📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحم الله : باب ما جاء أن البدعة أشد من الكبائرBab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan (berupa dalīl) yang menjelaskan bahwasanya bid’ah ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada al-kabāir.أشد من الكبائر“Dia lebih dahsyat, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar”Al-Kabāir (الكبائر) jamak dari kabirah (كبيرة) dan yang di maksud adalah dosa-dosa besar. Terkadang maknanya adalah makna yang umum, masuk di dalamnya seluruh dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islām maupun dosa-dosa yang sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.Terkadang makna كَبَائِر adalah sesuatu yang umum, seluruh dosa yang besar baik yang tidak mengeluarkan maupun yang mengeluarkan dari agama Islām.Thayyib, dari sisi ini, berarti syirik termasuk kabāir (makna kabāir secara umum). Bid’ah termasuk dosa besar.ذَكَرَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الكَبَائِرَ، أوْ سُئِلَ عَنِ الكَبَائِرِNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang dosa besar, kemudian beliau menyebutkan:الشِّرْكُ باللَّهِ، وقَتْلُ النَّفْسِ، وعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ“Syirik kepada Allāh, membunuh jiwa dan juga durhaka kepada orang tua”Al-kabāir (الكَبَائِرِ) di sini makna yang umum, buktinya apa? Disebutkan di sini الشِّرْكُ باللَّهِ berarti di sini, disebutkan di dalam hadīts ini adalah الكَبَائِرِ dengan makna umum. Berarti masuk di dalamnya kesyirikan.Di sana ada makna الكَبَائِرِ yang lebih khusus yaitu dosa-dosa besar di bawah kesyirikan dan juga bid’ah.Seluruh dosa besar di bawah syirik dan bid’ah di namakan dengan الكَبَائِرِ.Jadi urutannya yang paling tinggi, adalah apa? Syirik kemudian yang kedua adalah bid’ah kemudian yang ketiga adalah al-kabāir.Yang paling besar dosanya adalah syirik kemudian urutan kedua adalah bid’ah kemudian yang ketiga adalah al-kabāir.Thayyib, al-kabāir yang ana gunakan di sini al-kabāir dengan makna khusus atau umum? khusus yaitu seluruh dosa besar di bawah syirik dan juga di bawah bid’ah. Itu di namakan dengan kabāir.Makanya jangan ada yang mengatakan,”Loh ustd, itu syirik kan termasuk dosa besar?”. Yang kita pakai sekarang ini adalah kabāir dengan makna yang khusus yaitu dosa-dosa besar di bawah syirik dan juga bid’ah.Adapun yang ada di dalam hadīts tadi maka itu adalah kabāir dengan makna yang umum masuk di dalamnya syirik dan juga bid’ah. Dan pengertian kabāir adalah seluruh dosa yang diancam yang pertama dengan laknat misalnya atau diancam dengan neraka.Disebutkan ancaman neraka secara khusus atau hukuman di dunia, contoh laknat misalnya meratap (ada ancaman laknat di situ), atau menyerupai lawan jenis. Seorang wanita berdandan dengan dandanan laki-laki atau seorang laki-laki berdandan dengan dandanan wanita.Ancaman dengan neraka seperti isbal.Hukuman di dunia seperti mencuri dipotong, kemudian membunuh tanpa hak, berzina, baik yang muhshan maupun tidak muhshan dua-duanya mendapatkan hukuman di dunia.Bagaimana para ulama bisa mengarang kitāb al-kabāir seperti Adz-Dzahabi, ada apa dengan kaidah ini? Tatabu’ , istiqra ayat dan juga hadīts yang isinya adalah tentang ancaman dari sebuah dosa. Kalau itu disebutkan di sana laknat atau hukuman dengan neraka, hukuman di dunia, maka ini termasuk dosa besar.Manakah yang lebih besar dosanya, bid’ah atau al-kabāir? Inilah yang ingin beliau sebutkan di sini, akibat dari seseorang tidak pasrah di dalam masalah tata-cara beribadah kemudian dia melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa yang besar bahkan dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.Kita tahu bahwasanya dosa-dosa besar di dalamnya ada zina, di dalamnya ada membunuh, ternyata orang yang melakukan bid’ah lebih besar dosanya daripada orang yang berzina dan kita tahu, bagaimana hukuman zina dan bagaimana besar dosanya. Sampai orang yang muhshan kalau dia berzina maka dia di halalkan darahnya, dirajam sampai dia meninggal dunia dan orang yang belum pernah menikah dengan pernikahan yang syar’i maka dia dicambuk kemudian diasingkan selama 1 tahun.Thayyib, kalau berzinanya dua kali, mana yang lebih besar, dosa bid’ahnya atau zinanya? Tetap bid’ahnya. Kalau berzinanya tiga kali, tetap bid’ahnya. Seandainya dia berzina sepuluh kali maka tetap besar dosa bid’ahnya.Ini menunjukkan tentang bahayanya melakukan bid’ah, bahayanya tidak kaffah di dalam Islām, tidak pasrah di dalam masalah tata-cara ibadah, sampai dosa tersebut lebih besar daripada dosa kabāir dzunub, kalau kabāir dzunub sudah menghancurkan seseorang, mengurangi keimanannya dan bisa menghancurkan kehidupan seseorang lalu bagaimana dengan bid’ah yang dia dosanya lebih besar daripada dosa-dosa besar tadi.Tentunya ini adalah menunjukkan tentang betapa bahayanya bid’ah, betapa bahayanya orang yang tidak pasrah di dalam masalah tata-cara ibadah.

💬 0 komentar📅 25 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 63

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan IstislamHalaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan IstislamKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلامDan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullāh , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allāh apa yang Allāh kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ kita imani sebagaimana datangnya,فمن رام علم ما حُظر عنه علمه ولم يقنع بالتسليم فهمه؛ حجبه مرامه عن خالص التوحيد وصافي المعرفة وصحيح الإيمانMaka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allāh tentang sifat-sifat Allāh maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwilولم يقنع بالتسليم فهمه؛Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allāh padahal Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allāh memiliki arah,حجبه مرامه عن خالص التوحيدKalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allāh didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allāh benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allāh dengan masalah rububiyah Allāh dalam masalah uluhiyah Allāh ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allāh dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad ﷺ tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allāh itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allāh itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,وصافي المعرفةDemikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allāh dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allāh pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allāh hanya mengenal Allāh dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurangوصحيح الإيمان،Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allāh tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allāh ingin dia menyucikan Allāh tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullāh dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala yang pencipta,فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Antara keimanan dan juga kekufuran,Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,والتصديق والتكذيب،Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,والإقرار والإنكارAda sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkariموسوساً تائهاًDalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,موسوساً تائهاًDalam keadaan dia juga bingung.Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allāh katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah ﷺ, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allāh kita tidak butuh dengan ilmu kalamشاكًا جائظDalam keadaan dia ragu-raguItu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,Mereka dalam keadaan menyimpangلا مؤمنًا مصدقًاMereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.ولا جاحداً مكذباًDan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 13 KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العاشرSimpul yang ke 10, prinsip yang ke-10 yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu adalahملازمة آداب العلمYaitu kita melazimi adab-adab dalam ilmu.Kita harus memperhatikan ketika kita ingin mendapatkan ilmu, maka kita harus dapatkan ilmu tadi dengan menjaga adab-adabnya.Adab di sini, adab bersama diri Antum sendiri. Sebagai seorang penuntut ilmu harus memiliki sifat ini dan sifat itu, kemudian juga adab terhadap guru Antum ini harus diperhatikan, adab terhadap teman Antum satu angkatan atau satu halaqah dengan Antum, ini juga harus diperhatikan.Kalau kita memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu itu sendiri.Tapi kalau kita katanya ingin menuntut ilmu tapi tidak memperhatikan adab-adabnya, memperlakukan gurunya sebagaimana dia memperlakukan temannya, dia bergaul dengan teman-temannya yang satu halaqah satu guru seperti ketika dia bergaul dengan seorang bawahannya, tidak ada penghormatan terhadap teman, tidak ada penghormatan terhadap guru, maka orang yang demikian tidak akan mendapatkan ilmu agama.Orang yang demikian berarti dia tidak mengagungkan ilmu. Ketika dia tidak menggunakan adab-adab dalam menuntut ilmu, maka berarti dia tidak mengagungkan ilmu. Dan orang yang demikian maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.قال ابن القيم في كتابه مدارج السَّالكينBerkata Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau Madarijus Salikin,أدبُ المرء عنوان سعادته وفلاحهAdab seseorang itu adalah ciri dari kebahagiaan dia dan kesuksesan dia.Ciri orang bahagia itu ketika kita lihat dia beradab. Dan orang yang beradab maka dia akan sukses. Orang yang menjaga adabnya dalam menuntut ilmu maka dia akan sukses di dalam menuntut ilmu. Ini bukan ucapan orang biasa, ini ucapan Ibnul Qayyim murid dari Syaikhul Islam.Orang yang beradab maka itu menunjukkan kebahagiaan dia dan menunjukkan tentang kesuksesan dia itu akan membawa kepada kesuksesan dia.وقِلَّةُ أدبه عنوان شقاوته و بَوَارهDan tidak beradabnya seseorang atau sedikitnya adab seseorang itu adalah ciri kecelakaan dia dan kebinasaan dia.Orang yang sedikit adabnya itu menunjukkan tentang kecelakaan, apalagi orang yang tidak punya adab.فما ٱستُجْلِبَ خير الدُّنيا والآخرة بمثل الأدبMaka tidak didapatkan kebaikan dunia dan akhirat seperti adab.Maksudnya adalah kebaikan dunia dan akhirat itu didapatkan dengan adab.Orang yang beradab ketika di dunia, dia sopan, dia rajin, biasanya ini lebih disenangi oleh orang. Kita memberikan kepadanya itu tidak ragu-ragu. Orangnya dikenal baik, orangnya dikenal beradab, orangnya dikenal menghormati sama kita, kasih dan berikan kepada orang tersebut dan kita tidak akan ragu-ragu memberikan kepada orang tersebut, ini kebaikan dunia.Kebaikan akhirat, termasuk diantara ilmu agama, kalau seorang murid dia beradab kepada gurunya, sopan kepada gurunya, menjaga adab-adab sebagai seorang murid, maka dengan mudahnya guru tadi akan memberi apa yang dia miliki.ولا ٱستُجْلِبَ حرمانهما بمثل قِلَّة الأدبDan tidak diharamkan dari kebaikan dunia dan akhirat dengan sebab seperti kurangnya adab.Yaitu dengan sebab kekurangan adab seseorang, akhirnya dia diharamkan dari kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat. Karena dia tidak sopan, karena dia tidak menjaga adab, sehingga kebaikan dunia tidak dia dapatkan dan dalam masalah akhirat juga tidak dia dapatkan.والمرء لا يسمو بغير الأدبِوإن يكن ذا حَسَبٍ و نسبٍSeseorang itu tidak akan tinggi derajatnya tanpa adab (dia bisa tinggi derajatnya kalau dengan adab) meskipun dia adalah orang yang punya kedudukan dan dia punya nasab.Dia punya kedudukan tapi kalau dia tidak punya adab, rendah di hadapan manusia. Orang kaya tapi dia ucapannya tidak sopan, dia pejabat tapi dia tidak sopan, tidak menghormati orang lain, maka dia menjadi rendah derajatnya di hadapan manusia.Meskipun dia punya nasab yang bagus, itu keluarga bapak Fulan bin Fulan tapi dia seperti itu, rendah di hadapan orang lain karena dia tidak memiliki adab.Tapi sebaliknya seorang anak orang yang miskin, orang yang tidak punya kedudukan, tapi dia dikenal sopan di hadapan manusia, tindak-tanduknya, ucapannya terhadap yang lebih tua, terhadap gurunya, maka dia memiliki derajat yang tinggi, anak ini sopan, anak ini beradab.وإنَّما يصلُح للعلم من تأدَّب بآدابه في نفسه ودرسه، ومع شيخه وقريبهSesungguhnya pantas untuk mendapatkan ilmu orang yang beradab dengan adab-adab ilmu baik adab dia terhadap dirinya sendiri, dia menjaga muruah dia, menjaga kehormatan dia sebagai seorang penuntut ilmu, jangan dia samakan dia dengan orang lain. Dia sebagai seorang penuntut ilmu yang dia bawa adalah ilmu, yang dia pelajari adalah ilmu, harusnya berbeda antara sikap dia dengan orang lain, harus nampak pengaruh dari ilmu tersebut pada dirinya.Demikian pula adab dia ketika dars, ketika di dalam halaqah ilmu, dia harus nampakkan adab-adab ilmu, konsentrasi terhadap ilmu, menghadap kepada gurunya, mencatat, tidak menyibukkan diri dengan yang lain.ومع شيخهDan juga adab ketika bersama gurunya,وقريبهDan adab dia bersama teman-temannya.Yang berhak mendapatkan ilmu, yang bisa mendapatkan ilmu, adalah orang-orang yang mereka menjaga adab-adab tersebut.قال يوسف بن الحسينBerkata Yusuf Ibnul Husain,بالأدب تفهم العمDengan adab kamu bisa memahami ilmu.Ini ucapan yang agung. Dengan adab, Antum bisa memahami ilmu. Kalau kita tidak beradab, maka kita tidak bisa memahami ilmu. Berarti harusnya belajar adab dulu, baru kita bisa mendapatkan ilmu. Mempelajari adab-adab sebagai seorang penuntut ilmu barulah kita bisa mendapatkan ilmu sebagaimana nanti ada ucapan para Salaf yang menunjukkan tentang pentingnya mempelajari adab.لأنَّ المتأدِّب يرُىٰ أهاً للعلم فَيُبذلُ لهKarena orang yang beradab, berarti dia dilihat orang yang pantas untuk mendapatkan ilmu tadi, maka diberikan kepadanya.Ada seorang murid misalnya datang kepada gurunya, dia mengatakan, Syaikhuna semoga Allāh ﷻ menjagamu, semoga Allāh ﷻ memberikan kebaikan kepadamu, tadi ada yang Ana permasalahan, ada satu yang Ana kurang paham tentang masalah ini. Dia beradab dalam bertanya, maka dengan senang hati guru tadi akan memberikan apa yang dia miliki.Tapi ketika datang yang ke dua, dia mengatakan, Syaikh atau Ustadz, tadi Antum bilang dalam majelis demikian, demikian, itu kan bertentangan dengan Firman Allāh ﷻ, itu bertentangan dengan hadits, kan Imam Nawawi mengatakan demikian tapi Ustadz Fulan kemarin mengatakan demikian Ustadz, ini tidak beradab.Kalau terlihat murid tadi tidak beradab, maka guru tadi dia tidak akan mau menjawab dan akan tidak rela untuk memberikan ilmunya kepada murid tadi. Yang seperti ini tidak berhak untuk mendapatkan ilmu.Yang pertama karena dia beradab maka dia mendapatkan ilmu tapi yang kedua sama-sama bertanya tapi tanpa adab maka dia pun tidak akan mendapatkan ilmu, dia mau belajar sama siapa saja kalau demikian caranya maka dia tidak akan diberikan.وقليل الأدب يُعزُّ العلمُ أن يُضيَّعَ عندهOrang yang beradab maka dia akan pantas untuk mendapatkan ilmu tadi, maka diberikan. Tapi orang yang tidak beradab, sayang diberikan kepada orang tadi karena dia tidak punya adab. Seandainya itu diberikan kepadanya, maka ini akan disia-siakan oleh orang tersebut.Makanya,بالأدب تفهم العمDengan adab engkau bisa memahami ilmu.ومن هنا كان السَّلف – رحمهم الله – يعتنون بتعلُّم الأدب، كما يعتنوون بتعلُّم العلمDari sinilah para Salaf dahulu mereka memperhatikan tentang masalah mempelajari adab sebagaimana mereka memperhatikan dalam masalah mempelajari ilmu.Jadi sebagaimana mereka punya perhatian besar mempelajari ilmu, demikian pula mereka punya perhatian besar dalam masalah mempelajari adab. Belajar adab dulu baru mempelajari ilmu.قال ابن سيرينَ كانوا يتعلَّمون الهدى كما يتعلَّمون العلمDahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka dahulu mempelajari ilmu.Jadi kadang dalam majelis ilmu dia melihat dulu bagaimana adab guru tersebut, bagaimana adab murid-murid yang ada di sekitarnya kepada gurunya, kalau baca kitab itu seperti itu awalnya demikian dan demikian, kalau mau bertanya kepada guru caranya seperti itu, kalau mau meminta izin kepada guru caranya seperti itu, dia belajar dulu, mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.بل إنَّ طائفةً منهم يُقدِّمون تعلُّمه علىٰ تعلُّم العلمBahkan sebagian mereka mendahulukan untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu.Karena seperti tadi kalau kita tidak belajar adab dulu langsung kita menuntut ilmu, bertanya tidak beradab, mengoreksi kesalahan guru tidak beradab, ketika dia murajaah dengan teman-temannya juga tidak beradab, akhirnya hancur, rusak semuanya. Tapi kalau dia mempelajari adab terlebih dahulu maka dia bisa mendapatkan ilmu InsyaAllāh.قال مالك بن أنسٍ لفتًى من قريشٍBerkata Malik ibn Anas kepada seorang pemuda dari Quraisy,يا ابن أخي، تعلَّمِ الأدب قبل أن تتعلَّمَ العلمWahai anak saudaraku, hendaklah engkau mempelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu.و كانوا يُظهِرون حاجتهم إليهDan mereka dahulu (para Salaf) menampakkan kebutuhan mereka dan keperluan mereka terhadap adab.Mereka menampakkan bahwasanya mereka sangat membutuhkan dan sangat memerlukan adab ini.قال مَخْلَد بنُ الحسين لابنِ المبارك يومًاPada suatu hari Makhlad Ibn Husein berkata kepada Ibnul Mubarak,نحن إلىٰ كثيرٍ من الأدب أحوج منَّا إلىٰ كثيرٍ من العلمPadahal ini sama-sama ulama Ibnul Mubarak dengan Makhlad Ibnu Husein, mereka menampakkan kebutuhan mereka terhadap ilmu.“Kita ini lebih butuh untuk mempelajari adab dari pada mempelajari banyak ilmu.”Kita ini masih perlu banyak belajar tentang masalah adab. Padahal ini para ulama, mereka mengatakan demikian, karena dengan adab ini maka mereka bisa mendapatkan ilmu. Kalau tidak punya adab maka tidak mendapatkan ilmu.و كانوا يُوصون به، و يُرشدون إليهBahkan mereka dahulu mewasiatkan untuk mempelajari adab dan menunjukkan orang lain supaya mempelajari adab.قال مالكٌBerkata Malik,كانت أُمِّي تعَمِّمُني، وتقول لي: ٱذهبْ إلىٰ ربعيةَ – تعني ابنَ أبي عبد الرَّحمن فقيهَ أهلِ المدينة في زمنه – فتعلَّم من أدبه قبل علمهImam Malik mengatakan dahulu ibunya mendandani beliau memakaikan imamah (sorban) pada beliau, dipakaikan Sorban supaya menghadiri majelis ilmu. Berarti dia masih kecil tapi sudah mulai belajar.Ketika ibunya sambil memakaikan sorban maka ibunya berkata kepada Imam Malik, pergi kamu ke majelisnya Rabi’ah. Ini menunjukkan bagaimana seorang ibu karena anaknya mau berjuang, mau menuntut ilmu agama, demikian dia menghormati dan menyayangi anaknya, didandani rapi dan disuruh untuk pergi ke majelisnya Rabi’ah.Rabi’ah ini adalah Ibnu Abdirrahman, seorang ahli fiqih di kota Madinah di zamannya, gurunya Imam Malik. Kemudian kata ibunya tadi, belajarlah darinya adab sebelum ilmunya.Kamu pergi ke sana, sebelum belajar ilmunya, pelajari dulu tentang adab-adab beliau, bagaimana beliau mengajar, bagaimana beliau bermuamalah dengan murid-muridnya, bagaimana beliau duduk bersama yang lain, bagaimana tawadhu’nya beliau, dan seterusnya, sebelum kamu mencari ilmunya pelajari dulu adab beliau. Ini menunjukkan bagaimana dahulu ibunda para ulama mereka menekankan tentang masalah adab ini kepada anak-anaknya sebelum ilmu.فإنما حُرِم كثيرٌ من طلبة العصر العلمَ بتضييع الأدبSesungguhnya banyak diantara penuntut ilmu di zaman sekarang mereka tidak mendapatkan ilmu karena mereka menyia-nyiakan adab, menyia-nyiakan adab dalam bermajelis, menyia-nyiakan adab bersama gurunya, bersama dirinya.أشرفَ اللَّيث بن سعدٍ علىٰ أصحاب الحديثAl-Laits Ibn Sa’ad rahimahullāh beliau datang kepada orang-orang yang mereka adalah penuntut ilmu Hadits (murid-muridnya), orang-orang yang mereka datang dari tempat yang jauh untuk mencari ilmu hadits. Al-Laits Ibn Sa’ad termasuk ulama hadits, ketika beliau datang melihat merekaفرأىٰ منهم شيئًا كأنَّه كرههKetika melihat mereka, beliau melihat ada sesuatu yang beliau benci, ada sikap dan adab yang beliau benci, tidak beradab ketika ada seorang gurunya.فقال: ما هٰذا؟Beliau mengatakan, Apa ini?أنتم إلىٰ يسيرٍ من الأدب، أحوج إلى كثيرٍ من العلمKalian ini lebih butuh kepada sedikit adab daripada banyak ilmu.Artinya sebelum kalian mempelajari ilmu dari para ulama hadits, hendaklah kalian ini belajar sedikit tentang adab, bagaimana adab ketika bertemu guru, bagaimana adab misalnya ketemu beliau di jalan apa yang harus dilakukan, ketika beliau datang apa yang harus dilakukan, apakah ketika bermajelis termasuk adab seseorang meninggalkan majelis sebelum gurunya, ini disampaikan oleh para ulama ada adabnya. Jangan sampai gurunya masih ada di situ kita bubar duluan, meninggalkan gurunya dalam keadaan sendiri, harusnya biarkan beliau pergi dulu baru setelah itu kita meninggalkan majelis.Syaikh Ushaimi pernah beliau marah-marah di majelis karena beliau belum pergi dari majelisnya sudah ada yang bubar duluan, sudah meninggalkan majelis. Akhirnya beliau berbicara panjang lebar menyampaikan tentang harusnya apa yang dilakukan, adab apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang penuntut ilmu.Makanya di sini Al-Laits Ibn Sa’ad beliau mengatakan, Apa ini? Kalian, kepada sedikit adab itu, lebih kalian butuhkan daripada banyak ilmu. Sedikit adab maka kalian akan mendapatkan ilmu, tapi kalau kalian tidak punya adab maka tidak akan mendapatkan ilmu.فماذا يقول اللَّيث لو رأىٰ حال كثيرٍ من طاَّب العلم في هٰذا العصر؟Lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad Al-Misriy beliau melihat keadaan kebanyakan para penuntut ilmu di masa kita sekarang ini.Mungkin saat itu yang beliau lihat adalah sesuatu yang ringan, tidak beradab tapi masih ringan, dan sekarang lebih parah lagi. Terkadang dalam majelis ilmu dia tersenyum sendirian, ternyata di depannya ada HP, di depannya ada komputer, sementara gurunya sedang mengajar dia senyum, dan yang lebih parah lagi ada yang tertawa terbahak-bahak. Ini pemandangan yang sangat tidak mengenakkan dan tidak beradab. Atau dia sibuk bicara dengan orang lain di dalam bermajelis ilmu, ini juga suatu yang tidak beradab. Lalu bagaimana seandainya Al-Laits Ibn Sa’ad melihat keadaan yang seperti itu.Semoga Allāh subhanahu wa ta’ala membimbing kita semuanya kepada jalan yang lurus.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 13

Halaqah yang Ke-13 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Kesebelas.👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara hikmah Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi / mukjizat mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya dan lebih dahsyat supaya lebih menunjukkan kebenaran kenabian Nabi tersebut.Diantara contohnya① Kaum Nabi Sholeh (kaum Tsamud)Yang terkenal sebagai kaum yang kuat dan biasa memahat gunung untuk dijadikan rumah.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ…“Dan ingatlah oleh kalian di waktu Allah menjadikan kalian pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat kepada kalian di bumi, kalian mendirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian memahat gunung-gunung nya untuk dijadikan rumah”. (Al-A’raf : 74)Ketika Nabi Sholeh alaihi wa sallam mendakwahi mereka, mereka meminta kepada beliau supaya mendatangkan ayat (tanda kebenaran beliau), akhirnya mereka meminta supaya keluar dari batu keras yang sudah mereka tentukan, unta merah yang sedang hamil 10 bulan. Setelah Nabi Shaleh mengambil peran dari mereka supaya beriman kalau permintaan dikabulkan, beliau pun berdoa kepada Allah, maka bergetarlah batu besar tersebut dan keluar dari nya unta dengan sifat yang mereka inginkan. Tentunya hal ini lebih dahsyat dari pada hanya memahat gunung untuk dijadikan rumah.② SihirDi zaman Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat banyak dan tersebar dan mereka adalah kaum yang sangat mengagungkan sihir dan tukang sihir dan diantara sihir mereka adalah menipu mata manusia seperti menyihir manusia sehingga mereka melihat tali dan tongkat seakan-akan dia adalah ular. Oleh karena itu diantara ayat yang Allah berikan kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ adalah berubahnya tongkat menjadi ular secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata dan tangan yang bersinar setelah dimasukkan ke dalam saku secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata.Allah berfirmanفَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌوَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ“Lalu Musa melemparkan tongkatnya tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya dan dia mengeluarkan tangannya dan tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya” (Al-A’raf 107-108)Maka para tukang sihir akhirnya mengetahui bahwa Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ memang diutus oleh Allāh dan merekapun masuk Islam dan sangat kuat keIslaman nya.③ Ilmu kedokteranDi zaman Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat populer, oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menguatkan Nabi ‘Isa dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyakit dan penyembuhannya yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dokter atau ahli apapun dia Allah berikan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ kemampuan menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :… وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ…“Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin Ku kemudian engkau meniup nya lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya dengan seizin Ku &dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin Ku dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup dengan seijin Ku ” (Al-Ma’idah : 110)

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 63 | Pijakan Keislaman Seorang Muslim Tidak Akan Kokoh Kecuali dengan Taslim dan Istislam

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلامDan seseorang tidak kuat tidak tetap kakinya di dalam Islam kecuali apabila dia berdiri di atas punggung penyerahan diri,Taslim wa Istislam maknanya sama maksudnya adalah seorang tidak kuat keislamannya sampai dia benar-benar menyerahkan diri termasuk diantaranya dengan masalah akidah didalam masalah rukyatullāh , didalam masalah Kalamullah, mari kita sama-sama menyerahkan diri kepada Allāh apa yang Allāh kabarkan yang kita imani apa yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ kita imani sebagaimana datangnya,فمن رام علم ما حُظر عنه علمه ولم يقنع بالتسليم فهمه؛ حجبه مرامه عن خالص التوحيد وصافي المعرفة وصحيح الإيمانMaka barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui apa yang dilarang untuk diketahui tentang masalah sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala, ini tidak mungkin kita mengetahui kecuali dengan wahyu, apabila seseorang ingin memahami sifat-sifat Allāh subhanahu wa ta’ala dengan akalnya maka ini adalah sesuatu yang dilarang yang demikian, kalau kita memang ingin mengenal Allāh tentang sifat-sifat Allāh maka kita harus mengenalnya dengan jalannya yaitu dengan Al-Qur’an dengan hadist dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu taala anhum adapun seseorang yang dengan sombongnya dia ingin mengenal dengan akalnya kalau sampai datang Al-Qur’an dan hadits berbeda dengan akalnya maka dia tolak dalil tersebut atau takwilولم يقنع بالتسليم فهمه؛Dan dia tidak Qonaah pemahamannya tidak merasa cukup pemahamannya dengan menyerahkan diri kepada dalil tapi dia lebih qana’ah dengan akalnya sesuai dengan akal baru qonaah tapi kalau tidak sesuai dengan akal ya ditolak yaitu ucapan Mua’tazilah, bagaimana kita bisa melihat Allāh padahal Allāh subhanahu wa ta’ala tidak memiliki arah kalau kita melihat berarti Allāh memiliki arah,حجبه مرامه عن خالص التوحيدKalau demikian keadaannya seseorang dalam beragama tidak menyerahkan diri kepada Allāh didalam pemahaman juga tidak menyerahkan diri, akalnya tidak Taslim maka apa yang dia dapatkan itu akan menghalanginya dari tauhid yang murni apa yang dia dapatkan yang terjadi setelah itu akan menghalangi dia dari tauhid yang murni, dia tidak akan mendapatkan tauhid yang terhalangi dengan sebelumnya mengikuti hawa nafsu dengan sebab dia mendahulukan akalnya adapun ahlussunnah ketika mereka benar-benar menyerahkan diri kepada Allāh memahami Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar maka mereka akan mendapatkan tauhidul qols mereka akan mendapatkan tauhid yang murni dalam masalah rububiyah dengan masalah uluhiyah dengan masalah nama dan juga sifat Allāh benar-benar akan lurus akan benar pemahaman mereka tapi kalau mereka mendahulukan akal maka mereka akan terhalangi memahami tauhid ini dengan tauhid yang benar, mereka akan terhalang dari kemurnian tauhid pasti di sana ada khalal pasti di sana ada kekurangan di dalam tauhidnya ya dengan masalah nama dan juga sifat Allāh dengan masalah rububiyah Allāh dalam masalah uluhiyah Allāh ,coba ketika mereka memahami tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan juga para Rasul intinya adalah tauhid rububiyah, seseorang dinamakan bertauhid kalau dia mengenal Allāh dengan hatinya akhirnya orang yang melakukan kesyirikan di dalam masalah tauhidul uluhiyah dimata mereka adalah sesuatu yang sangat tidak masalah mau bertawasul dengan orang yang meninggal mau bertawasul dengan Nabi Muhammad ﷺ tidak masalah yang penting dia tahu bahwasanya Allāh itu ada, yang penting yang meyakini bahwasanya Allāh itu yang mencipta, bagaimana dia bisa mendapatkan tauhid yang murni kalau dia masih mengagungkan akalnya di atas Al-Qur’an dan juga hadits,وصافي المعرفةDemikian pula akan menghalangi dia dari mengenal Allāh dengan pengenalan yang shafi/ pengenalan yang bersih kalau dia mengenal Allāh pasti di sana ada kotorannya ada kekurangannya sebabnya adalah karena dia tidak kembali kepada Dalil dan menyerahkan diri kepada dalil masih ada di sana hawa nafsu dan juga kesombongan, seandainya mereka mengenal Allāh hanya mengenal Allāh dengan pengenalan yang sangat kurang, mengenal Allah sebagai pencipta mengenal Allah sebagai pemberi rezeki tapi didalam masalah Al Uluhiyah mereka sangat kurangوصحيح الإيمان،Dan akan menghalangi mereka dari keimanan yang benar.فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Akibatnya mereka berada di antara kekufuran dan juga keimanan di antara kekufuran, antara iman dan kufur ada sebagian yang mereka yang mereka shahih mereka imani mereka beriman dengan rububiyah mereka secara umum mentanzih menyucikan Allāh tapi mereka terjatuh juga di dalam kesalahan yaitu sampai mengingkari sifat Allāh ingin dia menyucikan Allāh tapi dia mengingkari istiwa dia mengingkari rukyatullah mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullāh dan bahwasanya dia bukan makhluk tapi disisi yang lain ada keimanan keimanan dengan Rasulullah betul beriman bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala yang pencipta,فيتذبذب بين الكفر والإيمان،Antara keimanan dan juga kekufuran,Iman dari satu sisi dia iman dari sisi yang lain dia kufur,والتصديق والتكذيب،Antara membenarkan dan juga mendustakan sebagian yang dia benarkan tapi ada sebagian yang lain yang dia dustakan dia takwil dia ingkari,والإقرار والإنكارAda sesuatu yang dia benarkan/setujui ada sebagian yang lain dia ingkariموسوساً تائهاًDalam keadaan dia memberikan was² kepada yang lain, membisiki kepada yang lain.Berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, berdebat untuk mengajak manusia untuk mengikuti keyakinannya, ini adalah Ahlu Kalam yang memang mereka adalah kaum yang suka berdebat didalam agamanya, mereka taadzub tertipu dengan akal mereka,موسوساً تائهاًDalam keadaan dia juga bingung.Orang semakin belajar ilmu kalam semakin bingung sebagaimana ini diucapkan sendiri oleh tokoh mereka, mereka sudah mendatangi berbagai negeri/madrasah, semakin makin mendalami semakin mereka bingung didalam agamanya, sampa mereka berangan-angan seandainya mereka mati kelak seperti matinya orang² tua yang ada naisamud yg mereka berada diatas fitrah , ana seorang muslim apa yang Allāh katakan ana imani dan apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ ana imani dan jalankan sampai meninggal dunia selesai, kita beriman sesuai yang diinginkan oleh, kita beriman sesuai Rasulullah ﷺ, ini selesai tidak ada keraguan/kebingungan didalam hati mereka, mereka selalu berkeinginan demikian seandainya aku mati sebagaimana matinya orang-orang tua di Naisamud (mereka diatas fitrah) karena sudah didalam ilmu Kalam susah untuk keluar darinya terlalu banyak subhat yang masuk didalamnya bahkan mau tidur pun terbawa, ketika dalam shalat terbawa subhat nya, dalam keadaan apapun terbawa subhat nya, sulit untuk menghilangkan sesuatu yang selalu bertahun² mereka pelajari. Alhamdulillah yang telah menyelamatkan diri demikian tidak sampai kita terbawa/tergiur untuk mempelajari ilmu Kalam ini, untuk mengenal Allāh kita tidak butuh dengan ilmu kalamشاكًا جائظDalam keadaan dia ragu-raguItu keadaan ahlul kalam secara umum mereka didalam keraguan agamanya sehingga keraguan tadi nampak dari keinginan mereka untuk berdebat, adapun Ahlu Sunnah maka mereka berada diatas keyakinan tidak membutuhkan perdebatan orang² yang kebingungan tersebut , kita berada diatas keyakinan didalam agama kalau mereka ingin berdebat silahkan berdebat dengan orang-orang yang ragu adapun Ahlu Sunnah bukan orang² yang ragu,Mereka dalam keadaan menyimpangلا مؤمنًا مصدقًاMereka adalah orang yang ragu² bukan orang yang beriman dan membenarkan.Didatangkan ayat dan hadits berbeda dengan Ahlu Sunnah mereka membenarkan beriman, adapun mereka maka senantiasa ada keraguan didalam hati mereka.ولا جاحداً مكذباًDan mereka bukan orang yang menolak ataupun mendustakan. Artinya murni bukan seorang yang beriman dan bukan murni orang yang kafir, ini adalah keadaan ahlu bid’ah ada sebagian dari mereka imani/benarkan dan ada sebagian yang mereka ingkari dan takwil tapi tidak sampai kepada kekufuran.Ini adalah sifat-sifat yang beliau sebutkan sifati orang² yang bingung didalam agamanya.موسوساً تائهاً شاكاً لا مؤمناً مصدقاً، ولا جاحداً مكذباً..

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 11)

Halaqah 13 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 11)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara hikmah Allah menjadikan ayat-ayat seorang Nabi atau mukjizat mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya dan lebih dahsyat supaya lebih menunjukkan kebenaran kenabian Nabi tersebut.Diantara contohnya :1.     Kaum Nabi Sholeh (Kaum Tsamud)Yang terkenal sebagai kaum yang kuat dan biasa memahat gunung untuk dijadikan rumah.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ…“Dan ingatlah oleh kalian di waktu Allah menjadikan kalian pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat kepada kalian di bumi, kalian mendirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kalian memahat gunung-gunung nya untuk dijadikan rumah”. (Al-A’raf : 74)Ketika Nabi Sholeh عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ mendakwahi mereka, mereka meminta kepada beliau supaya mendatangkan ayat (tanda kebenaran beliau), akhirnya mereka meminta supaya keluar dari batu keras yang sudah mereka tentukan, unta merah yang sedang hamil 10 bulan. Setelah Nabi Shaleh عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ mengambil peran dari mereka supaya beriman kalau permintaan dikabulkan, beliau pun berdoa kepada Allah, maka bergetarlah batu besar tersebut dan keluar dari nya unta dengan sifat yang mereka inginkan. Tentunya hal ini lebih dahsyat dari pada hanya memahat gunung untuk dijadikan rumah.2.     SihirDi zaman Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat banyak dan tersebar dan mereka adalah kaum yang sangat mengagungkan sihir dan tukang sihir dan diantara sihir mereka adalah menipu mata manusia seperti menyihir manusia sehingga mereka melihat tali dan tongkat seakan-akan dia adalah ular. Oleh karena itu diantara ayat yang Allah berikan kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ adalah berubahnya tongkat menjadi ular secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata dan tangan yang bersinar setelah dimasukkan ke dalam saku secara hakikat dan bukan hanya tipuan mata.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:فَاَلۡقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِىَ ثُعۡبَانٌ مُّبِيۡنٌ​ ​ ۖ ​ۚ وَّنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِىَ بَيۡضَآءُ لِلنّٰظِرِيۡن“Lalu Musa melemparkan tongkatnya tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya dan dia mengeluarkan tangannya dan tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya” (Al-A’raf 107-108)Maka para tukang sihir akhirnya mengetahui bahwa Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ memang diutus oleh Allah dan merekapun masuk Islam dan sangat kuat keIslamannya.3.     Ilmu kedokteranDi zaman Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ sangat populer, oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menguatkan Nabi ‘Isa dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyakit dan penyembuhannya yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dokter atau ahli apapun dia Allah berikan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ kemampuan menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :… وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ…“Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin Ku kemudian engkau meniup nya lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya dengan seizin Ku &dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin Ku dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup dengan seijin Ku ” (Al-Ma’idah : 110)

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 63 – Masuknya Orang-Orang Beriman ke Dalam Surga (Bagian 1)

Ringkasan Halaqah 63 – Masuknya Orang-Orang Beriman ke Dalam Surga (Bagian 1)1. Orang-orang beriman digiring menuju surgaSetelah dibersihkan hatinya, orang-orang beriman digiring menuju surga dengan penuh kemuliaan dan penghormatan.Mereka masuk surga dalam keadaan dimuliakan oleh Allah.2. Syafaat Nabi ﷺ untuk membuka pintu surgaAllah memuliakan Nabi Muhammad ﷺ di hadapan seluruh orang beriman.Nabi ﷺ diberi syafaat khusus untuk memohon agar pintu surga dibukakan.Beliau adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.Penjaga surga tidak akan membuka pintu bagi siapa pun sebelum Nabi Muhammad ﷺ.3. Pintu surga dibuka dan disambut malaikatOrang-orang bertakwa masuk surga secara berombongan.Para malaikat menyambut mereka dengan ucapan salam.Mereka dipersilakan masuk dan tinggal di surga untuk selama-lamanya.Penduduk surga memuji Allah karena telah menepati janji-Nya.Dalil: QS. Az-Zumar: 73–74.4. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah yang pertama masuk surgaUmat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat terakhir di dunia, tetapi menjadi yang pertama masuk surga.Rombongan pertama memiliki wajah yang bercahaya seperti bulan purnama.Hadis: HR. Bukhari dan Muslim.5. Rombongan pertama yang masuk surgaSebanyak 70.000 atau 700.000 orang (sesuai riwayat) masuk surga bersama-sama.Mereka bergandengan tangan dan masuk dalam satu shaf secara serentak.Wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama.Di antara mereka ada yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.Hal ini juga menunjukkan bahwa pintu surga sangat besar.6. Keutamaan orang-orang fakir muhajirinOrang-orang fakir muhajirin akan masuk surga 40 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya muhajirin.Hadis: HR. Muslim.Inti PelajaranOrang beriman dimuliakan ketika memasuki surga.Nabi Muhammad ﷺ memiliki syafaat khusus untuk membuka pintu surga.Umat Nabi Muhammad ﷺ menjadi umat pertama yang masuk surga.Rombongan pertama memiliki keutamaan yang sangat besar.Orang-orang fakir muhajirin memperoleh keutamaan masuk surga lebih dahulu dibanding orang-orang kaya muhajirin.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 13 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Empat

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah,الرَبِيع:من اعتقد أنَّ غيرَ هَدْيِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أكمَلُ مِن هَدْيِه، أو أنَّ حُكْمَ غيرِه أحسَنُ مِن حُكْمِه، كالذين يُفَضِّلون حُكْمَ الطَّواغيتِ على حُكْمِه؛ فهو كافِرٌPembatal keislaman yang ke empat:“Barangsiapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna daripada petunjuk Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, atau meyakini bahwa selain hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang mengutamakan hukum thaghut di atas hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah kafir.”Di dalam pembatal keislaman yang ke empat ini, Syeikh menyebutkan dua poin utama:1. Barangsiapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk Beliau.Petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah, baik berupa Al Qur’an atau berupa Hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah mengatakan,(وَمَا یَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰۤ ۝ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡیࣱ یُوحَىٰ)[Surat An-Najm 3 – 4]“Apa yang Beliau ucapkan kecuali itu adalah wahyu dari Allah yang diwahyukan kepada Beliau.”Di dalam hadits Beliau mengatakan,أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah, bahwasanya aku diberikan Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam).” [HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani rahimahullah]Kalau demikian, kita harus meyakini bahwa apa yang datang dari Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam pasti lebih sempurna daripada petunjuk selain Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dalam sebuah hadits, Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam [HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani]Allah Subhānahu wa Ta’āla, dialah العَلِيمُ الحَكِيمُالعَلِيمُ artinya Yang Maha Mengetahui. Mengetahui apa yang menjadi maslahat bagi manusia dan mudhorot atas mereka.Dan Allah adalah الحَكِيمُ artinya Yang Maha Bijaksana di dalam hukum-hukum-Nya. Baik hukum-hukum yang berkaitan dengan syari’at-Nya maupun hukum-hukum kauniyah yang Allah takdirkan di alam semesta. Dialah yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.Allah berfirman,وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ[Surat Al-Baqarah 232]“Dan Allah, Dialah Yang Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”Allah yang lebih mengetahui apa yang maslahat bagi kita dan apa yang mudhorot bagi kita.Allah mengatakan,(أَلَا یَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِیفُ ٱلۡخَبِیرُ)[Surat Al-Mulk 14]“Bukankah Yang Menciptakan, Dialah Yang Mengetahui? Dan Dialah Yang Maha Lembut dan Mengetahui.”Syari’at Allah adalah syari’at yang bijaksana. Syari’at Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah khusus untuk umatnya. Adapun syari’at Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam maka untuk seluruh manusia, sesuai untuk semua tempat dan zaman. Kewajiban seorang muslim adalah meyakini bahwa petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya lebih sempurna daripada petunjuk dari selain Allah dan Rasul-Nya.Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan tentang ayat warisan, Allah berfirman,یُوصِیكُمُ ٱللَّهُ فِیۤ أَوۡلَـٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَیَیۡنِۚ[Surat An-Nisa’ 11]“Allah mewasiatkan kepada kalian dalam perkara anak-anak kalian, laki-laki mendapat dua bagian wanita.”Allah menyebutkan di dalam ayat ini tentang beberapa hal yang berkaitan dengan hukum waris, seperti bagian anak laki-laki, bagian anak wanita, bagian seorang ibu apabila ada anaknya, dll. Ini semua adalah ketentuan dari Allah Azza wa Jalla.Kemudian Allah mengatakan,ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَیُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعࣰاۚ فَرِیضَةࣰ مِّنَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا[Surat An-Nisa’ 11]“Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian, kalian tidak tahu siapa diantara mereka yang lebih manfaatnya daripada kalian, sebagai kewajiban dari Allah. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”Kewajiban kita membagi harta warisan sesuai dengan ketentuan Allah, bukan dengan adat istiadat manusia.2. Kemudian Syeikh mengatakan,أو أنَّ حُكْمَ غيرِه أحسَنُ مِن حُكْمِه“Atau dia meyakini bahwa hukum atau keputusan selain Beliau lebih baik daripada hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Poin yang ke dua ini adalah termasuk pembatal keislaman yang ke empat, yaitu meyakini bahwa hukum selain Beliau lebih baik daripada hukum Beliau.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah. Tugas Beliau menyampaikan hukum Allah. Hukum yang datang dari Beliau adalah hukum Allah.Allah berkata,(إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَیۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَاۤ أَرَىٰكَ ٱللَّهُۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَاۤىِٕنِینَ خَصِیمࣰا)[Surat An-Nisa’ 105]“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Al Qur’an dengan haq, supaya engkau menghukumi diantara manusia dengan apa yang Allah perlihatkan kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat.”Dan hukum Allah adalah sebaik-baik hukum. Allah berfirman,(أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَـٰهِلِیَّةِ یَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمࣰا لِّقَوۡمࣲ یُوقِنُونَ)[Surat Al-Ma’idah 50]“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.”Yang berhak memberikan hukum-hukum tersebut untuk kita hanyalah Allah.إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ[Surat Yusuf 40]“Tidaklah hukum kecuali untuk Allah.”Berhukum dengan hukum Allah adalah kewajiban. Allah berfirman,(فَلَا وَرَبِّكَ لَا یُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ یُحَكِّمُوكَ فِیمَا شَجَرَ بَیۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوا۟ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَرَجࣰا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَیُسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمࣰا)[Surat An-Nisa’ 65]“Tidak, Demi Rabb-mu. Mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim di dalam apa yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapatkan di dalam hati mereka rasa berat, dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan.”Allah bersumpah dengan dirinya sendiri bahwa mereka tidak beriman sampai berhukum dengan hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan di dalam batinnya dia ridho dan tidak merasa berat.Ini menunjukkan bahwa berhukum dengan hukum Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ridho dengannya adalah sebuah kewajiban.Apabila ada seseorang yang meyakini bahwa keputusan atau hukum selain Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada keputusan atau hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka keyakinan tersebut telah membatalkan keislamannya.Orang munafik dahulu tidak mau berhukum kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencari hukum selain Beliau dalam memutuskan perselisihan mereka. Berhukum dengan selain hukum Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah diantara sifat orang-orang munafik.Di dalam sebuah ayat Allah mengatakan,(أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ یَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُوا۟ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡكَ وَمَاۤ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ یُرِیدُونَ أَن یَتَحَاكَمُوۤا۟ إِلَى ٱلطَّـٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوۤا۟ أَن یَكۡفُرُوا۟ بِهِۦۖ وَیُرِیدُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ أَن یُضِلَّهُمۡ ضَلَـٰلَۢا بَعِیدࣰا)[Surat An-Nisa’ 60]“Tidaklah engkau Muhammad memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, tetapi mereka masih menginginkan berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.”Kemudian beliau mengatakan,كالذين يُفَضِّلون حُكْمَ الطَّواغيتِ على حُكْمِه“Seperti orang yang mengutamakan hukum thaghut lebih baik daripada hukum Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”Hukum thaghut adalah hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Kalau diyakini itu sama dengan hukum Allah atau lebih baik daripada hukum Allah, maka pelakunya keluar dari agama Islam. Tapi kalau dia berhukum dengan hukum tersebut karena sebab dunia, seperti harta dan jabatan, namun di dalam hatinya meyakini hukum Allah lebih baik, maka dia fasik, tidak keluar dari agama Islam.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

HALAQAH 63

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 63Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPenjelasan Umum Bab (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.​Penulis Kitab: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:​قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائرArtinya:​“Bab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir (dosa-dosa besar).”Definisi Bid'ah Secara Syariat. Definisi ini diambil dari ucapan Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullāh di dalam kitab beliau Al-I’tisham:​عبارة عن : طريقة في الدين مخترعة ، تضاه الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىArtinya:​“Bid’ah adalah sebuah jalan di dalam agama, sebuah cara yang baru (dibuat-buat), yang menyerupai syariat, yang dimaksudkan dengan menempuh jalan tersebut adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”​​Jalan di dalam agama (طريقة في الدين - Tharīqah Fīd Dīn) maksudnya adalah menunjukkan bahwa bid'ah hanya berkaitan dengan urusan agama/ibadah. Urusan dunia (seperti listrik, mikrofon, internet, dll.) tidak termasuk dalam pembahasan ini (bukan bid'ah syar'i).​Sesuai hal yang baru/dibuat-buat (مخترعة - Mukhtara’ah), yaitu sesuatu yang baru dan tidak pernah diajarkan oleh agama Islam yang murni (tidak memiliki dalil di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah). Menyerupai Syariat (تضاهي الشرعية - Tudhahiyas Syar’iyyah), yaitu tampilannya mirip dengan syariat sehingga orang awam/jahil menyangkanya sebagai bagian dari agama.​Contoh: Syariat menganjurkan dzikir berbilang (seperti tasbih 33x setelah shalat). Lalu, ada orang membuat aturan baru dengan mengganti jumlah atau waktunya tanpa dalil (misalnya: membaca Laa ilaha illallah 1000x di pertengahan malam). Lafadznya benar, tapi tata cara aturan jumlah dan waktunya mirip syariat padahal tidak ada dalil shahihnya. ​Tujuan Berlebih-lebihan dalam Ibadah (يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالى), tujuan dibuatnya jalan baru ini adalah untuk Al-Mubalaghah (berlebih-lebihan/ingin mendapat nilai lebih/ghuluw) dalam beribadah kepada Allah.​Perbedaan Bid'ah Secara Bahasa vs Syariat​Secara Bahasa: Segala sesuatu hal yang baru (termasuk teknologi seperti listrik dan internet).​Secara Syariat: Khusus berkaitan dengan urusan agama dan ibadah yang baru, yang dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri (ta'abbud) kepada Allah.KesimpulanBid'ah yang dicela dalam agama (syariat) hanyalah hal-hal baru yang berkaitan dengan urusan agama dan ibadah saja, sedangkan inovasi urusan duniawi (teknologi/fasilitas) tidak termasuk bid'ah syar'i.Bahaya bid'ah terletak pada sifatnya yang menyerupai syariat (Tudhahiyas Syar'iyyah), sehingga dapat mengelabui orang awam yang menyangka amalan baru tersebut sebagai bagian resmi dari tuntunan agama.Hakikat bid'ah didorong oleh motivasi ingin berlebih-lebihan (Al-Mubalaghah) dalam ibadah, namun dengan cara yang keliru karena tidak berlandaskan dalil shahih dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر“Bab bahwasanya atau apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”Yang dimaksud dengan bid’ah, sebagaimana diucapkan oleh Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullāh di dalam kitāb beliau Al-I’tisam, beliau menyebutkan yang dimaksud dengan bid’ah adalah:طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىعبارة عن : طريقة في الدين مخترعة ، تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالىBid’ah adalah sebuah jalan di dalam agama, sebuah cara.Ucapan beliau “di dalam agama”, keluar darinya jalan di dalam urusan dunia. Masalah dunia, masalah listrik, masalah mikrofon, internet dan lain-lain, ini bukan pembahasan kita.Tharīqah Fīd Dīn (طريقة في الدين) sebuah jalan di dalam agama (di dalam ibadah).Mukhtara’ah (مخترعة) dan dia adalah sesuatu yang baru (tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang murni). Tidak ada dalīlnya di dalam Al-Qur’ān, tidak ada dalīlnya di dalam As-Sunnah.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dan dia menyerupai sesuatu yang masyru’ (sesuatu yang disyari’atkan), sehingga orang yang jahil karena dia adalah Tudhahiy (تضاهي), karena dia menyerupai sesuatu yang disyari’atkan, menyangka bahwasanya itu bagian dari agama.Di dalam agama kita ada disyari’atkan seseorang untuk memperbanyak dzikir, kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah, yang secara dhahir seakan-akan dia adalah sesuatu yang disyari’atkan.“Antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) misalnya 1000 kali”Hampir mirip dengan syari’at.Darimana?Dari lafadznya, kemudian di situ juga disebutkan ketentuan jumlahnya. Karena terkadang di dalam hadīts, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan jumlah.Membaca tasbih 33 kali (setelah shalat) tahmid 33 kali dan takbir 33 kali (disebutkan di situ jumlahnya).Ada sebagian orang mendatangkan lafadznya, kemudian mendatangkan jumlahnya, tapi dia ganti bilangannya, diganti waktunya.Kalau tadi setelah shalat, dia tambah,“Coba antum membaca (لا إله إلا اللّٰه) 1000 kali setelah pertengahan malam”Orang jahil mendengar seperti ini dia menyangka ini adalah bagian dari syari’at, karena mirip lafadznya dan di situ disebutkan tentang jumlahnya.Tudhahiyas Syar’iyyah (تضاهي الشرعية) dia serupa dengan syari’at atau mirip dengan syari’at, tetapi tidak memiliki dalīl yang shahīh di dalam agama ini.…يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وتعالى“Dimaksudkan menempuh jalan ini (yaitu menempuh tharīqah ini, menempuh cara ini) tujuannya adalah untuk Al-Mubalaghah (المبالغة) berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih dan ingin ghuluw di dalam beribadah kepada Allāh,”Jadi tujuan dibuatnya jalan ini, atau jalan yang baru ini, adalah ingin tambah di dalam beribadah kepada Allāh.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.Adapun secara bahasa, jelas bahwasanya bid’ah ini adalah sesuatu yang baru.Segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bid’ah.Maka listrik bid’ah menurut bahasa, internet bid’ah menurut bahasa.Adapun secara syari’at, maka hanya berkaitan dengan agama, berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Itu adalah pengertian bid’ah secara syari’at.

💬 0 komentar📅 24 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 62

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa NafsuHalaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa NafsuKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاKita tidak masuk ke dalamnya dalam keadaan kita mentakwil dengan ro’yu²/ akal-akal kita.Seseorang sudah memiliki keyakinan terlebih dahulu, kemudian ketika membaca firman Allāh,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌKemudian mengatakan, oh melihat disini maksudnya melihat dengan mata hati,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْKalian akan melihat Rabb kalian,Ini adalah melihat dengan mata hati bukan dengan mata, ini mentakwil dengan akalnya, padahal dalam bahasa Arab yang namanya nadhor setelah Illa itu berarti melihat dengan mata, kalau melihat dengan mata hati itu annadhorofi, ini mengikuti hawa nafsu dalam hadits tadi Nabi mengatakan dalam sebuah riwayat,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيانًاTakiif bahwasanya melihat disini melihat dengan ain bukan dengan qolbu, Ahlu Sunnah bukan demikian sikapnya,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاMentakwil, mentafsir dengan pendapat² kita, kita kembali kepada apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَلَا مُتَوَهِّمِينَ بِأَهْوَائِنَاdan tidak boleh kita menyangka² dengan hawa nafsunya, artinya sudah ada hawa, sudah ada hawa nafsu yang sudah meyakini bahwasanya kita tidak akan melihat Allāh di hari kiamat, kemudian ketika dalil Al-Qur’an maupun hadits akhirnya dia berbicara dengan hawa nafsu ya hadits ini adalah hadits yang dhoif atau ayatnya maksudnya adalah demikian dan demikian, padahal tidak ada di sana dalil dia berbicara dengan kebodohan dia, mendhoifkan apa yang ada dalam shahih Muslim apa yang ada dalam sahih Bukhari karena mengikuti hawa nafsu, atau kalau dia punya ilmu sedikit pernah belajarnya dia menamakan itu sebagai ta’wil, mutaawina atau mutaawina bi ahwaina, kita tidak mengikuti hawa nafsu dan kita tidak mau takwil dengan pendapat-pendapat kita ini bukan sikap seorang ahli Sunnah wal jamaah, Ahlussunnah wal jamaah mereka berserah diri, beriman dengan Allāh dan juga RasulNya dan apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNyaفَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِي دِينِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ لِلَّهِ ﷻ،وَلِرَسُولِهِ ﷺKarena sesungguhnya tidak akan selamat di dalam agama ini, kecuali orang yang menyerahkan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, perhatikan ucapan beliau sesungguhnya tidak akan selamat agama seseorang kecuali apabila dia memiliki Taslim memiliki penyerahan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, beriman membenarkan Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNya baru akan selamat, seseorang hanya mengimani Al-Qur’an dan juga hadits tetapi maknanya dia takwil sendiri dia pahami sendiri maka ini tidak selamat, ini agamanya terkena musibah selama dia masih belum menyerahkan maknanya makna yang benar sesuai dengan kehendak Allāh dan juga RasulNya, dia masih mencari-cari mentakwil, mencari-cari maknanya & tidak ada di dalam dirinya taslim atau kurang taslimnya menyerahkan dirinya kepada Allāh maka ini adalah kekurangan dan juga musibah di dalam diri seseorang Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[QS An Nisa 65]Maka Demi Rabb mu dan mereka tidak akan beriman, mereka mereka tidak dinamakan orang yang beriman sampai mereka menjadikan kamu wahai Muhammad sebagai hakim.Mereka mengingkari rukyatullah kita jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Hakim, beliau memberikan keputusan apa yang beliau katakan, kita berselisih atau kita mengatakan tidak melihat Allāh, kami mengatakan kita akan melihat Allāh sekarang kita kembalikan apa kata Nabi ﷺحَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim didalam perselisihan,ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًاKemudian mereka tidak menemukan didalam diri mereka حَرَجًاmerasa berat, kalau masih ada beratnya ketika mendengar ucapan Nabi,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْوتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه حتى يموتَ،Berarti bada maut mereka akan melihat, kemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka rasa berat dengan apa yang diputuskan oleh Nabi yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan,ini baru selamat tapi kalau masih ada rasa berat sebelumnya dia meyakini kita tidak akan melihat, kemudian mendengar hadits Nabi berat untuk meninggalkan keyakinannya dan kembali kepada apa dikabarkan oleh Nabi ﷺ maka tentunya adalah menunjukkan agamanya belum selamat , tentunya ini bukan hanya dalam masalah rukyatullāh , dalam permasalahan² yang lain secara umum kita harus memiliki Taslim ,وَرَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ،Dan dia mengembalikan ilmu tentang sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui,Dia mengembalikan sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui, Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih mengetahuiوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌكَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al Mutafifin15]Allāh Yang lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat, kenapa kita ragu² untuk mengatakan kita akan melihat Allāhdi hari kiamat, Allah lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat dan Rasulullah ﷺ lebih tahu tentang apa yang terjadi disana daripada kita karena telah diwahyukan kepadanya, beliau telah mengabarkan kita akan melihat Allāh sebagaimana kita melihat bulan, maka selamat diri kita kalau kita kembalikan apa yang kita samar yang kita tidak tahu kepada yang mengetahui kita kembalikan kepada Allāh dan juga RasulNya selesai, jangan kita terus ngotot dengan hawa nafsu kita ini adalah jalan keselamatan di dalam agama seseorang.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 62 Al-Qantharah dan Qishash Antara Orang-Orang Beriman

Berikut ringkasan yang sudah diringkas agar mudah di-copy paste:Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 62Al-Qantharah dan Qishash Antara Orang-Orang BerimanPengertian Al-QantharahSecara bahasa: jembatan.Secara syariat: jembatan setelah shirath yang berada di antara neraka dan surga.Di tempat ini orang-orang beriman yang telah selamat dari neraka ditahan sebelum masuk surga.Mereka diqishash atas kezaliman yang pernah terjadi di antara sesama mereka sebagai bentuk keadilan Allah.Hadis Nabi ﷺOrang-orang beriman yang selamat dari neraka akan ditahan di Al-Qantharah.Di sana mereka disucikan melalui qishash hingga bersih.Setelah itu mereka diizinkan masuk surga.Setiap penghuni surga akan lebih mengenal rumahnya di surga daripada rumahnya di dunia. (HR. Bukhari)Pembersihan Hati di Al-QantharahYang dibersihkan adalah ghill (penyakit hati), seperti:Hasad.Dendam.Kebencian kepada sesama orang beriman.Semakin bersih hati seseorang ketika di dunia:Semakin singkat qishashnya.Semakin cepat masuk surga.Sebaliknya:Semakin banyak ghill, hasad, dendam, dan kebencian.Semakin lama qishashnya.Semakin lama pula masuk surga.Perbedaan QishashQishash di Al-QantharahHanya terjadi di antara orang-orang beriman.Tujuannya membersihkan hati sebelum masuk surga.Qishash di Padang MahsyarBerlaku bagi seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir.Mencakup kezaliman terhadap harta, fisik, dan kehormatan.Dalil Al-Qur'an"Dan Kami akan hilangkan segala ghill dari dalam dada-dada mereka."(QS. Al-Hijr: 47)Pelajaran PentingAl-Qantharah adalah tempat penyucian terakhir bagi orang-orang beriman sebelum masuk surga.Bersihkan hati dari hasad, dendam, dan kebencian sejak di dunia.Mudah memaafkan orang lain akan mempercepat penyucian di akhirat.Surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang telah benar-benar bersih lahir dan batin.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 12

Halaqah-12 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 10👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADi antara cara beriman kepada para rasul ‘alayhimussalam adalah keyakinan bahwa Allah telah menguatkan mereka dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai pembenaran terhadap kenabian mereka. tanda-tanda kekuasaan ini telah tersebar dikalangan kaum muslimin dengan nama Mukjizat.Al Mu’jizat adalah jamak dari Al Mu’jizah, yang secara bahasa artinya adalah yang melemahkan orang lain sehingga tidak bisa mendatangkan yang semisalnyaLafadz ini tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, yang sering digunakan adalah Al Ayat dan Al Bayyinat.Al Ayat artinya adalah tanda-tanda kekuasaan, Al Bayyinat artinya adalah bukti-bukti yang jelas.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ…“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa Al Kitab (At Taurat) dan Kami susulkan setelahnya para Rasul dan Kami berikan kepada Isa Ibn Maryam Al Bayyinat” (Al-Baqarah : 87)Berkata Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat iniولهذا أعطاه الله من البينات، وهي المعجزاتOleh karena itu Allah memberikan kepada beliau (Nabi ‘Isa) Al Bayyinat dan maksudnya adalah Al Mu’jizatDan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…”Dan seorang Rasul tidaklah mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah” ( Ar-Ra’d : 38)Rasulullah ﷺ bersabdaمَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْياً أَوْحَى الله إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِTidaklah ada seorang Nabi kecuali diberi tanda-tanda kekuasaan yang beriman dengannya manusia dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku maka aku berharap bahwa aku yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat (HR Al-Bukhari dan Muslim)pengertian ayat atau mu’jizah adalah sesuatu diluar kebiasaan, diringi dengan tantangan dan pengakuan sebagai nabi tidak bisa ada yang melawannya, Allah sajalah yang menciptakannya sebagai pembenaran dan penguatan bagi para nabinyayang dimaksud dengan sesuatu mencakup ucapan dan perbuatan dan di luar kebiasaan maksudnya diluar sesuatu yang menjadi kebiasaan kebiasaan manusia diringin dengan tantangan dan pengakuan sebagaia nabi kalimat ini yang membedakan antara ayat dengan karomah, tidak ada yang bisa melawannya kalimat ini yang memedakan antara ayat dengan sihir dan amalan setan, Allah sajalaj yang menciptakannya artinya ini bukan terjadi karena kehendak Nabi akan tetapi karena kehendak Allah ‘Azza wa jalla dan Dialah yang menciptakannyaAllah berfirmanDan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…”Dan tidaklah seorang Rasul mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah” ( Ar-Ra’d : 38)

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 62 | Larangan Memahami Dalil tentang Rukyatullah dengan Takwil Menggunakan Akal dan Mereka-reka dengan Hawa Nafsu

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاKita tidak masuk ke dalamnya dalam keadaan kita mentakwil dengan ro’yu²/ akal-akal kita.Seseorang sudah memiliki keyakinan terlebih dahulu, kemudian ketika membaca firman Allāh,وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌKemudian mengatakan, oh melihat disini maksudnya melihat dengan mata hati,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْKalian akan melihat Rabb kalian,Ini adalah melihat dengan mata hati bukan dengan mata, ini mentakwil dengan akalnya, padahal dalam bahasa Arab yang namanya nadhor setelah Illa itu berarti melihat dengan mata, kalau melihat dengan mata hati itu annadhorofi, ini mengikuti hawa nafsu dalam hadits tadi Nabi mengatakan dalam sebuah riwayat,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيانًاTakiif bahwasanya melihat disini melihat dengan ain bukan dengan qolbu, Ahlu Sunnah bukan demikian sikapnya,لاَ نَدْخُلُ فِي ذَلِكَ مُتَأَوِلِينَ بِآرَائِنَاMentakwil, mentafsir dengan pendapat² kita, kita kembali kepada apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNyaوَلَا مُتَوَهِّمِينَ بِأَهْوَائِنَاdan tidak boleh kita menyangka² dengan hawa nafsunya, artinya sudah ada hawa, sudah ada hawa nafsu yang sudah meyakini bahwasanya kita tidak akan melihat Allāh di hari kiamat, kemudian ketika dalil Al-Qur’an maupun hadits akhirnya dia berbicara dengan hawa nafsu ya hadits ini adalah hadits yang dhoif atau ayatnya maksudnya adalah demikian dan demikian, padahal tidak ada di sana dalil dia berbicara dengan kebodohan dia, mendhoifkan apa yang ada dalam shahih Muslim apa yang ada dalam sahih Bukhari karena mengikuti hawa nafsu, atau kalau dia punya ilmu sedikit pernah belajarnya dia menamakan itu sebagai ta’wil, mutaawina atau mutaawina bi ahwaina, kita tidak mengikuti hawa nafsu dan kita tidak mau takwil dengan pendapat-pendapat kita ini bukan sikap seorang ahli Sunnah wal jamaah, Ahlussunnah wal jamaah mereka berserah diri, beriman dengan Allāh dan juga RasulNya dan apa yang datang dari Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNyaفَإِنَّهُ مَا سَلِمَ فِي دِينِهِ إِلَّا مَنْ سَلَّمَ لِلَّهِ ﷻ،وَلِرَسُولِهِ ﷺKarena sesungguhnya tidak akan selamat di dalam agama ini, kecuali orang yang menyerahkan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, perhatikan ucapan beliau sesungguhnya tidak akan selamat agama seseorang kecuali apabila dia memiliki Taslim memiliki penyerahan diri untuk Allāh dan juga untuk Rasul-nya, beriman membenarkan Allāh dan juga RasulNya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh dan juga RasulNya baru akan selamat, seseorang hanya mengimani Al-Qur’an dan juga hadits tetapi maknanya dia takwil sendiri dia pahami sendiri maka ini tidak selamat, ini agamanya terkena musibah selama dia masih belum menyerahkan maknanya makna yang benar sesuai dengan kehendak Allāh dan juga RasulNya, dia masih mencari-cari mentakwil, mencari-cari maknanya & tidak ada di dalam dirinya taslim atau kurang taslimnya menyerahkan dirinya kepada Allāh maka ini adalah kekurangan dan juga musibah di dalam diri seseorang Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[QS An Nisa 65]Maka Demi Rabb mu dan mereka tidak akan beriman, mereka mereka tidak dinamakan orang yang beriman sampai mereka menjadikan kamu wahai Muhammad sebagai hakim.Mereka mengingkari rukyatullah kita jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Hakim, beliau memberikan keputusan apa yang beliau katakan, kita berselisih atau kita mengatakan tidak melihat Allāh, kami mengatakan kita akan melihat Allāh sekarang kita kembalikan apa kata Nabi ﷺحَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim didalam perselisihan,ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًاKemudian mereka tidak menemukan didalam diri mereka حَرَجًاmerasa berat, kalau masih ada beratnya ketika mendengar ucapan Nabi,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْوتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه حتى يموتَ،Berarti bada maut mereka akan melihat, kemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka rasa berat dengan apa yang diputuskan oleh Nabi yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan,ini baru selamat tapi kalau masih ada rasa berat sebelumnya dia meyakini kita tidak akan melihat, kemudian mendengar hadits Nabi berat untuk meninggalkan keyakinannya dan kembali kepada apa dikabarkan oleh Nabi ﷺ maka tentunya adalah menunjukkan agamanya belum selamat , tentunya ini bukan hanya dalam masalah rukyatullāh , dalam permasalahan² yang lain secara umum kita harus memiliki Taslim ,وَرَدَّ عِلْمَ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى عَالِمِهِ،Dan dia mengembalikan ilmu tentang sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui,Dia mengembalikan sesuatu yang samar atasnya kepada yang mengetahui, Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang lebih mengetahuiوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌكَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al Mutafifin15]Allāh Yang lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat, kenapa kita ragu² untuk mengatakan kita akan melihat Allāhdi hari kiamat, Allah lebih tahu tentang apa yang terjadi dihari kiamat dan Rasulullah ﷺ lebih tahu tentang apa yang terjadi disana daripada kita karena telah diwahyukan kepadanya, beliau telah mengabarkan kita akan melihat Allāh sebagaimana kita melihat bulan, maka selamat diri kita kalau kita kembalikan apa yang kita samar yang kita tidak tahu kepada yang mengetahui kita kembalikan kepada Allāh dan juga RasulNya selesai, jangan kita terus ngotot dengan hawa nafsu kita ini adalah jalan keselamatan di dalam agama seseorang.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 62

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 62Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPenjelasan Umum Bab(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Hakikat Islam, Islam artinya pasrah dan tunduk kepada Allah. Kepasrahan tersebut tidak hanya dalam hal Tauhid (tidak menyembah selain Allah), tetapi juga harus dalam hal tata cara beribadah. Konsekuensi seseorang yang benar-benar berislam harus mengikuti tata cara ibadah yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, bukan membuat cara sendiri.Bid’ah Mengurangi Kesempurnaan IslamOrang yang melakukan bid’ah dinilai belum sempurna keislamannya karena belum pasrah sepenuhnya dan masih mengikuti hawa nafsu. ​Pelaku bid’ah secara tidak langsung menganggap cara ibadah buatannya lebih baik daripada cara yang dibawa oleh Rasulullah. Prinsip Ahlus Sunnah wal Jamā’ah, Tidak hanya memperjuangkan Tauhid, tetapi juga memastikan agar setiap amalan sesuai dengan sunnah Nabi dan bersih dari bid’ah.Dua Tujuan Utama Syaikh Menulis Bab IniAda dua alasan utama mengapa pembahasan tentang bid'ah dimasukkan ke dalam kitab Fadhlul Islam:Menjelaskan bahwa bid’ah bukan bagian dari Islam.Orang yang berbuat bid'ah berarti memiliki kekurangan dalam keislamannya. Kesempurnaan Islam dicapai dengan meninggalkan bid'ah dan berpegang teguh pada sunnah.​Menunjukkan bahayanya bid'ah.Bid’ah merupakan dosa yang sangat dahsyat. Dosanya lebih besar dan lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar (Al-Kabair). Hal ini terjadi karena pelaku bid'ah merasa sedang berbuat baik, sehingga sulit untuk bertaubat, berbeda dengan pelaku dosa besar yang sadar akan kemaksiatannya.Kesimpulan Sempurnanya Islam seseorang diukur dari kepasrahannya dalam mengikuti Tauhid sekaligus tata cara ibadah yang diajarkan Rasulullah. Bid’ah bertentangan dengan esensi Islam karena pelakunya tidak pasrah pada syariat, melainkan mengikuti hawa nafsu. Kedudukan dosa bid’ah lebih tinggi dan lebih berbahaya daripada dosa besar (Al-Kabair). Akibat dari tidak berislam secara kaffah (menyeluruh) adalah terjerumus ke dalam bahaya dosa bid'ah ini.

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Halaqah 62 | SESUATU YG BERKAITAN DENGAN BID'AH ADALAH DOSA BESAR YANG PALING DAHSYAT Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-62 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر“Bab apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”Di dalam bab ini beliau ingin menjelaskan kepada kita (masih temanya) tentang masalah Islām.Kitāb ini berbicara tentang keutamaan Islām, kewajiban Islām, Intisab kepada Islām, kewajiban untuk kaffah di dalam Islām.Beliau ingin menjelaskan di sini, satu di antara bentuk keislāman kita, adalah pasrah kepada Allāh di dalam masalah tata cara beribadah (ini juga bagian dari Islām).Orang yang sudah tunduk kepada Allāh dengan bertauhīd, maka di antara ketundukkan dia adalah tunduk di dalam masalah tata cara beribadah. Bukan hanya sekedar tunduk kepada Allāh dalam hal tauhīd saja, sehingga dia tidak menyembah kepada selain Allāh bersama Allāh, tapi dia juga menyerahkan diri di dalam masalah tata caranya.“Ya Allāh, ana pasrah, semua ibadah ana serahkan kepada diri-Mu dan tata caranya juga ana serahkan kepada diri-Mu, ana ikut dan ana taat”.Pasrah kepada Allāh termasuk di antaranya adalah dalam tata cara beribadah.Dan beliau ingin menunjukkan bahwasanya orang yang tidak demikian, berarti masih ada kekurangan di dalam keIslāmannya, berarti dia belum sempurna keIslāmannya, belum benar-benar pasrah kepada Allāh, masih mengikuti hawa nafsunya, menganggap bahwasanya apa yang dia lakukan itu lebih baik daripada yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ini adalah termasuk ketidak sempurnaan Islām seseorang. Dan Ahlus Sunnah wal Jamā’ah sebagaimana sudah kita sampaikan, mereka adalah orang-orang yang memiliki bagian yang besar di dalam masalah Islām ini.Bukan hanya sekedar tauhīd yang mereka perjuangkan (yang mereka amalkan), tetapi mereka juga berusaha bagaimana amalan yang mereka lakukan ini bukan amalan yang bid’ah, tapi dia adalah amalan yang sunnah (sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Dan di dalam bab ini, ada makna bukan hanya sekedar penjelasan dan isyarat bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām.Jadi, kenapa di sini beliau berbicara tentang bid’ah?Ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām, dan orang yang melakukan bid’ah berarti dia memiliki kekurangan di dalam keIslāmannya.Dan kesempurnaan Islām seseorang adalah ketika dia meninggalkan bid’ah-bid’ah dan berpegang teguh dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Seandainya antum ditanya, “apa hubungan antara bab ini dengan keIslāman?”Jadi, kesempurnaan Islām seseorang di antaranya adalah pasrah, menyerahkan diri di dalam tata cara beribadah.Dan orang yang melakukan bid’ah, ini bertentangan dengan pasrah tadi, karena dia masih melakukan bid’ah, melakukan ibadah bukan dengan tata cara Islām yang dibawa oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tapi dengan cara yang lain.Dan di sini beliau ingin memasukkan makna yang lebih daripada itu, bahwasanya bid’ah ini, ternyata dia lebih dahsyat, lebih keras, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.Berarti :⑴ Yang pertama, tujuannya ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan dari Islām dan bahwasanya orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang kurang keIslāman-nya.⑵ Kemudian, juga ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini ternyata berbahaya, bahkan dia lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar.Akibat seseorang tidak Islām secara kaffah dan masih mengikuti hawa nafsunya, kemudian melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa, yang dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.Ini adalah hubungan antara bab ini dengan Islām itu sendiri.Thayyib.i

💬 0 komentar📅 23 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 11

Halaqah-11 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 9Diantara cara beriman kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah wajib beriman kepada para Rasul secara terperinci maupun secara global.Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama-nama, kabar-kabar, kisah-kisah para Nabi yang datang didalam Al-Quran dan Sunnah yang shahihah.Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allah memiliki Nabi-nabi dan Rasul-rasul selain yang disebut namanya didalam Al-Quran dan Al-Hadits.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” (Ghafir : 78]Barangsiapa yang mendustakan dan mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi ‘alayhimussalam adalah sama dan mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 105)Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ“Kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 123)Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 141)Dan Allah berfirmanكَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Luth telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 160)Dan tidak datang kepada kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) dan kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul.Orang yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ dan orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam Neraka.Rasulullah ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِDemi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa kecuali dia masuk ke dalam NerakaAdapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi dan ada yg mengatakan bahwa beliau adalah wali dan bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 61

Memahami Hadits Tentang Rukyatullah Sesuai Dengan Yang Dipahami RasulullāhKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهSetelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وسلم فهو كما قال،Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,من الحديث الصحيح عن الرسول اللهﷺ فهو كما قالBerupa hadits yang shahih dari Nabi ﷺ maka itu seperti apa yang beliau ﷺ katakan,Disana ada hadits² dari Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah ﷻ , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkanكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبي اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَKami dalam keadaan duduk bersama Nabi ﷺإِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِTiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,Kemudian beliau mengatakanقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِSesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?maksudnya adalah,، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allāh ditempatnya,عَلى الأرائِكِ يَنْظُرُونَ﴾ ﴿تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِDalam riwayat lain/atau dibacaلَا تٓضَامونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allāh berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْkalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allāh dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Dalam riwayat yang lain,إنَّكم سترَوْن ربَّكم عَيانًاKalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.Dalam hadits Abu Hurairah,Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi ﷺيا رَسولَ اللَّهِ عن رَبَّنَا يَومَ القِيَامَةِ؟Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allāh Rabb kami di hari kiamat,ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allāhapakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi ﷺ mengatakanهل تُضارّون في رؤية القمر ليلة البدر؟Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,قالوا: لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahقال: هل تُضارّون في الشمس ليس دونها سحاب؟Apakah kalian saling memudharoti dalamMelihat matahari yang tidak ada di sana awan?قالوا : لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahفإنكم ترونه كذلكSesungguhnya kalian akan melihat Allāh demikian.Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allāh dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allāh bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi ﷺ mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi ﷺ mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allāhu Rabbul alamin, apa yang membedakan?kita tidak akan melihat Allāh kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,Beliau ﷺ mengatakan,وتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه ﷻ حتى يموتَ،Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allāh ﷻ sampai dia meninggal dunia.Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi ﷺ ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allāh adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi ﷺ sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi ﷺ sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allāh didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allāh ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allāh subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ …Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullāh dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi ﷺ berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi ﷺ,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْSebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allāh demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi ﷺ untuk Rasulullahأمانة بالرسول الله وبما جاء عن الرسول الله على مرضى رسول اللهAku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah ﷺ,Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,فهوا كما قالMaka itu seperti yang beliau sampaikan,ومعناه على ما أراد،Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 61 | Memahami Hadits Tentang Rukyatullah Sesuai Dengan Yang Dipahami Rasulullāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهSetelah beliau menyebut ayat maka beliau mengatakan,وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وسلم فهو كما قال،Dan setiap yang datang didalam permasalahan ini yaitu didalam masalah rukyatullah,من الحديث الصحيح عن الرسول اللهﷺ فهو كما قالBerupa hadits yang shahih dari Nabi ﷺ maka itu seperti apa yang beliau ﷺ katakan,Disana ada hadits² dari Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang benarnya rukyatullah ﷻ , seperti misalnya hadist Jarir radhiyallahu taala anhu beliau menyebutkanكُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النبي اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَKami dalam keadaan duduk bersama Nabi ﷺإِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِTiba² beliau melihat kepada bulan dimalam bulan purnama,Kemudian beliau mengatakanقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِSesungguhnya kalian (orang² yang beriman secara umum) akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini,Apa yang dimaksud sebagaimana melihat bulan ini?maksudnya adalah,، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak akan saling mendhalimi ketika melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak saling mendhalimi, yaitu tidak saling menyikut/ tidak saling memukul satu dengan yang lain sebagaimana ketika kalian melihat bulan.Kita ketika melihat bulan maka masing-masing berada di tempatnya yang tidak ada orang yang saling berperang karena sama-sama ingin melihat bulan seperti itulah kalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dihari kiamat yaitu tidak akan saling mendhalimi satu dengan yang lain, masing-masing melihat Allāh ditempatnya,عَلى الأرائِكِ يَنْظُرُونَ﴾ ﴿تَعْرِفُ في وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِDalam riwayat lain/atau dibacaلَا تٓضَامونَ فِي رُؤْيَتِهِKalian tidak saling berdesak-desakan di dalam melihat Allāh berarti < كَمَا > disini persamaan di sini adalah sama-sama tidak berdesak-desakan, sama-sama tidak saling mendholimi satu dengan yang lain,إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْkalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Jadi yang ditashbih disini yang disamakan disini bukan yang dilihat bukan berarti menyamakan Allāh dengan bulan, tidak tapi yang disamakan disini adalah kaifiyati rukyat ,bagaimana melihat yaitu sama-sama tidak saling berdesak-desakan sama-sama tidak saling menzalimi satu dengan yang lain.Dalam riwayat yang lain,إنَّكم سترَوْن ربَّكم عَيانًاKalian akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dalam keadaan < عَيانًا> yaitu dengan ain/mata kalian semakin menjelaskan makna ucapan beliau.Dalam hadits Abu Hurairah,Ada sebagian orang bertanya kepada Nabi ﷺيا رَسولَ اللَّهِ عن رَبَّنَا يَومَ القِيَامَةِ؟Wahai Rasulullah apakah Kami akan melihat Allāh Rabb kami di hari kiamat,ini adalah ucapan orang-orang yang rindu dan cinta kepada Allāhapakah kami akan melihat Allah di hari kiamat, maka Nabi ﷺ mengatakanهل تُضارّون في رؤية القمر ليلة البدر؟Apakah kalian saling memudharoti ketika melihat bulan di malam bulan purnama,قالوا: لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahقال: هل تُضارّون في الشمس ليس دونها سحاب؟Apakah kalian saling memudharoti dalamMelihat matahari yang tidak ada di sana awan?قالوا : لا يا رَسولَ اللَّهِMereka mengatakan tidak wahai Rasulullahفإنكم ترونه كذلكSesungguhnya kalian akan melihat Allāh demikian.Yaitu tidak saling memudharoti satu dengan yang lain.Berarti yang bisa kita ambil kita akan melihat Allāh dan kita tidak akan berdesak-desakan di dalam melihat Allāh bagaimanapun banyaknya orang-orang yang beriman bagaimanapun banyaknya ahlul Jannah mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala dan tidak akan mendesak-desakan satu dengan yang lain. Ketika Nabi ﷺ mengingatkan tentang Dajjal, Dajjal mengaku sebagai Rabbul alamin maka Nabi ﷺ mengajarkan kepada umat Islam diantara hal yang membedakan antara Dajjal yang mengaku sebagai Rabbul alamin dengan Allāhu Rabbul alamin, apa yang membedakan?kita tidak akan melihat Allāh kecuali setelah kita meninggal, yaitu di dalam surga, adapun kita dalam keadaan masih hidup kemudian ada orang yang mengaku sebagai rabbul alamin maka ini jelas Dajjal, ini adalah kadzab/pendusta,Beliau ﷺ mengatakan,وتعلَمونَ أنَّه لن يرى أحدٌ منكم ربَّه ﷻ حتى يموتَ،Ketahuilah oleh kalian bahwasanya seseorang diantara kalian tidak akan melihat Allāh ﷻ sampai dia meninggal dunia.Kalau kita masih dalam keadaan hidup di dunia kemudian ada yang mengaku dia adalah Rabbul’alamin maka itu jelas dusta, maka ini pentingnya kita belajar agama supaya kita selamat dari fitnah, lihat Nabi ﷺ ketika mengabarkan tentang akan adanya Dajjal bagaimana beliau mengajarkan kepada kita supaya kita selamat dari Dajjal, karena fitnahnya besar ketika Dajjal keluar itu manusia dalam keadaan musibah yang besar mereka dalam keadaan paceklik yang panjang enggak ada hujan, bagaimana manusia hidup tanpa adanya air, bagaimana mereka menanam kalau enggak ada hujan berarti enggak ada tanaman kalau nggak ada tanaman bagaimana mereka makan, ekonomi dalam keadaan sangat terperosok, keluar Dajjal dalam keadaan manusia membutuhkan dan sangat membutuhkan ditambah lagi Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan Dajjal tersebut ketika dia mengatakan,Wahai bumi keluarkan apa yang ada pada dirimu, maka keluarlah tanaman wahai langit turunkan hujan maka turun hujan,Manusia yang dalam keadaan mereka kelaparan dalam keadaan mereka kehausan melihat yang demikian tentunya sangat terpukau ketika Dajjal mengatakan aku adalah Rabbul alamin, banyak diantara mereka yang beriman dengan Dajjal terutama orang yang tidak belajar agama orang yang tidak mengenal Allāh adapun orang-orang yang beriman maka mereka terbekali dengan ilmu, oh dulu Nabi ﷺ sudah berpesan bagaimanapun dia dalam keadaan kekurangan tapi dia tahu Nabi ﷺ sudah mengatakan bahwasanya kita enggak mungkin melihat Allāh didunia ini kita akan melihat Allah kelak Surga, berarti ini bukan Allāh ini Dajjal, dengan sebab ilmu maka dia selamat karena dia mau belajar apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allāh subhanahu wa taala sudah bekali kita, di dalam Al-Qur’an semuanya, memang itu adalah petunjuk bagi manusia ,هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ …Maka orang yang mengarungi kehidupan dunia ini dan dia berpegang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dia akan dengan selamat dengan mudah dia akan mengarungi kehidupan.Itu adalah dalil-dalil dari sunnah Nabi ﷺ yang menunjukkan tentang kebenaran rukyatullah, maka sebagaimana yang beliau sebutkan setiap hadist² yang berbicara tentang masalah rukyatullāh dan itu adalah hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ, harus hadits yang shahih adapun hadits yang maudhu kita tidak memerlukan yang demikian, kalau itu adalah hadits yang shahih maka yang demikian adalah seperti yang diucapkan oleh Nabi maksudnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi kita pahami dengan bahasa Arab yang dengannya Nabi ﷺ berbicara kita pahami Dengan pemahaman para shahabat dengan pemahaman mereka telah direkomendasi oleh Nabi ﷺ,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْSebaik-baik manusia adalah yang hidup di zaman ku yaitu para sahabat,Berarti yang diinginkan oleh Nabi itulah disampaikan oleh para sahabat radhiyallahu taala sebagaimana kita memahami ayat sesuai dengan kehendak Allāh demikian pula kita memahami hadits sesuai dengan kehendak Nabi ﷺ untuk Rasulullahأمانة بالرسول الله وبما جاء عن الرسول الله على مرضى رسول اللهAku beriman dengan Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah ﷺ,Jangan kita memahami Dengan pemahaman lain,فهوا كما قالMaka itu seperti yang beliau sampaikan,ومعناه على ما أراد،Dan maknanya sesuai apa yang beliau kehendaki,Kami beriman, kami tidak mendatangkan dari kehendak kami sendiri,Oleh karenanya berhati² didalam memaknai sebuah ayat/hadits bukan hanya sekedar seseorang mendapatkan ayat/hadits tapi sudah sesuaikah pemahaman kita dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga RasulNya, kita kembali kepada bahasa Arab ( belajar bahasa Arab) kita kembali kepada pemahaman para salaf, kita menelaah ucapan para ulama Ahlu Sunnah wal jama’ah para mufasirin dari kalangan Ahlu Sunnah jama’ah, Ahlu hadits dari kalangan Ahlu Sunnah wal jama’ah,kita berusaha dalam memahami makna dari ayat dan juga hadits Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 11 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 9)

Halaqah 11 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 9)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah wajib beriman kepada para Rasul secara terperinci maupun secara global. Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama-nama, kabar-kabar, kisah-kisah para Nabi yang datang didalam Al-Quran dan Sunnah yang shahihah. Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allah memiliki Nabi-nabi dan Rasul-rasul selain yang disebut namanya didalam Al-Quran dan Al-Hadits.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” (Ghafir : 78)Barangsiapa yang mendustakan dan mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi ‘alayhimussalam adalah sama dan mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 105)Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ“Kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 123)Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 141)Dan Allah berfirman:كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ“Kaum Luth telah mendustakan para Rasul” (Ash-Shu’ara : 160)Dan tidak datang kepada kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) dan kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul. Orang yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ dan orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa عَلَيهِ السَّلَامُ kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam. Neraka.Rasulullah ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa kecuali dia masuk ke dalam Neraka” (HR. Muslim)Adapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi dan ada yang mengatakan bahwa beliau adalah wali dan bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →