Ummu Salamah Pasaribu
📍 Kota Padangsidimpuan
Adab dalam majelis ilmu
Kita harus melapangkan ketika ada saudara kita yang terlambat di majelis ilmu, supaya Allah memberikan kita kebahagiaan dan kelapangan hati
Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind
Ummu Salamah Pasaribu
📍 Kota Padangsidimpuan
Kita harus melapangkan ketika ada saudara kita yang terlambat di majelis ilmu, supaya Allah memberikan kita kebahagiaan dan kelapangan hati
Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 3الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”Pada ayat ini, Allah menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa.Apa saja sifat-sifat orang bertakwa yang bisa mengambil hidayah dari Al-Qur'an?1. Orang-orang yang beriman kepada yang gaib.Gaib yaitu sesuatu yang tidak kelihatan, seperti alam barzakh, masa depan, surga dan neraka, malaikat, takdir, Allah, dan lainnya yang membutuhkan keimanan.Ini adalah level yang tinggi, yaitu beriman kepada sesuatu yang tidak terlihat, namun terdapat bukti-bukti yang menunjukkannya. Ini adalah sifat spesial yang memuliakan kaum beriman.2. Mendirikan salat.Mendirikan atau menegakkan salat tidak sama dengan sekadar mengerjakan salat.Yang dituntut oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah menegakkan salat. Menegakkan berarti melazimkan seseorang untuk salat dengan baik, berusaha menyempurnakan rukun-rukunnya dan sunnah-sunnahnya, serta berusaha sebaik-baiknya dan khusyuk.Salat inilah yang mengantarkan kepada pencegahan perbuatan yang keji dan mungkar.3. Dan dari apa yang Kami beri rezeki kepada mereka, mereka infakkan.Rezeki yang mereka infakkan bahwasanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita berusaha, tetapi yang menentukan banyak dan sedikitnya rezeki adalah Allah.Yang diminta oleh Allah hanyalah sebagian, bukan seluruhnya. Allah memberi, maka kita mengeluarkan sebagian.Karena harta dari Allah adalah amanah.Infak, kata para ulama, di sini bersifat umum, mencakup infak wajib dan infak sunnah.Infak wajib dibagi menjadi dua, yaitu:✓ Zakat, yang sudah ditentukan kadar dan aturannya.✓ Infak wajib, seperti nafkah kepada keluarga, orang tua, kerabat, orang miskin, dan lainnya. Ini tidak ditentukan kadarnya secara khusus, namun berdasarkan 'urf (kebiasaan yang berlaku) dan kemampuan.Adapun infak sunnah, sifatnya bebas. Yang penting dilakukan dengan ikhlas.
Takwa yang membuat setiap manusia selalu berhati-hati, terutama perempuan. Takwa pula bukan hanya tentang meninggakan dosa besar, tetapi dosa kecil.Rasulullah ﷺ bersabda:"Waspadalah kalian dari meremehkan dosa-dosa kecil. Karena jika sudah berkumpul pada seorang akan membinasakan."Terpenting adalah terus menjaga niat ibadah dalam hati, supaya setiap langkah kita dipenuhi dengan kebaikan.Rasulullah ﷺ bersabda:"Tidak ada pahala kecuali dengan mengharap pahala dan tidak ada amalan kecuali dengan niat."
Marah adalah hukuman untuk diri sendiri atas kesalahan orang lain
Perilaku Anak Berbohong dan Dampak Hukuman1. Temuan Eksperimen “Mengintip” (Talwar)Anak-anak diuji setelah tergoda untuk mengintip jawaban.Di sekolah yang santai: ada yang jujur, ada yang bohong.Di sekolah dengan hukuman keras: hampir semua anak berbohong dengan cepat dan meyakinkan.Hukuman keras menciptakan “mesin pembohong”.2. Mengapa Anak Berbohong?Tahap perkembangan untuk meniru orang dewasa.Menciptakan privasi dan ruang untuk diri sendiri.Mengomunikasikan perasaan atau kebutuhan.Menghindari hukuman atau kesedihan.3. Pendekatan Orang Tua / PendidikFokus pada masalah yang mendasari, bukan menghukum.Pahami alasan di balik kebohongan anak.Tetapkan batasan yang jelas, tenang, dan konsisten.Gunakan kata-kata yang tegas, bukan ancaman kosong.Ajarkan lewat contoh dan penjelasan, bukan sekadar larangan.Bantu anak mengelola frustrasi dan membuat pilihan yang baik.4. Cara Menerapkan BatasanJelaskan alasan aturan dengan bahasa yang sederhana.Beri peringatan yang jelas dan hindari ancaman kosong.Konsisten, tenang, dan tegas tanpa marah atau memojokkan.Untuk anak kecil, batasan fisik boleh dilakukan dengan sikap menghargai, bukan memanjakan.Intinya: ❤️Anak berbohong bukan sekadar masalah perilaku, tetapi cara mereka belajar dan berkomunikasi.Dengarkan, pahami, tetapkan batasan, dan ajarkan dengan cinta.Itulah kunci membimbing mereka tumbuh jujur dan bertanggung jawab.
"59. Usahakan Selalu Menunjukkan Penghargaan Anda" (sumber : Don't Sweat the Small StuffPoin-Poin Utama Rangkuman:Akar Perpecahan Hubungan:Salah satu penyebab utama perpecahan dalam pernikahan dan keluarga adalah perasaan tidak dihargai.Karena sudah terbiasa bersama, orang sering kali menganggap kebaikan anggota keluarga sebagai hal yang biasa atau "sudah seharusnya begitu".Dampak Merasa Tidak Dihargai:Rasa tidak dihargai merupakan sumber utama kelelahan fisik dan psikis (emosional).Kurangnya rasa menghargai dapat merusak pernikahan, hubungan orang tua dengan anak, serta hubungan antar saudara.Cara Sederhana Menunjukkan Penghargaan:Sering mengucapkan "Terima kasih" dari hati yang tulus.Menulis kartu atau surat ucapan terima kasih.Melakukan perbuatan baik bagi orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita.Manfaat Ungkapan Terima Kasih:Membuat orang lain merasa dihargai, lebih bahagia, dan lebih menikmati kehadirannya di dekat kita.Mempererat ikatan emosional dalam keluarga dan meningkatkan rasa percaya diri/penghargaan diri.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Sebagaimana kekuasaanNya tidak susah untuk menghidupkan tanah setelah ketandusannya, maka demikian pula tidak susah bagiNya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.
Waktu berkualitas bersama anak bukan tentang pergi ke tempat yang mahal atau melakukan hal yang besar.Cukup duduk bersama, mendengarkan cerita mereka, berdiskusi, bermain, dan memberi ruang untuk mereka bercerita tentang hari-harinya. Karena kelak, yang paling mereka ingat mungkin bukan apa yang kita berikan, tapi seberapa hadir kita untuk mereka. 🤍Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu punya waktu, hati, dan kesempatan membersamai mereka. 🌷#jejakpustaka #parenting #keluarga #waktuBersama #parentingislami
Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:32)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Catatan kaki:210835. Maksudnya, Al-Qur`ān itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsurangsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad Ṣallallāhu ʻAlaihi wa Sallam menjadi kuat dan tetap.Allah subhanahu wata'āla menceritakan tentang sikap orang-orang kafir yang banyak menentang dan ingkar, juga keusilan mereka terhadap hal yang bukan urusan mereka, karena mereka mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? (Al Furqaan:32)Yakni mengapa Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Muhammad tidak diturunkan sekali turun saja, sebagaimana telah diturunkan kitab-kitab yang sebelumnya sekaligus, seperti kitab Taurat, Injil, Zabur, dan kitab-kitab samawi lainnya?Maka Allah subhanahu wata'āla menjawab perkataan tersebut. Sesungguhnya Dia menurunkan Al-Qur'an secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun menurut peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengannya serta menurut hukum yang diperlukan, tiada lain untuk meneguhkan hati orang-orang mukmin terhadapnya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur. (Al Israa':106), hingga akhir ayat.Dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil. (Al Furqaan:32)Qatadah mengatakan bahwa makna tartil ialah menjelaskan, yakni Kami menjelaskannya sejelas-jelasnya. Menurut Ibnu Zaid, makna yang dimaksud ialah Kami menafsirkannya dengan jelas."Tolong buatkan teks di atas dalam bentuk foto dalam format story Instagram. Dengan menggunakan simbol siluet tanpa wajah yang sesuai. Menggunakan stabilo warna kuning dan garis warna merah untuk membuat penekanan pada kata atau kalimat yang menjadi poin. Menggunakan latar belakang warna kertas yang sesuai. Tertata rapi dan mudah dipahami. Dimuat dalam 1 halaman"Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:31)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan seperti itulah telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (Al Furqaan:31)Seperti yang terjadi pada dirimu, hai Muhammad, dari kaummu, yaitu orang-orang yang tidak mengacuhkan Al-Qur'an. Hal yang sama telah terjadi pula di kalangan umat-umat terdahulu. Karena Allah menjadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa yang menyeru manusia kepada kesesatan dan kekafiran mereka. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An'am:112)Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan:31)bagi orang yang mengikuti Rasul-Nya, beriman kepada Kitab-Nya, membenarkannya dan mengikuti petunjuknya. Sesungguhnya Allah akan memberinya petunjuk dan menolongnya di dunia dan di akhirat. Disebutkan oleh firman-Nya:menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan:31)tiada lain karena orang-orang musyrik selalu menghalang-halangi manusia dari mengikuti ajaran Al-Qur'an, dengan tujuan agar tiada seorang pun yang memakai petunjuknya, dan agar jalan mereka (orang-orang musyrik) dapat mengalahkan petunjuk Al-Qur'an. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (Al Furqaan:31), hingga akhir ayat.
Wahai ahnaf, barangsiapa yang banyak tertawa, maka berkuranglah kewibawaannya. Barangsiapa yang (suka) bercanda, maka dia akan diremehkan dengannya. Barang siapa yang banyak berbuat sesuatu, maka dia akan dikenal dengan hal tersebut. Barangsiapa banyak bicara, niscaya banyak pula kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, maka sedikitlah malunya. Barang siapa sedikit malunya, maka sedikit pula wara'nya (sikap menjauhkan diri dari dosa, perkara maksiat, dan syubhat) dan barangsiapa sedikit wara'nya maka matilah hatinya.hadis riwayat ath - thabrani
Al Mulk ayat 10
Tafsir As-Sa’di QS. Al-'Anfāl: 53 ذَٰلِكَ "Yang demikian (siksaan) itu."Penjelasan: Siksa yang Allah timpakan kepada umat-umat yang mendustakan dan melenyapkan nikmat yang mereka rasakan adalah disebabkan oleh dosa-dosa mereka dan pengubahan terhadap apa yang ada pada diri mereka sendiri. ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ "sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum"Penjelasan: Baik dari nikmat agama maupun dunia, tetapi Dia membiarkannya dan akan menambahnya jika mereka mensyukurinya. حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ "hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri"Penjelasan: Yakni dari ketaatan kepada kemaksiatan, kemudian mereka mengkufuri nikmat Allah dan menggantinya dengan kekufuran, maka Dia pun menariknya kembali dan merubahnya sebagaimana mereka merubah apa yang ada pada diri mereka.Penjelasan Hikmah & Keadilan AllahDalam semua itu Allah memiliki hikmah, keadilan, dan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya:Allah tidak menyiksa mereka kecuali karena kezhaliman mereka.Allah menarik hati para wali-Nya agar selalu ingat kepada-Nya dengan melihat azab yang menimpa hamba-hamba-Nya yang menyelisihi perintah-Nya. وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ "Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"Penjelasan: Mendengar semua yang diucapkan orang yang berucap, baik yang dikeraskan maupun yang dirahasiakan. Allah mengetahui apa yang disimpan oleh hati dan dipendam dalam dada, maka Dia memberlakukan takdir kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tema: Kesempurnaan Ilmu Allah1. Allah Mengetahui Segala SesuatuAllah memiliki ilmu yang sempurna dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.Allah mengetahui:Apa yang ada di dalam rahim.Tahapan perkembangan janin.Jenis kelamin dan keadaan janin.Rezeki, usia, amal, serta keadaan manusia.Segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi.Tidak ada satu pun detail kehidupan manusia yang luput dari ilmu Allah.2. Allah Mengetahui Proses Penciptaan ManusiaJanin diciptakan tahap demi tahap dalam rahim.Tafsir Ibnu Katsir mengaitkannya dengan penjelasan dalam QS. Al-Mu’minun 12–14 tentang tahapan penciptaan manusia.Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa aturan, tetapi berlangsung berdasarkan ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah.3. “Yang Kurang dan Yang Bertambah”Allah mengetahui keadaan setiap kandungan, termasuk apa yang terjadi pada masa kehamilan.Para ulama tafsir memberikan beberapa penjelasan tentang makna “kurang” dan “bertambah”, di antaranya berkaitan dengan:Masa kehamilan yang lebih singkat atau lebih panjang.Janin yang lahir belum sempurna atau lahir sempurna.Berbagai keadaan yang terjadi pada kandungan.Intinya: seluruh keadaan tersebut diketahui dan berada dalam ilmu Allah.4. Allah Mengetahui Rezeki dan AjalAllah telah menetapkan ukuran bagi setiap makhluk.Termasuk:RezekiAjal/usiaKetentuan kehidupan manusiaKarena itu, manusia tidak perlu hidup dalam kecemasan seolah-olah rezekinya berada sepenuhnya di tangannya sendiri.Namun keyakinan terhadap ketetapan Allah bukan alasan untuk meninggalkan usaha. Kita tetap berikhtiar, sementara hati bertawakal kepada Allah.5. Allah Mengetahui yang Gaib dan yang TampakAllah mengetahui al-ghaib maupun asy-syahadah:Apa yang manusia lihat maupun yang tidak dapat mereka lihat, semuanya berada dalam pengetahuan Allah.Tidak ada rahasia yang benar-benar tersembunyi dari-Nya.Pikiran yang tidak diketahui manusia, keadaan hati, sesuatu yang belum terjadi, serta berbagai perkara gaib—semuanya berada dalam ilmu Allah.6. Allah Mahabesar dan MahatinggiAyat ini ditutup dengan sifat Allah:Al-Kabīr — Yang Mahabesar.Al-Muta‘āl — Yang Mahatinggi.Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Allah dan tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kekuasaan-Nya.🌿 Hikmah dan Tadabbur1. Kita tidak pernah benar-benar sendirian.Ada banyak hal dalam hidup yang tidak kita ketahui, tetapi semuanya diketahui Allah.2. Belajar percaya kepada Allah.Ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita tetap bisa tenang karena Allah mengetahuinya.3. Rezeki tidak perlu dicemaskan secara berlebihan.Allah yang memberi rezeki bahkan kepada manusia ketika masih berada di dalam rahim dan belum mampu melakukan apa pun.4. Ketidaktahuan manusia bukan berarti Allah tidak mengaturnya.Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan, sedangkan ilmu Allah meliputi semuanya.5. Ilmu seharusnya melahirkan tawakal.Semakin kita menyadari luasnya ilmu Allah, semakin kita memahami bahwa manusia membutuhkan-Nya.✨ Inti Pesan Ayat 8–9Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui.Allah mengetahui bagaimana kita dimulai, bagaimana kita menjalani hidup, dan kapan kehidupan kita berakhir.Maka tugas kita bukan mengetahui seluruh rencana Allah, tetapi beriman, berikhtiar, dan mempercayakan apa yang tidak kita ketahui kepada Allah Yang Maha Mengetahui.
Ketika kt mengira bisa bahagia dan damai dgn terus-menerus menyenangkan org lain
Al Anfal : 27
Keikhlasan dalam mendidik anak adalah cita-cita yang tinggi dan membutuhkan kesungguhan. Menjaga niat agar tetap ikhlas bukan perkara mudah, karena manusia memiliki kecenderungan mencintai pujian, dunia, dan rasa bangga terhadap anak.Karena itu, orang tua perlu mengetahui hal-hal yang dapat membantu menjaga hati agar dalam mendidik anak, tujuan utamanya tetap mencari ridha Allah, bukan pujian atau pengakuan manusia.1. Memohon pertolongan AllahMenjaga keikhlasan adalah perkara yang berat. Hati manusia mudah berubah dan terbolak-balik. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.Kita perlu menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.Ketika muncul keinginan untuk menjadi orang tua yang ikhlas, mintalah kepada Allah agar Dia menanamkan keikhlasan dalam hati dan menjauhkan kita dari keinginan mendapatkan pujian maupun membanggakan anak.Rasulullah ﷺ bersabda:“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”Rasulullah ﷺ juga mengajarkan sebuah doa:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa-apa yang tidak aku ketahui.”Doa ini mengingatkan kita bahwa kesyirikan yang tersembunyi dalam hati bisa sangat samar, sehingga kita perlu terus memohon perlindungan dan ampunan kepada Allah.2. Mengetahui buah keikhlasan dan bahaya niat yang melencengSalah satu cara menjaga keikhlasan adalah dengan terus belajar tentang:hakikat dan kedudukan ikhlas,keutamaan ikhlas dalam mendidik anak,buah yang diperoleh dari keikhlasan,serta bahaya ketika niat mulai menyimpang.Kita perlu menyadari bahwa diri kita sering diliputi kelemahan, kejahilan, dan kelalaian. Karena itu, kita membutuhkan ilmu, nasihat, dan pengingat.Allah berfirman:“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)Artinya, menjaga keikhlasan bukan sesuatu yang cukup dilakukan sekali. Kita perlu terus mengingatkan dan memperbaiki niat.3. Takut terhadap murka AllahSeorang mukmin tidak hanya mengejar pujian Allah, tetapi juga takut jika amalnya justru mendatangkan murka-Nya.Pujian manusia sifatnya sementara dan belum tentu menunjukkan kemuliaan yang sebenarnya. Begitu pula celaan manusia tidak selalu berarti seseorang benar-benar tercela.Sebaliknya, ridha Allah adalah kemuliaan yang sebenarnya, sedangkan murka Allah adalah sesuatu yang harus kita hindari.Karena itu, dalam mendidik anak kita perlu belajar mengubah orientasi:Bukan:“Apa kata orang tentang cara saya mendidik anak?”Tetapi:“Apakah Allah ridha dengan apa yang saya lakukan?”Seorang mukmin juga berusaha melakukan amal terbaik, tetapi tetap memiliki rasa takut apakah amal tersebut diterima oleh Allah.Allah berfirman:“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)4. Mengenal nama dan sifat-sifat AllahMengenal Allah dengan benar akan membantu kita menjaga keikhlasan.Allah memiliki kekuasaan mutlak dan mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang tersembunyi di dalam hati.Allah berfirman:“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”(QS. Al-Mulk: 13)Artinya, meskipun manusia tidak mengetahui niat kita, Allah mengetahuinya.Maka ketika kita melakukan sesuatu dalam mendidik anak, yang paling penting bukan hanya bagaimana amal tersebut terlihat di hadapan manusia, tetapi bagaimana keadaan hati kita di hadapan Allah.Allah juga memiliki kerajaan dan kekuasaan yang sempurna. Dia yang memuliakan dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki.“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya.”(QS. Al-Anbiya: 23)Kesadaran terhadap kebesaran Allah membuat kita tidak terlalu bergantung pada penilaian manusia.5. Jangan menjadikan pujian manusia sebagai tujuanKetika muncul keinginan untuk mendapatkan pujian dari orang lain atas anak atau cara kita mendidik, ingatlah bahwa orang yang kita harapkan pujiannya juga hanyalah hamba Allah yang lemah.Maka sangat disayangkan jika kita rela melakukan sesuatu yang mengundang murka Allah hanya demi mendapatkan keridhaan manusia.“Mengejar ridha manusia ibarat mengarungi lautan tak bertepi.”Sebab manusia memiliki penilaian yang berbeda-beda. Apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada kemungkinan ada yang memuji dan ada yang mencela.Imam Asy-Syafi'i رحمه الله juga memberikan nasihat yang sangat dalam:“Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan bisa dicapai.”Maka fokuslah pada apa yang baik bagi diri kita di hadapan Allah dan jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia.
Tetaplah kalian taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya dalam seluruh ucapan, perbuatan, dan hal ihwal kalian, serta janganlah kalian kal berselisih pendapat karena perselisihan akan membuat kalian menjadi lemah, takut, dan kehilangan kekuatan kalian. Bersabarlah ketika kalian berhadapan dengan musuh kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan bantuan, dan barang siapa yang Allah menyertai-Nya maka ialah orang yang pasti meraih kemenangan dan mendapatkan pertolongan.
Mungkin hanya ada 2 tipe orangtua, yakni yang mau belajar dan tidak mau belajar.Yang belajar akan menikmati mendidik anak, yang tidak mau belajar akan selalu bingung.
“Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya! Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada RasulNya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan janganlah kalian berpaling dariNya dengan menentang perintahNya dan melanggar laranganNya, sedangkan kalian mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian.”
1. MASUKLAH KE LUBANG BERSAMA MEREKABayangkan kecemasan anak seperti lubang kecil di tanah. Anak sedang berada di dalam ketidaknyamanan itu.❌ Jangan berusaha langsung menarik anak keluar dari lubang dengan logika atau penenangan.✅ “Terjunlah” ke dalam lubang bersama mereka — temani dan akui apa yang mereka rasakan.Dua hal yang terjadi:Anak tidak lagi merasa sendirian.Anak melihat bahwa hal yang terasa sangat buruk baginya tidak membuat kita takut, karena kita bersedia menghadapinya bersama.Contoh: Anak khawatir Ibu tidak ada saat ia bangun.💬 “Saat kamu pergi tidur, kamu sangat khawatir kalau-kalau Ibu tidak ada di sana di pagi hari, ya? Ugh, itu menakutkan...”Bukan: ❌ “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu tidak pernah pergi tanpa memberitahumu!”---2. UJI COBAOrang tua sering menghindari membicarakan hal yang membuat anak cemas dengan harapan anak akan melupakannya.Padahal, penghindaran justru dapat menambah kecemasan.Jika kita tidak mau membicarakannya, anak bisa menangkap pesan bahwa kita pun cemas terhadap situasi tersebut.Uji coba membantu anak:melihat bahwa situasi yang menantang dapat ditaklukkan;berlatih menghadapi reaksinya sebelum situasi sebenarnya terjadi;merasa lebih siap dan tenang.Dapat digunakan untuk: perpisahan • dokter • tes olahraga • bermain bersama • membaca keras di kelas • dan situasi menegangkan lainnya.CARA MELAKUKAN UJI COBA👩👧 Bersama anak Latih situasi yang akan terjadi dan buat rutinitas singkat.Contoh: hari pertama sekolah 💬 “Pada hari Senin kamu akan menjalani hari pertama sekolah. Mari kita pikirkan bagaimana kita ingin mengucapkan sampai bertemu lagi, kemudian berlatih beberapa kali agar tubuh kita siap pada saat itu tiba!”Latih: → mengucapkan salam perpisahan→ berpura-pura berjalan menjauh→ menarik napas dalam-dalam→ menggunakan mantra ketika merasa sedihLatihan tidak membuat anak semakin cemas.Sebaliknya, latihan membantu anak menjadi lebih tenang dan nyaman menghadapi situasi sulit.🧸 Gunakan boneka untuk anak yang lebih kecilContoh pemeriksaan dokter: Orang tua menggunakan boneka teddy, anak menggunakan boneka unicorn.💬 “Hai, Unicorn, selamat datang di kantor dokter! Kamu dan ibumu bisa ikut denganku ke ruang pemeriksaan.”Kemudian peragakan seluruh proses pemeriksaan, termasuk bagian yang mungkin menantang:💬 “Duduklah di pangkuan ibumu sementara saya memeriksa telingamu... Bisakah kamu tetap diam, Unicorn? Kerja bagus!”Dengan begitu, anak mendapat kesempatan untuk mengalami situasi tersebut terlebih dahulu dalam suasana yang aman._______Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik, Dr. Becky Kennedy