Talbis Iblis #1 - Berpegang Teguh Kepada Sunah
Talbis Iblis #1: Berpegang Teguh Kepada Sunah oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Pendahuluan Kitab & PenulisArti Talbis Iblis: Secara bahasa berarti "tipuan iblis", yaitu metode iblis dalam memperdaya manusia dengan menyodorkan kemaksiatan atau keburukan dalam kemasan ketaatan dan kebaikan sehingga banyak yang terpedaya.Profil Penulis (Ibnul Jauzi rahimahullah): Hidup di abad ke-6 Hijriah. Beliau adalah ulama besar yang pakar dalam memberikan nasihat (ahlu wa'iz). Di zamannya, majelisnya dihadiri 10.000 hingga 100.000 orang. Melalui perantaranya, tercatat 20.000 orang masuk Islam dan 100.000 orang bertobat.Struktur Kitab: Terdiri dari 13 Bab, di mana 4 bab pertama merupakan muqaddimah (pendahuluan), dan 9 bab berikutnya berisi perincian tipuan iblis kepada berbagai macam model manusia.Bab 1: Perintah Melazimi Sunnah wal Jama'ahBab 2: Celaan Terhadap Bid'ah dan Ahlul Bid'ahBab 3: Peringatan Tentang Fitnah Iblis dan Tipuan-TipuannyaBab 4: Apa Makna TalbisBab 5: Bagaimana Talbis Iblis Yang Berkaitan Dengan Aqidah dan Agama-AgamaBab 6: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Para Ulama Dalam Berbagai Macam Bidang IlmuBab 7: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Para PenguasaBab 8: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Para Ahli IbadahBab 9: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Orang Yang ZuhudBab 10: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Orang-Orang SufiahBab 11: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Istiqomah Bab 12: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Orang-Orang AwamBab 13: Bagaimana Talbis Iblis Terhadap Semua Manusia Dengan Tipuan Angan-AnganTujuan Imam Ibnul Jauzi Menulis Kitab Talbis IblisNikmat Akal dan Wahyu: Nikmat terbesar bagi manusia adalah akal karena dengan akal manusia bisa mengenal Allah dan membenarkan rasul. Namun, akal secara independen memiliki keterbatasan. Oleh karena itu Allah menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul untuk membimbing akal tersebut. Syariat yang dibawa para rasul diibaratkan seperti cahaya matahari, sedangkan akal seperti mata. Mata tidak bisa melihat dengan baik tanpa adanya cahaya. Maka untuk dapat melihat dengan baik dibutuhkan cahaya yang cukup.Anugerah Awal Manusia dan Munculnya Kerancuan: Allah memberikan anugerah pertama kepada umat manusia melalui diturunkannya Nabi Adam ‘alaihissalam, yang kemudian mengajarkan wahyu kepada anak keturunannya. Kerancuan dan penyimpangan pertama kali mulai terjadi saat syahwat menguasai manusia, yang dicontohkan dalam peristiwa Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil. Dari titik inilah berbagai aqidah, aliran, dan klaim iblis untuk menyesatkan manusia mulai terjadi.Taktik Utama Iblis Menipu Manusia: Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan metode atau cara iblis menggoda manusia: Iblis mencampurkan penjelasan syariat (yang dibawa oleh para nabi) dengan syubhat dan racun. Taktiknya sangat banyak sehingga membuat orang terpedaya, memecah belah umat, serta melahirkan aliran dan pemikiran yang didasari hawa nafsu.Alasan Ibnul Jauzi Menulis Kitab Talbis Iblis: Melihat bahaya tersebut, Ibnul Jauzi merasa wajib untuk memperingatkan manusia dan membongkar perangkap-perangkap serta tipuan iblis. Prinsip beliau: Jika kita mengetahui dan mengenal suatu bahaya (perangkap), kita akan bisa menghindarinya. Beliau menulis kitab ini dengan modal ilmu yang sangat matang dan pengalaman panjang dalam berdakwah serta menasihati umat.Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman: Mengenal Keburukan untuk Dihindari: Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Di saat orang-orang sibuk bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kebaikan, Hudzaifah justru fokus bertanya tentang keburukan yang kebanyakan orang lalaikan. Alasan beliau: "Aku khawatir keburukan tersebut akan mendapati (menjerumus) diriku." Sebagaimana syair Arab: "Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukannya tapi untuk meninggalkannya. Barangsiapa yang hanya tahu kebaikan tanpa tahu keburukan, ia bisa terjerumus ke dalamnya."Orang yang Paling Selamat adalah orang yang mengenal kebaikan secara terperinci (ketaatan) sekaligus mengenal keburukan secara terperinci (dosa besar, maksiat, bid'ah), sehingga amalnya dibangun di atas ilmu dan dalil. Para sahabat Nabi adalah contoh terbaik dalam hal ini. Mereka pernah hidup dan merasakan langsung puncak keburukan di zaman Jahiliyah (rusaknya moral dan akidah). Ketika cahaya Islam datang, mereka menyerap puncak kebaikan dari Rasulullah ﷺ. Karena mengenal kedua kutub ini secara mendalam, kedudukan dan keilmuan para sahabat tidak akan pernah bisa ditandingi oleh generasi setelahnya.Relevansi Mengenal Jerat Setan Bagi para Da'i / Ustadz: Kitab Talbis Iblis ini berfokus memperkenalkan macam-macam jerat setan secara detail. Kadang-kadang seorang Da'i atau Ustadz sekalipun tidak sadar bahwa mereka sedang dijebak oleh setan. Setan memiliki formula khusus untuk menjebak setiap profesi manusia karena setan sudah sangat berpengalaman, bahkan Nabi Adam ‘alaihissalam pun pernah didekati dan dijebak oleh setan.MuqoddimahEmpat bab pertama (Muqoddimah) sebenarnya adalah jalan keluar atau solusi mutlak agar selamat dari jerat setan.Inti solusinya sangat sederhana: Lazimi Sunnah dan Jauhi Bid'ah. Mengapa? Karena pintu masuk terbesar setan dalam menipu ahli ibadah atau ulama adalah melalui pintu bid'ah, yaitu mengemas kemaksiatan/perkara baru seolah-olah itu adalah ketaatan.Pentingnya Berjamaah: Berdasarkan hadis Umar bin Khattab, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang ingin menempati posisi terbaik di tengah surga (karena surga semakin di tengah semakin mulia), maka hendaknya ia melazimi jamaah, karena setan bersama orang yang sendirian dan akan menjauh dari dua orang atau lebih.” Maksudnya adalah ikuti aqidah yang benar, ikuti jama’ah kaum muslimin, jangan memiliki pemikiran yang menyimpang dari kaum muslimin.Satu Jalan Lurus: Berdasarkan hadis Ibnu Mas'ud, Rasulullah ﷺ membuat garis di tengah tangannya dan bersabda “Inilah jalan Allah yang lurus,” lalu membuat garis miring di kanan-kirinya yang merepresentasikan jalan-jalan penyimpangan yang di atasnya ada setan yang menyeru. Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan yang lurus. Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman Allah Ta’ala, “Inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah, jangan kalian ikuti jalan-jalan yang lain.”Peringatan Rasulullah ﷺ Tentang Kemungkaran di Akhir Zaman: Dari hadis Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhuma, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan datang suatu masa pada umat Islam di mana mereka akan meniru dan mengikuti perbuatan-perbuatan kemungkaran yang dilakukan oleh Bani Israil terdahulu. Peniruan ini digambarkan sangat detail dan persis, seperti kemiripan antara sandal yang satu dengan sepasang sandal lainnya.Perumpamaan Kemungkaran yang Ekstrem: Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat ekstrem: "Bahkan, jika di kalangan Bani Israil dahulu ada orang yang menzinai/meniduri ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka kelak di kalangan umatku akan ada orang yang tega melakukan hal serupa." Jika kita membaca hadis tersebut di masa lalu, mungkin kita merasa hal itu tidak masuk akal atau tidak mungkin terjadi karena bertentangan dengan rasa malu manusia. Namun, di zaman sekarang, hal mengerikan tersebut benar-benar terjadi dan diberitakan. Semua ini dipicu oleh tersebarnya pornografi dan berbagai tontonan rusak yang mengajari manusia berbagai kelainan seksual. Tontonan-tontonan buruk inilah yang merusak dan membelokkan fitrah manusia yang tadinya lurus menjadi sangat menyimpang. Hadis ini membuktikan kebenaran nubuat Rasulullah ﷺ tentang betapa semangatnya sebagian kaum muslimin dalam mengikuti jalan-jalan keburukan orang terdahulu.Perpecahan Umat: Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, di mana 72 di neraka dan hanya 1 yang selamat di surga. Golongan yang selamat tersebut (Al-Firqatun Najiyah) adalah jamaah yang melazimi apa yang dijalani oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.Bahaya Syubhat yang Terstruktur: Ahlul bid'ah (seperti kaum liberal, pluralis, kelompok sufi tertentu) seringkali memiliki argumen syubhat yang tersusun rapi sehingga orang awam mudah terpukau. Sekali hawa nafsu dan syubhat tersebut menggerogoti hati seseorang, akan sangat sulit disembuhkan, ibarat virus rabies yang menjalar di tubuh.Karakteristik dan Sikap Ulama Salaf Terhadap Bid'ahSederhana dalam Sunnah Lebih Baik: Perkataan Ibnu Mas'ud bahwa bersikap sederhana namun tetap di atas sunnah jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam perkara bid'ah.Menolak Mendengar Syubhat: Para ulama salaf terdahulu sangat menjaga hati mereka.Thawus bin Kaisan langsung menutup telinganya dan menyuruh anaknya melakukan hal yang sama ketika seorang mu'tazilah datang ingin berbicara .Ibnu Sirin mengusir orang yang ingin mendebatnya tentang takdir menggunakan logika.Ayyub As-Sikhtiyani menolak mendengarkan meskipun hanya setengah kalimat dari ahlul bid'ah.Bid'ah Lebih Disukai Iblis: Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa bid'ah lebih dicintai iblis daripada maksiat biasa. Pelaku maksiat umumnya sadar dirinya salah sehingga lebih mudah diharapkan bertobat, sedangkan pelaku bid'ah merasa dirinya sedang melakukan ibadah/kebaikan sehingga sulit untuk bertobat.Batasan Bid'ah dan Pembagian Golongan (Bab 5 - 13)Perbedaan Sarana dan Ritual:Perkara baru yang sifatnya sarana duniawi/penunjang (seperti pengumpulan Al-Qur'an menjadi mushaf di zaman Abu Bakar, ilmu nahu, bangunan pondok pesantren, menara masjid) diperbolehkan karena tidak menambah atau mengurangi ritual ibadah itu sendiri.Perkara baru yang dimasukkan ke dalam ritual/akidah (seperti membuat cara dzikir jama'ah baru yang dipimpin satu orang yang sempat dilarang oleh Ibnu Mas'ud) adalah bid'ah yang terlarang.6 Akar Golongan yang Menyimpang (Usulul Firaq): Ibnul Jauzi menyimpulkan bahwa dari 72 golongan yang keliru, semuanya bermuara pada 6 kelompok inti, di mana masing-masing kelompok ini nantinya terpecah lagi menjadi 12 aliran:Al-Haruriah (Khawarij)Al-QadariyahAl-JahmiyyahAl-Murji'ahAr-Rafidhah (Syiah)Al-JabariyahKesimpulanTipuan, perangkap, dan jerat setan itu jumlahnya sangat banyak dan jalannya sangat halus. Jalan keluar paling utama agar kita selamat dari segala tipuan tersebut adalah melazimi sunnah Rasulullah ﷺ, mengikuti cara beragama para sahabat (Salafush Sholeh) jika ada perkara atau pemikiran baru yang tidak diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, maka tinggalkan dan tidak usah coba-coba untuk didengar. Rasa penasaran untuk mendengar syubhat adalah salah satu pintu masuk setan yang paling rawan menggelincirkan manusia.











