Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-'A`rāf: 55Perintah Berdoa dengan Tadharru' dan KhufyahTujuan Ayat: Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk berdoa memohon kebaikan urusan dunia dan akhirat.Makna Tadharru': Berdoa dengan perasaan rendah diri, penuh harap, serta tenang dalam ketaatan kepada Allah.Makna Khufyah: Berdoa dengan suara yang pelan/lemah lembut, hati yang khusyuk, serta penuh keyakinan atas Keesaan dan Kekuasaan Allah (bukan dengan suara keras untuk pamer).Perbandingan Ayat:QS. Al-A'raf: 205:"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu..."QS. Maryam: 3: "...yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." (Pujian Allah kepada hamba yang saleh).Dalil Larangan Menjerit/ Mengeraskan Suara:Hadis Sahihain (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari): Ketika mendengar orang-orang mengeraskan suara saat berdoa, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang gaib, sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”Pendapat Ibnu Juraij: Makruh hukumnya mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa; yang diperintahkan adalah dengan rasa rendah diri dan khusyuk.Teladan Generasi Salaf (Keterangan Al-Hasan Al-Basri):Kaum muslim masa lalu selalu berupaya keras berdoa secara tersembunyi (hanya berupa bisikan antara mereka dan Tuhannya).Dahulu ada orang yang hafal Al-Qur'an, paham fiqih, atau shalat malam yang panjang di rumahnya tanpa ada tamu/orang lain yang mengetahuinya, berbeda dengan orang-orang belakangan yang beramal secara terang-terangan.Makna Larangan Melampaui Batas dalam Berdoa (Innahū Lā Yuhibbul-Mu'tadīn)Pendapat Ibnu Abbas (via Ata Al-Khurasani): Melampaui batas berlaku dalam berdoa maupun dalam hal lainnya.Pendapat Abu Mijlaz: Contoh melampaui batas dalam berdoa adalah seseorang yang meminta agar ditempatkan pada kedudukan para nabi.Riwayat dan Takhrij Hadits Larangan Melampaui Batas dalam BerdoaRiwayat Sa'd Ibnu Abi WaqqasKejadian: Sa’d melihat anaknya berdoa secara mendetail ("Ya Allah, saya memohon surga, kenikmatannya, baju sutranya... dan berlindung dari neraka, rantai, serta belenggunya").Nasihat Sa'd: Menegur anaknya dan mengajarinya doa yang lebih ringkas dan mencakup: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau surga dan semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya. Saya berlindung kepada Engkau dari neraka dan dari semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya."Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa (dan bersuci)."Takhrij Jalur Riwayat:Diriwayatkan Imam Ahmad (dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Syu'bah, dari Ziad ibnu Mikhraq, dari Abu Nu'amah, dari maula Sa'd, dari Sa'd r.a.).Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud melalui jalur Syu'bah.Riwayat Abdullah Ibnu MugaffalKejadian: Beliau mendengar anaknya berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau gedung putih yang ada di sebelah kanan surga, jika saya masuk surga."Nasihat Abdullah: Menegur anaknya agar cukup meminta surga dan berlindung dari neraka.Sabda Nabi ﷺ: "Kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam doa dan bersucinya."Takhrij Jalur Riwayat:Diriwayatkan Imam Ahmad (dari Affan, dari Hammad ibnu Salamah, dari Al-Hariri, dari Abu Nu'amah [Qais ibnu Ubayah Al-Hanafi Al-Basri]).Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Affan).Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (dari Musa ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sa'id ibnu Iyas Al-Hariri, dari Abu Nu'amah). Sanad ini dinilai baik dan dapat dipakai.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com