📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan sub bab Mati Suri

Apa yang sebenarnya terjadi pada mati suri?Sejatinya yang terjadi bukan mati tapi pingsan. Kondisinya sama seperti orang tidur, lalu dia bermimpi melihat berbagai macam kejadian aneh yang tidak terlihat di dunia. Arwahnya dicabut oleh Allah dalam renrang waktu tertentu, lalu Allah kembalikan ke jasadnya, sebagaimana yang terjadi pada orang tidur.Para ulama menjelaskan kematian ada dua:Kematian sesaat, kematian yang terjadi saat orang tidur yang disebut juga wafat kecil (al-Wafat as-Shughra)Kematian terakhir, kematian ketika seseorang meninggalkan dunia untuk selamanya atau disebut juga wafat besar (al-Wafat al-Kubro)Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Sedekahkan 1 dapatkan 700 kali lipat

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai." (al-Isrâ` : 7).Mahasuci Allah yang telah menurunkan Islam melalui Rasul-Nya yang mulia. Islam menjadi bukan sekadar indah, tapi juga mudah dan penuh berkah. Seperti halnya hujan, siraman Islam mampu menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang pernah dianggap mati.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS. Ali 'Imran ayat 84 - 85

84 Katakanlah -wahai Rasul-, “Kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah. Kami taat kepada-Nya dengan cara menjalankan perintah-Nya. Kami juga beriman kepada wahyu yang Dia turunkan kepada kami, wahyu yang Dia turunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub, wahyu yang Dia turunkan kepada para nabi dari keturunan Yakub, dan beriman kepada apa yang yang diberikan kepada Musa, Isa, dan semua nabi lainnya, yaitu kitab-kitab suci dan mukjizat-mukjizat yang berasal dari Tuhan mereka, tanpa membeda-bedakan di antara mereka dengan beriman kepada nabi yang satu dan kafir kepada nabi yang lain. Kami hanya tunduk dan berserah diri kepada Allah -Ta'ālā-.”85 Barang siapa yang mencari agama lain di luar agama yang diridai Allah, yaitu agama Islam, maka agamanya itu tidak akan diterima oleh Allah, dan kelak di akhirat ia akan termasuk golongan orang-orang yang merugikan diri sendiri, karena mereka dimasukkan ke dalam neraka.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 91

Senin, 14 September 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 91Penjelasan Umum dan Pembahasan Pembahasan Dalil Keenam (Hadits Al-Haudh / Telaga)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Hadits Utama(HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abdullah bin Mas'ud)​أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ"Aku akan mendahului kalian di atas telaga. Akan diangkat kepadaku beberapa orang dari kalian, sehingga ketika aku hendak mengambilkan air untuk mereka, tiba-tiba mereka dihalangi dariku. Maka aku berkata: 'Wahai Rabb, mereka adalah sahabat-sahabatku!' Lalu Dia berfirman: 'Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka buat setelah kematianmu.'"Poin Kandungan MateriKeutamaan dan Sifat Telaga (Haudh) Nabi ﷺMakna Faroth (فَرَطٌ): Mendahului sampai ke telaga untuk melayani umatnya. Beriman kepada Haudh adalah bagian dari keimanan kepada hari akhir.​Sifat Air Telaga:​Lebih dingin daripada es (أبرد من الثلج).​Lebih manis daripada madu (أحلى من العسل).​Lebih putih daripada susu.​Barang siapa meminum darinya, ia tidak akan haus selama-lamanya (من شرب لم يظمأ أبدًا).​Gelas/Teko Telaga (كَكُجُومِ السَّمَاءِ):Bejana/gelas telaga berjumlah sangat banyak dan indah bagaikan bintang-bintang di langit, menunjukkan umat Islam tidak perlu mengantri lama meski jumlahnya sangat banyak.​Ukuran Telaga: Sangat luas, dengan panjang dan lebar masing-masing perjalanan satu bulan.Peristiwa Pengusiran dan Penghalangan di Telaga (Iktuliju Duni)Pengenalan Umat: Nabi ﷺ mengenali umatnya dari ciri fisik khusus, yaitu bekas air wudhu (wajah dan tangan yang bersinar).​Penghalangan: Saat Nabi ﷺ hendak memberikan air untuk menghilangkan dahaga mereka, tiba-tiba mereka dijauhkan dan dihalangi dari telaga.​Dialog Ilahi: Nabi ﷺ memohon kepada Allah karena mereka adalah umat/sahabat beliau, namun dijawab bahwa beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggal beliau (لا تدري ما أحدثوا بعدك).Faedah Penting dari Kalimat La Tadri Ma Ahdatsu Ba'daka​Ketidaktahuan Nabi terhadap Hal Gaib: Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara gaib dan tidak tahu kejadian setelah beliau wafat, termasuk kondisi orang-orang setelah kematiannya. Ini sekaligus membantah keyakinan keliru bahwa orang yang sudah mati mengetahui perbuatan keluarganya di dunia.​Makna Ahdatsu (Membuat Perkara Baru / Bid'ah):​Kata muhdats mencakup orang yang murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ (sehingga hakikatnya bukan sahabat sejati, karena definisi sahabat adalah yang mati di atas Islam).​Mencakup pula orang-orang yang melakukan bid'ah dalam agama. Banyak ulama menjelaskan bahwa pelaku bidah (seperti Khawarij, Mu'tazilah, Murjiah, dan ahlul bid'ah lainnya) termasuk golongan yang dihalangi dari telaga Nabi ﷺ sebagai bentuk hukuman karena lebih memilih bid'ah daripada sunnah.Konsekuensi Hukum di Akhirat bagi Pelaku Bid'ah Hukuman di Telaga: Ahlul bid'ah mendatangi telaga dalam keadaan sangat haus, namun diusir, dihinakan, dan tidak bisa meminum air telaga sementara orang lain meminumnya.​Status Masuk Surga/Neraka:​Tidak meminum telaga bukan berarti mutlak kekal di neraka. Jika mereka muslim dan bid'ahnya bukan bentuk kekafiran (mukaffirah), mereka tetap berpotensi masuk surga setelah diampuni atau disiksa terlebih dahulu.​Sebaliknya, orang yang meminum telaga belum tentu dijamin bebas dari neraka jika ia membawa dosa besar (masuk dalam wilayah kehendak Allah/tahta masyiatillah). Namun, jika ia sempat masuk neraka, ia tidak akan merasakan haus di dalamnya karena sabda Nabi ﷺ bahwa peminum telaga tidak akan haus selama-lamanya.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami - Dr. Labib Najib Abdullah

Gaji Wanita & Sedekah dari Harta Suami1. Gaji wanita adalah hak miliknyaGaji atau hasil usaha wanita sepenuhnya menjadi hak milik wanita.Suami, ayah, atau kerabat tidak boleh mengambil atau memotongnya tanpa kerelaan.Jika wanita memberikan sebagian gajinya kepada keluarga, hal itu diperbolehkan selama dilakukan atas kemauan sendiri, bukan karena malu, tekanan, atau terpaksa.2. Kesepakatan antara suami dan istriSuami boleh meminta sebagian penghasilan istri sebagai kompensasi atas izin bekerja dan berkurangnya waktu/kenyamanan dalam rumah tangga, dengan dasar kesepakatan dan saling pengertian.Jika suami mengalami kesulitan finansial, istri yang memiliki penghasilan dianjurkan untuk berinisiatif membantu suaminya, dengan mengharap pahala dari Allah.Memberikan nafkah kepada suami dan anak-anak yatim yang diasuhnya dapat menjadi amal yang berpahala.3. Nafkah tetap merupakan tanggung jawab suamiIslam menetapkan kewajiban nafkah sebagai salah satu tanggung jawab laki-laki dalam keluarga.Penghasilan istri tidak otomatis menggugurkan kewajiban suami untuk menafkahi keluarga.4. Penghasilan tidak boleh menjadi alasan merasa lebih berkuasaIstri yang memiliki penghasilan lebih besar tetap perlu memahami perannya dalam rumah tangga.Penghasilan yang lebih besar tidak seharusnya membuat istri merasa lebih berhak menjadi pemimpin atau tidak membutuhkan suami.Sikap saling menghormati dan memahami penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.Sedekah dari harta suamiSedekah dari harta suami perlu memperhatikan izin dan kerelaan suami.Jika seorang istri memiliki izin yang jelas untuk menggunakan sebagian harta suami, ia boleh menggunakannya sesuai izin tersebut.Jika kebiasaan dalam rumah tangga menunjukkan adanya kerelaan suami untuk penggunaan tertentu, maka hal itu dapat menjadi bentuk izin.Namun, menggunakan harta suami tanpa izin dan tanpa adanya kebiasaan yang menunjukkan kerelaan tidak dibenarkan dan dapat menjadi dosa.Inti:Harta istri adalah milik istri, sedangkan nafkah adalah tanggung jawab suami. Keduanya dianjurkan untuk saling membantu dengan kerelaan, kesepakatan, dan mengharap pahala dari Allah.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 14 September

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-'Anbiyā: 35كُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِ​"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."Bait Syair Imam Syafi'i (Semakna):“Banyak kalangan lelaki yang mengharapkan aku mati cepat, dan memang mati itu merupakan suatu akhir yang saya tidak menyendiri di dalamnya."-​"Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan hal yang berbeda dengan pendahulunya, bersiap-siaplah untuk menghadapi masa hidupnya yang baru, kematian akan tetap menjadi suatu kepastian baginya."وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً​"Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)."Penjelasan: Allah menguji manusia —baik dengan musibah maupun nikmat— untuk melihat siapa yang bersyukur, ingkar, bersabar, atau berputus asa.Penafsiran Ibnu Abbas r.a. (Riwayat Ali ibnu Abu Talhah): Ujian tersebut meliputi kesengsaraan dan kemakmuran, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan durhaka, serta petunjuk dan kesesatan.وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ​"Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan."​Penjelasan: Allah akan memberikan balasan sesuai dengan seluruh amal perbuatan manusia.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Pustaka 14 September

"Jikalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya." - HR. At-Tirmidzi No. 1159Jika seorang istri berakhlak baik kepada banyak orang, maka suaminya justru lebih berhak atas akhlak yang terbaik itu. Karena syariat telah mengaitkan surga seorang istri dengan perlakuannya terhadap suami. Semakin ia memperlakukan suaminya dengan sebaik-baiknya, semakin tinggi pula derajat surganya.Begitu agungnya hak suami dalam Islam. Karena itu, para wanita hendaknya memperlakukan suaminya fii ahsani al-wushuuf--dengan sifat dan akhlak terbaik. Sikap kita terhadap suami bukanlah hal sepele. Ia menyangkut syurga dan neraka kita.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Al Maidah 1

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, tunaikanlah perjanjian Allah yang tegas, berupa iman kepada syariat-syariat agama, dan tunduk kepadanya. Tunaikan pula perjanjian-perjanjian diantara kalian dalam bentuk amanat, jual beli dan lainnya asalkan ia tidak menyimpang dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Allah telah menghalalkan bagi kalian hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing kecuali apa yang telah Allah jelaskan kepada kalian tentang keharaman bangkai, darah dan lainnya dan pengharaman hewan buruan saat kalian sedang berihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan kehendak-Nya yang sejalan dengan Hikmah dan keadilan-Nya.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 91 | Ahlus Sunnah Meyakini Bahwa Allāh ﷻ Menjadikan Nabi Ibrahim Sebagai Khalil-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهBeliau mengatakan, menyebutkan tentang aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah atau di antara aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah, setelah berbicara sebelumnya tentang masalah Al-‘Arsy dan Al-Kursi, dan bahwasanya kita beriman dengan adanya Al-‘Arsy dan Al-Kursi dan bahwa keduanya adalah dua perkara yang berbeda, dua makhluk yang berbeda. Maka, beliau mengatakanوَنَقُولُ: إِنَّ اللهَ اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاDan kami mengatakan, kami di sini adalah Ahlussunnah, dan kami katakan dengan lisan kami dan kita yakini dengan hati kami, bukan hanya kita katakan dengan lisan saja: Sesungguhnya Allāh ﷻ telah menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya.Kita katakan ini sebagaimana Allāh ﷻ mengatakan,وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allāh telah menjadikan, mengangkatIbrāhīm sebagai kekasih-Nya.” (QS. An-Nisā’ [4]: 125)Dan Khalīl ini adalah yang sangat dicintai. Dinamakan Khalīl atau kekasih karena dialah yang paling dicintai oleh Allāh ﷻ, dan derajat khullah atau derajat kekasih ini adalah derajat yang paling tinggi di antara derajat-derajat maḥabbah, karena maḥabbah, yaitu rasa cinta, ini memiliki tingkatan-tingkatan. Di sana ada al-maḥabbah, di sana ada al-wudd, dan seterusnya. Itu kalau diterjemahkan dalam bahasa kita ya sama, yaitu cinta, tapi dalam bahasa Arab itu memiliki makna khusus, itu adalah tingkatan-tingkatan derajat.Dan yang paling puncak adalah derajat khullah. Kalau sudah dianggap dan diangkat sebagai khalīl, maka itu adalah menunjukkan kecintaan yang luar biasa. Artinya, Allāh ﷻ ketika mengangkat Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām sebagai khalīl menunjukkan bahwa Allāh ﷻ sangat mencintai Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām. Dan ini tentunya adalah derajat yang sangat tinggi, sangat dicintai oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di dalam batin seseorang dan apa yang ada di dzhahir seseorang. Ketika Allāh ﷻ mencintai seorang makhluk dengan kecintaan yang luar biasa, menunjukkan bagaimana ketinggian keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām.وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاSesungguhnya Allāh ﷻ telah menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih bagi-Nya, sehingga Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām adalah khalīlullāh.Kenapa di sini disebutkan oleh Al-Imām Abū Jaʿfar aṭ-Ṭaḥāwī? Karena orang-orang Jahmiyah, sebagaimana kita ketahui, mereka menolak mensifati Allāh dengan maḥabbah. Ketika seseorang meyakini bahwasanya Allāh mengangkat Ibrāhīm sebagai khalīl, otomatis dia menetapkan sifat maḥabbah bagi Allāh. Sehingga mereka tidak mengakui bahwasanya Allāh ﷻ menjadikan Ibrāhīm sebagai khalīl. Mereka mengatakan bahwa Ibrāhīm bukan khalīlullāh, padahal Allāh ﷻ mengatakanوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاdan banyak ayat lain yang menyebutkan sifat cinta dari Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertakwa.”(QS. At-Tawbah, 9:4)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Al-Baqarah, 2:195)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”(QS. Al-Baqarah, 2:222)إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ“Sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(QS. As-Saff, 61:4)Dan Nabi ﷺ mengatakan,لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُAku akan memberikan besok bendera kepada seorang laki-laki yang dia mencintai Allāh dan Rasul-Nya, dan Allāh serta Rasul-Nya pun mencintainya.كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman”Dalil-dalil yang banyak menunjukkan bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā memiliki sifat maḥabbah; Ahlussunnah menetapkan sifat maḥabbah bagi Allāh. Allāh ﷻ mencintai dan Dia dicintai. Tentunya, Ahlussunnah, sebagaimana dalam menetapkan sifat-sifat yang lain, menetapkan kecintaan yang sesuai dengan keagungan Allāh, tidak sama dengan kecintaan yang dimiliki oleh makhluk.اللَّهُ يُحِبُّ مَحَبَّةً تَلِيقُ بِجَلَالِهِAllāh ﷻ mencintai dengan kecintaan yang sesuai dengan keagungan-Nya.Tidak ada isyqāl bagi Ahlussunnah wal-Jamāʿah. Kita tetapkan dan kita menafikan tasybīh dengan makhluk sebagaimana kita melakukan hal tersebut pada sifat-sifat yang lain. Inilah sebabnya mengapa beliau mendatangkan permasalahan ini langsung berkaitan dengan ʿaqīdah — memang ada di sana kelompok yang mengingkari hal ini, yaitu mengingkari Ibrāhīm sebagai Khalīl.Dan Nabi kita Muḥammad ﷺ, beliau juga seorang Khalīlullāh. Sebagaimana Ibrāhīm adalah Khalīlullāh maka Nabi kita Muḥammad ﷺ juga Khalīlullāh, sebagaimana dalam hadits,إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Allāh ﷻ telah mengangkat aku sebagai Khalīl sebagaimana Allāh ﷻ telah mengangkat Ibrāhīm sebagai Khalīl.”Berarti, Allāh ﷻ sangat-sangat mencintai Nabi kita Muḥammad ﷺ. Bahkan, mana yang lebih afdhal di antara dua Khalīl ini? Yang lebih afdhal dan yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah Nabi kita Muḥammad ﷺ, sehingga dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ mengatakan,أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ“Aku adalah pemuka anak manusia dan tidak ada pamer disana .”Di situ beliau menyebutkan hakekat bahwa Allāh ﷻ telah menjadikan beliau sebagai sayyid (pemuka) yang paling utama di antara manusia, termasuk di antaranya lebih utama daripada kakek beliau sendiri, yaitu Nabi Ibrāhīm ‘alayhis-salām.Di sana ada sebuah kisah dimana Khālid bin ʿAbdillāh al-Qasrī yang saat itu sebagai amīr wilayah Iraq. Ketika ʿĪdul-Aḍḥā, beliau berkhutbah, kemudian setelah berkhutbah beliau mengatakan,أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوا يَتَقَبَّلِ اللَّهُ ضَحَايَاكُمْ، فَإِنِّي مُضَحٍّ بِجَعْدِ بْنِ دِرْهَمَ“Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih semoga Allāh ﷻ menerima sembelihan-sembelihan kalian. Sesungguhnya aku hari ini akan menyembelih Jaʿd Ibn Dirham.”Jaʿd Ibn Dirham ini adalah gurunya dari Jahm bin Ṣafwān, disembelih maksudnya adalah dipenggal lehernya, dibunuh karena dia murtad dari agama Islam.فَإِنَّهُ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَتَّخِذْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Karena sesungguhnya dia menyangka bahwasanya Allāh tidak menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya.” Ini sebabnya, ini adalah bidʿah yang dia bawa, mengingkari kekhullahan Nabi Ibrāhīm, mengingkari bahwasanya Nabi Ibrāhīm adalah Khalīlullāh.وَلَمْ يُكَلِّمْ مُوسَى تَكْلِيمًاDan dia menyangka bahwasanya Allāh tidak berbicara kepada Nabi Mūsa. Padahal jelas dalam Al-Quranوَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا“Dan Allāh berbicara langsung kepada Musa.” Surah An-Nisā’ (4:164) وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ …“Dan Rabb-nya berbicara langsung kepadanya..” Surah Al-Aʿrāf (7:143)ayat yang sangat jelas yang menunjukkan bahwasanya Allāh berbicara kepada Nabi Mūsa.Ayat yang sangat jelas bahwasanya Allāh mengangkat Nabi Ibrāhīm sebagai Khalīl, tetapi dia ingkari. Ini adalah sebuah kekufuran yang ṣarih.ثُمَّ نَزَلَ فَذَبَحَهُAkhirnya, dia pun turun dari mimbar kemudian menyembelih atau memenggal leher Jaʿd Ibn Dirham. Karena ini adalah sebuah penyimpangan dan sebuah kekufuran.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 24

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:24)Ayat ini adalah dalil bahwasanya seseorang akan masuk surga dengan sebab amal saleh yang telah dikerjakan ketika dulu masih di dunia, karena dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan,بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَة“Karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”Oleh karena itu, berkaitan dengan masuknya seseorang ke dalam surga, Allah ﷻ telah menjadikan amal sebagai sebabnya (49). Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl : 32)Akan tetapi pada dasarnya amalan yang dilakukan oleh seseorang tidaklah pantas untuk memasukkannya ke dalam surga. Adapun amalan itu hanya merupakan sebab untuk mendatangkan rahmat dan karunia-Nya Allah ﷻ sehingga seseorang bisa masuk surga. Hal ini sebagaimana yang Nabi ﷺpernah sabdakan,لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لاَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ“Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para sahabat bertanya, ‘Dan tidak pula engkau wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Aku pun tidak. Kecuali Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku’.”(50)Ini menunjukkan bahwa amalan seseorang tidak bisa digunakan untuk membayar surga, karena amalan tersebut tidak ada bandingannya dengan surga. Kita tahu bahwa shalat sunnah fajar memiliki balasan pahala yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Pertanyaannya, apakah shalat yang kita lakukan kurang dari lima menit itu atau mungkin yang terkadang kita lakukan dengan setengah sadar (tidak khusyuk) pantas untuk mendapatkan pahala sebesar dunia dan seisinya? Tentu tidak pantas. Maka demikian pula seluruh amalan seseorang pada dasarnya tidak pantas digunakan untuk membayar surga yang dimana orang-orang akan abadi di sana. Oleh karenanya amal saleh itu merupakan sebab untuk mendatangkan rahmat Allah ﷻ bagi kita, sehingga dengan rahmat tersebut kita dapat masuk surga. Dan dari amalan-amalan tersebutlah, Allah ﷻ akan menempatkan seseorang di dalam surga pada derajat sesuai yang pantas untuknya. Semakin banyak amalan seseorang maka akan semakin tinggi derajat surganya dan semakin tinggi kualitas kenikmatan yang akan dia dapatkan di surga. Oleh karena itu, seseorang yang diberi umur dan kesehatan oleh Allah hendaknya ia benar-benar memanfaatkan waktu-waktunya untuk memperbanyak amalan saleh, karena tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali dengan hal tersebut. Dan sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,فَإِنَّ الْيَوْم عَمَلٌ وَلَا حِسَاب، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَل“Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan lagi untuk beramal.”(51)Maka, sungguh beruntung orang yang banyak beramal saleh dalam kehidupannya di dunia. Demikianlah orang yang mendapatkan catatan amalnya dengan tangan kanannya, dia pun akhirnya bangga dan memamerkan catatan amalnya tersebut yang berisikan berbagai amalan kebaikan dan ibadah kepada Allah ﷻ selama dulu ia masih hidup di dunia.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Nabi Khadhir menjawab Nabi Musa,“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (QS. Al-Kahfi: 67)Ini adalah perkara yang diperbolehkan bagi seorang guru untuk menyatakan bahwa ilmu ini berat dan sulit untuk dikuasai. Terkadang, seorang guru juga menyampaikan bahwa jika ada yang ingin belajar dengannya, harus memenuhi syarat-syarat tertentu.Oleh karena itu, tidak mengapa bagi seorang guru untuk memberikan peringatan agar murid mempersiapkan diri dengan baik sebelum belajar bersama guru tersebut.Nabi Khadhir melanjutkan,“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi: 68)Nabi Khadhir menyampaikan alasan mengapa Nabi Musa kemungkinan tidak akan mampu bersabar dengannya, karena ilmu yang akan disampaikan adalah hal-hal yang tidak diketahui oleh Nabi Musa.Terlebih lagi, Nabi Musa adalah sosok yang sangat berkomitmen dalam nahi munkar. Ketika Nabi Khadhir melakukan tindakan-tindakan yang menurut Musa adalah kemungkaran, tentu saja Nabi Musa tidak akan sabar melihatnya dan akan merasa terdorong untuk menegur Nabi Khadhir.Padahal, di balik semua tindakan tersebut terdapat kemaslahatan yang lebih besar.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 16

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran yang Menyimpang di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah”.Aliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:– Al Qodariyyah– Al JabriyyahMereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.Adapun Al Qodariyyah maka mereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yg tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalahkekafiran dan kemaksiatan.Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.Dan adapun Al Jabriyyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.Adapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Mukhtashar – Surah Ar-Ra’d

Ayat 22: Mereka adalah orang-orang yang sabar dalam menaati Allah, sabar atas takdir Allah pada mereka, baik yang membahagiakan atau yang menyedihkan, mereka sabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah demi mendapatkan rida Allah, mereka menegakkan salat secara sempurna, memberikan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka, yaitu hak-hak harta yang wajib, juga memberikan sebagian dari harta dengan suka rela secara sembunyi-sembunyi karena takut ria dan juga secara terbuka agar diteladani oleh orang lain, dan mereka membalas keburukan orang yang berbuat buruk kepada mereka dengan berbuat baik kepadanya. Orang-orang yang memiliki sifat tersebut mendapatkan akhir yang baik pada hari kiamat.Ayat 23: Akhir yang baik itu adalah surga-surga yang mereka tinggal di dalamnya dengan mendapatkan nikmat-nikmat yang abadi. Di antara kesempurnaan nikmat yang mereka dapatkan adalah masuknya bapak-bapak, ibu-ibu, istri-istri, dan anak-anak mereka yang saleh bersama mereka; hal ini untuk menambah ketenangan mereka karena bisa berkumpul dengan orang-orang tersebut. Para malaikat mendatangi mereka untuk menyampaikan ucapan selamat dari segala pintu di tempat mereka di surga.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 16: Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah

Halaqah 16:Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAliran yang menyimpang di dalam masalah Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah adalah:Al QodariyyahAl JabriyyahMereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah dan Iradah Kauniyah.Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allah.Al QodariyyahMereka mengatakan bahwa setiap yang diinginkan oleh Allah pasti dicintai oleh Allah dan yang tidak Allah cintai dan ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.Dan diantara yang tidak dicintai oleh Allah adalahkekafiran dan kemaksiatan.Dengan demikian kekafiran dan kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allah karena Allah tidak mencintainya.Kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah dan penciptaan Allah tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allah dan penciptaan Allah.Al JabriyyahMereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah dan penciptaan Allah.Dan setiap yang diinginkan oleh Allah dan diciptakan pasti dicintai oleh Allah.Dan kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allah, berarti kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah azza wajalla.Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariyyah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allah di dalam kerajaan Allah dan mereka benar ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dan kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran dan kemaksiatan dicintai oleh Allah dan mereka benar ketika meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan itu semua.Ahlus SunnahAdapun Ahlus Sunnah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka.▪️Mereka meyakini bahwa Allah mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran dan kemaksiatan.▪️Dan Allah tidak mencintai kekafiran dan kemaksiatan.Dari keterangan di atas diketahui bahwa syubhat Al Qodariyyah dan Al Jabriyyah satu, yaitu: mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allah dan meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allah berarti dicintai oleh Allah, padahal tidak semua yang diciptakan Allah dicintai oleh Allah azza wajalla.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Kandungan bab 9

Kandungan Bab 9 Mereka Yang Mengharapkan Berkah Kepada Pohon, Batu, Dan Sejenisnya 1. Tafsir ayat dal surat an-Najm.2. Mengetahui bentuk permintaan mereka.3. Bahwa mereka belum melakukan apa yang mereka mint aitu.4. Dan maksud mereka dengan permintaan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyenanginya.5. Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.6. Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.7. Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menerima alasan mereka, bahwa beliau menyangkal mereka dengan bersabda, “Allah mahabesar. Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu. Kamu pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu.” Beliau bersikap keras terhadap terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.8. Permasalahan penting, dan inilah yang di maksud, yaitu: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahu bahwa permintaan mereka itu seperti permintaan Bani Isra`il tatkala mereka berkata kepada musa, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.”9. Pengingkaran terhadap hal tersebut diantara pengertian “Laa Ilaaha Illallah” Yang sebenarnya. Dan ini belum dimengerti dan dipahami oleh mereka yang baru masuk islam itu.10. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjukya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk suatu maslahat.11. Bahwa syirik ada yang akbar dan ada pula yang ashghar, karena mereka tidak menjadi murtad dengan permintaan mereka itu.12. Kata-kata Abu Waqid al-Litsi, “… sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk islam)… ,” menunjukkan bahwa perbuatan mereka termasuk syirik. 13. Bertakbir merasa heran atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menyatakan makruh.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat1 hari lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir al Furqan: 53

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:52)Tema: TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM ALAM (Ayat 45-62)Dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:Maka janganlah kamu mengikuti orang- orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an. (Al Furqaan:52)Menurut Ibnu Abbas, damir yang ada dalam ayat ini merujuk kepada Al-Qur'an.dengan jihad yang besar. (Al Furqaan:52)Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain oleh firman-Nya:Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu. (At Taubah:73), hingga akhir ayat.Adapun firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit. (Al Furqaan:53)Artinya, Dialah yang menciptakan kedua air itu, yakni air yang tawar dan yang asin. Air yang tawar terdapat di sungai-sungai, mata air-mata air, dan sumur-sumur, air tawar ini segar lagi mudah diminum.Demikianlah menurut takwil Ibnu Juraij, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir. Pengertian ini tidak diragukan lagi kebenarannya, karena sesungguhnya di alam wujud ini tiada suatu laut pun yang airnya berasa tawar lagi menyegarkan. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla menyebutkan hal ini tiada lain untuk mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya akan nikmat-nikmat yang telah Dia limpahkan kepada mereka agar mereka bersyukur kepada-Nya.Air yang tawar adalah air yang dikonsumsi oleh manusia, Allah membagi-baginya di antara makhluk-Nya karena mereka sangat memerlukannya, melalui sungai-sungai dan mata air-mata air di setiap kawasan di belahan bumi ini sesuai dengan kebutuhan mereka, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk keperluan tanah mereka.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 16 Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5

Halaqah – 16 Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Beriman Kepada Malaikatالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعينHalaqah yang ke-16 dari Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah ke-6 Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 5”.Diantara ibadah malaikat setelah tasbih dan mendo’akan adalah;• ⑶ MENGHADIRI MAJLIS DZIKIR.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إن لله تبارك وتعالى ملائكة سيارة فضلا يتبعون مجالس الذكر فإذا وجدوا مجلسا فيه ذكر قعدوا معهم وحف بعضهم بعضا بأجنحتهم حتى يملؤا ما بينهم وبين السماء الدنيا فإذا تفرقوا عرجوا وصعدوا إلى السماء“Sesungguhnya Allāh Tabāraka wa Ta’āla memiliki malaikat-malaikat tambahan yang senantiasa berjalan mencari majlis-majlis dzikir. Maka apabila menemukan majlis di dalamnya ada dzikir, para malaikat tersebut duduk bersama mereka. Dan mereka saling menaungi dengan sayap mereka sehingga memenuhi antara mereka sampai langit dunia. Maka apabila mereka berpisah (yaitu selesai dari majlis dzikir tersebut), naiklah para malaikat ke langit.”(HR Bukhāri IV/2353, No. 6045 dan Muslim IV/2170, dan ini adalah lafazh Muslim)⇒ Maksud dari majlis dzikir disini adalah orang-orang yang berkumpul dalam rangka berdzikir kepada Allāh seperti majlis ilmu dan bukanlah majlis dzikir yang diadakan dengan cara yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.• ⑷ MALAIKAT MENDENGARKAN KHUTBAH.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا كان يوم الجمعة كان على كل باب من أبواب المسجد الملائكة يكتبون الأول فالأول فإذا جلس الإمام طووا الصحف وجاءوا يستمعون الذكر“Apabila hari Jum’at maka disetiap pintu diantara pintu-pintu masjid ada malaikat-malaikat yang menulis yang pertama-tama datang kemudian yang selanjutnya. Kemudian apabila imam duduk mereka melipat lembaran catatan dan datang untuk mendengarkan dzikir.”(HR Bukhāri II/407 – al fath dan Muslim II/586 no. 850)• ⑸ MEREKA MENGATAKAN “ĀMĪN” KETIKA IMAM MENGATAKAN “ĀMĪN” DI DALAM SHALATNYA. DAN MENGATAKAN “ALLĀHUMMA RABBANĀ LAKAL HAMDU” KETIKA IMAM MEMBACA “SAMI’ALLĀHU LIMAN HAMIDAH”.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا أمن الإمام فأمنوا، فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam membaca ‘Āmīn’ maka bacalah Āmīn, karena barangsiapa yang bacaan Āmīnnya bersamaan dengan Āmīn malaikat diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhāri II/262 – al fath dan Muslim I/307)Dan Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا لك الحمد فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه“Apabila imam membaca ‘Sami’allāhu liman hamidah’ maka katakanlah ‘Allāhumma Rabbanā lakal hamdu’ karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhāri II/284dan Muslim I/36 no. 409)Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 14 Sep 2026Baca selengkapnya →