📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al Baqarah: 26

RenungkanAllah tidak hanya memberikan petunjuk melalui perkara-perkara besar. Makhluk yang sangat kecil pun dapat menjadi tanda kebesaran dan hikmah-Nya.Perbedaannya bukan pada perumpamaannya, tetapi pada sikap hati orang yang mendengarnya.IntisariAllah ﷻ berhak membuat perumpamaan dengan apa saja yang Dia kehendaki.Orang beriman menerima firman Allah dengan yakin dan berusaha mengambil hikmah.Perumpamaan Al-Qur’an merupakan sarana petunjuk sekaligus ujian.Kesombongan dan kefasikan dapat menyebabkan seseorang berpaling dari petunjuk.Pengamalan Hari IniKetika menemukan ayat atau nasihat yang belum kita pahami, jangan langsung mempertanyakannya dengan sikap meremehkan. Tundukkan hati, cari penjelasannya, dan renungkan apa yang Allah ingin ajarkan kepada kita.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Ringkasan Halaqah 02 – Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalasah (Bagian 02)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai kitab Al-Ushulu Ats-Tsalasah dengan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebagai bentuk mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.Poin-Poin Penting1. Mengapa memulai dengan Basmalah?Mengikuti Allah yang memulai Al-Qur’an dengan Basmalah.Mengikuti Rasulullah ﷺ yang memulai surat-surat dakwahnya dengan Basmalah.2. Makna huruf “Ba” (ب) dalam BismillahBermakna memohon pertolongan (isti’anah) kepada Allah.Setiap amal dilakukan dengan meminta bantuan dan keberkahan dari Allah.3. Makna “Ismullah” (Nama Allah)Mencakup seluruh nama Allah yang indah (Al-Asmaul Husna).Saat mengucapkan “Bismillah”, seorang hamba memohon pertolongan dengan seluruh nama Allah.4. Keutamaan Nama Allah (Lafzhul Jalalah)Nama “Allah” adalah nama yang paling agung.Seluruh nama Allah lainnya disandarkan kepada nama Allah, seperti:Ar-RahmanAr-RahimAl-MalikAl-QuddusAs-SalamAl-Aziz5. Makna Nama AllahBerasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan.Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah.Disembah oleh:Malaikat di langit.Orang-orang beriman di bumi.6. Perbedaan Ar-Rahman dan Ar-RahimAr-RahmanKasih sayang Allah yang umum untuk seluruh makhluk:Orang beriman maupun kafir.Berupa rezeki, kesehatan, makanan, keluarga, dan berbagai nikmat dunia.Ar-RahimKasih sayang Allah yang khusus untuk orang beriman:Hidayah.Iman.Taufik beramal saleh.Rahmat khusus di dunia dan akhirat.Dalil:“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Ahzab: 43)Hikmah dan Pelajaran🌿 Setiap aktivitas hendaknya diawali dengan Bismillah.🌿 Seorang muslim harus menyadari bahwa seluruh keberhasilan hanya terjadi dengan pertolongan Allah.🌿 Nama Allah adalah nama yang paling agung dan mencakup seluruh sifat kesempurnaan.🌿 Rahmat Allah sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya.🌿 Orang beriman mendapatkan rahmat yang lebih istimewa berupa hidayah, iman, dan taufik untuk beramal saleh.Kalimat Inti“Bismillah” bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi pengakuan bahwa seluruh amal hanya bisa terlaksana dengan pertolongan Allah, Rabb yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk dan Maha Penyayang khusus kepada orang-orang beriman. 🤍

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Ahzab 11

Tafsir Ibnu KatsirAl-Ahzab (33:11)Tema: BANTUAN ALLAH KEPADA KAUM MUSLIMIN DALAM PERANG AHZAB (Ayat 9-25)Allah subhanahu wata'āla menceritakan keadaan tersebut, yaitu ketika golongan yang bersekutu bermarkas di sekitar Madinah, sedangkan kaum muslim terkepung oleh mereka dalam keadaan yang sangat terjepit dan sangat gawat. Dan Rasulullah ﷺ. ada di antara mereka, mereka mendapat ujian dan cobaan yang berat, dan mereka diguncangkan oleh guncangan yang sangat kuat. Maka pada saat itulah tampak kemunafikan dan berkatalah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit nifak mengungkapkan apa yang terkandung di dalam diri mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (Al Ahzab:12)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka25 Agustus 2026
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami - Dr. Labib Najib Abdullah

Memberi Nafkah Keluarga Merupakan Prioritas UtamaDalam syariat, ada skala prioritas: yang paling penting didahulukan daripada yang penting.Nafkah keluarga menjadi prioritas utama dibandingkan kebutuhan lainnya.Hadis Abu Hurairah menjelaskan urutan pemberian harta: nafkah keluarga lebih utama daripada pengeluaran untuk kebutuhan lain.Memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban, sedangkan pemberian kepada selain keluarga umumnya berupa amal sunnah.Nafkah kepada keluarga tidak hanya bernilai kewajiban, tetapi juga dapat menjadi ibadah dan sumber pahala jika diniatkan karena Allah.Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin kuat motivasi untuk menafkahi keluarganya, bukan sekadar mencari keuntungan duniawi.Intinya: 👉 Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah kewajiban yang harus diprioritaskan, dan dengan niat yang benar, aktivitas tersebut menjadi ibadah yang berpahala.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Pustaka 25 Agustus

"Sungguh ditusuknya kepala seorang laki-laki dengan jarum dari besi itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya" - HR. Ath-Thabarani, No.487Larangan ini tidak hanya berlaku untuk laki-laki, tetapi juga wanita Muslimah. Hukum asal dari sentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah haram."Tidak aku tinggalkan sepeninggalanku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita." - HR. al-Bukhari, No.5096.Ini merupakan nasihat untuk diriku, sebelum dirimu dan kalian. Selama seorang perempuan dapat menjaga diri dari berinteraksi dari lawan jenis, maka hal itu termasuk kebaikan- kecuali dalam batas yang diperlukan karena adanya kebutuhan. Karena setan senantiasa mencari celah untuk menyesatkan manusia.Melalui hadist yang Rasulullah sampaikan tersebut, menggambarkan suatu kenyataan yang tak terbantahkan. Setiap wanita memiliki potensi untuk menimbulkan fitnah.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka25 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Kandungan bab 4 takut terhadap syiri

Syirik adalah perbuatan dosa yg harus ditakuti dan dijauhi. Riya' termasuk perbuatan syirik. Riya' termasuk syirik kecil. Syirik ashghar ini adalah perbuatan dosa yg paling di khawatirkan oleh Rasulullah terhadapa para sahabat, padahal mereka itu adalah orang² sholeh. Surga dan neraka adalah dekat. Dekatnya surga dan neraka telah sama² disebutkan dalam satu hadits. Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun pasti msuk surga. Tetapi barangsiapa mati dalam keadaan berbuat sesuatu syirik kepada-Nya pasti masuk neraka, sekalipun dia termasu orang yg paling banyak ibadah nya. Masalah penting yaitu: Bahwa nabi Ibrahim memohon kepada Allah untuk diri dan anak cucunya supaya dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala. Nabi Ibrahim mengambil pelajaran dari keadaan sebagian besar manusia yaitu: Bahwa mereka itu adalah sebagaimana kata beliau "Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia (Ibrahim:36) "Bab ini mengandung tafsir kalimat Laa Ilaaha Illallah sebagaimana dalam hadits yg diriwayatkan Oleh Al-Bukhari (yaitu pembersihan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah). Keutamaan orang yg dirinya bersih dari syirik.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:38

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:38)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Catatan kaki:210837. Ar-Ras adalah telaga yang sudah kering airnya. Kemudian, dijadikan nama suatu kaum, yaitu kaum Ar-Ras. Mereka menyembah patung, lalu Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengutus Nabi Syuʻayb ‘Alaihissalām kepada mereka.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Samud dan penduduk Rass. (Al Furqaan:38)Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan kisah mengenai kaum Ad dan kaum Samud bukan hanya dalam satu surat, seperti dalam surat Al-A'raf, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam pembahasan ini.Adapun mengenai penduduk Rass, menurut Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa mereka adalah penduduk suatu kota dari kalangan kaum Samud. Ibnu Juraij mengatakan, Ikrimah pernah mengatakan bahwa penduduk Rass bertempat tinggal di Falj, mereka adalah penduduk Yasin. Qatadah mengatakan bahwa Falj termasuk salah satu kota yang terletak di Yamamah.Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan berikut sanadnya melalui Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan penduduk Rass. (Al Furqaan:38) Rass adalah nama sebuah sumur yang terletak di Adzerbijan. As'-Sauri meriwayatkan dari Abu Bakar, dari Ikrimah, bahwa Rass adalah nama sebuah sumur, penduduk di sekitarnya mengebumikan nabi mereka di dalam sumur itu.Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda, "Sesungguhnya manusia yang mula-mula masuk surga kelak di hari kiamat adalah seorang hamba berkulit hitam. Demikian itu karena Allah subhanahu wata'āla mengutus seorang nabi kepada penduduk suatu kota, tiada yang beriman dari kalangan penduduk kota itu kecuali hamba yang berkulit hitam tersebut. Kemudian penduduk kota menangkap nabi mereka, lalu membuat sebuah sumur. Selanjutnya mereka melemparkan nabinya ke dalam sumur itu, kemudian mulut sumur itu mereka tutup dengan batu besar. Hamba itu setiap harinya berangkat mencari kayu, kemudian kayu itu ia panggul di atas pundaknya dan dijualnya kayu itu, hasilnya ia belikan makanan dan minuman. Kemudian ia membawa makanan dan minuman itu ke sumur tersebut. Lalu ia mengangkat batu besar itu dengan pertolongan dari Allah (hingga ia kuat mengangkatnya sendirian), kemudian ia mengulurkan makanan dan minuman itu ke dalam sumur. Setelah selesai, ia mengembalikan batu itu seperti sediakala. Demikianlah yang dilakukan oleh si hamba itu setiap harinya selama masa yang dikehendaki oleh Allah. Lalu pada suatu hari seperti biasanya ia mencari kayu. Setelah beroleh kayu, ia mengumpulkannya dan mengikatnya. Ketika hendak memanggulnya, tiba-tiba rasa kantuk berat menyerangnya. Ia berbaring sebentar untuk istirahat dan tertidur, maka Allah menjadikannya tertidur selama tujuh tahun. Setelah itu ia terbangun dan menjulurkan tubuhnya, lalu pindah ke sisi lambung yang lain, maka Allah menjadikannya tertidur lagi selama tujuh tahun berikutnya. Kemudian ia terbangun, lalu memanggul ikatan kayunya, sedangkan dia mengira bahwa dirinya hanya tidur selama setengah hari. Lalu ia datang ke kota dan menjual kayunya, lalu membeli makanan dan minuman seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia pergi menuju sumur tersebut yang di dalamnya terdapat seorang nabi yang disekap. Lalu ia mencarinya, tetapi ternyata ia tidak men­jumpainya. Tanpa diketahuinya kaumnya telah sadar, lalu mereka mengeluarkan nabi itu dari dalam sumur tersebut, dan mereka beriman kepadanya serta membenarkannya. Lalu Nabi itu menanyakan kepada mereka perihal si budak hitam, apa saja yang dilakukannya? Mereka menjawab, 'Kami tidak mengetahui,' hingga akhirnya nabi itu wafat. Sesudah itu si budak hitam tersebut terbangun dari tidurnya." Maka Rasulullah ﷺ. bersabda: Sesungguhnya budak hitam itu adalah orang yang mula-mula masuk surga.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ka'b secara mursal. Akan tetapi, di dalamnya terdapat garabah dan nakarah. Barangkali di dalam hadis terdapat idraj, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.Ibnu Jarir mengatakan, tidak boleh menakwilkan bahwa mereka adalah penduduk Rass yang disebut di dalam Al-Qur'an, karena Allah telah menceritakan perihal mereka, bahwa Allah telah membinasakan mereka, sedangkan yang disebut di dalam hadis ini mereka beriman dan percaya kepada nabinya. Terkecuali jika ditakwilkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah bapak-bapak mereka binasa, lalu keturunannya beriman kepada nabi mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan penduduk Rass ialah orang-orang yang memiliki galian (parit), yaitu mereka yang disebut di dalam surat Al-Buruj. Hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.Firman Allah subhanahu wata'āla:dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. (Al Furqaan:38)Yakni umat-umat yang jumlahnya berkali lipat daripada mereka yang telah disebutkan, semuanya telah Kami binasakan.untuk prompt AI jika mau boleh menggunakan prompt ini:

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 25 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Hūd: 77​Allah menceritakan kedatangan utusan malaikat kepada Nabi Luth setelah memberikan kabar kepada Nabi Ibrahim bahwa mereka akan membinasakan kaum Luth pada malam itu atas perintah Allah. Malaikat datang kepada Nabi Luth (di ladang miliknya atau di rumahnya) dalam rupa pemuda yang sangat tampan sebagai ujian dari Allah.​Penjelasan Potongan Ayatوَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا لُوطًا سِيٓءَ بِهِمۡ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعًا ​"Dan ketika utusan-utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Lut, dia merasa curiga dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka..."​Penjelasan: Ketampanan para tamu membuat Nabi Luth kerepotan dan merasa sesak dadanya. Ia khawatir jika tidak menerima mereka, kaumnya akan mengambil mereka dan berbuat buruk (fahsya) terhadap mereka.​ وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٌ ​"...dan Lut berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.'"​Penjelasan (Ibnu Abbas & lainnya): Makna 'asib adalah ujian yang sangat berat. Nabi Luthbmenyadari ia harus membela para tamunya dari kejahatan kaumnya, dan hal itu terasa sangat berat baginya.Riwayat & Detail Peristiwa​Kisah Riwayat Qatadah:​Malaikat menemui Nabi Luth a.s. di ladang miliknya. Karena merasa malu dan khawatir, Nabi Luth a.s. berjalan di depan mereka sambil berkata seolah memberi peringatan agar mereka pergi: "Demi Allah, hai kalian, aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini suatu penduduk kota yang lebih kotor dan lebih jahat daripada mereka."​Nabi Luth a.s. mengulang perkataannya hingga empat kali. Para malaikat memang diperintahkan oleh Allah untuk tidak membinasakan kaum tersebut sebelum Nabi mereka memberikan kesaksian atas kejahatan kaumnya.​Kisah Riwayat As-Saddi:​Malaikat sampai di Sungai Sodom pada tengah hari dan bertemu putri Nabi Luth a.s. yang sedang memberi minum ternaknya.​Malaikat bertanya: "Hai gadis, apakah ayahmu ada di rumah?" Putri Nabi Luth a.s. menyuruh mereka menunggu agar tidak terlihat oleh kaumnya, lalu ia memberitahu ayahnya: "Hai ayah, susullah beberapa pemuda yang ada di pintu gerbang kota, aku belum pernah melihat wajah kaum yang setampan mereka, agar mereka tidak diculik oleh kaummu."​Meskipun sebelumnya dilarang oleh kaumnya untuk menerima tamu laki-laki, Nabi Luth a.s. memberanikan diri menemui dan menerima mereka.​Nabi Luth a.s. merahasiakan kedatangan mereka dari orang lain, tetapi istrinya keluar dan membocorkan keberadaan para tamu tampan tersebut kepada kaumnya. Akibatnya, kaumnya bergegas mendatangi rumah Nabi Luth a.s.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 77

Selasa, 25 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 77Pembahasan Dalil Keenam, Hadits Shahih Riwayat Jarir Bin Abdillah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ"Dan barang siapa yang menempuh/mengamalkan di dalam Islam sunnah yang buruk (sayyi'ah), lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun."(Catatan: Lafaz yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah sunnah sayyi'ah, bukan sunnah jahiliyyah, walau secara makna mencakup hal yang sama).Dalil-Dalil Penyerta:Dalil Bahwa Bid'ah Bertentangan dengan Islam:​مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ"Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak."Dalil Kesesatan Bidah (Pendapat Sahabat/Atsar):​كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً"Setiap bid'ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah)."​Poin-Poin Garis Besar Kandungan​Hakikat Sunnah Sayyi'ah:Segala amalan yang bertentangan dengan ajaran Islam atau amalan jahiliyyah yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, di mana salah satu bentuk utamanya adalah perbuatan bid’ah.Ancaman Dosa Berantai:Pelopor bid'ah atau amalan buruk akan menanggung dosa pribadinya sekaligus menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat tanpa mengurangi dosa para pengikutnya sedikit pun.Alasan Bid'ah Lebih Bahaya daripada Dosa Besar (Kaba'ir):​Status Keadaan Pelaku: Pelaku dosa besar (seperti zina, khamar, merokok, atau riba) menyadari dan mengakui bahwa perbuatannya adalah kemaksiatan/kejelekan. Mereka umumnya malu, menyembunyikannya dari keluarga, dan tidak mendakwahkannya.​Jeratan Penyesatan Bid’ah:Perbuatan bid'ah dihiasi oleh setan sehingga pelakunya menganggapnya sebagai kebaikan, bentuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), dan media ibadah.​Daya Sebar: Karena dianggap sebagai kebaikan, pelaku bid'ah tidak ragu untuk bangga, menyebarkan, dan mendakwahkannya kepada orang lain atau keluarganya. Akibatnya, bid'ah lebih cepat dicontoh dan diikuti oleh orang lain, yang menjadikan dosanya kian berlipat ganda bagi si pelopor.​KesimpulanHadits riwayat Jarir bin Abdillah radhiyallāhu 'anhu dalam Shahih Muslim menegaskan bahaya sunnah sayyi'ah (khususnya bidah). Bidah tergolong lebih berbahaya daripada dosa besar (kaba'ir) karena bid'ah terselubung dalam bentuk kebaikan yang dihiasi setan, sehingga pelakunya merasa sedang beribadah dan aktif menyebarkannya. Hal ini menyebabkan perbuatan bid'ah sangat mudah dicontoh orang lain, yang pada akhirnya memberikan beban dosa berantai dan berlipat ganda kepada orang yang pertama kali memeloporinya tanpa mengurangi dosa pengikutnya sedikit pun.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Al-Qalam 68:17–28

Ringkasan Al-Qalam 68:17–28Tema: Allah menimpakan cobaan kepada orang kafir seperti yang ditimpakan kepada pemilik kebunAyat 17–18: Allah memberi nikmat kepada para pemilik kebun, tetapi mereka tidak bersyukur. Dahulu ayah mereka yang saleh selalu menyisihkan hasil kebun untuk orang miskin. Setelah ayahnya meninggal, mereka berniat mengambil seluruh hasil panen dan tidak memberikan sedikit pun kepada fakir miskin.“وَلَا يَسْتَثْنُونَ” (68:18): Ditafsirkan sebagai tidak mengucapkan “insya Allah” karena terlalu yakin rencana mereka pasti terlaksana. Ada pula tafsiran: tidak menyisihkan bagian untuk orang miskin.Ayat 19–20: Saat mereka tidur, Allah mengirimkan azab kepada kebun tersebut. Kebun yang sebelumnya hijau dan penuh buah terbakar habis, hingga menjadi hitam seperti malam.Ayat 24: Pagi harinya mereka berangkat dengan penuh semangat sambil berbisik agar jangan sampai ada orang miskin yang mendapat hasil panen.Ironisnya, mereka sibuk merencanakan bagaimana menghalangi orang miskin, sementara kebun mereka sendiri telah hancur.Ayat 26–27: Ketika melihat kebun yang telah hitam, awalnya mereka mengira telah salah jalan. Setelah yakin bahwa itu kebun mereka, mereka sadar bahwa merekalah yang terhalangi dari hasil panen, bukan orang miskin.Ayat 28: Salah seorang dari mereka mengingatkan bahwa seharusnya mereka bertasbih kepada Allah, yaitu bersyukur, menaati perintah-Nya, dan tidak berniat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah, seperti menolak memberikan hak orang miskin.💡 Pelajaran utamaNikmat yang tidak disyukuri dan digunakan untuk berbuat zalim dapat menjadi sebab hilangnya nikmat tersebut.Allah mengajarkan bahwa:Jangan merasa pasti terhadap rencana masa depan tanpa mengaitkannya dengan kehendak Allah.Dan jangan sampai keserakahan membuat kita menghalangi hak orang lain, karena bisa jadi sesuatu yang kita pertahankan dengan pelit justru menjadi sebab Allah mencabut seluruh nikmat yang kita miliki.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.Disebutkan dalam sebuah riwayat:فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِDia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.Berarti ucapan beliauفِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِBarang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِBarang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haramحَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌSehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُNamun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِAkhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.فَيَدْخُلُهَاLalu dia pun masuk ke dalam Surga.Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Al Haqqah: 9

Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:9)Mereka orang-orang kafir Quraisy menginginkan agar Nabi ber-mudahanah, yaitu jika Nabi berhenti mencela sesembahan dan nenek moyang mereka, serta menghentikan dakwahnya, maka mereka juga akan berhenti dan tidak akan mencela Nabi ﷺ lagi sebagai orang gila. Artinya mereka memberi tawaran karena merasa terganggu ketika mereka disebut sebagai orang musyrik. Bahkan mereka mengatakan,إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ“(Orang-orang musyrikin berkata) Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf : 22)Akan tetapi Nabi ﷺ membantah mereka dengan mengatakan bahwa mereka itu sesat, dan nenek moyang mereka pun dahulu dalam kesesatan. Tentu hal ini hanya menambah kemarahan orang-orang musyrikin.Di hadapan kita ada istilah الْمُدَاهَنَةُ mudahanah dan الْمُدَارَاةُ mudarah. Mudahanah adalah mencari kemaslahatan duniawi dengan mengorbankan agama. Contohnya adalah seseorang yang ingin berteman dengan seorang kawannya yang bermain musik, maka dia ikut bermain musik agar bisa berteman dengan orang tersebut meskipun dia tahu akan haramnya musik. Misalnya pula warga di lingkungan tempat tinggal kita sering bermain judi, maka agar bisa enak bergaul dan mengobrol dengan mereka maka kita pun ikut bermain judi meskipun kita sadar bahwa judi itu haram. Misalnya lagi seseorang yang bertanya tentang bolehnya suatu perkara, maka kita pun memperbolehkan agar orang tersebut tidak marah, meskipun kita tahu hal tersebut tidak boleh dalam syariat. Inilah yang disebut dengan mudahanah, dan hal seperti ini tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu, kita hendaknya menyampaikan syariat dengan sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, akan tetapi yang syirik tetap kita katakan sebagai syirik, yang bid’ah tetap kita katakan sebagai bid’ah, yang maksiat tetap kita katakan sebagai maksiat. Jangan kemudian kita ber-mudahanah sehingga yang maksiat kita katakan sebagai halal, yang bid’ah menjadi sunnah, dan yang syirik menjadi tauhid. Kita harus menyampaikan syariat Islam sesuai dengan apa yang Allah ﷻ kehendaki dan telah dijelaskan oleh Rasul-Nya, bukan syariat yang kita modifikasi dengan dalih agar diterima masyarakat. Tentunya hal syariat tersebut harus kita sampaikan seadanya, namun dengan kata-kata yang baik, serta dalil yang jelas.Mudaraah adalah mengorbankan sedikit dari kemaslahatan dunia demi untuk agama. Contoh mudarah adalah apabila ada orang yang memaki-maki kita maka kita tetap sikapi dengan sabar dan tetap berusaha mendekati hatinya agar dakwah tetap berlangsung. Hal seperti ini (mudarah) adalah hal yang dianjurkan. Contohnya seorang da’i yang sedang berbicara masalah tauhid, lalu para jemaahnya merokok di depannya sehingga sang da’i merasa terganggu dengan hal tersebut. Tetapi dia tetap bersabar menyampaikan dakwahnya, bahkan dia tetap bersabar meskipun kesehatannya tersebut terganggu, demi agar dakwah bisa sampai kepada orang tersebut. Ini adalah salah satu contoh sikap mudarah, mengorbankan sebagian maslahat duniawi demi kemaslahatan agama. Sikap mudarah adalah hal yang dibolehkan, adapun mudahanah adalah sikap yang tidak diperbolehkan. (30)Dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang ada yang berbeda dengan kita. Maka kita boleh bersikap lembut kepada mereka tanpa harus mengatakan bahwa kesalahan mereka sebagai kebenaran. Bukan bersikap lembut kepada mereka dengan mengikuti kesalahan yang mereka lakukan. Kalau ada seseorang yang bermaksiat maka kita harus katakan itu sebagai maksiat, yang syirik tetap syirik, dan yang haram tetap haram. Jangan sampai karena slogan “toleransi” sehingga kita ikut-ikut dalam kemaksiatan mereka. Karena yang demikianlah yang disebut sebagai sikap ber-mudahanah, yaitu sikap yang diinginkan oleh orang-orang musyrikin terhadap Nabi ﷺ.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Ketika Bani Israil diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang zalim di Palestina, mereka menolak dan mundur, meskipun Allah جل جلاله telah memberikan janji kemenangan. Nabi Musa, meski ditemani oleh Nabi Harun, Yusya’ bin Nun, dan Kalib bin Yufanna yang setia, tidak bisa maju sendirian dalam berjihad. Akibat ketidakpatuhan kaum Bani Israil, jihad tersebut pun tidak terlaksana.Karena mereka menolak untuk berjihad, maka negeri Palestina diharamkan bagi mereka. Akibatnya, ketika mereka kembali ke negeri tersebut, Allah جل جلاله menyesatkan mereka. Mereka terjebak di suatu tempat di mana mereka hidup dan berkembang biak tanpa mampu keluar dari sana. Ke mana pun mereka pergi, mereka selalu berputar di lokasi yang sama.Masa ini dikenal sebagai masa “at-Tîh”, yaitu masa di mana Allah جل جلاله menyesatkan mereka sehingga mereka tidak dapat mencapai Palestina.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman Kepada Takdir Halaqah 2

Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ[QS Al-Qamar 49] “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”Dan Allah berfirman,… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا[QS Al-Furqan 2] “Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا[QS Al-Ahzab 38] “Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda,كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155] Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →