📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir As-Sa'di Hud (11:6)

Tema: BUKTI-BUKTI KEESAAN DAN KEKUASAAN (Ayat 1-83)(6) Maksudnya, semua yang merayap di muka bumi berupa manusia, binatang darat atau laut maka Allah telah menjamin rizki dan makanan mereka, rizki mereka menjadi kewajiban Allah. ﴾ وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mengetahui tempat berdiamnya binatang itu dan tempat penyimpanannya." Maksudnya, Dia mengetahui tempat ber-diam diri binatang-binatang ini yaitu rumah tempat tinggalnya dan perlindungannya, dan mengetahui tempat penyimpanannya yaitu tempat di mana ia berpindah kepadanya pada waktu pulang per-ginya dan kondisi-kondisi tertentunya. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Semuanya" seluruh perincian tentang keadaannya ﴾ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "tertulis dalam Kitab yang nyata." Yakni Lauh Mahfuzh yang meliputi seluruh peristiwa yang terjadi di langit dan bumi. Semuanya diliputi oleh ilmu Allah, dicatat oleh penaNya, berlaku padanya kehendakNya dan dicukupi olehNya rizkinya. Hendaknya manusia tetap tenang kepada jami-nan Allah yang menjamin rizkinya dan yang ilmuNya meliputi Dzat dan sifat-sifatNya.Catatan kaki:210478. Maksud "binatang melata" di sini ialah segenap makhluk Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang bernyawa.210479. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan "tempat berdiam" di sini ialah dunia dan "tempat penyimpanan" ialah akhirat. Menurut sebagian ahli tafsir yang lain, maksud "tempat berdiam" ialah tulang sulbi dan "tempat penyimpanan" ialah rahim.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Tafsir Al Mukhtassar Q. S. Jin ayat 6

Sesungguhnya dahulu di zaman jahiliah ada beberapa laki-laki dari golongan manusia meminta perlindungan kepada sekelompok laki-laki dari golongan jin saat mereka singgah ke suatu tempat yang angker. Salah seorang mereka berkata, "Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari kejahatan kaumnya yang bodoh. " Maka, hal ini menambah rasa takut segolongan dari manusia terhadap segolongan jin

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka26 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Rasulullah ﷺ dengan Umamah

🌷 Rasulullah ﷺ dengan UmamahNabi ﷺ pernah mengimami shalat sambil membawa Umamah binti Abu Al-'Ash, cucu beliau, yang masih kecil.Ketika berdiri, Umamah berada di atas pundak beliau.Ketika hendak rukuk, beliau meletakkan Umamah dengan lembut di lantai.Setelah selesai rukuk dan kembali berdiri, beliau menggendong Umamah kembali.💕 Pelajaran bagi Orang TuaAnak-anak tidak seharusnya dijauhkan dari masjid karena kekhawatiran mereka mengganggu.Masjid dapat menjadi tempat anak belajar, tumbuh, dan mengenal kebaikan.Membiasakan anak berada di lingkungan masjid bersama orang-orang yang baik dapat membantu mereka mencintai shalat, masjid, dan mengingat Allah.Perlakukan anak dengan lembut dan penuh kasih, sebagaimana teladan Rasulullah ﷺ.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al furqon; 39

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:39)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan. (Al Furqaan:39)Kami jelaskan kepada mereka hujah-hujah (alasan-alasan) dan Kami terangkan bukti-bukti kepada mereka. Seperti yang dikatakan oleh Qatadah, bahwa Kami lenyapkan semua alasan dari mereka.dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. (Al Furqaan:39)Yaitu Kami hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. (Al Israa':17)Al-qarn artinya umat, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. (Al-Mu-minun: 42)Sebagian di antara mereka mendefinisikannya bahwa satu kurun sama dengan seratus dua puluh tahun. Menurut pendapat yang lain seratus tahun, menurut pendapat yang lainnya lagi delapan puluh tahun, ada pula yang mengatakan empat puluh tahun, dan banyak lagi pendapat lainnya yang berbeda-beda. Tetapi menurut pendapat yang kuat, yang dimaksud dengan qarn adalah umat yang ada di suatu kurun waktu (suatu zaman). Apabila mereka semuanya telah tiada, lalu diganti oleh generasi yang baru, maka generasi itu dinamakan qarn yang lain (generasi yang lain). Seperti pengertian yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui salah satu sabda Nabi ﷺ. yang mengatakan:Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang (generasi) yang sesudahnya, kemudian orang-orang (generasi)yang sesudahnya lagi.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka26 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 5 dakwah kepada syahadat

Firman Allah Subhanahu wata'ala "Katakanlah, inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yg mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yg nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk Orang-orang yg musyrik". (Yusuf:108) Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu'adz ke yaman bersabdalah beliau kepadanya "sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah pertamakali dakwah yg kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Laa Ilaaha Illallah. Dalam riwayat lain disebutkan, supaya mereka mentauhidkan Allah, jika mereka telah mematuhi apa yg kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yg kamu telah sampaikan itu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yg di ambil dari orang-orang kaya dari mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka. Dan jika mereka telah mematuhi apa yg telah kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka dan takutlah kamu dari doa orang mazlum (teraniaya), karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalangpun antara do'anya dan Allah (H.R Bukhari dan Muslim)

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 3: Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām

Halaqah 3:Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىIman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:1. Beriman dengan takdir termasuk diantara enam Rukun Iman yang harus diimani dan pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpanya.2. Beriman yang benar dengan takdir Allah yang mencakup: beriman dengan Ilmu Allah, penulisan-Nya, kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allah di dalam Rububiyah dan sifat-sifat-Nya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allah dan pekerjaan Allah adalah termasuk sifat-sifat-Nya. Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir maka bukan seseorang yang meng-Esa-kan Allah di dalam Rububiyah-Nya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiyah-Nya dan Uluhiyahnya.Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” [Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143]Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.Berkata Zaid Ibnu Aslam:القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل“Takdir adalah kemampuan Allah azza wajalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah azza wajalla.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144].4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, Ilmu-Nya, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam:قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.”[QS. Hud: 33]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.”[QS. Ash-Shaffat :102]Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…“Musa berkata, wahai Rabb-ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.”[QS.Al-A’raf :155]Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.7. Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan dll.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran ayat 50-52

Aku juga datang kepada kalian seraya membenarkan Kitab Taurat yang turun sebelumku. Aku datang kepada kalian untuk menghalalkan sebagian dari apa yang tadinya diharamkan, dalam rangka memberikan kemudahan dan keringanan kepada kalian. Aku juga datang dengan membawa hujah yang nyata terkait kebenaran ajaran yang kusampaikan kepada kalian. Oleh sebab itu, bertakwalah kalian kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan taatlah kalian kepadaku terkait ajaran yang kusampaikan kepada kalian.Hal itu karena Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Dialah satu-satu-Nya tuhan yang berhak ditaati dan ditakuti maka sembahlah Dia semata. Perintah yang kuberikan kepada kalian ini, yaitu menyembah dan bertakwa kepada Allah semata adalah jalan lurus yang tidak bengkok sama sekali.”Kemudian tatkala Isa ‘alaihissalām- mengetahui kekerasan hati mereka untuk mempertahankan kekafiran, dia berkata kepada Bani Israil, “Siapa yang mau menolongku dalam berdakwah kepada Allah?” Lalu para pengikutnya yang setia menjawab, “Kami adalah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan mengikuti jejakmu, dan saksikanlah -wahai Isa- bahwa kami tunduk kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya dan menaati-Nya.”

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 78 | Orang yang Berbahagia Ialah Orang yang Berbahagia dengan Takdir Allāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-78 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan raḥimahullāhu taʿālāمَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللهِ، والشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dengan takdir Allāh. Maksudnya bagaimana? Orang yang bahagia di dunia adalah orang yang memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ menjadi orang yang bahagia. Kebahagiaan dia adalah dengan takdir Allāh ﷻ yang telah ditentukan dan ditulis oleh Allāh ﷻ. Demikian pula sebaliknyaوالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang celaka adalah orang yang celaka dengan takdir Allāh.Artinya, kecelakaan dan musibah yang menimpanya adalah dengan takdir Allāh. Kebahagiaan seseorang adalah dengan takdir Allāh, dan begitu pula kecelakaan atau kebinasaan seseorang juga dengan takdir Allāh.وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌBerarti seorang menjadi bahagia dengan takdir Allāh, dan seorang menjadi celaka juga dengan takdir Allāh. Kebahagiaan dan kecelakaan itu sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.Ini semua adalah ajakan dari beliau untuk beriman kepada takdir, dan merupakan bagian dari aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah. Bahkan, beriman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam, dan termasuk pondasi aqidah.Oleh karena itu, seseorang harus bergantung kepada Allāh ﷻ dan bertawakkal kepada-Nya, karena kebahagiaan dengan takdir Allāh ﷻ, begitu pula kecelakaan dengan takdir Allāh ﷻ, berarti dia bergantung hanya kepada Allāh ﷻ saja. Tidak mungkin seseorang bisa bahagia kecuali dengan kemudahan dari Allāh ﷻ, dan kecelakaan yang terjadi pun dengan takdir-Nya. Maka, seseorang harus senantiasa meminta kepada Allāh ﷻ dan tidak bergantung kepada makhluk.Ini menunjukkan hubungan yang erat antara keimanan kepada takdir dengan Tauhid ulūhiyyah. Orang yang beriman kepada takdir Allāh ﷻ, maka dia akan bergantung dan bertawakkal hanya kepada Allāh ﷻ, bukan kepada makhluk. Karena beriman kepada takdir Allāh ﷻ adalah bagian dari keimanan kepada rubūbiyyah Allāh ﷻ. Beriman kepada takdir Allāh ﷻ, berarti kita beriman kepada Qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ). Orang yang mengingkari takdir Allāh ﷻ berarti dia mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah #3

Halaqah 53 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Umur dan Kenabian Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahDiantara yang ingin beliau kenalkan disini adalah tentang umur beliau, ini bukan termasuk kadar yang minimal tapi dia adalah tambahan yang tentunya apabila seseorang semakin banyak mengenal tentang beliau ﷺ. Bahwasanya seseorang apabila cinta kepada sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang sebenarnya maka dia akan senang untuk mengenal sesuatu tersebut. وله من العمر ثلاث وستون سنةBeliau memiliki umur 63 tahun. Allah ﷻ memberikan umur kepada beliau 63 tahun.منها أربعون63 tahun tadi terbagi menjadi dua, 40 tahun adalahقبل النبوةmaksudnya 40 tahun semenjak beliau dilahirkan maka itu adalah sebelum beliau diangkat oleh Allah ﷻ menjadi seorang Nabi menjadi seorang Rosul. وثلاث وعشرون نبيا رسولاAdapun 23 tahun yang selanjutnya menunjukkan bahwasanya beliau diangkat dan pertama kali turun kepada beliau wahyu adalah ketika beliau berumur 40 tahun dan demikian para nabi dan juga para rasul dan umur tersebut yaitu umur 40 tahun, adalah umur yang istimewa bagi manusia. Disitulah seseorang matang di dalam berpikir, matang didalam akalnya, maka hikmah dari Allah ﷻ, para Nabi dan para Rosul semuanya atau sebagian besarnya diangkat menjadi Nabi dan juga Rosul itu adalah ketika mereka berumur 40 tahun termasuk diantaranya adalah Rosulullah ﷺ.نبئ بإقرأyaitu diangkat menjadi seorang Nabi dan resmi menjadi seorang Nabi, adalah dengan ٱقۡرَأۡ maksudnya adalah dengan diturunkannya :ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَSekedar turun kalimat yang pertama ٱقۡرَأۡ maka beliau sudah menjadi seorang Nabi, karena ini adalah kalimat yang pertama dan ini bagian dari wahyu, sekedar itu turun kepada beliau maka beliau resmi menjadi seorang Nabi. Karena seorang Nabi adalah orang yang diberikan Wahyu kepadanya. نبئ berasal dari kata Naba’ artinya adalah kabar.ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥QS. Al-Alaq : 1-5Ketika beliau ﷺ berada di atas Gua Hira yang saat itu dijadikan beliau senang untuk menyendiri beribadah kepada Allah ﷻ, memikirkan tentang khalqullah, beribadah dengan Al-Hanifiyyah agamanya Nabi Ibrahim bapak beliau, di atas gunung di dalam gua jauh dari hiruk pikuk orang-orang jahiliyah dengan kejahiliyahan mereka dengan kesyirikan mereka dengan kerusakan mereka.Maka beliau ﷺ saat itu dijadikan senang oleh Allah ﷻ untuk yatahannath. Beliau menyendiri dan beliau ﷺ saat itu sudah memiliki Khadijah, beliau terkadang beberapa hari di sana setelah diberikan bekal oleh Khadijah dan sesuai dengan bekal itulah beliau tinggal di atas gunung didalam gua tersebut sampai suatu malam datang dan turun kepada beliau malaikat Jibril ‘Alaihissalam kemudian mewahyukan kepada beliau wahyu yang pertama yang dengannya beliau resmi menjadi seorang Nabi.نبئ بإقرأadalah isyarat kepada Al-Alaq ayat 1 sampai ayat yang ke-5

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 3 Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke tiga dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau menyebutkan perkara yang pertama yang dipahami oleh orang-orang awam di kalangan kaum muslimin akan tetapi banyak orang-orang cerdas yang tidak memahami perkara ini.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِPerkara yang pertama adalah:Mengikhlaskan agama untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada sekutu baginya, dan menjelaskan lawan dari keikhlasan ini yaitu syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Diantara perkara yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dengan penjelasan yang gamblang (penjelasan sangat jelas) adalah masalah mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah dan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah Subhānahu wa Ta’āla, juga menjelaskan tentang bahaya syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ini semua Allah sebutkan dengan jelas di dalam Al Qur’an.وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِDan bahwasanya sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an adalah untuk menjelaskan tentang:1. Ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah.2. Menjelaskan tentang bahayanya kesyirikan di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى“Dalam bentuk-bentuk yang sangat berbeda, dengan cara yang berbeda.”Artinya Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al Qur’an menjelaskan tentang perkara ini dalam berbagai cara (penjelasan).بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ“Dengan ucapan yang dipahami oleh bahkan orang yang paling bodoh diantara orang-orang awam.”Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan Al Qur’an ini sebenarnya semuanya adalah tauhid dari awal sampai akhir.Dan diantara buktinya, surat yang pertama, demikian pula surat yang terakhir isinya adalah tentang masalah tauhid.Al Fatihah penuh dengan makna tauhid.ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ۞ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۞ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۞ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُDi dalamnya ada:• Tauhid Asma’ wa Shifat• Tauhid rububiyah• Tauhid al uluhiyyahإِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ“Hanya kepada-Mu lah Ya Allah, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah Ya Allah, kami memohon pertolongan.”Demikian pula surat An Naas,( قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ۝ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ۝ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ)Ini semua adalah tauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla (meminta perlindungan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla) Raja manusia, sesembahan manusia.Semua surat di dalam Al Qur’an isinya adalah tentang tauhid.Penjelasan tentang bagaimana keutamaan tauhid, bagaimana cara bertauhid, penjelasan tentang bahaya kesyirikan, apa bentuk kesyirikan, penjelasan tentang pahala bagi orang yang bertauhid dan adzab bagi orang yang berbuat syirik.Bahkan kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur’an banyak diantaranya yang berkaitan dengan masalah tauhid.Bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam?Kisahnya adalah bagaimana beliau berdakwah dan mendakwahi umatnya kepada tauhid.Demikian pula kisah nabi Shalih, nabi Hud, nabi Syu’aib dan juga nabi-nabi yang lain.Kalau kita tadabburi ternyata Al Qur’an semuanya adalah masalah tauhid. Masalah (mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla) dan tentang bahaya kesyirikan.Namun ternyata banyak diantara manusia yang tidak memahami tentang perkara ini.Bahkan termasuk orang yang cerdas diantara mereka.Kenapa demikian?Diantara sebabnya adalah:1. Al I’rodh (seseorang berpaling dari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla).Tidak mau mempelajari agama Allah, sibuk dengan yang lain (sibuk dengan dunianya, sibuk dengan hobinya).Dan dia berpaling tidak mau menekuni dan tidak mau mempelajari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Al Kibr (sombong).Dia mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak mau mengamalkan dan menerima kebenaran tersebut.Sebagaimana dilakukan oleh iblis ketika diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla melakukan sujud penghormatan kepada nabi Adam alayhissallam akan tetapi enggan dan sombong, dan dia adalah termasuk orang-orang yang kafir.Al Qur’an diturunkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla tujuan utamanya adalah untuk diamalkan, ditadabburi, dipahami dan bukan hanya sekedar dibaca atau diperbaiki tajwidnya atau diambil berkahnya ketika membaca.Semua itu adalah termasuk kebaikan, akan tetapi bukan tujuan utama diturunkannya Al Qur’an.Tujuan utama diturunkannya Al Qur’an adalah untuk ditadabburi kemudian setelah itu diamalkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ(QS. Sad: 29)Sebuah Kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu yang berbarokah supaya mereka manusia mentadabburi ayat-ayat Allah Subhānahu wa Ta’āla, memikirkan, membaca, kemudian memahami maknanya dan memikirkan makna tersebut. Dan supaya orang-orang yang cerdas dan berakal mengingat Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan membaca ayat-ayat tersebut.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka26 Agustus 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Faktor-faktor menggapai Husnul Khotimah

Ketakwaan merupakan bekal terbaik dan faktor terbesar yang mendorong seorang hamba menggapai husnul khotimah serta meraih keridhaan Allah.​Ada sangat banyak manfaat dan keutamaan yang didapatkan oleh orang yang bertakwa, beberapa di antaranya adalah:Mendorong orang yang beriman menggapai husnul khotimahMenjadi faktor dihapuskannya keburukan dan diampuninya dosa-dosaDiberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil)​Menjadi faktor diterimanya amal-amalMendorong orang yang beriman keluar dari semua beban penderitaan dan kesempitanMembukakan jalan keluar dan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka​Mempermudah sakaratul maut dan menjadikan kemudahan dalam segala urusan​Menjadi faktor keselamatan dari kebinasaan (neraka)Menjadi faktor yang mendorong seseorang masuk dan mewarisi surga​Pengertian Takwa (Menurut Ibnu Mas'ud)​Definisi takwa dijelaskan oleh Abdullah bin Mas'ud ketika mengomentari firman Allah "Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa":​"Hendaklah Allah ditaati sehingga tidak didurhakai, diingat sehingga tidak dilupakan, dan disyukuri sehingga tidak diingkari."

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka26 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

STRATEGI MENGHADAPI MASALAH MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN

1. MANTRAJika urusan makan membuat kita cemas atau sulit melepaskan kendali, gunakan mantra untuk mengingatkan kembali tugas dan fokus kita.«“Tugas saya hanyalah apa–kapan–di mana. Saya bisa melakukan itu.”»«“Apa yang dimakan anak saya bukanlah yang terpenting. Saya menunaikan tugas dengan baik. Anak saya akan baik-baik saja.”»«“Apa yang dimakan anak saya bukanlah barometer pengasuhan saya.”»---2. JELASKAN PERANJelaskan kepada anak bahwa orang tua dan anak memiliki tugas yang berbeda dalam urusan makan.Tugas orang tua:• Menentukan APA yang dimakan.• Menentukan KAPAN makan.• Menentukan DI MANA makan.• Usahakan selalu ada setidaknya satu makanan yang disukai anak.Tugas anak:• Memutuskan APAKAH ia mau makan.• Memutuskan BERAPA BANYAK yang ia makan.➡️ Orang tua boleh menentukan menu, tetapi tidak memaksa anak makan lebih banyak atau menghabiskan makanan.---3. STRATEGI KHUSUS MAKANAN PENUTUPTidak ada satu cara yang paling benar. Kuncinya: tetap berada dalam peran orang tua.Orang tua menentukan:• Apakah makanan penutup disajikan.• Jenis makanan penutup.• Kapan makanan penutup diberikan.Anak menentukan:• Apakah ia akan makan.• Berapa banyak yang ia makan.❌ Jangan jadikan makanan penutup sebagai hadiah atas berapa banyak makanan utama yang dimakan.💡 Salah satu pilihan: sajikan makanan penutup kecil bersamaan dengan makan malam, bahkan di piring yang sama.Tujuannya agar makanan penutup tidak menjadi sesuatu yang harus “diperjuangkan” dan perlahan menjadi kurang menarik bagi anak.Pilihan lain: jadikan makanan penutup sebagai camilan sore, sehingga makan malam tidak perlu selalu memiliki makanan penutup.---4. STRATEGI KHUSUS CAMILANTidak ada satu aturan yang tepat untuk semua keluarga.Ada keluarga yang:• Tidak memberikan camilan.• Memberikan akses camilan secara bebas.• Mengambil jalan tengah.Tidak ada superioritas moral dalam pilihan tersebut.Tanyakan kepada diri sendiri:«“Apakah pendekatan camilan ini berhasil untuk keluarga saya?”»Jika camilan membuat anak tidak lagi makan malam atau hanya ingin makan camilan, mungkin sudah waktunya melakukan perubahan.Jika Anda ingin mengubahnya, ingat kembali tugas Anda:APA – KAPAN – DI MANAAnda tidak perlu meminta persetujuan anak. Anda cukup mengumumkan perubahan, lalu membiarkan anak merasakan dan mengekspresikan ketidaknyamanannya.---5. MENERIMA PENOLAKANMenjalankan pembagian tanggung jawab berarti kita harus mampu mengatakan tidak, menegaskan batas, dan menoleransi ketidaknyamanan anak.Ketika anak tidak senang:→ Ingatkan diri apa yang benar.“Saya tahu anak saya memiliki makanan yang aman di sini. Tugas saya menyajikan, tugasnya memutuskan. Ini berat, tetapi kami berdua menjalankan tugas.”→ Ingatkan diri:“Saya tidak membutuhkan persetujuan anak.”→ Berikan izin untuk marah:“Kamu boleh marah.”→ Sebutkan keinginannya:“Kamu berharap kita makan malam dengan menu yang berbeda.”→ Pisahkan protes dari keputusan:“Protes anak saya tidak berarti keputusan saya buruk. Itu juga tidak berarti saya orang tua yang buruk atau dingin.”→ Ingatkan tugas masing-masing:“Tugas Ibu adalah memutuskan apa yang menurut Ibu baik untukmu, bahkan ketika Ibu tahu kamu tidak akan menyukainya.”---🌱 Intinya:Orang tua bertanggung jawab atas APA, KAPAN, dan DI MANA.Anak bertanggung jawab atas APAKAH dan BERAPA BANYAK.Percayai peran Anda. Toleransi terhadap penolakan anak adalah bagian dari menjalankan peran tersebut.Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Al Qur'an Sebagai petunjuk dari kegelapan

Tafsir Surat Ibrahim (1-3) menekankan peran Al-Qur'an sebagai petunjuk untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang benar.• Allah menurunkan wahyu ini agar Muhammad dapat menjadi penerang bagi umat, menunjukkan jalan menuju kebangkitan iman dan kebenaran.• Pentingnya petunjuk Ilahi: Setiap orang yang ditakdirkan akan mendapat hidayah Allah dan diarahkan menuju jalan-Nya yang lurus.• Pesan untuk umat: Kecelakaan akan menimpa orang-orang yang lebih menyukai kehidupan duniawi daripada akhirat, yang menghalangi jalan Allah dan berupaya menjadikan agama bengkok.• Kesadaran akan Akhirat: Ayat ini mengajarkan untuk tidak mengabaikan kehidupan setelah kematian dan berfokus pada amal perbuatan yang akan membawa ke surga.• Pelajaran dalam kehidupan saat ini: Mengedepankan nilai-nilai spiritual dan memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat adalah penting untuk mencapai kebenaran dan keselamatan.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 26 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Hūd: 122​ وَٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ​"Dan tunggulah (akibat perbuatan kalian), sesungguhnya kami pun menunggu (pula)."​Penjelasan: Maksudnya sama seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat lainnya, yaitu:​ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ​"Kelak kalian akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." (Q.S. Al-An'am: 135)​Janji Allah kepada Rasul-Nya​Allah menunaikan janji yang telah diutarakan-Nya kepada Rasul-Nya, mendukungnya, serta menjadikan kalimat-Nya tinggi dan menjadikan kalimat orang-orang yang kafir rendah dan hina. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI26 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 78

Rabu, 26 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 78Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Ringkas Penulis Kitab & Sumber Periwayatan​وَلَهُ: مِثْلُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَلَفْظُهُ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى» ثُمَّ قَالَ: «وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ...»"Dan di dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits semisalnya dari riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dengan lafaz: 'Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk...', kemudian beliau bersabda: 'Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan...'"Dalil Utama & Sabda Rasulullah​Syahid Bagian Pertama (Kebaikan):​مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِك مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا"Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."​Syahid Bagian Kedua (Kesesatan):​وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya."Garis Besar Kandungan Pemikiran & Makna​Batasan Penerimaan Pahala (Man Tabi'ahu):​Pahala mengajak (da'a) tidak dihitung dari jumlah seluruh orang yang didakwahi, melainkan dari jumlah orang yang mengikutinya/mendapat hidayah dari sebab dakwah tersebut.​Pahala pengikut tidak dikurangi sedikitpun oleh Allah ﷻ.​Perbedaan Hadits Jarir bin Abdillah (Man Sanna) dan Hadits Abu Hurairah (Man Da'a):​Hadits Jarir (Man Sanna): Mengajak melalui teladan perbuatan/tindakan langsung (qudwah), kemudian diamalkan oleh orang lain.​Hadits Abu Hurairah (Man Da'a): Mengajak melalui lisan/dakwah terbuka (berbicara/menyampaikan), menyeru orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu.​Rincian Perbedaan Lafaz Redaksi Pahala:​Pada hadits Man Sanna, terdapat lafaz falahu ajruha wa ajru man 'amila biha (ia mendapat pahala amalnya sendiri + pahala pengikutnya) karena ia mempraktikkan langsung amalan tersebut.​Pada hadits Man Da'a, tidak disebutkan falahu ajruha, melainkan lahu min al-ajri mithlu ujuri man tabi'ahu. Hal ini karena seorang da'i bisa saja mengajak kepada amalan yang belum/tidak bisa ia kerjakan karena ada sebab syar'i (contoh: seorang da menjelaskan/mengajak orang kaya untuk bersedekah, padahal sang da'i sendiri orang fakir). Ia tetap berhak menerima pahala orang yang mengikuti ajakannya.​KesimpulanHadits riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu melengkapi hadits sebelumnya dengan menegaskan bahwa ajakan dakwah melalui lisan (man da'a) memiliki kedudukan hukum dan ganjaran berantai yang sama dengan teladan perbuatan (man sanna). Seseorang yang menyeru kepada petunjuk akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mengikutinya—meskipun sang penyeru belum/tidak dapat mempraktikkan amalan tersebut karena alasan syar'i—tanpa mengikis pahala para pengikutnya. Sebaliknya, siapa pun yang menyeru kepada kesesatan akan memikul dosa berantai sebanyak dosa orang-orang yang mengikuti seruan sesatnya.

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat26 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Anfal : 29

29. Ibnu Abbas, As-Saddi, Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:. Furqan. (Al Anfaal:29) Bahwa yang dimaksud ialah jalan keluar.Menurut Mujahid di tambahkan di dunia dan akhirat.Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, yang dimaksiat dengan Furqan ialah keselamatan. Sedangkan menurut riwayat yang lain —Juga dari Ibnu Abbas— yang dimaksud dengan furqan ialah pertolongan Allah.Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa makna furqan ialah pemisah antara perkara yang hak dan yang batil.Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq ini pengertiannya lebih mencakup daripada pendapat lainnya, dan memang apa yang dikemukakannya itu mencakup kesemuanya. Karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya berarti dia mendapat taufik untuk mengetahui perbedaan antara perkara yang hak dan yang batil. Maka yang demikian itu merupakan penyebab datangnya pertolongan Allah, jalan keselamatan, dan jalan keluar dari semua urusan dunia serta kebahagiaan di hari kiamat, penghapus segala dosa, beroleh ampunan dan disembunyikan dari semua orang serta menjadi penyebab beroleh pahala Allah yang berlimpah. Pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat­-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Hadiid:28)

💬 0 komentar📅 26 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-Araf:179

Dan Kami telah menciptakan untuk neraka (yang didalamnya Allah akan mengazab orang-orang yang berhak mendapat azab di akhirat) banyak dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati, tapi tidak pernah dipakai untuk berfikir, sehingga tidak pernah mengharap pahala dan tidak pernah takut akan siksa. Mereka mempunyai mata, tapi tidak pernah dipakai untuk melihat ayat-ayat dan dalil-dalil Allah. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak pernah dipakai untuk mendengar ayat-ayat dan dalil-dalil Allah sehingga mereka dapat merenunginya. Mereka itu seperti binatang yang tidak paham akan kalimat yang diucapkan kepadanya dan tidak paham apa yang dilihatnya, tidak berpikir dengan hatinya tentang kebaikan dan keburukan sehingga dia bisa membedakan antara keduanya. Bahkan mereka (manusia dan jin) itu lebih sesat dari binatang-binatang itu. Karena binatang masih dapat melihat apa yang bermanfaat dan berbahaya baginya dan mau mengikuti tuannya, sedangkan mereka tidak demikian. Mereka itulah orang-orang yang lalai dari iman kepada Allah dan taat kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →