memanjangkan atau membiarkan jenggot. Ketika dia mencukur jenggotnya, maka ini merusak muru’ah dia. Harusnya dia menghiasi dirinya dengan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dari sisi pakaiannya, dari sisi jenggotnya, dzhahirnya seharusnya dihiasi dengan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أو كثرةٍ الالتفات في الطريقDiantara yang merusak kehormatan seseorang, kalau memotong jenggot ini adalah kemaksiatan dan seluruh kemaksiatan memperburuk seorang penuntut ilmu, demikian pula kata beliau terlalu banyak menoleh ketika di jalan maka ini juga bisa merusak kewibawaan seseorang.Kalau Antum melihat ada orang lain ketika dia berjalan melihat ke kanan, melihat ke kiri, ke atas, ke bawah, bagaimana pandangan Antum terhadap orang tersebut dengan orang lain yang dia berjalan dan terlihat bahwasanya dia konsentrasi terhadap satu tujuan, dia tidak banyak menoleh kecuali kalau memang diperlukan ketika akan menyeberang misalnya memang harus menoleh, tapi ketika dia tidak diperlukan dia sering menoleh dan melihat tidak menjaga pandangan maka ini akan merusak kehormatan seseorang.Harusnya dia menghiasi ilmu yang ada pada dirinya dengan adab yang baik. Jangan dia seperti pengangguran yang berjalan di jalan tidak tahu tujuannya, tidak tahu ke mana hanya ingin melihat aurat manusia. Seorang penuntut ilmu berjalan di jalan dan dia memiliki tujuan. Ana mau ke pasar, ana mau ke toko, ana ingin ke kuliah, itu tujuannya bukan melihat ke kanan dan ke kiri, ini termasuk kewibawaan yang hendaknya dijaga oleh seseorang penuntut ilmu.أو مدِّ الرِّجلين في مَجْمَعِ النَّاس من غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍAtau menjulurkan kedua kakinya diperkumpulan manusia.Banyak orang sedang kumpul kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, ini sesuatu yang merusak kewibawaan seseorang.Seharusnya dalam perkumpulan-perkumpulan seperti itu seorang penuntut ilmu menjaga adabnya. Adab dalam bermajelis, adab duduk bersama orang lain itu bagaimana, karena ketika dia menjulurkan kedua kakinya maka ini seperti menghinakan orang yang ada di depannya.من غير حاجةٍ ولا ضرورةٍ داعيةٍPadahal itu tidak ada keperluan dan bukan sesuatu yang darurat.Kalau memang dia capek, silakan dia menjulurkan kakinya. Kalau memang dia sakit, silahkan dia menjulurkan kakinya. Tapi kalau tidak ada keperluan dan dia bukan orang yang sakit maka termasuk adab yang indah adalah kita menjaga adab dalam duduk kita bersama orang lain, diantaranya adalah tidak menjulurkan kedua kaki.أو صحبةِ الأراذل والفسَّاق والمُجَّان والبطَّالينDiantara yang merusak muru’ah seseorang adalah bersahabat dengan orang-orang yang rendah, maksudnya adalah ahli maksiat, bukan maksudnya orang miskin orang fakir.Bersahabat dengan الأراذل yaitu orang-orang yang kerjanya adalah bermaksiat siang dan malam, والفسَّاق dan juga orang-orang fasik, والمُجَّان hampir sama maknanya والبطَّالين dan orang-orang yang rusak.Seorang penuntut ilmu hendaklah dia menjaga ilmunya dengan cara jangan dia berteman dengan orang-orang yang senang bermaksiat kepada Allāh ﷻ.أو مصارعةِ الأحداث والصِّغارAtau diantara yang merusak muru’ah adalah seseorang gulat dengan anak-anak kecil.Dia seorang penuntut ilmu, sudah dewasa kemudian dia gulat dengan anak-anak kecil maka ini diantara yang merusak muru’ah dan kehormatan seseorang.Ini hanya sekedar contoh dan kita kembali kepada kaidah yang pertama tadi, segala sesuatu yang memperindah ilmu maka hendaklah kita menjaganya dan segala sesuatu yang bisa memperjelek ilmu dan merusak nama baik ilmu maka hendaklah kita menjauhinya. Ini termasuk bentuk penganggungan kita terhadap ilmu

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan Akal

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih pembicaranya tentang masalah Ar Rukyat, beliau mengatakan rahimahullāh,وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَBeliau mengatakan, dan tidak sah tidak shahih tidak benar keimanan dengan adanya Rukyat yaitu rukyatullah Yaumal Qiyamah bagi para penduduk surga.Darussalam ini adalah nama lain dari Surga, Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanلَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْDar Assalam artinya adalah negeri keselamatan, surga adalah negeri keselamatan tidak ada di sana kesusahan sedikitpun enggak ada orang yang sakit tidak ada orang yang capek tidak ada orang yang mengeluarkan kotoran semuanya adalah kenikmatan semuanya adalah kebaikan tidak benar keimanan terhadap rukyah yaitu melihatnya penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala di hari kiamatلمن اعتبرها منهم بوهمSiapa yang tidak sah keimanannya bagi orang yang menganggap bahwasanya ruqyah ini adalah wahm/khayalan saja, Ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Rukyat ini adalah Haq dan tidak sah keimanan seseorang yang mengingkari rukyat dan mengatakan bahwasanya itu hanyalah khayalan saya persangkaan sajaأَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍAtau dia mentakwilnya, yang pertama dia menolak mentah-mentah itu yang kedua mengatakan ia melihat tapi dimaknai dan ditakwilkan demikian dan demikian, melihat tapi dengan mata hatinya, jadi ada yang mengikari benar-benar rukyatullah Yaumal Qiyamah dan ada diantara mereka yang mengingkari tapi dengan cara yang halus yaitu dengan cara mentakwilnya.Tidak benar keimanan yang seperti itu tidak benar, kalau memang kita adalah orang yang beriman maka seharusnya apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya ini kita harus menerima dan kita harus berserah diri itu yang harusnya ada di dalam diri seseorang muslim dan juga muslim۞وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ۞إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ۞ كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌإنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كما ترون هذا القمر لَيْلَةَ البَدْرِلا تُضَامُونَ في رُؤْيَتِهِMaka harus Istislam /benar-benar menyerahkan diri oleh orang-orangفَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاAllāh subhanahu wa ta’ala nafikan keimanan dari seseorang sampai dia menjadikan Nabi ﷺ sebagai hakim yang memberikan keputusan kemudian dia tidak menemukan di dalam dirinya rasa berat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Nabi ﷺ dan dia berserah diri kepada Allāh dengan sebenar-benar penyerahan diri,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkenapa tidak dibenarkan yang demikian?Karena mentakwil rukyatullah dan bukan hanya mentakwil rukyatullah, mentakwil seluruh makna Allahualam disini adalah mentakwil seluruh sifat yang disandarkan kepada rububiyah Allāh , mentakwil rukyat atau dia mentakwil seluruh makna yang disandarkan kepada Allāh, mentakwil sifat yang disandarkan kepada Allāh,بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَIni adalah meninggalkan takwil dan berpegang teguh dengan menyerahkan diri dan di atasnya agama Al mursali, di atasnya agama seluruh para Rasul.Jadi cara memanai rukyat ini maksudnya,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkarena cara memaknai takwil atau menafsirkan cara memahami cara memahami ruqyat dan seluruh sifat yang disalurkan kepada Allāh itu bagaimana? caranya dengan cara meninggalkan takwil, maksudnya adalah takwil yang dipahami oleh orang-orang ahlul kalam, jadi perlu dibedakan di sini takwil yang pertamaإِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِdengan takwil yang ada pada ucapan beliauبِتَرْكِ التَّأْوِيلِTakwil di sini adalah takwil yang dipahami oleh ahlul kalam yaitu memalingkan sebuah kalimat dari maknanya yang shahih kepada makna yang lain, seperti Al istiwa ditakwil dengan istila, ini maksudnya jadi cara untuk memahami cara untuk memaknai melihat Allāh dan juga cara untuk memahami seluruh sifat yang disandarkan kepada Allāh adalah dengan cara meninggalkan takwil yang tercela yang menjadi kebiasaan orang-orang ahlu Kalam,وَلُزُوم التَّسْلِيمِCaranya adalah dengan melazimi, berpegang teguh dengan Al Taslim /penyerahan diri , takwil ini berarti belum menyerahkan masih mengutak-atik mencari-cari adapun berpegang teguh dengan menyerahkan diri itu menerima dengan seluruh dalil yang sampai kepada kita menerima dalil yang di dalamnya ada penyebutan sifat Allāh & meyakini bahwasanya sifat-sifat Allāh tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.Ini adalah termasuk penyerahan diri jadi kalau kita perhatikan maka ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh berbeda dengan ahlul kalamوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَDan di atasnya lah agama seluruh para Rasul yang telah diutus oleh Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada manusia maka agama mereka adalah satu yaitu apa Al Islam, apa makna Islam? penyerahan diriإِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗSesungguhnya agama di sisi Allāh adalah Islamوَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[QS Al Imran 85]Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi.Yaitu adalah agama para Rasul agama Islamالأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌPara Nabi mereka adalah saudara ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu yaitu Islam.Apa makna Islam Islam artinya adalah menyerahkan diri, jadi termasuk penyerahan diri kita termasuk konsekuensi dari keislaman kita adalah menerima seluruh apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya termasuk diantaranya adalah penyebutan sifat-sifat Allāh kemudian juga tentang rukyatullah Yaumal Qiyamahوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ،Berarti di sini ada penguatan kembali tentang keharusan beriman dengan rukyatullāh.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 14 : Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 12)

Halaqah 14 :Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 12)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara contoh bahwa Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah:4. Mukjizah Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-QuranDizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman ke-emasan, penyair penyair-penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefasehannya dan kedalamannya didalam berbahasaMaka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan hikmahNya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorang pun menandinginya,Seandainya berkumpul seluruh manusia dan Jin untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak mampu, jangankan 1 Al-Quran, 10 surat pun mereka tidak mampu dan jangan kan 10 surat, 1 surat pun mereka tidak akan mampuAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا“Katakanlah “seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan yang semisalnya, meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Al-Isra : 88)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datangkan 10 surat yang dibuat–buat yang semisal dengan Al-Quran dan panggillah semampu kalian orang-orang selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Quran diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ” ( Hud : 13-14)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ”Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang Kami turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat dan panggil lah oleh kalian saksi-saksi kalian selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya dan kalian pasti tidak bisa melakukannya maka takutlah dengan Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ” (Al-Baqarah : 23-24)Mereka Orang-orang kafir meragukan Al-Quran dan mengatakan bahwasanya Al-Quran bukan dari Allah, tetapi dari Muhammad dan dialah yang membuatnya maka Allah menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia, seharusnya mereka juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih dan ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Quran dan ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan kalam Muhammad ﷺApalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan beliau bukan tukang syairIni semua menunjukan bahwa Al-Quran adalah ayat (mu’jizah) yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan kebenaran apa yang beliau bawa dan seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman dan mengikuti beliau ﷺ.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 14

Halaqah yang Ke-14 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimusssalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Kedua belas.👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara contoh bahwa Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah④. Mukjizah Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-QuranDizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman ke-emasan, penyair penyair-penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefasehannya dan kedalamannya didalam berbahasaMaka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan hikmahNya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorang pun menandinginya,Seandainya berkumpul seluruh manusia dan Jin untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak mampu, jangankan 1 Al-Quran, 10 surat pun mereka tidak mampu dan jangan kan 10 surat, 1 surat pun mereka tidak akan mampuAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا“Katakanlah “seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan yang semisalnya, meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Al-Isra : 88)Dan Allah berfirmanأَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datangkan 10 surat yang dibuat–buat yang semisal dengan Al-Quran dan panggillah semampu kalian orang-orang selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Quran diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ” ( Hud : 13-14)Dan Allah berfirmanوَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ”Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang Kami turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat dan panggil lah oleh kalian saksi-saksi kalian selain Allah kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya dan kalian pasti tidak bisa melakukannya maka takutlah dengan Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ” (Al-Baqarah : 23-24)Mereka Orang-orang kafir meragukan Al-Quran dan mengatakan bahwasanya Al-Quran bukan dari Allah, tetapi dari Muhammad dan dialah yang membuatnya maka Allah menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia, seharusnya mereka juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih dan ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Quran dan ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan kalam Muhammad ﷺApalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan beliau bukan tukang syairIni semua menunjukan bahwa Al-Quran adalah ayat (mu’jizah) yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan kebenaran apa yang beliau bawa dan seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman dan mengikuti beliau ﷺ

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 14 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Lima

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata,الخَامِسُ: مَنْ أَبْغَضَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ وَلَوْ عَمِلَ بِهِ، كَفَرَ إِجمَاعًاوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْYang ke lima:“Barangsiapa yang membenci sesuatu diantara yang dibawa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam meskipun dia mengamalkannya, maka dia telah kufur dengan ijma’. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya ‘Yang demikian karena mereka membenci apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah membatalkan amalan-amalan mereka.’”Ucapan beliau شَيْئًا artinya ‘sesuatu’, tidak harus membenci semuanya.مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ, diantara yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yaitu baik berupa Al Qur’an maupun Al Hadits, dan apa yang ada di dalam keduanya berupa hukum-hukum maupun kabar-kabar.وَلَوْ عَمِلَ بِهِ, meskipun dia mengamalkannya. Menunjukkan bahwa seseorang meskipun dia mengamalkan, kalau dia membenci syari’at tersebut, maka akan menjadi sebab keluarnya dia dari Islam.Orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam terkadang mereka berjihad, sholat lima waktu berjamaah di masjid, berinfak, tetapi mereka membenci semuanya itu di dalam hati mereka. Secara umum mereka membenci syari’at Islam.Allah mengatakan,(وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَـٰتُهُمۡ إِلَّاۤ أَنَّهُمۡ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا یَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ وَلَا یُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَـٰرِهُونَ)[Surat At-Tawbah 54]“Dan tidaklah mencegah dari menerima shodaqoh-shodaqoh mereka (orang-orang munafik) kecuali karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka tidak melakukan sholat kecuali dalam keadaan malas dan mereka tidak berinfak/bershodaqoh kecuali dalam keadaan benci dengan shodaqoh tersebut.Seorang muslim harus ridho Allah sebagai Rabb-nya dan rela Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya dan ridho Islam sebagai agamanya.Seorang muslim mencintai seluruh apa yang datang dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan tidak membencinya. Mengetahui bahwa petunjuk Beliau di dalamnya ada kebaikan untuk dirinya di dunia dan di akhirat. Dia berusaha memerangi segala bisikan syaithan yang menghalangi dia dari melakukan petunjuk tersebut.Dan dalil yang menunjukkan kekufuran orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah firman Allah,(وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ فَتَعۡسࣰا لَّهُمۡ وَأَضَلَّ أَعۡمَـٰلَهُمۡ ۝ ذَ ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ كَرِهُوا۟ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَـٰلَهُمۡ)[Surat Muhammad 8 – 9]“Dan orang-orang kafir, maka kecelakaan bagi mereka dan Allah membatalkan amalan mereka. Yang demikian, karena mereka membenci apa yang Allah turunkan. Maka Allah pun menghapuskan seluruh amalan mereka.”Ketika Allah membicarakan tentang orang-orang kafir, Allah sebutkan diantara sebab kekufuran mereka adalah membenci apa yang Allah turunkan.Dan yang dimaksud dengan ‘apa yang diturunkan oleh Allah’ di sini adalah Al Qur’an. Dan ini mencakup semua yang terkandung di dalamnya. Termasuk tentang Tauhid, Kerasulan, Hari Kebangkitan, dan lainnya.Kekafiran mereka adalah penyebab batalnya amalan-amalan mereka. Yang dimaksud dengan ‘amalan yang batal’ di sini adalah amalan yang mereka harapkan manfaatnya di dunia, mereka mengharapkan amalan kebaikan tersebut mendapat keridhoan dari Allah dan keridhoan berhala-berhala mereka agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik, mendapatkan rezeki yang melimpah, keselamatan, kesehatan.Dan yang dimaksud dengan ‘batalnya’ adalah tidak terwujud apa yang mereka harapkan tersebut.Diantara hal yang harus dipahami:1. Kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang, bukan berarti dia benci dengan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Terkadang seseorang melakukan sebuah kemaksiatan, melakukan hal yang diharamkan Allah, akan tetapi di dalam hatinya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dia sebenarnya membenci kemaksiatan tersebut. Namun hawa nafsu dan bisikan syaithan menjadikan dia melakukan kemaksiatan tersebut.Allah berfirman,( لَاۤ أُقۡسِمُ بِیَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ ۝ وَلَاۤ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ)[Surat Al-Qiyamah 1 – 2]“Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu mencela (dirinya sendiri).Maksudnya adalah jiwa yang ketika dia melakukan kemaksiatan, dia mencela dirinya sendiri.Ketika kita sendiri merasakan di dalam jiwa kita kebencian dengan kemaksiatan meskipun terkadang kita melakukannya.Dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, ada seorang laki-laki di zaman Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bernama Abdullah. Gelarnya Himar (حِمَار). Dahulu sering menghibur Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan Nabi dahulu mencambuk beliau dengan sebab minum minuman keras.Suatu saat laki-laki tersebut didatangkan dan diperintahkan untuk dicambuk karena minum minuman keras. Kemudian ada seseorang yang berkata, “Ya Allah, laknatlah dia. Betapa sering dia dibawa ke sini.” Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Janganlah kalian melaknat laki-laki ini. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali dia adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [HR Bukhari dan Muslim].Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan tidak menunjukkan kebencian kepada Allah dan Rasul-Nya.2. Kita harus membedakan antara الكُرهُ الإِعتِقَادِي, kebencian yang merupakan keyakinan. Dia membenci syari’at Allah baik syari’at tersebut berat atau tidak. Dan inilah yang merupakan kekufuran.Dan الكُرهُ الطَّبِيعِي kebencian yang merupakan tabiat manusia, seperti kebencian karena beratnya syari’at tersebut bagi dirinya, disertai keyakinan bahwa syari’at Allah itulah yang benar. Di dalamnya ada kebaikan dan harus diikuti, seperti berat bagi seseorang berperang karena harus menahan sakit ketika terluka, berpisah dengan keluarga, dll. Seperti beratnya seseorang ketika berwudhu di waktu yang dingin. Maka kebencian seperti ini adalah tabiat manusia, bukan merupakan kekufuran.Allah berfirman,(كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)[Surat Al-Baqarah 216]“Telah diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan itu adalah sesuatu yang kalian benci. Dan mungkin kalian membenci sesuatu sedangkan itu lebih baik bagi kalian. Dan terkadang kalian mencintai sesuatu tapi itu jelek bagi kalian. Dan Allah, Dialah Yang Mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”Dan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ“Maukah aku tunjukkan kepada kalian, apa yang dengannya Allah menghapus dosa kalian dan mengangkat derajat kalian? Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata, ‘Menyempurnakan wudhu ketika dalam keadaan yang dibenci, memperbanyak langkah ke masjid, menunggu sholat setelah melakukan sholat, maka itulah Ar Ribath, menjaga yang sebenarnya.” [HR Muslim]Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 39 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tingkatan Iman Dan Cabang-Cabangnya (bag 01)Beliau rahimahullāh mengatakan :المرتبة الثانية: الإيمانTingkatan kedua diantara tiga tingkatan yang ada di dalam Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang الإيمان.⇒ Al-Iman (الإيمان) adalah tingkatan ke-2 yang tinggi daripada Islām.Iman sebagaimana Islām memiliki dua makna :⑴ Makna Umum⑵ Makna Khusus.Iman ( الإيمان)Makna umum adalah : Seluruh apa yang ada di dalam agama ini, baik yang dhahir maupun yang bathin, baik berupa ucapan, keyakinan atau amalan.Iman menurut Ahlus Sunnah adalah :الإيمان: اعتقاد بالجنان، وقول باللسان، وعمل بالأركان“Keyakinan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan.”Disini kita sedang berbicara makna Iman secara umum. Seperti ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallammengatakan :الإِيمَانُ: بضع وسبعون شعبة“Iman itu ada 70 cabang lebih”Beliau sedang berbicara tentang Iman secara umum yang mencakup seluruhnya, baik yang diucapkan oleh lisan, diyakini di dalam hati maupun yang di lakukan oleh anggota badan.Kemudian disana ada Iman dengan makna khusus yaitu :Iman ( الإيمان)Makna khusus adalah : Amalan-amalan yang bathin.Contoh nya : Hadīts JibrīlNanti akan disebutkan oleh pengarang di akhir pembahasan tentang masalah معرفة دين الإسلام بالإدلة.Ketika beliau menyebutkan tingkatan Islām yang jumlahnya ada tiga : Islām, Iman dan Ihsān.Kira-kira Iman yang dimaksud oleh beliau disini Iman dengan makna apa?Iman dengan makna khusus.Darimana kita tahu?Iman ketika digandeng dan disandingkan dengan Islām, maka ia memiliki makna yang khusus.√ Iman mewakili amalan-amalan yang bathin. √ Islām karena dia datang maka dia mewakili amalan-amalan yang dhāhir.Jadi ketika beliau menyebutkan Marātibu al- Islām (مراتب الإسلام) yang jumlahnya ada 3, maka beliau memaksudkan Iman dalam arti khusus.Kemudian beliau mengatakan :وهو بضع وسبعون شعبة“Dan Iman ini ada 70 cabang lebih”Iman secara umum ada 70 cabang lebih dan ini adalah lafadz yang ada di dalam dalīl. Di dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dan juga Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman itu ada 70 cabang lebih.بضعBidh’un adalah jumlah antara 3 sampai 9.بضع وسبعونBidh’un wa sab’una, berarti bilangan antara 73 sampai 79.بضع و ستونBidh’un wa sittuna, berarti bilangan 63 sampai 69.Disana ada perbedaan di dalam riwayat, dalam dalam sebagian riwayat disebutkan بضع وسبعون شعبة (bidh’un wa sab’una syu’bah). Didalam riwayat lain بضع و ستون شعبة (bidh’un wa sittuna syu’bah).Dan ada sebagian riwayat syak atau keraguan dari rawi, apakah disana ada pertentangan ?Jawabannya, Tidak!Disebutkan oleh sebagian ulama bahwasanya penyebutan yang lebih kecil yaitu 60 bukan berarti dia menāfī’kan yang lebih besar.Ketika seseorang menyebutkan Iman itu ada 60 cabang bukan berarti dia menāfī’kan bahwasanya disana ada lebih dari 60, disana ternyata ada 70 karena maksudnya adalah 60 cabang ini adalah termasuk keimanan yang tidak menāfī’kan bahwasanya yang 10 itu bukan termasuk keimanan. Ini diucapkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullāh.فان العرب قد تذكر للشيء عددا و لاتريد نفي ماسواهTerkadang orang Arab menyebutkan sebuah bilangan dan dia tidak bermaksud untuk menāfī’kan yang selain itu. Dia hanya ingin mengitsbat atau menetapkan bahwasanya 60 ini termasuk bagian dari keimanan dan bukan berarti dia menāfī’kan yang selainnya.Para ulama ketika mereka mendengar hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang jumlah cabang Iman. Sebagaimana kita ketahui ilmu yang mereka miliki, pengalaman mentadabburi dan seterusnya tentunya memiliki dampak di dalam keyakinan mereka.Sehingga ketika mereka mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya Iman ini ada 70 cabang lebih,mereka tashdiq, mereka yakin dengan seyakin-yakinnya bahwasanya kenyataan (hakikatnya) adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Iman adalah 70 cabang lebih.Mereka meyakinkan bahwasanya jumlahnya adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian mereka membaca Al-Qur’ān dari awal sampai akhir. Membaca Al-Qur’ān merupakan ibadah rutin bagi para ulama, selain mentadabburi Al-Qur’ān, niat mereka adalah mengumpulkan cabang-cabang keimanan yang disyaratkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Misalnya :Mereka memulai dari Al-Fātihah, mereka membaca dan mencari ayat demi ayat apa yang termasuk cabang-cabang keimanan. Selesai Al-Fātihah kemudian mereka melanjutkan ke Al-Baqarah dan seterusnya.Allāh mengatakan :ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ“Mereka yang beriman kepada yang ghaib”Ini termasuk cabang keimanan yaitu beriman dengan yang ghaib.وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَIni termasuk cabang keimanan yaitu mendirikan shalāt.وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَIni termasuk cabang keimanan yaitu berinfaq dan juga bershadaqah.(QS. Al-Baqarah:3)وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَTermasuk cabang keimanan adalah beriman dengan kitāb.Dan seterusnya,kemudian mereka menemukan tentang Jihād, Zakat, Birrul walidain, al- Ihsanillah Jarr, Al-Ihsanilladzil Qurba, Shaum, al Hajj dan seterusnya sampai An-Nas mereka hitung dan tulis berapa cabang keimanan yang mereka dapatkan.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 64

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan AkalHalaqah 64 | Tidak Benar Keimanan tentang Rukyatullah bagi Sesiapa yang Membayangkan dengan Keraguan dan Mentakwil dengan AkalKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih pembicaranya tentang masalah Ar Rukyat, beliau mengatakan rahimahullāh,وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَBeliau mengatakan, dan tidak sah tidak shahih tidak benar keimanan dengan adanya Rukyat yaitu rukyatullah Yaumal Qiyamah bagi para penduduk surga.Darussalam ini adalah nama lain dari Surga, Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanلَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَ رَبِّهِمْDar Assalam artinya adalah negeri keselamatan, surga adalah negeri keselamatan tidak ada di sana kesusahan sedikitpun enggak ada orang yang sakit tidak ada orang yang capek tidak ada orang yang mengeluarkan kotoran semuanya adalah kenikmatan semuanya adalah kebaikan tidak benar keimanan terhadap rukyah yaitu melihatnya penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala di hari kiamatلمن اعتبرها منهم بوهمSiapa yang tidak sah keimanannya bagi orang yang menganggap bahwasanya ruqyah ini adalah wahm/khayalan saja, Ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Rukyat ini adalah Haq dan tidak sah keimanan seseorang yang mengingkari rukyat dan mengatakan bahwasanya itu hanyalah khayalan saya persangkaan sajaأَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍAtau dia mentakwilnya, yang pertama dia menolak mentah-mentah itu yang kedua mengatakan ia melihat tapi dimaknai dan ditakwilkan demikian dan demikian, melihat tapi dengan mata hatinya, jadi ada yang mengikari benar-benar rukyatullah Yaumal Qiyamah dan ada diantara mereka yang mengingkari tapi dengan cara yang halus yaitu dengan cara mentakwilnya.Tidak benar keimanan yang seperti itu tidak benar, kalau memang kita adalah orang yang beriman maka seharusnya apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya ini kita harus menerima dan kita harus berserah diri itu yang harusnya ada di dalam diri seseorang muslim dan juga muslim۞وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ۞إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ۞ كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌإنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كما ترون هذا القمر لَيْلَةَ البَدْرِلا تُضَامُونَ في رُؤْيَتِهِMaka harus Istislam /benar-benar menyerahkan diri oleh orang-orangفَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاAllāh subhanahu wa ta’ala nafikan keimanan dari seseorang sampai dia menjadikan Nabi ﷺ sebagai hakim yang memberikan keputusan kemudian dia tidak menemukan di dalam dirinya rasa berat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Nabi ﷺ dan dia berserah diri kepada Allāh dengan sebenar-benar penyerahan diri,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkenapa tidak dibenarkan yang demikian?Karena mentakwil rukyatullah dan bukan hanya mentakwil rukyatullah, mentakwil seluruh makna Allahualam disini adalah mentakwil seluruh sifat yang disandarkan kepada rububiyah Allāh , mentakwil rukyat atau dia mentakwil seluruh makna yang disandarkan kepada Allāh, mentakwil sifat yang disandarkan kepada Allāh,بِتَرْكِ التَّأْوِيلِ، وَلُزُوم التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَIni adalah meninggalkan takwil dan berpegang teguh dengan menyerahkan diri dan di atasnya agama Al mursali, di atasnya agama seluruh para Rasul.Jadi cara memanai rukyat ini maksudnya,إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِkarena cara memaknai takwil atau menafsirkan cara memahami cara memahami ruqyat dan seluruh sifat yang disalurkan kepada Allāh itu bagaimana? caranya dengan cara meninggalkan takwil, maksudnya adalah takwil yang dipahami oleh orang-orang ahlul kalam, jadi perlu dibedakan di sini takwil yang pertamaإِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِdengan takwil yang ada pada ucapan beliauبِتَرْكِ التَّأْوِيلِTakwil di sini adalah takwil yang dipahami oleh ahlul kalam yaitu memalingkan sebuah kalimat dari maknanya yang shahih kepada makna yang lain, seperti Al istiwa ditakwil dengan istila, ini maksudnya jadi cara untuk memahami cara untuk memaknai melihat Allāh dan juga cara untuk memahami seluruh sifat yang disandarkan kepada Allāh adalah dengan cara meninggalkan takwil yang tercela yang menjadi kebiasaan orang-orang ahlu Kalam,وَلُزُوم التَّسْلِيمِCaranya adalah dengan melazimi, berpegang teguh dengan Al Taslim /penyerahan diri , takwil ini berarti belum menyerahkan masih mengutak-atik mencari-cari adapun berpegang teguh dengan menyerahkan diri itu menerima dengan seluruh dalil yang sampai kepada kita menerima dalil yang di dalamnya ada penyebutan sifat Allāh & meyakini bahwasanya sifat-sifat Allāh tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.Ini adalah termasuk penyerahan diri jadi kalau kita perhatikan maka ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh berbeda dengan ahlul kalamوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَDan di atasnya lah agama seluruh para Rasul yang telah diutus oleh Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada manusia maka agama mereka adalah satu yaitu apa Al Islam, apa makna Islam? penyerahan diriإِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗSesungguhnya agama di sisi Allāh adalah Islamوَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[QS Al Imran 85]Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak diterima darinya dan diakhirat dia termasuk orang² yang merugi.Yaitu adalah agama para Rasul agama Islamالأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌPara Nabi mereka adalah saudara ibu-ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu yaitu Islam.Apa makna Islam Islam artinya adalah menyerahkan diri, jadi termasuk penyerahan diri kita termasuk konsekuensi dari keislaman kita adalah menerima seluruh apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya termasuk diantaranya adalah penyebutan sifat-sifat Allāh kemudian juga tentang rukyatullah Yaumal Qiyamahوَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ،Berarti di sini ada penguatan kembali tentang keharusan beriman dengan rukyatullāh.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →